
Asih memacu kudanya dengan kencang. Ia tidak menyadari jika Ia sudah berada jauh dari goa.
dengan menggunakan busurnya, Ia mencoba memanah sembari menunggangi kudanya.
Ia membidik seekor kancil yang sedang menikmati hasil kebun milik warga.
Dan dengan cekatan, Asih melepaskan anak panahnya.
[wuuuuush..ssth]
Anak panah itu melesat dengan cepat dan mengenai kancil itu.
Asih dengan masih berkuda menyambar hasil buruannya. Lalu menyembelihnya sebelum kancil itu tewas.
"aaaaaahhh..tolong. " suara orang meminta tolong terdengar sampai ketelinganya. Asih menajamkan pendengarannya.
Ia memasang penutup wajahnya, lalu menyisahkan mata indahnya saja. Ia tidak ingin dikenali oleh orang lain, karena Ia tidak ingin jati dirinya diketahui oleh orang asing.
Asih memacu kudanya dengan kencang, menuju asal suara orang yang meminta tolong. Dikejauhan tampak seorang tua yang sedang dalam bahaya. Sesosok makhluk kepala terbang sedang mengitarinya.
Asih membidikkan anak panahnya, lalu melepaskannya ke arah makhluk kepala terbang itu.
[wuuuush..sssttt]
Anak panah melesat dan mengenai makhluk bernama banaspati tanah itu.
"aaaarrrgghhh.." Banaspati tanah liat itu menggeram. Ia memandang Asih dengan perasaan marah.
Banaspati itu bergelinding ditanah, dan menyerang kuda Asih dengaan sangat ganas.
Asih melompat dari atas kuda dengan gerakan sangat ringan, Ia mencabut pedangnya, lalu menyiapkan kuda-kuda pertahanan.
Ia memutar-mutar kepala pedang dengan dengan gerakan seperti kincir angin yang sedang berputar.
Banaspati itu menggelinding ditanah menyerang Asih. Lalu Asih menghunuskan pedanganya, dan ujung pedang yang runcing itu melukai mata Banaspati. Namun hanya beberapa saat saja luka itu kembali sembuh.
Banaspati itu berputar bak sebuah gasing, berputar dengan sangat kencang, Asih lalu menancapkan ujung pedangnya ketanah, lalu merafalkan doa, ketika Banaspati melesat sembari berputar kencang untuk menyerangnya, Asih mencabut pedangnya yang ditancapkannya ditanah, Ia melompat, lalu memutar tubuhnya dan menghunuskan pedangnya tepat mengenai kening Banaspati tersebut.
"aaaaaargh.."
Suara erangan yang sangat melengking dengan sangat keras. Banaspati itu terbelah menjadi dua bagian. Lalu menghilang.
Setelah Banaspati itu menghilang Asih menghampiri si kakek yang sedari tadi terlihat sangat ketakutan.
"Kakek takut..?" ucap Asih dengan dengan sangat hati-hati.
Kakek itu hanya mengangguk lemah. Ia memunguti bilah-bilah bambu yangbsudah dikumpulkannya.
Bilah bambu itu akan Ia berikan kepada istrinya untuk dianyam menjadi keranjang dan sebagainya. Istrinya sedang mendapatkan pesanan dari luar daerah.
"te. Terima kasih cu, sudah menolong kakek." ucap pria tua itu dengan terbata-bata.
Asih menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
"Rumah kakek dimana..?" ucap Asih ramah.
"ada dikaki bukit.." jawab kakek itu sopan.
"apakah jauh dari sini kek..?" ucap Asih penasaran.
"iya cu..tadi kakek bawa motor kemari." jawab sikakek menjelaskan.
"apa itu motor kek..?" tanya Asih bingung.
Sikakek terkekeh. "ya ampun.. Cu, masa iya kamu gak tau itu apa motor..?" jawab si kakek.
Asih hanya nyengir. Ya sudah kalau begitu, saya permisi ya dulu ya kek. Hati-hati dijalan." ucap Asih, lalu melompat keatas kudanya. menarik tali kekang kuda tersebut, lalu menghentaknya. Kuda itu lalu berlari kencang.
"heei..kakek belum sempat mengucapkan terima kasih." teriak kakek itu dengan parau. Namun Asih telah menghilang dibalik pepohonan yang rimbjn. Hanya derap lamgkah kaki kuda yang terdengar semakin menjauh.
Kasim mengumpulkan bilah-bilah bambu yang telah dipotongnya menjadi kecil. Ia harus segera pulang kerumah sebelum matahari tenggelam.
Karena hutan yang sunyi dan gelap akan menghalangi pandangan matanya dan akan membuatnya tersesat.
Asih terus memacu kudanya, Ia membawa hasil buruannya. Setelah menemukan Sungai, Asih melompat dari atas kudanya. Lalu Ia berjalan ketepian sungai. Ia menguliti kancil buruannya, lalu membersihkannya.
