
Lee mendapat informasi jika pengedaran uang palsu itu dilakukan komplotan mafia yang diketuai oleh Andre.
Maka mau tidak mau mereka harus bergerak dan menyergap para komplotan tersebut.
Lee dan Rere menyusun strategi dan berusaha untuk menangkap Pria itu, karena prilakunya sudah sangat meresahkan sekali.
" Kita harus bergerak cepat. Karena mereka sudah menggerakkan banyak anggota mereka untuk mengelabui aparat, dan nantinya masyarakat yang akan dirugikan." ucap Lee dengan penekanan.
Rere menganggukkan kepalanya, pertanda mengerti "Lalu kapan Kita akan bergerak?" tanya Rere memastikan.
"jika bisa malam ini, maka malam ini kita akan bergerak." jawab Lee menyarankan.
"Baiklah.. Mungkin selesai maghrib kita akan bergerak. Apakah mata-mata Kita sudah memberikan informasi yang akurat?" tanya Rere lagi.
"Sebelum maghrib mungkin akan ada kabar, kita tunggu saja dulu perkembangannya.
Sementara itu, orang yang tampak memiliki gangguan jiwa sedang mondar-mandir didepan rumah mewah milik Andre.
Pakaiannya yang kumal dan rambut acak-acakkan serta wajah yang tampak seperti tidak pernah mandi perlahan duduk ditrotoar tak jauh dari tempat kediaman miik Andre.
Pria tak waras itu bahkan mencoba mengelabui para bodyguard Andre saat tidur-tiduran ditrotoar dekat rumah mewah milik Andre.
sementara itu, Edy yang terus mengurung dirinya dikamar merasa jenuh karena seharian tak melihat dunia luar.
Sehari tak bersama Asih, bagaikan serasa setahun lamanya.
Edy berniat keluar dari kamarnya, meskipun nantinya Ia akan ketahuan oleh Papanya.
Edy keluar dari kamarnya, saat itu Ia berpapasan dengan dengan Dorumi yang akan memasuki kamar Andre untuk memberikan suatu informasi.
"Tuan Muda? Kapan kembali?" sapa Dori dengan rasa kagetnya.
Edy hanya melirik orang suruhan tersebut, lalu menjawab hanya dengan dehemen saja.
Sesaat Edy berniat keluar dan mengintai Asih. Berharap Asih duduk dibalkon kamar dan memandangnya saja sudah merasa puas.
Edy keluar dari rumah menuju trotoar, bahkan Ia tak menggubris sapaan beberapa para bodyguard yang kaget saat berpapapsan dengannya.
Sementara itu, Dori mengetuk pintu kamar Andre, perlahan terdengar suara Andre memberi ijin untuk masuk.
Dori memasuki kamar Andre, lalu menutup pintunya.
"Sejak kapan Tuan Muda Andre kembali, Bos?" tanya Dori sembari melangkah menghampiri Andre yang sedang menatap sebuah foto gadis desa yang saat itu diambilnya saat mereka akan melakukan make in love pertamanya.
Gadis lugu dan polos yang dengan mudah dikelabuinya itu.
"Eheeem.." Dori berdehem karena pertanyaannya tidak mendapatkan tanggapan.
Andre tersadar dari lamunannya, yang membuat Dori tersenyum mencibir.
"Tadi Kamu bilang apa?" Andre meminta Dori mengulangi pertanyaannya.
Dori tertawa kecil "Segitunya melamunkan seorang wanita, Bos. Sampai tidak mendengar pertanyaan saya" ucap Dori dengan nada menyindir.
Andre menatap tak suka pada Dori yang dengan sengaja mengejeknya.
"Bukan urusanmu, dan Katakan apa yang ingin Kau katakan" ucap Andre dengan kesal.
"Pertama Saya ingin mempertanyakan kapan Tuan Muda Edy kembali kerumah" tanya Dori dengan penasaran.
"Edy?" Andre mengerutkan kedua alisnya. Ia sendiri tak mengetahui berita itu, dan mengetahuinya saat Dori memberikan informasi tersebut saat ini.
"Bahkan Saya mengetahuinya dari Kamu" jawab Andre dengan ketus.
Seketika Dori melongo mendengarnya. Ia tak menduga jika Bos-nya sendiri tidak mengetahui kepulangan anaknya.
Dori hanya menganggukkan kepalanya.
