
Kasim dan Lastri sudah bersiap untuk menyambut kedatangantamu yang mereka sendiri belum tau siapa orangnya.
Semua telah mereka sediakan untuk menyambut kedatangannya.
---------♡♡♡♡--------
Rasa letih telah menggerayangi tubuh Chakra. Ia sudah hampir seharian melakukan perjalanan. Perjalanan yang ditempuh hanya 2 jam dengan menggunakan kuda, tetpi harus berhari hati dengan berjalan kaki.
Sesekali Chakra berhenti untuk menghilangkan rasa penatnyanya.
"hai teman kecil, apakah kamu lelah.? Tanya Chakra kepada Arini yang kini masih setia didalam tas sandang milik Chakra.
Kelinci itu hanya memanggutkan kepalanya. Chakra merasa terhibur dengan adanya Arini si hewan berbulu lembut, halus dan menggemaskn.
Ia menatap mata kelinci tersebut, ada sebuah ketenangan disana. "heeei.. Kamu itu lucu banget.." sembari mengankat tubuh Arini, lalu menggosokkan hidungnya padang hidung hewan itu dengan gemas.
Arini terhenyak, Ia tidak menyangka jika Chakra memperlakukannya dengan begitu gemas.
"ayo.. Kita lanjutkan perjalanan, nanti keburu gelap. kita harus segera sampai dikaki bukit sebelum petang." ucap Chakara kepada Arini.
Ia berjalan menyusuri hutan lebat. Dengan berbagai pohonan rindang dan berusia ratusan tahun.
Rasa lelah menghampirinya karena seharian berjalan. Matanya berkunang- kunang dan pandangannya kian kabur.. Lalu terjatuh dan limbung..
braaaaaaaak..
Chakra tersungkur diatas tanah. Ia kelelahan. Seketika Arini melesat dari dalam tas Chakra. Arini segera merubah wujudnya menjadi wanita cantik nan rupawan. Ia mengangkat tubuh Chakra dalam pangkuannya. Ia menatap lembut tubuh pemuda yang kelelahan itu karena seharian telah berjalan.
Arini membopongnya, dengan sangat mudah, bagaikan hanya membawa sebuah guling kapas saja.
Dengan satu kerlingan mata, Mereka telah sampai dikaki bukit. Arini memperhatikan situasi sekitar. tampak sepi dan lengang. Karena saat telah tiba waktu maghrib. Dimana para warganya sedang melakukan ibadah shalat maghrib.
Arini meletakkan tubuh Chakra dhalaman rumah pasangan tua suami istri.
Pasangan itu baru saja selesai melakukan shalat maghrib berjamaah.
tok...tok..tok..
Suara ketukan pintu terdengar dari luar pintu.
"assalammualaikum.." terdengar suara salam dari dalam luar. Terdengar seperti suara seorang gadis muda.
"waalaikum salam.." jawab Kasim lembut. Lalu melangkah menuju pintu.
Kreeeeek..
Suara derit pintu kayu sedang dibuka. Ia ingin menyambut tamunya. Ia yakin jika itu adalah tamu yang mereka tunggu.
Setelah pintu terbuka, Ia tidak melihat sesiapapun disana. Kasim merasa bingung, karena Ia sangat jelas mendengar suara salam tersebut.
"siapa pak? Tanya Lastri penasaran, dengan menuju kearah pintu. Ia juga melongok mencari siapa yang mengucapkan salam tadi.
Sesaat mata Lastri tertuju pada sesosok tubuh yang terbaring dihalaman rumah mereka. "Pak.. Coba lihat itu..! Siapa yang berbaring disana.!!" seru Lastri dengan wajah panik.
Kasim mengarahkan pandangan matanya kearahbyang ditunjuk istrinya. Mereka sama terperangahnya. Meskipun dalam keremangan, namun mereka masih dapat melihatnya. Dengan membawa sebuah pelita yang terpasang didinding rumah papannya, Ia melangkah mendekati sosok tersebut.
Setelah jaraknya cukup dekat, Kasim dan Lastri sangat terkejut. Karena mereka melihat wajah yang sangat mereka kenali. "Chakra, cucuku.." seru Kasim dengan dengan rasa gemetar dan tak percaya, jika yang mereka lihat adalah cucu mereka.
"ayo bu, bantu bapak angkat tubuh cucu kita kedalam."titah Kasim kepada Lastri.
"berat sekali pak." keluh Lastri dengan wajah yang menahan beban bobot tubuh Chakra. Arini yang sedari tadi memperhatikannya, mengirimkan sebuah energi kepada keduanya, agar mereka tidak merasa kesilitan membawa tubuh Chakra yang tidak mungkin sanggup jntuk mereka angkat dengan kondisi fisik yang sudah tua.
"lho.. Koq tiba- tiba ringan seperti kapas ya pak.?" ucap Lastri dengan bingung.
