
Seorang pria berusia 42 tahun, sedang duduk disebuah ruangan dengan 3 orang bodyguardnya
"antarkan barang ini kepelabuhan, jangan sampai ketahuan dan tertangkap. Jika sampai tertangkap, maka kalian harus lebih memilih mati. Keluarga kalian akan terjamin."Titah pria itu. Sorot Matanya begitu tajam, dengan aura haus akan uang.
"baik Bos, Andre. Semua titah Bos akan kami laksanakan." jawab mereka serempak.
Dengan menggunakan sebuah paket berupa kemasan botol sabun mandi cair, mereka mengemas paket heroin didalamnya. Setelah itu mereka membawanya dalam kotak boks untuk mengelabui para petugas pelabuhan.
Sesampainya dipelabuhan, mereka melihat banyak sekali petugas yang berjaga. Mereka memutar otak agak barang sampai ke tujuan.
Seketika salah seorang dari mereka memiliki ide untuk melakukan pengiriman jalur tikus.
Mereka menghubungi Andre tentang rencana mereka. "Bos, bagaimana jika kita melalui jalur tikus saja? Saya tau dimana letaknya, dan ink akan lebih aman. Karena tidak dijangkau oleh petugas Airut." ucap seorang bodyguard kepada Andre.
"kalau begitu share lokasinya, nanti saya akan kirimkan Edy anak saya untuk membawa speedboat kesana." jawab Andre dengan tegas.
"oke bos. Saya akan share lokasinya." ucap bodyguard itu.
Setelah mengirimkan lokasinya, ketiga bodyguard itu segera memutar arah. Mereka menyusuri jalanan sunyi disebuah perkampungan yang sangat jauh dari keramaian.
mereka menuju sebuah pelabuhan ilegal yang biasanya digunakan untuk menyudupkan para TKI dan barang-barang seludupan lainnya yang bebas bea cukai dan tentunya tidak terjamah oleh petugas.
Setelah lama menunggu, mereka akhirnya melihat sebuah lampu sorot dikejauhan dilautan. Setelah mendekat, ternyata itu Edy anak sang bos yang membawa speedboat untuk para bodyguard yang akan menyeludupkan barang milik ayahnya.
Pemuda tampan berusia 18 tahun itu sudah terlalu biasa terjun didunia gelap bersama sang ayah. Ia didik dengan segala macam tindak kejahatan yang luar biasa. Sehingga Ia tumbuh menjadi seorang penjahat yang tidak pernah takut dengan apapun.
"lihat, itu tuan muda sudah datang.!" seru seorang bodyguard tersebut.
Spedboat merapat, lalu para bodyguard bergeas memindahkan peti kayu yang berisi barang-barang haram tersebut.
"buruan, sebelum ada yang lihat.!!" perintah Edy kepada yang lainnya.
"baik Tuan muda." jawab mereka serempak.
Setelah selesai memindahkan semua peti kayu tersebut, mereka ikut naik kedalam speedboad.
"apakah sebaiknya fuan muda pulang saja? Biar ini kami yang urus." pinta seorang dari mereka.
"aku ikut, aku ingin bersenang-senang dengan permainan ini." ucapnya denga nada bahagia, sembari menghidupkan mesin speedboad dan mereka mengarungi lautan.
suasana gelap gulita, memecah ombak dan udara dingin menusuk hingga ketulang mereka.
Sebuah speedboat yang sudah lama menunggu telah berada disana. Mereka melakukan transaksi. Setelah menemukan kesepakatan, akhirnya mereka memindahkan barang tersebut kepada speedboat pembeli.
Speedboat yang membeli barang itu akan bergerak meninggalkan Edy dan temannya setelah melemparkan koper berisi sejumlah uang yang diminta.
Namun baru saja mereka bertukar barang, mereka dikejutkan dengan sebuah tembakan peringatan dari arah utara.
Tampak speedboad itu menuju kearah mereka. Sepertinya ada yang membocorkan tentang penyeludupan ini. Seketika mereka langsung menghidupkan mesin speedboad dan berpencar untuk menyelamatkan diri.
Speedboad milik Edy berputar kearah barat Ia membawanya dengan kecepatan tinggi untuk menghindari kejaran para petugas. Mereka terus melaju tanpa mengindahkan peringatan dari petugas. Hingga akhirnya mereka sampai disebuah muara. aliran laut itu masuk ke muara sungai. Lalu mereka menyusuri sungai tersebut.
Semakin mereka jauh memasuki desa yang sangat terpencil, lalu mesin speedboad mati karena kehabisan bahan bakar.
