
Andre terus mengekori kemana wanita itu berjalan dengan cara mengendap-ngendap.
Sampai akhirnya Dina berbelok memasuki sebuah halaman rumah menuju rumah mewah.
Andre mengernyitnya keningnya. Ini adalah kompleks rumah mewah, dqn hanya orwmang-orang ekite saja yang mampu membelinya.
"Jika itu gadis yang sama yang kutemukan di desa, maka itu hal yang mustahil. Dimana gadis itu hanyalah seorang wanita lemah, miskin dan juga mudah dikibulin.
Berbeda dengan wanita yang ditemuinya saat ini, yaitu dengan latar belakang dan juga penampilan yang berbeda. Apalagi wanita itu pandai bela diri.
Dan jikapun itu orang yang sama, maka dipastikan wanita itu sudah paruh baya dan dengan tubuh yang melebar karena proses melahirkan.
Ia melihat wanita itu memasuki rumahnya dan segera menguncinya.
Andre merasakan penasaran setengah mati tentang siapa wanita itu.
Andre menyelinap daei balik pintu pagar, dan menegendap-endap layaknya seorang pencuri. Ia menuju arah bekakang, sebab Ia memastikan jika wanita itu pasti sedang memasak karena baru pulang dari berbelanja.
Sementara itu, Dina merakasan hari ini begitu sangat gerah, sehingga Ia berniat mengganti pakaiannya dengan menggunakan tanktop saja.
Setelah selesai mengganti pakaiannya, Ia kembali ke dapur dengan menggunakan tanktop dan celana diatas lutut saja.
Dina mulai meracik bahan makanan yang akan dimasaknya. Andre yang mengintainya dari balik jendela kaca, merasakan nafasnya tersengal.
"Dia memang mirip sekali dengan Dina. Tapi aku ragu untuk memastikannya.." Andre berguman lirih dalam hatinya.
Seketika Ia mengingat sesuatu.."Bukankah Aku pernah bercinta dengannya? Ditengah perutnya ada sebuah tanda berupa tahi lalat yang sangat besar, jika tanda itu benar ada disana, maka benar itu adalah Dina, gadis yang sama saat didesa.
Namun Andre bingung bagaimana cara membuktikan jika wanita itu benar adalah Dina. Jika sampai Ia gegabah, maka Ia akan bernasib sama dengan ketiga preman barusan.
Sesaat Andre mencoba mencari cara bagaimana menjebak gadis itu agar masuk perangkapnya. Ia begitu sangat penasaran.
Tanpa sengaja, Dina melihat seseorang dibalik jendela dapurnya, lalu Ia mencoba memeriksanya "Siapa itu..?!" teriak Dina dengan suara kencang.
Seketika Andre tersentak, lalu ngacir ketakutan dan berlari meninggalkan rumah mewah itu.
Andre berlari sembari terengah-engah. Kini Ia sudah sampai didepan rumahnya. Ia menuju kamarnya dengan deru nafas yang memburu dan keringat yang bercucuran.
"Gila.. Masa Iya Aku seorang mafia takut dengan seorang wanita. Dimana harga diriku sebagai orang yang ditakuti" Andre berguman kesal. Ia menjitak kepalanya sendiri, karena merasa sangat bodohnya, baru diteriakin seperti itu saja sudah ngacir ketakutan.
Andre seperti orang yang kacau. Ia mondar-mandir gak jelas dikamarnya. Ia tampak seperti orang bingung.
Bayangan wajah wanita itu terus terbayang dimatanya. Hidung bangir, bulu mata lentik dan bibir tipis yang menggoda.
"Mengapa Aku jadi memikirkannya? Tidak..tidak.. Ini tidak boleh terjadi. Tidak ada cinta dalam kamus kehidupanku" Guman Andre meyakinkan hatinya.
Ia mencoba menepis semua bayang tentang sang wanita misterius itu, namun semakin Ia membuangnya, semakin tak mampu Ia menepisnya.
Aaaaaaarrgh...
"Sial..!!" Andre memaki dirinya sendirinya yang tak mampu melupakan bayangan wanita yang baru saja ditemuinya itu.
"Apa Aku culik saja wanita itu?" guman Andre mencoba memikirkan rencananya. "Sepertinya Ia tinggal dirumah itu sendirian" Andre kembali memastikan rencananya.
Seketika Ia tersenyum sendiri, lalu memikirkan rencana gilanya dan akan mengerjai wanita itu.
