
Dina berjalan menuju rumahnya. Ia begitu sangat kesepian tinggal dirumah sebesar itu.
"Kanda.. Kanda datanglah" ucap Dina memanggil pujaan hatinya.
Sesaat Asap putih muncul dihadapannya. Lalu sosok pria tampan bertubuh buaya sebatas pinggang menghampirinya.
"Ada apa Dinda? Mengapa begitu sangat memanggil Kanda. Rindukah Kau padaku?" tanya Bromo, sembari menggendong tubuh mungil Dina.
"Dinda kesepian Kanda.. Kapan Asih akan tiba dirumah ini?" ucap Dina dengan rengekannya.
"tak lama lagi sayang.. Bersabarlah.." ucap Bromo mencoba menenangkan.
Buuuuuuummmm... Byyaaaar..
Suara dentuman yang sangat menggelegar terdengar diseisi ruangan rumah. Seketika Bromo menurunkan Dina dari pangkuannya.
Lalu sesosok ular betina bertubuh raksasa muncul dihadapan keduanya dan sedang menatap marah.
Sssssssstttttssss...
"Bromo Sadewo... Aku menuntut balas atas perbuatan puterimu yang lancang menganggangu acara ritualku.." ucap ular berkepala wanita cantik itu.
Bromo hanya menatap dengan tenang dan dengan senyuman cibiran.
"Lalu mengapa Kau menuntutnya kepadaku? Mengapa tidak langsung kepadanya? Apakah Kau sudah sangat lemah, sehingga menghadapi puteriku yang seorang bocah saja Kau tidak sanggup" ledek Bromo kepada ular siluman itu yang tak lain adalah Ristih.
Ristih merasa semakin tersinggung dan penuh amarah saat Bromo mengatakan hal itu.
"Dia telah menelan sepertiga dari batu permata mirah delima milikku, beserta calon korban persembahanku juga menelan sepertiganya" ucap Ristih dengan kesal.
"Kalau begitu silahkan ambil darinya, itupun jika Kau sanggup" ucap Bromo dengan nada mengejek.
Mendengar ucapan Bromo, seketika Ristih murka, Ia meliukkan ekornya dan menghanntam segala sesuatu yang ada didalam ruangan tersebut sehingga hancur berantakan.
Aaaaaaarrgh... Sssssstttss...
Ristih mendesis penuh amarah. Ia semakin merasa direndahkan oleh Bromo, dan Ia tidak dapat menerimanya.
Bromo mendekap tubuh mungil Dina, lalu membawanya menjauh dari jangkauan ekor Asih yang hampir memenuhi ruangan rumah tersebut.
"Aku mengira ini hanya alasanmu saja, agar Kau selalu ingin mendekatiku" ucap Bromo dengan semakin membuat Ristih terasa panas telinganya.
"Sial, Kau.." Maki Ristih, lalu memutarkan tongkatnya dan dari kepala tongkat tersebut mengeluarkan cahaya berwarna ungu.
Seketika Ristih menjulurkan tongkat itu kehadapan Bromo yang membuat cahayanya memendar keseluruh ruangan. Namun Bromo sudah terlebih dahulu membentengi dirinya dengan ajian waringin sungsang yang membuat Ristih terlempar kesudut ruangan.
Luka dibagian bibirnya mengeluarkan cairan berwarna hijau kehitaman. Lalu Bromo menghampiri iblis betina itu, dan merampas tongkatnya, Ia mengambil batu permata tersebut, dan menelannya yang membuat Ristih berteriak ketakutan.
Lalu kemudian Bromo mengambil sepertiga batu mirah delima milik Ristih dan menyipannya di dimahkotanya, seketika Ristih blingsatan dan meliukkan tubuhnya karena merasa sangat kesakitan.
Seketika wajahnya berubah menjadi buruk rupa dan sangat mengerikan.
Wajahnya tak ubah layaknya seperti seorang nenek bertubuh keriput dengan wajah yang sangat mengerikan dan juga menjijikkan.
"Tidaaaaak..."
Teriak Ristih dengan sangat kencang tak menerima dengan apa yang terjadi.
Lalu Bromo memberikan tendangan yang sangat mengejutkan, hingga akhirnya Ia terlempar ketengah hutan dengan kondisi yang sangat mengenaskan.
kulit tubuhnya bersisik dan juga berkelupas dengan luka kudis yang bernanah dan juga darah yang sangat bau amis dan juga busuk.