"iya ya.. Bapak juga bingung ini. tapi sebaiknya kita segera mengangkatnya." ucap Kasim mengingatkan.
Lastri menjawab dengan anggukan. Lalu mereka membawa tubuh Chakra kedalam rumah panggung mereka.
-------------♡♡♡♡--------
"Kanda.. Kanda datanglah.." ucap Dina dengan lirih.
Bromo yang saat itu sedang berada membersihkan dirinya didalam ceruk goa, bergegas menyudahi ritual mandinya. Ia menuju kepada Dina yang memanggilnya diluar goa.
"Ada apa dinda sayang..?" tanyanya dengan lembut, sembari memegang pundak Dina dari arah belakang.
Dina tidak menjawab pertanyaan suaminya. Namun menghamburkan dirinya kedalam dada bidang Bromo. Ia memeluk tubuh itu dengan erat, sembari terisak, sehingga pundaknya terguncang.
Seketika Bromo memejamkan matanya, menjangkau alam fikiran dan hati Dina. Lalu Ia membuka matanya. "relakan mereka mengembara Dinda. perjalanan takdir hidup mereka baru dimulai. Kita hanya bisa mendoakan yang terbaik. "ucap Bromo menenangkan hati istrinya.
"tetapi mengapa harus keduanya Kanda..? Dinda akan merasa kesepian nantinya. Hari- hari dinda akan seperti kelabu tanpa keduanya." isak tangis Dina pecah didalam dekapan Bromo.
Bromo membawa tubuh Dina kedalam goa. Ia meletakkannya dalam pangkuannya.
"kamu tidak akan kesepian, jika Kanda selalu menemanimu.." ucap Bromo dengan lembut.
"tetapi Kansa sering datang dan pergi sesuka hati, dan itu membuat Dinda takut. Goa ini akan terasa semakin sepi. tanpa kehadiran mereka. " ungkap Dina mengeluarkan segala unek- unek dalam hatinya.
Bromo memeluk erat tubuh langsing istrinya. "apakah Dinda akan memilih tinggal bersama kedua orangtua.?" tanya Bromo dengan lembut.
Dina melepaskan pelukan dari tubuh Bromo. "maksud Kanda.?" tanya Dina hati-hati.
"jika Dinda merasa kesepian disini sendirian, maka kanda akan mengantarkan kerumah orang tua Dinda. Mungkin disana nanti akan ada yang menemani dan menghibur Dinda." ucap Bromo lembut.
Dina menatap Bromo. "apakah Kanda mengijinkannya.?" tanya Dina dengan tatapan menyelidik.
"tentu.. Tetapi ada syaratnya." ucap Bromo dengan tatapan tegas.
"apa itu..?" cecar Dina penasaran.
"buatkan satu kamar khusus untukku, jangan biarkan sesiapapun membukanya kecuali kamu. Setiap malam Kanda akan datang berkunjung, berdandalah yang cantik untuk menyambutku." ucap Bromo dengan nada perintah.
Dina mengangguk menyetujui. "mengapa harus setiap malam Kanda.? Bukankah digoa ini kanda dapat hadir kapan saja.?" ucap Dina dengan wajah bingung.
"Goa ini milikku, goa ini juga terhubung dengan pintu istana alam ghaib. Jkka saja ada orang yang berniat jahat untuk memasukinya, maka tujuan mereka adalah tambang permata, emas dan perak yang akan mereka ambil dengan serakah. Namun tidak akan ada yang dapat keluar dengan selamat, kecuali mereka yang memiliki hati yang murni." ungkap Bromo dengan tatapan menerawang.
dina memandang suaminya dengan serius. "apakah dinda bisa memanggil Kanda disiang hari..? " tanya Dina penasaran.
" ya.. Namun sebatas Dinda yang dapat melihatnya, dan itupun Kanda harus merasuk kedalam tubuh Dinda" jawab Bromo dengan tenang.
Dina membulatkan matanya."bagaimana mungkin bisa..?" tanya dina bingung.
"tentu bisa sayangku.. Dan saat ini Kanda juga ingin merasukimu." ucap Bromo dengan tatapan nakalnya. Lalu membawa tubuh Dina dalam ranjang kesyahduan.
-------♡♡♡♡------
Chakra terbangun dengan tatapan bingung. Ia mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan rumah yang berdindingkan papan kayu tersebut.
Ia terperangh, karena ini asing baginya. Ia mencoba mengingat saat pertama kalinya Ia tak sadarkan diri, Ia masih berada didalam hutan. Lalu mengapa dengan tiba- tiba berada didalam rumah ini.
"kamu sadar, Cu.. " ucap Kasim lembut. Sembari membelai lembut rambut Chakra.
