
Matahari terbit diufuk timur. Chakra keluar dari pintu goa. Chakra berniat hendak berburu hari ini. Ia menarik talj kekang kudanya. Saat akan melompat menaiki punggung kuda, Ia melihat sesuatu yang membuatnya membelalakkan matanya.
Alangkah terkejutnya Ia empat orang pria yang ditemuinya di hutan, kini sudah berada di sekitar goa tempat mereka tinggal.
Chakra mencabut pedang miliknya yang terselip dipinggang.
"criiiiiing...
Suara pedang tercabut dari sarungnya.
Ia menghampiri keempat pria tersebut. Chakra mengarahkan pedang itu kepada Edy.
Chakra mengarahkan pedangnya tepat pada sianar mentari pagi, kilaunya menyilaukan mata keempat orang pria itu. Dengan menyipitkan mata dan melindungi mata mereka menggunakan lengan.
Setelah keempatnya sadar, mereka beranjak bangkit dengan masih menyimpan rasa kantuk.
Setelah kesadaran mereka mulai berkumpul, Edy menatap Chakra dengan sedikit rasa kesal.
"siapa yang menginjinkan kalian tidur disini..?" ucap Chakra mengintimidasi.
"kami tersesat.. Dan menemukan goa ini.."jawab Edy, berusaha meyakinkan Chakra.
Ujung matanya menngkap sisa makanan yang mereka makan seperti yang dimakannya saat makan malam tadi. "Siapa yang memberikannya? Apa Asih..? Siaaal..!!" Chakra menggerutu.
Saat Chakra akan menggerutu, Asih muncul dari balik pintu goa.
Melihat Chakra menghunuskan pedang ke pada ke empat pria itu, Ia hanya diam saja tak bergemimg, tidak kaget, juga tidak melarangmya.
"kebetulan sekali, biarkan saja Kak Chakra yang mengurus mereka." Asih berguman lirih dalam hatinya.
Asih bersikap acuh kepada keempatnya. Ia hendak pergi ke kebun untuk memetik beberapa sayuran dan umbi-umbian. Ia ingin membuat sarapan untuk pagi ini.
Edy melirik dengan ujung matanya.
"Asih.. Apakah kamu yang memberi mereka makan tadi malam..?" cecar Chakra dengan sedikit nada tinggi.
Asih menghentikan langkahnya. "mereka kelaparan, kalau mati disini akan merepotkan kita menggali lubangnya." jawab Asih seenaknya. Lalu Ia beranjak pergi.
"Asih.. Itu namanya.." ucap Edy tersenyum penuh arti.
Ia memandang punggung Asih yang berjalan seolah tanpa beban.
"sungguh gadis yang luar biasa." Edy berguman dalam hati, mengagumi Asih, gadis misteri penghuni puncak bukit.
"sekarang pergilah dari sini, dan jangan pernah kembali lagi." Hardik Chakra dengan penuh penekanan.
Keempatnya beranjak bangkit, dan meninggalkan goa.
Chakra memandang mereka dengan tajam, hingga menghilang ditikungan jalan setapak.
Chakra melompat keatas punggung kudanya, lalu ingin berburu, menangkap sesuatu untuk makan mereka hari ini.
Dipersimpangan, Edy memutar arah tujuannya. Ke tiga bodyguard itu saling pandang."Tuan Muda, anda hendak kemana?" tanya seorang dari mereka.
"aku ingin melihat gadis itu.." jawab Edy, sembari melangkah memutar arah.
"siaall..! Akan ada masalah jika seperti ini."gerutu seorang bodyguard lainnya.
Jef, sedari kemarin sedang berkomunikasi kepada Bos nya, tersenyum sumringah. "lihatlah, bos telah melacak keberadaan kita, dan akan mengirimkan helikopter untuk membantu kita keluar dari hutan ini." ucap Jef, kepada ke dua rekannya.
"baguslah. Bisa mati kelaparan kita jika bantuan tidak datang." yang lain menimpalli.
Ketiga bodyguard itu terpaksa mengikuti ke mana arah Edy melangkah. Hingga akhirnya, Edy menemukan Asih, yamg sedang memetik beberapa sayu, labu , dan singkong.
Sebuah keranjang anyaman bambu telah berisi dengan banyak bahan.
Karena sarat muatan, Asih sedikit kesulitan membawanya keatas punggung.
Edy yang sedari tadi mengintainya, segera menghampiri, membantu Asih menaikkan kepunggungnya.
Seketika Asih terkejut, karena kini Ia tak sendirian dikebun. Tetapi sudah berlima bersama ke 4 orang pria.
Asih kembali meletakkan keranjangnya. "mengapa kalian disini..?" hardik Asih. Ia juga heran mengapa mereka dapat menemukannya.
"aku hanya ingin berkenalan denganmu.." ucap Edy tersenyum tulus.
