
"Siapa Kau?! Mengapa terus mengikutiku!" ucap Andre dengan kesal sembari menembakkan senjata apinya, lalu pelurunya terus saja mengenai angin.
Sesaat keempat bawahannya itu tercengang dengan apa yang dilakukan oleh Bos-nya.
Setelah kehabisan peluru, Andre tampak kalut dan melemparkan vas bunga kearah pria tampan yang terus mentertawakannya itu.
Jodi yang melihat Andre berbuat aneh, lalu menepuk pundak Bos-nya.
"Bos.. Sadarlah!!" teriak Jodi menyadarkan Andre yang tampak seperti orang sedang berhalusinasi.
Andre menatap Jodi dengan bingung. Lalu Jodi kembali mengguncang tubuh Andre yang masih tampak bingung.
"Bos.. Sadarlah..!" teriak Jodi mencoba kembali menyadarkan Andre.
Seketika Andre mengusap wajahnya, menatap kearah pria yang masih juga tetap berada disana.
"Apakah Kau tidak melihat pria itu disana?" tanya Andre kepada Jodi.
Jodi hanya menggelengkan kepalanya "tak ada sesiapapun disudut sana, Bos" jawab Jodi menjelaskan.
Sesaat Andre kembali melihat ke sudut itu, lalu pria tampan itu masih berdiri disana dan menatapnya dengan senyum mengejek.
Andre menghampiri Jack "Kau melihatnya juga kan?" tanya Andre kepada Jack.
Jack hanya menggelengkan kepalanya, Ia juga bingung mengapa Bos-nya bersikukuh mengatakan ada seseorang disana, sementara hanya ada sebuah guci antik yang kini sudah hancur karena terkena tembakan peluru dari Andre.
Andre menatap Sani dan juga Dori, meminta jawaban apakah mereka juga melihat pria disudut ruangan itu, namun keduanya serentak menjawab tidak, dengan menggelengkan kepalanya.
"Pergilah, Kalian.. Dan tinggalkan Aku sendiri. Cepat..!!!" teriak Andre dengan kesal.
Ia tidak senang jika Ia dikatakan sedang berhalusinasi apalagi frustasi.
Sesaat Ia melihat kearah sudut ruangan itu, dan benar saja, pria itu tak lagi ditemukan keberadaannya.
"Sialan.. Dia sengaja membuatku seperti gila!" teriaknya dengan kencang, lalu menggebrak meja yang ada didepannya. Ruangan utama tersebut tampak begitu berantakannya.
Sementara itu, Jack dan Jodi pergi meninggalkan kediaman si Bos yang tampak berhalusinasi, sedangkan Sani dan Dori juga mengendarai mobil itu kearah yang berbeda.
Disebuah tempat yang sunyi, Sani menghentikan mobilnya, membuat Dori merasa bingung "Mengapa Kau berhenti disini?" tanya Dori dengan penasaran.
"Tenang sajalah, dan ikuti saja perjntahku" ucap Sani dengan berusaha tenang.
Sani merobek jok mobilnya, Ia mengeluarkan 3 bungkusan plastik kresek yang dilakban dengan perekat berwarna kuning.
"Ini uang, setiap satu bungkus ini bernilai 2 milyar, maka satu untukmu, satu untukku, dan satu lagi kita bagikan untuk ketiga keluarga rekan Kita yang tewas saat misi tersebut" ucap Sani dengan tenang.
Dori tercengang dengan apa yang dilihat dan didengarnya.
"Saat di goa, Aku menyimpan sedikit berlian-berlian itu tanpa sepengetahuan si Bos. Bahakan saat akan naik ke helikopter, saat Kita diminta untuk membantu mengangkut permata-permata itu, Aku melihat Blue diamond yang dilemparkan gadis itu untuk melukai mata si bos, Aku mencoba mengambilnya dan juga meyembunyikannya" Sani berusaha mengingat semua kejadiannya.
Dori hanya terus tercengang dan tak mampu berkata apupun.
"Dalam hati Aku berniat, jika dapat menjual seluruh permata yang ku sembunyikan, Aku akan berhenti bekerja didunia hitam, dan hidup normal bersama anak dan istriku.
Setelah sampai dari goa, Aku berusaha menyelinap, dan menemui Thomas secara diam-diam. Kami melakukan jual beli secara gelap dan berjanji tidak saling membongkar rahasia ini" Sani kembali melanjutkan ucapannya.