Lalu Ia menelefon seseorang, dan terlihat begitu sangat serius dalam percakapannya.
Malam beranjak semakin larut. Dina menanti kedatangan Bromo suaminya yang berjanji akan berkunjung malam ini. " Mengapa Kanda belum juga datang berkunjung?" Dina berguman lirih.
Ia beranjak dari kamarnya. Ia merasakan kebosanan yang sangat dalam saat tak memiliki teman bicara dirumah sebesar itu.
Dina keluar dari rumahnya, berjalan ditaman depan rumahnya dan duduk dibuaian yang terbuat dari besi tersebut. Ia membayangkan betapa syahdunya malam ini Andai Bromo ada didekatnya.
Ia memejamkan matanya, dan berharap Bromo segera datang.
Sesaat Ia mendengar suara derap langkah kaki, bukan sepasang, namun terdengar banyak.
Dina mengerjapkan matanya, dan mencoba waspada terhadap bahaya yang mengincarnya. Bisa saja itu preman yang Ia hajar siang tadi dan menuntut balas dendam lalu memanggil teman-tamannya.
Dina bersiaga menanti kemungkinan yang terjadi.
Benar saja, Dina melihat sekelebatan bayangan yang berada dibelakangnya. Seketika Dina tersenyum menyeringai, lalu...
Buuuhg...
Sebuah tongakat berhasil ditangkapnya, dan Ia menariknya dengan kuat hingga membuat pemilik tongkat itu terjengkang kedepan.
Dina melompat dari buaian besi taman. Lalu menarik tangan pria yang terjengkang ditanah itu dengan kasar, lalu menendangnya dengan kuat.
Pria itu terpekik dengan miris dan erangan kesakitan.
Sesaat dengan secara bersamaan, berpuluh orang pria bertubuh kekar sudah berkerumun dihadapan Dina. Mereka membuat formasi lingkaran dan bersiap untuk menangkap Dina.
"Apa salahku? Mengapa kalian ingin menangkapku" tanya Dina setenang mungkin.
"Bos Kami menginginkan Anda, maka ikutlah dengan suka rela, atau dengan paksaan." ucap seorang diantara mereka.
"Jika Aku tidak Mau?" tanya Dina menantang.
"Maka Kami akan membawa Anda secara paksa.." jawab Pria itu menegaskan.
"Dan Aku menolaknya" ucap Dina Santai.
Maka kesepuluh pria itu saling pandang, lalu memulai penyerangan.
Malam yang kelam dan juga sepi menjadi saksi bisu dari pertarungan yang tidak seimbang tersebut.
Namun bukan Dina namanya jika tidak mampu melumpuhkan mereka semua.
Tak perlu butuh waktu lama, Dina sudah membekuk semua pria itu dengan luka parah dan penuh luka lebam disekujur tubuh mereka.
"Katakan pada Bos kalian, Jangan main keroyokan, jika ingin menemuiku, maka temui sendiri, jangan jadi pengecut..!!" ucap Dina dengan nada sinis, lalu menendang salah seorang pria suruhan itu dengan keras karena menghalangi jalannya.
Andre yang sedari tadi bersembunyi dibalik pohon kembang Buldevil merasa terhina dengan ucapan wanita itu. Namun bagaimana caranyanya Ia dapat menculik wanita itu, jika kesebelas orang bayarannya yang jago bela diri juga kalah didalam menghadapi sang wanita.
"Sial... Enak saja Ia mengatakan Aku pengecut, belum tau Dia siapa Aku sebenarnya, Aku bisa mendapatkan apa saja yang Aku inginkan. Jangankan seorang wanita sepertinya, seribu wanitapun bisa Aku dapatkan dengan mudah .!!" guman Andre dengan nada emosi.
Ia melihat wanita itu berjalan mekenggang masuk kerumahnya. Tak ada sedikitpun rasa takut terpancar diwajahnya. Ia seperti pedang, berkilau, namun tajam dan mematikan.
"Awaas saja Kau... Jangan sebut Aku Andre jika tidak bisa mendapatkan apa yang Aku inginkan..!" guman Andre dalam hatinya dengan perasaan yang sangat kesal.
Mereka meninggalkan rumah itu dengan terhuyung-huyung dan tertatih. Belum pernah mereka mengalami kekalahan dalam pertempuran dalam setiap melaksanakan tugasnya. Namun Kali ini sungguh memalukan karena melawan seorang wanita dan mengalami kekalahan telak.