Buhul ghaib

Buhul ghaib
Kecurigaan



Dina telah mempersiapkan beberapa masakan untuk menyambut kedatangan Bromo sang suami.


Kini Abah kasim, Umi Lastri dan Dina sedang menghadapi sajian makan malam mereka, dan menanti kepulangan Bromo, yang katanya pulang hari ini.


"apakah Bromo pulang malam ini Din..? Sudah sepekan dia tidak pulang. Sebenarnya suamimu itu bekerja dimana? Dan siapa keluarganya?" cecar Lastri kepada Dina. Karena Ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari menantunya itu.


Dina merasa tergagap dengan pertanyaan sang ibunda. Ia harus mencari jawaban yang tepat, agar umi nya percaya.


"Kanda Bromo bekerja di kota Umi, terkadang juga serabutan. Apa saja dikerjakannya, yang terpenting dapat memenuhi kebutuhan istri dan keluarganya. saat saya menikah dengan Kanda Bromo, dia sudah yatim piatu, dan tidak memiliki keluarga." jawab Dina sekenanya.


Abah Kasim mengernyitkan keningnya. "bukankah waktu itu kamu yang bilang jika Ia dan rombongannya yang juga sedang berburu dihutan ikut bersama.? Yang manakah harus kami percayai..? Ucap Abah yang membuat Dina semakin merasa terpojok.


Dina semakin kelabakan menanggapi ucapan Abah yang membuatnya seperti tersangka sedang tertangkap basah.


"emmm..itu..anu.." jawab Dina yang semakin membuatnya tergagagp.


tok..tok..tok..


terdengar suara ketukan pintu dari arah luar rumah.


"Dina bukakan pintu dulu Bah, mungkin Kanda Bromo sudah pulang." ucap Dina semabri beranjak dari tempat duduknya, menuju pintu utama.


Kreeek..


Terdengar pintu kayu tua itu dibuka. Tampak diluar seorang pria sepuh sedang berdiri diambang pintu.


"Assalammualaikum.." ucap Pria sepuh itu.


"waalaikumsalam.." jawab penghuni rumah itu serempak.


"Eh.. Kang Salim.. Masuk kang.. Sini sekalian makan malam." sapa Abah Salim dengan ramah.


Dina sedikit kecewa, karena , yang hadir bukan Bromo, suaminya.


"Masuk Abah.." ajak Dina kepada Abah Salim.


Abah Salim mengangguk, lalu masuk kedalam rumah dengan tertatih.


Dina menatap jalanan sepi dan gelap. Berharap Bromo datang menemuinya. Sudah sepekan ini Bromo tanpa kabar. "mengapa kamu belum mengunjungiku juga Kanda..? " Dina berguman lirih.


Abah Kasim menatap Dina yang tampak gelisah, menatap penghujung jalan.


"Din.. Ayo makan. Untuk suamimu asingkan saja diwadah lain. Jadi kalau dia pulang masih ada makanan." ucap Abah Kasim kepada Dina.


Dina menganggukkan kepalanya. Mengambil 3 wadah mangkuk kecil untuk mengasing nasi dan lauk pauknya. Lalu menyimpan pada tudung saji.


Mereka makan bersama. Sesekali Abah Salim melirik kepada Dina. Ia merasakan ada sesuatu.yang berbeda pada diri Dina. Namun Ia belum dapat memastikan itu apa.


"sepertinya kamu awet muda ya Din.. Dimana suamimu? Mengapa belum pulang..?" cecar Abah Salim kepada Dina.


Pertanyaan-pertanyaan seperti membuat Dina merasa ngeri untuk mendengar dan menjawabnya.


Dina merasa jika Ia berlama-lama duduk bersama akan membuatnya semakin tersiksa.


"emm.. Abah.. Dina kekamar dulu ya..?" ucapnya dengan lirih. Lalu beranjak pergi meninggalkan makan malamnya.


Ia memasuki kamarnya dengan perasaan galau. Ia meratapi dirinya yang kini merasa sepi. Asih dan Chakra juga sudah pergi meninggalkannya. Bahkan kini Bromo juga tidak kembali sudah sepekan lamanya.


"kamu kemana sih kanda..? Mengapa sudah sepekan tidak mengunjungiku..? Tidakkah kau merindukanku..?" Dina berguman lirih. Hingga akhirnya Ia tertidur pulas.


------♡♡♡♡♡------


Huja turun dengan sangat derasnya. Membasahi bumi dimalam hari. Menciptakan romansa nan indah bagi siapaoun jua. hawa dingin begitu terasa menusuk tulang.