"Hai.. Namaku Edy..nama kamu siapa..?" Edy mencoba memperkenalkan dirinya, meski Asih sedikit terlihat acuh. Edy memgulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Asih.." jawabnya singkat lalu mencoba menyambut uluran Edy.
Rasa hangat ketika kulit bersentuhan satu sama lain dari lawan jenisnya, membuat Asih sedikit terkejut. Asih buru-buru menarik kembali tangannya.
Ia segera kembali mengemasi barang-barang bawaannya. Asih meletakkan keranjang yang berisi penuh dengan umbi singkong, talas, jagung, dan labu.
Meski sedikit kesusahan, namun Ia dapat mengatasinya. Setelah itu Asih ingin beranjak pergi.
"tunnggu, bolehkah kami meminjam kudamu.." ucap seorang bodyguard mencegah langkah Asih.
Asih menghentikan langkahnya, lalu memutar tubuhnya kearah bodyguard tersebut "tidak..!!" jawab Asih dengan tatapan dingin.
Edy heran dengan sikap jef itu, yang tiba-tiba nyelonong saja, tanpa berkomunikasi terlebih dahulu padanya.
"Tuan..bantuan akan datang, Bos Andre telah mengirimkan hellikopter untuk membantu kita."
Edy menatap kepada bodyguard itu. "benarkah..?" ucap Edy sumringah, namun senyumnya seketika berubah menjadi sesuatu yang sangat licik.
"aku ingin membawa gadis itu ikut serta padaku. Apakah kalian bisa membantuku" ucap Edy sembari melirik kepada Asih.
Jeft yang sedari tadi sudah didekat Asih, terlihat terlibat percekcokan.
Sedangkan kedua rekannya yang lain, mengedipkan mata kepada Edy, tanda setuju.
"serahkan kudamu..? Atau aku akan.." ucap Jef, sembari menodongkan senjata api ke kening Asih.
Mendapat ancaman seperti itu, membuat Asih menurunkan keranjangnya. Lalu diam-diam mengambil sebatang singkong yang berukuran besar, lalu dengan cepat menghantamkan ke lengan jef.
Senjata api jef terpental, dengn sigap Asih menendang lutut Jeft sehingga membuta Jeft meringis berlutut. "jangan bermain dengnku" ucap Asih.
Asih mengingat Ia sedang tidak membawa busur panah dan pedangnya. Namun Ia berusaha untuk setenang mungkin.
Edy dan kedua bodyguardnya terperangah, melihat kecepatan gerakan tubuh Asih dalam melumpuhkan Jef secepat kilat.
"aku harus mengulur waktu sampai helikopter datang, dan aku harus bisa membawanya serta." Edy berguman dalam hatinya, dan merencanakan sesuatu.
"Maafkan rekanku.." ucap Edy sembari menghampiri Asih. Ia ingin mencari cara untuk menaklukkan gadis itu.
Seorang bodyguard lain juga ikut menghampirinya. Asih mulai waspada. Ia merasakan gelagat yang tidak baik dati keempatnya.
Duuuuuaar..
Suara tembakan membahana dihutan, suasana pagi yang semula lengang, berubah menjadi mencekam.
Seorang bodyguard yang lainnya, menembak seekor burung yang sedang hinggap dipepohonan. Burung itu tewas seketika.
Asih yang mendengar suara tembakan itu seketika terkejut. Lalu hilang sejenak konsentrasi.
seumur hidupnya, Ia belum pernah melihat bagaimana suara letusan senjata api, bahkan senjata itu mampu membunuh seeokr burung dengan cepat.
Melihat kemampuan senjata itu, Asih mulai memasang sikap waspada.
Kini ke empat orang pria itu mulai mendekatinya. Asih berjalan mundur. Namun keempatnya terus saja mengikuti pergerakannya.
"jangan memaksa aku untuk berbuat lebih.! Serahkan saja kudamu dan kamu akan aku biarkan selamat." ucap Jef yang kini sudah mulai dapat bangkit kembali.
Asih melirik Jef yang sedang tidak membawa senjata. Saat Asih berjalan mundur, Ia menginjak senjata api milik Jef yang terpental. Dengan cepat Ia merunduk dan mengambilnya.
Lalu dengan gerakan Ia menendang dengan gerakan berputar dan menendang kesamping pergelangan kaki Jef hingga terjatuh kembali. Lalu Ia menjambak rambut Jef.
Kondisi mereka kini sudah hampir ditepi jurang sedalm 300 meter.
"hentikan langkah kalian, atau akan kupecahkan kepala rekanmu ini." ancam Asih, menakuti ketiganya.
namun sayang, mereka tidak memperdulikannya, karena mereka tau jika Asih tak dapat menggunakan senjata api tersebut.
Edy mengangkat tangan kanannya keatas. Memberi isyarat agar ke dua bodyguardnya berhenti. Edy takut jika Asih akan terperosok kedalam jurang.
Bersambung ya...