Disisi lain, Edy berjalan menyusuri trotoar. Lalu menemukan orang dalam gangguan jiwa tersebut yang sedang tertidur dipinggir jalan. Ia merogoh saku celananya, lalu memberikan uang 50 ribu rupiah kepada orang gila tersebut, lalu berjalan melenggang sembari membenahi topinya.
Ia sedang menuju rumah kedkmiaman Asih yang tidak begitu jauh dari rumahnya.
sementara itu, Dori dan Andre sedang membahas sesuatu yang sangat penting.
"Foto Jack sudah disebar oleh pihak inteligent. Mereka mendapatkan informasi dari salah satu anggotanya yang tertangkap saat mengedarkan uang palsu dipasar" ucap Dori menjelaskan.
"Jadi mereka buka suara untuk hal itu?" ucap Andre, lalu mengambil rokoknya dan menyulutkan pemantik api, lalu menghisapnya dengan sangat dalam.
"Ya.. Anggota tidak tahan dengan siksaan dari para peyidik" jawab Dori lagi.
Andre menghembuskan asap rokok tersebut dengan sangat berat, hingga asapnya memenuhi ruangan kamar tersebut.
Tak berselang lama, suara panggilan masuk dari nomor Della, Istri Andre yang terabaikan.
"Ya.. Ada apa?" tanya Andre dengan nada malas.
"Mas.. Sakit Ayah semakin parah, Saya berniat membawanya kerumah agar mendapatkan perawatan yang lebih baik" ucap Dellia dari ujung telefon.
" Bawalah, jika itu baik untukmu" ucap Andre begitu saja, lalu mematikan sambungan telefonnya tanpa basa-basi sedkitpun.
lalu Ia menatap Dori "Hal apalagi yang perlu ditakutkan, bukannya Jack yang menjadi pemimpin dalam pengedaran uang palsu tersebut sudah tewas?" ucap Andre sembari menyesap rokoknya dengan sangat dalam.
Dori terdiam sesaat. " Namun bagaimana jika anggota itu membeberkan jika Kita pelakunya" ucap Dori mengingatkan.
"Keluarkan senjata api hasil seludupan Kita, persenjatai semua anggota untuk mengantisipasi serangan" titah Andre.
"Baik, Bos.. Saya akan mengambil sisa digudang. Sebab yang lainnya sudah dikirim ke pemesan" ucap Dori menjelaskan.
Andre menganggukkan kepalanya. Ia mematikan rokoknya, lalu memerintahkan Dori agar segera bergerak.
Disisi lain, Edy telah sampai didepan pagar rumah Asih. Ia mengintai dari balik pagar, berharap Asih ada dibalkon kamarnya.
Dan pucuk dicinta ulampun tiba. Asih sedang duduk dibalkon sembari menatap sunset dengan wajah seperti termenung.
"Apakah Kamu merasakan kehampaan yang kini sedang Aku rasakan?" ucap Edy dengan lirih.
Seketika Asih memandang kearahnya. Lalu kedua mata mereka beradu.
Asih celingukan kesana kemari, seolah sedang melihat apakah ada orang yang sedang melihatnya.
Seketika Asih melompat dari atas balkon, lalu berlari secepat kilat menghampiri Edy yang menunggunya dipagar rumah.
Edy terperangah melihat aksi nekad Asih.
"Dasar, Kamu nakal. Mengapa Kau pergi begitu saja tanpa memberitahuku" ucap Asih sembari memukuli dada Edy.
Aksi keduanya dilihati beberapa orang yang melintasi mereka.
"Tenanglah.. Sebaiknya Kita mencari tempat untuk berbicara" Ucap Edy, lalu mereka memesan taksi online untuk menuju kesuatu tempat.
Setelah mendapatkan taksi online, mereka menuju sebuah cafe yang sedikit jauh dari kediaman mereka.
Setelah sampai ditempat yang dituju, Edy membawa Asih menuju sebuah cafe.
Mereka menuju tempat paling sudut, namun menghadap jalanan. Keduanya memesan makanan, sebab mereka belum makan sama sekali.
Sembari menunggu pesanan datang, Asih mengomel kepada Edy yang tak memberinya kabar, bahkan Edy sengaja menonaktifkan phonselnya agar tak dapat dihubungi.
"Maafkan, Aku.. Ini terpaksa Aku lakukan. Sebab Aku merasa bersalah atas semua kekacauan yang aku sebabkan karena memisahkanmu dari keluargamu, dan juga kakakmu yang belum ditemukan" ucap Edy dengan perasaan bersalah.