Setelah selesai, Asih ingin membersihkan dirinya dati noda darah bekas percikan saat dirinya membersihkan hewan kancil tadi. Ia membuka pakaiannya. Lalu membenamkan dirinya di sungai tersebut.
Setelah puas berbenam, Asih kembali mengenakan pakaiannya, tak lupa membawa hasil buruannya. Ia memacu kudanya dengan kencang, menuju goa.
langit mulai menghitam. Pertanda hujan akan turun. Namun Asih belum juga sampai ke goa. Ia merasakan jika dirinya hanya berputar-putar disitu saja. Sedangkan Ia merasa sudah sangat jauh memacu kudanya.
safak menggantung dilangit, pertanda malam akan tiba. perlahan Asih mendengar suara bunyi gamelan yang bertalu-talu dan sangat merdu.
Asih larut dalam bunyi tersebut. Ia mengikuti jejak suara bunyi tersebut. Hingga tanpa sadar, Ia menemukan sebuah rombongan kerajaan yang sedang melakukan iring-iringan. Asih mengikuti rombongan tersebut.
Ia melihat sebuah istana yang sangat megah berdiri didepannya. Ia melompat dari kudanya, lalu ikut memasuki istana tersebut.
Disana Ia disambut dengan sangat ramah dan antusias. "selamat datang tuan puteri, dan silahkan untuk mencicipi hidangan kami." sambut para dayang dengan sangat ramah.
Asih bingung dengan semua ini. Dimana para orang-orang begitu menghormatinya.
Tampak seorang kakek tua dan dan nenek tua yamg menggunakan baju kerajaan yang sangat mahal dan megah. Mereka duduk disinggasana kerajaan.
"selamat datang cucuku. Kami sangat senang kamu mau mengunjungi kami." sapa kakek dan nenek itu dengan ramah.
"haaah.. Cucu..? Cucu darimana..? Dan apa maksudnya..?" Asih berguman lirih.
"mengapa mereka terlihat aneh, mereka seolah-olah mengenalku.?" Asih masih bingung dengan semuanya.
Sesaat Asih mengingat ibunya, Dina. Ia ingin segera pulang, dan kancil buruannya sudah seharusnya dimasak.
Asih berbalik dan berjalan mundur. "tidak..tidak.. Aku tidak boleh berada ditempat ini, aku harus kembali." Asih lalu menyelinap pergi.
Asih melompat keatas kudanya, lalu Ia merasa bingung harus keluar dari pintu yang mana.
Asih mencoba jalan keluarnya, namun tak menemukannya.
Sepasang mata dari kejauhan sedang memperhatikannya, lalu membuka pintu ghaib untuk Asih agar dapat kembali pulang kedunianya.
Asih melihat putaran cahaya berbentuk lorong waktu, dengan instingnya yang sangat kuat Ia memacu kudanya dengan cepat, lalu menerobos putaran cahaya yang merupakan lorong waktu tersebut.
Seketika Ia berada dihutan kembali. Langit sudah sangat gelap. Lalu Ia kembali memacu kudanya dengn cepat dan harus segera kembali ke goa.
---------
"jangan pernah lagi menjebak Asih masuk kedalam dunia kita Bu" ucap Bromo pada sang ibu yang duduk ditepian ranjangnya.
"aku hanya ingin melihat cucuku, sekali saja. ternyata Ia sangat cantik." ucap Ibu Bromo dengan lembut.
"dan sepertinya Ia memiliki jiwa pemberani, tak ada sedikitpun rasa takut dihatinya." ucap Romo Kaliwo dengan tegas.
"aku yakin Ia memiliki sifat yang sama sepertimu, didiklah Ia agar menjadi wanita tangguh." Kaliwo menegaskan.
---------
Asih masih memacu kudanya, hari sudah larut malam. Dina menunggunya dengan persaan cemas. Begitu juga dengan Chakra.
Chakra sudah mencarinya kemana-mana, namun tak membuahkan hasil.
Dari kejauhan terdengar suara derap langkah kaki kuda. Lalu tampak bayangan Asih.
Dina mengelus dadanya. Saat Asih turun dari kudanya, Ia memeluk puterinya. "kamu kemana saja sayang..sudah membuat ibu khawatir" Dina berguman lirih.
"jangan bermain terlalu jauh sayang, ibu sangat khawatir." ucap Dina sembari membelai rambut Asih.
"maafin Asih bu.." jawab Asih merasa bersalah.
Chakra mendekati adiknya, lalu mengacak rambut Asih. "dasar, gadis nakal" ucapnya.
Asih memanyunkan bibirnya. Lalu melemparkan daging kancil yang dibawanya kepadanya Chakra.
Chakra menyambutnya dengan satu tangkapan. Lalu Ia menyalakan api, dan memanggang daging kancil tersebut.
.