Buhul ghaib

Buhul ghaib
Menghilang



Dina menyelesaikan shalatnya, Ia memanjatkan doa sapu jagadnya. Setelah selesai, Ia membereskannya. Melipat semua perlengkapan shalatnya dan menganggantungnya di tempat yang sudah tersedia.


Dina melihat Bromo belum juga ada didalam kamar. Ia merasa penasaran. Lalu membuka pintu kamar dan menuju pintu dapur.


Ia membukanya, lalu menuju kearah sungai. setelah sampai disungai, Ia celingukan mencari keberadaan Bromo. "Kanda.. Kanda.. Dimana kau..?" ucap Dina dengan lirih. Hatinya terasa sepi, hampa dan juga bingung, Ia tak mendapati Bromo disungai.


"Kanda.. Kanda.. Mengapa kau mengingkari janjimu..? Hadirlah.. Aku merindukanmu.." Dina mentap setiap hamparan sungai yang tampak gelap dan berair tenang. Hatinya kini begitu sangat sakit. Ia terisak dalam suara yang tertahan.


Matanya terus menyusuri alairan sungai, berharap menekukan keberadaan sang pujaan hatinya. "Mengapa kau pergi.? Bukankah kau sudah berjanji akan bersamaku malam ini meski sejenak..? Tidakkah kau sabar menungguku menyekesaikan ibadahku?" rintih Dina dalam kegundahan hatinya.


Abah yang masih terjaga, mendengar suara pintu dapur terbuka, lalu berusaha memeriksanya. Ia melihat dari pintu dapur, Dina sedang berada ditepian sungai.


"Din.. Dina.. Itu kah kau..?" teriak Abah kepada Dina.


"Iya Abah.. Dina buang air." jawab Dina berbohong.


"didapurkan ada kamar kecil, ngapain kamu buang air malam-malam disungai, bahaya." ucap Abah dengan perasaan was-was.


Abah merasakan sesuatu hal telah terjadi pada puterinya. Ia seperti merasakan hal kejanggalan yang dalam.


Lalu Ia menunggu Dina didapur hingga selesai. Ia khawatir jika saja tiba-tiba ada orang yang berniat tidak baik kepada puterinya.


Dina memutuskan untuk kembali kekamar. Ia membawa semua perasaan kecewa.


Abah beranjak dari dapur menuju kamarnya, setelah Ia memastikan Dina sudah menuju kearah dapur. Ia memasuki kamarnya dan akan segera tidur.


🐊🐊🐊🐊🐊🐊


Dina memasuki kamarnya, dengan perasaan keceqa dan hampa. Ia membaringkan tubuhnya di dipan kayu yang dibuat oleh Abahnya.


Matanya nanar menatap langit-langit kamarnya.


"mengapa kau datang dan pergi sesuka hatimu, Kanda.. Tidakkah kau merasakan kerinduan yang sama? Aku sudah lama menantikanmu, tetapi kau begitu saja menghilang." Dina berguman lirih pada hatinya yang pilu.


Ia mencoba memejamkan matanya, mengurir kerinduan hatinya pada sang pujaan hatinya yang telah mengingkari janji bercintanya malam ini.


Lamban laun, rasa kantuk menyerangnya. Ia tak mampu lagi menahan untuk berperang pada rasa kantuk itu, Ia pun menyerah dan tertidur lelap.


Ditengah malam sunyi ini, dikegelapan malam yang kelam, seseorang mengendap-endap menuju rumah abah Kasim. Ia menuju arah dapur, karena disana terdapat kamar seorang wanita yang menjadi incarannya.


Dengan cekatan Ia mencungkil daun jendela, lalu menyelinap masuk. Dengan menggunakan topeng yang sering digunakan oleh para pencuri dan perampok, Ia menuju kamar Dina.


Dengan segala keahliannya, Ia dapat berhasil masuk kedalam kamar tersebut.


Kreeeeeek..


Suara pintu dibuka dengan begitu sangat pelannya. lalu memasuki kamar Dina. Lalu menutup pintu kamar dengan sangat hati-hati


Ia menatap liar kepada wanita yang sedang terbaring dan tertidur pulas. Hasrat binatangnya menjalar begitu melihat kecantikan dan kelokan tubuh sang wanita. Ia menghampirinya dengan perasaan yang sangat penasaran.


Setelah mencapai tepian ranjang, Ia memulai aksinya, mencumbu Dina yang sedang terlelap.