Mereka terombang ambing di ditengah sungai.
Hingga pagi tiba, mentari menerpa wajah mereka. Edy mengusap wajahnya, matanya silau terkena terpaan cahaya mentari.
"heeei.. Bangun.! Coba lihat kita berada diamana sekarang?" ucap Edy sedikit berteriak kepada para bodyguardnya.
Edy lalu mengguncang punggung salah seorang bodyguardnya. Memaksa mereka untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Ketiga bodyguard itu terbangun, lalu ikut memperhatikan kesekelilingnya. Mereka terperanjat.
"haah..! kita sedang berada dimana sekarang.?" tanya seorang dari mereka. dan mereka saling pandang satu sama lainnya.
"sudah sebaiknya kita turun dari speedboad ini, nati kita fikirkan bersama" ucap Edy memerintahkan.
Lalu mereka turun dari speedboad, dan menyusuri tepian sungai yang berbatu.
Mereka mencari perlindungan dari sinar mentari, dan duduk dibawah pohon yang rindang.
"bagaimana ini Tuan ini Muda? Kita tidak tau sekarang berada dimana.?" ucap seorang bodyguard dengan nada bingung.
Edy menyalakan handphonenya, Ia mencari jaringan untuk menelefon papanya agar mengirimkan bantuan segera. "siial..!! Tidak ada signal disini !. Sepertinya ini desa terpencil yang tidak tersentuh oleh pembangunan." ucap Edy sembari mencoba mengamati sekitarnya.
"bagaimana ini kita Tuan Muda? Kita bisa mati kelaparan disini, kita harus segera keluar dari hutan ini.?" ucap salah seorang dari mereka.
"tapi kita kehabisan bahan bakar!" seorang lagi menimpali.
Mereka kebingungan dengan situasi yang menjebak mereka.
"sebaiknya kita menangkap ikan saja dulu untuk makanan kita pagi ini. Nanti kita bakar saja untuk mengganjal perut yang lapar." titah Edy kepada para Bodyguardnya.
"heei..lihat, speedboad kita terbawa arus sungai.!!" seru seorang dari mereka.
Mereka semuanya memandang kearah speedboad yang terbawa arus sungai.
"siaaall..!! Bahkan koper uang itu berada disitu. Ayo.! Kita kejar speedboad tersebut sebelum jauh." perintah Edy kepada bodyguardnya.
mereka hendak beranjak dari tempat itu namun dikejauhan, mereka mendengar suara derap lari kaki kuda. Mereka saling pandang, lalu bersembunyi dibalik semak belukar.
Edy yang memiliki senjata api dipinggangnya segera bersiaga untuk mencabut senjata Api miliknya. Ia bersikap waspada ketika akan ada bahaya yang mengancam datang.
Dari kejauhan, tampak seorang gadis yang menggunakan cadar berwarna hitam sedang mengendarai kuda, menuju kearah mereka.
Saat melintasi mereka, mata mereka terpana oleh gadis pemilik mata indah itu. Meskipun wajahnya tertutupi oleh cadar, namun mereka dapat memastikan jika gadis itu sangatlah cantik.
Edy hinggah melongokan mulutnya. Bagaimana mungkin, Ia seorang pemuda yang tinggal dikota besar, terbiasa melihat gadis cantik, namun kali ini Ia tersihir dengan kecantikan alami gadis yang melintasinya barusan.
Dan yang membuat Edy terperangah, gadis itu tampak keren saat menunggangi kudanya. Baginya, itu adalah hal yang langkah.
Gadis itu menuju arah puncak bukit. Edy telah terhipnotis untuk mengikuti gadis cantik itu.
"woow.. Cantik sekali dia" fuji Edy dengan wajah yang sumringah.
"Cantik sih Tuan Muda, tetapi ini hutan belantara, tidak ada manusia yang tinggal disini. Jika ternyata itu demit bagaimana?" salah seorang bodyguard mengingatkan Edy.
"mana ada demit secantik itu.? Lihatlah dia, betapa kerennya Ia saat menunggang kuda tersebut.! " Jawab Edy dengan penuh penekanan.
Ketiga bodyguard itu saling pandang. Mereka tidak tahu harus bagaimana menghadapi Tuan Mudanya, yang terkenal dengan keras kepala.
"bantu saya menemukan gadis itu, saya akan memberikan ipah yang sangat besar, jika kalian dapat membantu saya membawa gadis itu kekota" perintah Edy sembari memberikan iming-iming kepada ketiga bodyguardnya.