Sapuan demi sapuan bibir seseorang menyentuh kulitnya yang halus.


Saat Ia membuka matanya, sosok siluman buaya putih berkepala manusia sedang mencumbunya dengan sangat buas.


"ow.. Kanda.. Kamu rupanya..? Mengapa tidak mengabariku jika pulang malam ini? Aku sangat merindukanmu.." ucap Dina ditengah-tengah hasratnya yang menggebu.


Siluman buaya itu terus menjelajahi tiap lekuk tubuh istrinya, yang membuat wanita itu semakin menggila.


Nafas Dina semakin tidak teratur. Ia terengah-engah menahan hasratnya yang kian membuncah.


Sesaat kemudian siluman itu melakukan penyatuan tubuh kepadanya. Membuat Dina mencapai puncak surgawinya hingga berkali- kali.


"aku mencintaimu Dinda.. " Bisik siluman itu kepada sembari terus memacu gerakannya, untuk menjemput surgawinya.


Setelah lamanya, akhirnya Ia mencapai surgawi dunianya. Mereka berbaring lemah diatas ranjang sederhana yang dibuatkan oleh Abah.


"mengapa kau begitu lama sekali Kanda..? Tidakkah kau merindukanku?" cecar Dina, sembari mengeratkan pelukannya pada suami silumannya.


Bromo mengecup lembut ujung kepala istrinya.."maafin Kanda jika sudah membuat Dinda lama menunggu. Tetapi ada sesuatu hal penting yang sedang Kanda kerjakan. Kanda.juga tidak dapat berlama-lama disini. Kanda harus harus menyelesaikan masalah yang tidak bisa Kanda lepas begitu saja." jawab bromo datar. Tanpa ekpresi apapun.


Dina semakin mengeratkan pelukannya. "Tapi Dinda masih kangen Kanda." ucap Dina manja dan merengek.


"Kanda juga kangen banget sama kamu Dinda, tapi mau bagaimana lagi? Semua demi kebahagiaan kita dan semuanya." ucap Bromo memberikan penjelasan.


"Kanda.. Bagamn


Bromo beranjak dari ranjangnya. lalu melenggang ingin keuar kamarnya. Dina menatapnya hampa..


"Apakah malam ini kamu ingin pergi juga Kanda..? " Dina merasakan jika Ia belum sanggup untuk ditinggal lagi oleh suami silumannya.


"apakah Dinda tidak ingin mengantar Kanda?" tanya Bromo memelas.


Dina dengan berat hati akhirnya beranjak dari ranjangnya. Ia meraih Handuk sebagai penutup tubuhnya.


Dina berjalan membuka pintu kamar, lalu menuju pintu dapur. Ia membukanya dengan sangat hati-hati.


Dina mengikuti Bromo yang berjalan menuju sungai belakang dapur. Dina menyusuri jalanan licin yang baru saja tertimpa hujan.


Sesampainya ditepian sungai, Bromo merayap. Dan memasuki sungai.


seketika tubuhnya berubah menjadi buaya seutuhnya. Dina membelai moncong buaya itu. Lalu dwngan Ia menceburkan dirinya kedalam sungai.


"jangan terlalu lama kamu pergi Kanda. Aku selalu merindakanmu. "ucap Dinah lirih dan merasa sedih. Ia mengecup lama moncong buaya itu. Bromo mengerjapkan matanya, pertanda setuju.


Seketika Ia menghilang, secara perlalan, la telah bhaiasan Brilum merelakan keputusan Bromo.


--------♡♡♡♡♡------


Lastri merasa akan sesak pipis. Ia beranjak dari peraduannya.


Saat akan membuka pintu dapur. Ia dekejutkan . oleh Dina.yang sudah berada disana terlebih dahu.


"sedang berbicara dengan siapa Dina malam-malam begini..? Apakah suaminya sudah pulang..?" Lastri berguaman lirih .


Namun lama Ia memperhatikan, tak tampak satupun yang Ia lihat sebagai lawan bicara Dina.


Lastri semakin gelisah." apa yang terjadi pada Dina.? MengapanIa berbicara sendiri..? Apakah Ia mulai depresi..?" Ucap Lastri dengan kalut. Lastri


Lastri merasakan tubuhnya gemetar. Ia tidak dapat membayangkan jkka tiba-tiba Dina berhalusinasi. "ini semua karena salah suaminya yang tak kunjung pulang." Lastri menggerurutu dengan kesal.


"apakah sebaiknya aku hampiri saja Dia. " Ucap Lastri lirih. Lalu dengan perlahan Ia menuruni anak tangga dan jalanan.