Buhul ghaib

Buhul ghaib
episode 246



Edy mencoba menarik nafasnya dengan dalam. Ia melihat sinar infra red masih ada dua lagi didepannya, Ia harus dapat melewatinya dengan benar.


Karena Ia juga sudah terjerembab dilantai, Ia pun merangkak untuk sampai dapat mencapai pintu.


Dengan menegrahkan seluruh tenaganya yang tersisa, Ia kembali merangkak dan terus menggapai sampai didepan pintu.


Setelah berhasil melewatinya, ia menggapai tiang penyanggah dan berusaha untuk untuk duduk bersandar tiang penyanggah yang berada tepat diambang pintu.


Pria itu menselunjurkan kedua kakinya, mengatur nafasnya yang tersengal karena kelelahan.


Ia melirik terdapat ruangan lebih besar didepannya, ada sebuah lorong dengan anak tangga yang sangat banyak dan sepertinya menuju sebuah ruang bawah tanah.


Edy membuka pakaiannya. Ia kembali merobeknya, lalu mengikat luka menganga yang terdapat dipaha bagian kirinya.


Kini Ia hanya bertelan-Jang dada saja, memperlihatkan otot tubuhnya yang menyembul dengan perutnya yang sixpack.


Ia kembali mengantur nafasnya yang tersengal dan mencoba menetralkan detak jantungnya.


Lalu Ia kembali berdiri dan kemudian berjalan dengan terus memperhatikan sekitarnya, ada beberapa pintu yang tampaknya akan menghubungkan keruangan lainnya. Tepatnya empat arah pintu saling berhadapan membentuk simpang empat dan tepat emapt penjuru mata angin.


Edy tampak berfikir akan memasuki salah satu pintu yang mana akan yang akan Ia lalui. Setelah melihat arah sisi kanannya pintu itu sedikit berbeda dari ketiga pintu lainnya, Edy memilih untuk memasuki pintu tersebut.


Saat ia akan melintasi ruangan yang sangat luas tersebut. Ia melihat sebuah bayangan yang sangat besar didalam ruangan itu tepat berada diatas kepalanya dan menghitam melalui cahaya lampu bohlam yang terpantul dilantai granit tersebut.


Edy menengadahkan kepalanya ke atas langit-langit ruangan tersebut, dan benar saja.. Para mutan itu berkumpul disana dan siapa melayang untuk terbang dan menyerang, Edy dengan cepat menembakinya dan membuat para mutan itu hancur menjadi serpihan.


Suara tembakan itu membuat para bodyguard keluar dari berbagai pintu dengan 4 penjuru mata angin. Tubuh-tubuh kekar dengan tinggi tubuh yang mencapai 190 cm dan tentunya itu cukup tinggi jika dibandingkan tinggi rata-rata pria Asia.


Sedangkan Edy hanya memiliki tinggi 185 cm yang bagi pria Asia sudah merupakan cukup tinggi.



Visual Edy, dan wajahnya bayangin sendiri sesuai imajinasi reader ya.. Hahahaha.


Para pria bertubuh kekar datang dengan jumlah yang cukup banyak.


Mereka berkerumun dan membentuk formasi lingkaran mengelilingi Edy yang kondisi tubuhnya juga sudah penuh luka dan kini Ia harus menghadapi setidaknya 30 orang bodyguard yang siap untuk membuatnya menjadi bulan-bulanan mereka.


Para Bodyguard ada yang membawa tongkat besi, pedang dan senjata lainnya.


Edy mencoba bersiap siaga, Ia mengambil khusarigamanya yang kini hanya tersisa bola besinya saja, sedangkan Sabitnya telah hilang dan terputus saat bertarung melawan Rebecca saat malam itu.


Ia mengulungkan rantai besi yang ujungnya telah kosong dijemari tangan kanannya, dan sisanya terseret dilantai dengan bola besi tersebut.


lalu Ia mensiagakan pandangannya dan saat itu, para bodyguard itu datang menyerangnya secara bersamaan. Lalu dengan cepat Ia melayangkan senjata khusarigama ke arah berbagai musuh yang menyerangnya dengan begitu sangat brutal.


Traaang..traaang..


Suara bila besi itu saat beradu dengan tingkat besi berdiameter 10 cm dan juga pedang yang dibawah oleh para bodyguard hang kini menyerangnya.