Chakra menoleh ke arah Kasim, dan Ia sangat terkejut. "kakek.. Mengapa aku bisa sampai disini..?" tanya Chakra bingung.
"kami menemukanmu terbaring didepan halaman rumah, dan kami mengangkatmu kedalam. Teyapi syukurlah, sekarang kamu sudah sadar. Sekarang mari makan. Kamu pasti sudah lapar." ucap Kasim.
Lastri sudah menyediakan makan malam untuk Chakra yang disajikannya diatas lantai kayu beralaskan tikar pandan.
"ayo makan." ucap Kasim, sembari membantu Chakra untuk bangkit dari tidurnya.
Chakra mengikuti saran sang kakek, lalu beranjak dari pembaringannya dan berusaha untuk duduk.
"siapa yang membawaku dari hutan sampai kemari..?" Chakra berguman dalam hatinya.
Tiba- tiba saja Ia tersentak, Ia teringat akan sesuatu. "Teman kecil... Diamana Dia..?!" tanya Chakra bingung pada dirinya sendiri.
"siapa teman kecilmu yang kau maksud.?" Kasim balik bertanya.
" kelinciku kek.. Apakah kakek melihatnya..?" tanya Chakra penasaran dengan nada panik.
Belum sempat Kasim menjawab, seekor kelinci imut masuk melompat kedalam rumah Kasim, yang membuat semua memandangnya. Kelinci itu menghampiri Chakra. "owww.. Teman kecilku.. Kemana saja kau..? Aku mengkhawatirkanmu." ucap Chakra, lalu meraih tubuh hewan itu dan membawanya dalam dekapan hangat.
Kasim dan Lastri saling pandang. Mereka mengira teman kecil yang dimaksud Chakra adalah seorang anak manusia, ternyata seekor hewan menggemaskan.
"ayo kita makan.." ajak Lastri dengan ramah dan penuh kebahagiaan. Ia tidak menyangka jika akan di tandangi oleh cucunya.
"mengapa adik dan ibumu tidak ikut serta.?" tanya Kasim kepada Chakra, sembari menyuapkan makanannya kedalam mulut.
Chakra tersedak mendengar ucapan Kasim, kakeknya. Ia baru tersadar, jika kedatangannya kerumah ini adalah untuk mencari keberadaan Asih dan Ibunya.
Lastri menyodorkan air minum dengan wadah cangkir plastik, dan Chakra meraihnya. Lalu meneguknya hingga habis.
Ia mengatur nafasnya dan menepuk- nepuk dadanya untuk melancarkan sesak akibat sedakan saat tadi.
Chakra menatap bingung kepada kakek dan neneknya. " berarti Asih dan Ibu tidak berada disini Kek.?" tanya Chakra dengan raut wajah panik.
Seketika Kasim dan Lastri saling pandang. Lalu keduanya menggelengkan kepalanya. "tidak sesiapapun yang berkunjung kemari." ucap Lastri dengan gelisah. Ia sangat risau dan gelisah, Ia tidak ingin kehilangan Dina untuk kedua kalinya.
Chakra merasakan dadanya bergemuruh. Ia tidak membayangkan jika terjadi sesuatu dengan Asih dan ibunya. "apakah mereka diculik oleh orang-orang kota yempo hari.?" Chakra berguman lirih dalam hatinya.
"mereka sudah hampir dua pekan lamanya menghilang, dan aku berfikir jika Asih dan Ibu berkunjung kemari, makanya aku menyusul untuk memastikan." ucap Chakra menjelaskan.
"lalu dimana Romomu.?" tanya Kasim penasaran.
Chakra mengernyitkan keningnya. "aku juga tidak melihatnya. Romo itu seperti hantu, kadang menghilang, kadang datang dengan tiba-tiba, Chakra juga bingung dengan Romo, entah pekerjaaan apa yang dilakukannya." jawab Chakra jujur.
Selama ini Ia juga amat penasaran dengan sikap Romonya yang terkadang datang dan pergi sesuka hatinya.
"kek.. Besok pagi-pagi aku akan berangkat ke kota, aku akan mencari keberdaan Asih dan Ibu. Aku khawatir jika mereka telah diculik oleh orang-orang kota yamg waktu itu pernah naik kebukit." ungkap Chakra dengan nada khawatir.
Kasim dan Lastri sangat terperanjat saat mendengar semuanya. "Dina.. Asih.. Mengapa ini harus terjadi lagi..? Baru saja abah menemukannu, kini kamu harus memghilang lagi.." ucap Lastri dengan lirih sembari terisak menahan pilu.
Kasim menenangkan Istrinya, menggosokkan telapak tangannya pada punggung istrinya dengan lembut.
"sabar dan tenanglah bu.. Kita doakan saja yang terbaik." ucap Kasim dengan tenang, meskipun hatinya sendiri sedang kalut.