Sesaat Dina merasakan ada seseorang yang sedang mencumbunya. "Kanda.. Itu kah kau..?" tanyanya dalam mata terpejam. Namun Ia merasakan aroma tubuh orang tersebut sangatlah berbeda dari Suaminya.


"brengsek.. Siapa kau.?! Beraninya kau berurusan denganku..!" hardik Dina dengan tatapan penuh amarah. Ia merapikan pakaiannya yang sempat berantakan karena ulah pria bertopeng itu.


Pria itu berusaha bangkit. Lalu menatap liar. " mengapa kau begitu sangat kasar? Aku hanya ingin bersenang-senang denganmu. Aku sudah lama memperhatikanmu, sejak kedatanganmu ke kampung ini, kau sudah meresahkanku." ucap pria itu tanpa merasa bersalah.


"enyahlah kau.. Aku wanita bersuami, dan jangan pernah mencoba mengusikku, jika kau tidak mau barangmu itu membusuk dan tidak dapat digunakan lagi.!" ucap Dina dengan tatapan tajam, menghujam jantung.


Pria itu terkekeh. "apakah kau kira kau takut dengan segala ancamanmu itu..? Jika kau sudah bersuami, aku tidak pernah melihat suamimu ada disini. Bahkan malam ini kau tidur sendirian. Aku akan mengobati rasa kesepianmu itu. Dan Aku semakin penasaran dan ingin merasakan bagaimana rasanya bersenang-senang dengan wanita tangguh sepertimu." jawab pria itu dengan nada mencibir.


Dina beranjak dari ranjangnya, dan berdiri menantang pria itu. "oh ya..? Coba saja jika kau bisa melakukannya..!" tantang Dina dengan perasaan penuh amarah.


Pria merasa tertantang, lalu menghampiri Dina yang kini sudah berdiri tepat dihadapannya.


Pria itu menatap dengan rakus. Lalu mencoba menyentuh lengan Dina. Dengan cepat Dina menangkap pergelangan tangan pria itu lalu memuntirnya..


Kretaaakk..


Terdenangar suara tulang lengan bergeser..


"aaaaaaa.." suara erangan yang tercekat ditenggorokan pria itu.Ia meringis kesakitan, wajahnya memerah merasakan tulang lengannya yang bergeser. Belum sempat Ia sadar akan sesuatu, Dina menghujamkan lututnya tepat telak di area sensitif pria itu.


Buuuughhh...


"Aaaaaaagh. " suara pria seperti tertahan. Ia kin meeasakan rasa sakit dan ngilu di area sensitifnya. Wajahnya tampak memucat.


Lalu Dina menyeret pria itu keluar kamar, dan membuka pintu dapur, melemparkan pria itu keluar dari ketinggian 1 meter diatas dapur.


buuuuuugh...


Suara benda terjatuh dihalaman dapur.


"Aaaaggh" suara erangan pria itu yang mengalami kesakitan bertubi-tubi. Tubuhnya terjerambab ditanah yang lembab.


Dina menatapnya dengan tatapan penuh amarah. "pergilah, atau aku akan mencincang tubuhmu. Dan ingatlah, kau tidak akan pernah bisa menggunakan senjata yang banggakan itu seumur hidupmu, sebelum kau datang merangkak dan meminta maaf padaku." ucap Dina dengan sesumpahannya pada pria itu.


Kreeeek..


Terdengar suara pintu kamar Abah dibuka.


"Din.. Itukah kau..? Ucap Abah, dengan Suara parau.


Mendengar suara Abah keluar dari pintu kamar, Pria itu berusaha bangkit dan berjalan tertatih sembari memegangi lengannya yang terasa sakit. Ia menghilang dibalik gelapnya malam kelam.


"Iya Abah.. Ini Dina.. " sahut Dina dengan tenang.


"oh..ya sudah.. Abah kira tadi ada pencuri yang akan memasuki rumah kita. Abah mau tidur lagi. Jangan lupa mengunci pintunya." ucap Abah dengan parau, lalu menutup kembali pintu kamar dan melanjutkan tidurnya.


Dina menatap aliran sungai yang membentang dari atas dapurnya.


"Kanda.. Dimana kau.. Hadirlah hai sang belahan jiwaku.. Aku merindukanmu" Dina berguman lirih dalam hatinya. Lalu menutup kembali pintu dapur, dan menuju kamarnya, yang penuh dengan kehampaan.