Siapapun yang melihatnya pasti akan ketakutan dan juga merasa mual karena aroma yang ditimbulkan dari lukanya.
Dina terperangah melihat wujud asli dari Ristih. Selama ini Ia terlihat sangat cantik dan juga menawan, lalu ketika batu permata mirah delima itu dicabut, maka wujud aslinya terlihat sangat menyeramkan.
Kini ruangan itu kembali rapih seperti semula.
Disisi lain, Asih masih terdiam merenungi ucapan Lee yang membuatnya merasa serba salah.
Karena sesuangguhnya Ia juga menyukai pemuda itu, hanya saja pemuda itu tidak mengetahui siapa Asih sebenarnya, sedangkan Edy sudah melihatnya dan menjadi saksi seperti apa wujudnya sebenarnya.
Apakah Ia menjadi gadis serakah? Menginginkan dua pemuda sekaligus? Sedangkan Ia juga tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Lee.
Sesaat Edy sudah memasuki gang rumah yang baru saja mereka beli siang tadi.
Edy memastikan jika tidak ada orang yang mengetahui keberadaan mereka, karena rumah itu jauh dari keramaian dan juga tersendiri.
Edy memarkirkan mobil yang dikendarainya. Ia masih memikirkan wanita cantik yang baru saja ditemuinya dijalan tadi.
Ia sepertinya sangat penasaran dengan wanita itu. Kecantikannya sangat begitu sempurnah, namun bukan berarti Ia menyukai wanita itu, hanya saja Edy tak dapat melupakan tatapan mata wanita itu yang begitu mirip dengan Asih.
Edy mengetuk pintu rumah, dan waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Asih membukanya.
Ia melihat gadis itu sepertinya belum tertidur. "Kamu belum tidur?" tanya Edy penasaran.
Asih menganggukkan kepalanya dan mencoba menyembunyikan perasaannya yang sedang galau karena Ia baru saja dikunjungi oleh Lee.
Kemudian Edy membawa tas ranselnya masuk kedalam rumah.
"Oh, ya.. Tadi dijalan Aku ketemu cewek cantik banget. Ia mirip denganmu" ucap Edy berceloteh.
Asih terdiam, lalu menoleh kearah Edy "Dimana Kamu menemukannya?" tanya Asih.
"Tak jauh dari rumahku " jawab Edy santai.
"Apa mungkin itu Ibu?" Asih berguman dalam hatinya. Namun Ia mencoba menepis dugaannya, sebab untuk apa Ibunya ke kota.
Asih tak ingin menanggapi ucapan Edy. Ia beranjak ke ranjangnya, lalu mencoba untuk beristirahat.
Edy memilih tidur disofa. Ia mencoba menghindari untuk tidak menyentuh gadis itu.
Sementara itu, Bromo menghampiri Dina. Ia menyerahkan batu mirah Delima yang kini sedang dalam genggamannya kepada Dina.
"Peganglah sepertiga batu ini, kelak Ia akan menenmukan tubuh yang ingin dijadikannya tempat bersemayamnya" ucap Bromo kepada Dina.
Lalu Dina meraihnya, memyimpannya dengan menggengannya.
"Baiklah, Kanda.. Dinda akan mencoba melindunginya" Ucap Dina berjanji.
Lalu Bromo tersenyum sangat indah " kalau begitu Kanda pulang dulu, Sayang.. Sebab ada urusan penting diistana. " ucap Bromo, yang mersih ujung kepala Dina, lalu Ia menghilang.
Dina hanya memandang kepergian kekaksihnya dengan perasaan yang bimbang. Seba malam ini inginkan Bromo bersamanya, namun karena ada urusan yang lebih penting, maka Ia mencoba untuk mengalah.
"Siapa pemilik sepertiga batu mirah delima ini? Apakah Ia orang yang sangat special, hingga diberi kepercayaan tubuhnya untuk menjadi persemayaman yang bagi batu Mirah delima tersebut..
Dina kemudian menyembunyikan batu mirah delima itu kedalam keningnya.
kini Dina hanya berteman sepi setelah kepergian Bromo yang membatalkan diri untuk menginap dirumahnya.
Dina beranjak keperaduannya, mencoba untuk mencoba melepaskan segala kelelahannya.
Sesaat Ia teringat akan pemuda yang hampir menabraknya tadi. Dina mencoba mengingat memory wajah pemuda itu. Dina dapat merasakan sebuah enegi yang sangat kuat berasal dari tubuh pemuda itu.
Dina dapat melihat hal tersebut secara tak kasat mata.
"Ada