Kasim menatap Chakra. " jika kamu ke kota, ada banyak hal baru yang kamu tidak ketahui. Apakah kamu tidak akan merasa takut nantinya?" tanya Kasim dengan penuh rasa khawatir.
Chakra terdiam. Tetapi Ia juga harus menemukan Asih dan ibunya. Ia merasa sangat khawatir akan keselamatan keduanya.
"dengar Chakra.. Kamu berangkat ke kota harus memiliki bekal uang. Jika kamu tidak memiliki uang, kamu tidak akan bisa bertahan. Dan untuk menghasilkan uang, maka kamu harus bekerja." ucap Kasim memberikan arahan.
Chakra merasa semua itu harus diingatnya. Lalu kasim pergi kekamar, dan Lastri memebereskan sisa makan malam mereka.
Sesaat kemudian, Kasim keluar dari kamar, membawa beberapa lembar uang. Ia menghampiri Chakra. Lalu meletakkan lembaran-lembaran uang tersebut.
"ini adalah uang, diatas bukit kamu mungkin tidak perlu menggunakannya, bahkan melihatnya oun memungkin belum pernah." ucap Kasim dengan hati-hati.
Chakra membenarkan apa yang diucapkan oleh Kakeknya.
"ingatlah, lembaran yang memiliki warna berbeda dan memiliki nilai nominal yang berbeda pula." ucap Kasim, sembari menunjukkan satu persatu lembaran uang tersebut dan menyebutkan angka nominalnya.
Chakra memperhatikannya dengan baik, dan mengingat dalam memorynya.
"jika kau ingin kekota, maka tidurlah sekarang, karena esok hari akan ada mobil pembawa kopi dan pembeli keranjang bambu nenekmu. Kakek akan menitipkan kamu kepada sopir itu. Tentunya dengan membayar ongkosnya. Karena semua tidak ada yang gratis. Bawalah uang ini sebagai bekal perjalananmu, dan jika kau kehabisan uang, maka bekerjalah, agar kau dapat bertahan hidup disana. Setelah kau menemukan Asih dan ibumu, maka segerahlah bawa kemari." pinta Kasim kepada Chakra. Ia begitu berharap akan kepulangan Dina dan Asih.
"baiklah kek.. Chakra berjanji akan membawa mereka dengan selamat. Chakra akan tidur untuk esok bangun lebih awal." ucap Chakra, lalu beranjak ketempat pembaringan yang tadinya Ia gunakan saat tidak sadarkan diri.
---------♡♡♡♡♡-----
"Chakra.. Bangun.. Sudah subuh, dan shalatlah." Kaskm mengguncang tubuh Chakra dengan lembut.
Chakra terjaga dari tidurnya, lalu menggosok kedua matanya yang masih sangat mengantuk. pergi ke sungai dan mandi , lalu shalatlah. pukul 6 nanti mobil yang akan berangkat kekota akan tiba. Ia akan singgah kemari membawa keranjang-keranjang nenekmu." ucap Kasim menjelaskan.
Chakra beranjak dari tidurnya, lalu melangkah keluar dapur. Pintu kayu itu terdengar berderit saat Ia membukanya. Perlahan Ia menuruni anaka tangga, menuju sungai kecil yang terdapat di belakang dapur. Sepertinya Kasim sudah terlebih dahulu kesungai, itu terlihat dari sendal yang digunakan oleh Chakra terasa basah.
Sesaat Chakra berjalan dengan sangat malas. Udara dingin begitu menusuk tulangnya. Ia mendengar suara gemericik air, seperti seseorang yang sedang mandi.
"siapa yang sedang mandi sepagi ini..? Apakah nenek..?" Chakra menerka-nerka.
Sesaat Ia menoleh ke arah dapur, tampak bayangan tubuh Lastri yang sedang menyalakan perapian untuk memasak sarapan.
"jika nenek didapur, lalu siapa itu..?" Chakra berguman lirih, lalu mengendap-endap memeriksanya. Seketika matanya terperangah, saat Ia melihat seorang gadis cantik bak puteri khayangan sedang mandi disungai itu.
"bagaimana mungkin ada seorang gadis mandi ditengah subuh gelap seperti ini." chakra berguman dalam hatinya. Saat akan melihatnya lagi, Ia sudah tak mendapati gadis itu lagi.
"haaah..?! Kemana Ia perginya.? Mengapa begitu cepat sekali menghilang.? Apakah aku berhalusinasi..?" Chakra menepuk keningnya.
Lalu melanjutkan untuk mandi..
~Thanks to All readers atas dukungan yang kalian berikan kepada Author selama.. Baik pembaca aktif, like, komen, vote, tonton iklan dan hadiah gift lainnya. Semoga kita selalu diberiakan kesehatan, rezeki, dan umur yang panjang..🤲🤲🤲~ ❤❤❤ dan sayang banyak2 buat kalian semua~