Lalu Edy menggunakan rantai besi untuk menahan tebasan pedang yang ditujukan kepadanya saat salah seorang bodyguard itu menyerangnya dari arah depan.


Ia mengikat pedang itu, lalu memutarnya dan mekayangkan tendangan kepada lawan yang berusaha menyerang dari arah belakang.


Saat bersamaan, lawannya menyerang dari sisi kiri, lalu Edy menarik pria pemilik pedang yang masih ditahannya menuju ke arahnya dan menjadikan tameng saat lawan sisi kiri mengayunkan tongkat besi kepadanya dan akhirnya tongkat itu menghantam rekannya sendiri, lalu ambruk dilantai.


Pria itu tercengang, lalu kembali mengayunkan tongkat besinya, dan Edy dengan cepat menahan tongkat itu dengan rantai besinya, mengikatnya dan melayang tinju menggunakan sikunya tepat didada lawannya, lalu menarik kepala lawannya dan memutar tubuhnya menjadi berada dibelakang pria itu dan menggunakan tongkat besi itu untuk menekan leher lawan hingga kesulitan bernafas.


Lalu musuh lainnya datang menyerang dari arah belakang, dan Edy melayangkan tendangan kaki kirinya hingga membuat lawan terpental.


Pria yang kini ditahannya telah tewas, lalu Ia meraih tongkat besi itu dan mengayunkannya untuk menahah setiap serangan yang datang.


Dan..


Buuugh..


Sebuah hantaman tongkat besi tepat dipundaknya, dan sebuah tendangan telak dipinggangnya sehingga membuat Ia terpental di sudut dinding dan Edy terjerembab dilantai.


Darah mengalir dari sudut bibirnya, dan kini para lawannya berdiri tegak mengelilinganya.


Seorang diantaranya datang menghampirinya, lalu menarik lehernya dan memaksanya untuk berdiri dengan leher dicekik.


Lalu pria itu memberikan tinju diperut Edy berulang kali dan terdengar suara erangan yang menyakitkan.


Darah semakin mengalir dari sudut bibirnya karena berasal dari luka dalam terkena hantaman tongkat besi dan juga tinju pria itu.


Lalu Pria itu belum juga puas dengan apa yang dilakukannya, Ia kemudian mengepalkan kembali tinjunya, dan kali ini sasarannya adalah dada kiri yang tepat dimana jantung itu berdetak.


Lalu dengan kekuatan penuh Ia meninjukan kepalan tangannya dengan sangat penuh amarah dan kebencian, dan..


Buuuuugh..


Suara tinju itu begitu kuat terdengar bagaikan meremukkan tulang dada yang melindungi sesuatu yang berdetak disana, sesaat pandangan Edy mengabur, Ia seperti melihat banyaknya kunang-kunang berterbangan didepannya, Ia tak lagi dapat memperjelas pandangannya.


Sesaat Ia mengingat sesosok wajah yang membuatnya selama ini bertahan "Asiih.." gumannya lirih dalam ketidakberdayaan yang sudah sangat diujung keputusasaan.


Ia melihat wajah itu tersenyum padanya, senyum yang selalu membuatnya bangkit dalam situasi apapun.


Ia mencoba menjaga kesadarannya meski sangat sulit untuk membuka matanya.


Lawannya itu menjatuhkan tubuhnya yang sudah tak berdaya dilantai dengan sangat kasar, dan Edy terjerambab kembali disudut dinding dengan luka yang cukup parah.


Lalu para bodyguard itu meraih segalah persenjataan mereka dan siap untuk mengahajar Edy hingga kematian yang menjemput, dan jika perlu tubuh itu hancur itu remuk.


Dengan satu komando yang dilakukan seorang bodyguard yang merupakan pimpinan mereka, dengan cepat mereka mengahatamkan segala persenjataan itu ketibuh Edy yang sudah tak mampu lagi untuk menghindar.


Namun saat bersamaan, sesuatu keanehan terjadi, tubuh itu tiba-tiba memendarkan cahaya berwarna mirah delima yang menyebar kesegala arah dan membuat pandangan mata para bodyguard yang ingin melenyapkannya menjadi silau, bahkan mereka seolah mengalami kebutaan dan tak bisa melihat satu sama lain.