Dan semua berjalan dengan lancar. Bahkan Thomas seolah tidak pernah bertemu denganku saat melakukan jual beli kepada si Bos" Sani mencoba menarik nafasnya dengan dalam.
"Namun, aku juga tidak mengerti mengapa berlian itu tidak menjadi debu seperti yang terjadi pada si Bos barusan"Sani masih merasa bingung dengan semuanya, begitu juga halnya dengan Dori.
Lalu Sani menyerahkan satu bungkus uang tersebut kepada Dori "Simpanlah, Aku akan mengantarkanmu ke stasiun malam ini, jemputlah keluargamu, bawa mereka sejauh mungkin dari sini. Bahkan Aku sudah mengubah identitasmu, ini semua berkas-berkas milikmu dan keluargamu"ucap Sani, sembari menyerahkan tiket dan berkas-berkas identitas untuk Dori.
Pria itu menatap Sani dengan mata yang berkaca-kaca, Ia tidak menduga sama sekali jika Sani bergerak secepat itu.
"Mengapa Kau hanya melakukannya untukku, tidak dengan Jack dan juga Jodi?" tanya Dori penasaran.
"Karena hanya, Kau yang sejalan dengan ku. Kita tidak memiliki waktu, ayo bergerak, sebelum Kita terlacak." ucap Sani, lalu Mengambil phonselnya, mengambil sim cardnya dan mematahkannya, kemudian membuang phonselnya kedalam rawa didekat mereka.
Hal yang sama dilakukan oleh Dori, lalu mobil yang mereka tumpangi melaju dengan cepat dan meluncur menuju stasiun kereta api.
Pukul 12 malam nanti akan ada kereta yang tiba dan menuju kekampung halaman Dori. Sani membawa Dori, kesana, lalu mereka berpisah di stasiun, setelah saling berpelukan.
Dori memasuki stasiun, dan menaiki kereta Api yang akan membawanya kekampung halaman untuk menemui keluarganya.
Sani kemudian meluncur menuju kediamannya. Ia sudah mengirimkan anak dan istrinya yerlebih dahulu ketempat yang sudah direncanakan, hanya kini tinggal Ia yang akan bergerak meninggalkan kota yang penuh dengan kegemerlapan dan dunia hitamnya.
Sani menukar mobilnya, lalu bergerak menuju bandara, Ia akan melakukan penerbangan esim pagi, sementara waktu Ia akan menginap dihotel terdekat dengan bandara.
Sementara itu, Jack dan juga Jodi pergi ke klub malam. Mereka begitu sangat merasakan nasibnya yang begitu sial. Mereka meminum minuman berakohol dan bersenang-senang dengan para gadis untuk menghilangkan rasa kesal mereka yang teramat dalam.
Keduanya tidak perduli dengan kondisi Andre yang tampak begitu frustasi, karena mereka juga begitu frustasinya.
Keduanya tampak terkapar karena meminum terlalu banyak. Akhirnya mereka tak sadarkan diri dan tertidur di club malam tersebut.
Disisi lain, Dori sudah meninggalkan stasiun dan kereta sudah berangkat.
Hatinya tidak dapat menggambarkan perasaannya saat ini. Ia sudah bertekad akan berubah menjadi lebih baik, dan tidak akan terjebak lagi dalam dunia hitam yang selama ini telah menjerumuskannya dalam kesesatan.
Terkadang cahaya hidayah itu bisa datang kepada siapa saja, meskipun mereka berasal dari dunia hitam yang sangat gelap. jika Rabb-Mu memilihmu, maka Kamu akan terselamatkan.
Dori mendekap Uang pemberian dari Sani yang Ia sembunyikan didalam jaketnya. Ia menatap kegelapan malam dengan senyum yang begitu indah, berharap esok pagi ada sesuatu cahaya yang menerangi jalannya.
Baru kali Ia merasakan hatinya begitu damai, tenang, tanpa harus diperintah ini dan itu. Ia bagaikan burung yang bebas dan bisa berbuat sesuai keinginannya tanpa harus terikat dengan sesuatu yang selalu menjadikannya budak yang harus mematuhi setiap ucapan dari orang yang dipanggilnya Bos.