
"ayo kita pulang..?" Pinta Chakra kepada Asih.
Asih masih terdiam, Iarut dalam kegelisahan hatinya.
"ayolah, kita pulang dik.. ibu menunggu dirumah dengan penuh cemas. " Chakra mencoba merayu Asih.
Asih yang terkenal keras kepala, akhirnya menuruti keinginan kakaknya, kembali pulang ke goa.
sesampainya di goa, Asih disambut pelukan oleh Dina, sang ibu. "jangan pernah pergi dengan keadaan marah sayang.." ucap Dina dengan perasaan cemas. karena Ia takut hal serupa terjadi pada Asih. dimana dulu Dina pernah melakukan kesalahan fatal, pergi dengan kondisi marah, sehingga tidak mampu berfikir jernih dan melakukan tindakan bodoh.
dan beruntung saja Ia diselamatkan oleh Bromo yang kini menjadi suaminya.
Asih hanya diam, tak bergeming. saat ini Ia tak ingin mendengar nasehat apapun. hatinya masih terlalu sakit menerima kenyataan dirinya, jika harus memiliki ekor.
Ia pergi ke lorong goa, memasuki sebuah ruangan yang kini menjadi kamarnya. Ia duduk diatas pembaringan. Ia sedang tak ingin diganggu.
Chakra memandang Dina sang ibu. meminta penjelasan kepada wanita yang dimuliakannya itu. namun ibunya itu hanya diam tanpa bicara sedikitpun.
Chakra lebih memilih untuk keruangan pribadinya. "apa sebenarnya yang disembunyikan ibu dariku, begitu juga dengan Asih.?" Chakra berguman dalam hatinya.
pagi ini Bromo berada didalam goa. terkadang hal ini juga membuat Chakra dan Asih merasa heran. karena Romonya selalu ada selalu tidak. "apa sebenarnya pekerjaan Romo..?" mengapa Ia terkadang datang dan pergi begitu saja.? namun semua kebutuhan terpenuhi." Chakra berguman dalam hatinya.
"assalammualaikum Romo.." sapa Chakra kepada Bromo.
"wa'alaikumsalam Chakra.." jawab Bromo dengan lembut.
namun Asih tak juga muncul dari lorong kamarnya. Bromo meminta Dina untuk memujuknya agar keluar dari kamarnya namun tak juga berhasil untuk merayu sang puteri.
akhirnya Bromo mengalah, Ia yang menemui Asih dikamarnya.
"Assalammualaikum... Boleh Romo masuk nduk..?" ucap Bromo dengan lembut kepada puterinya.
tak ada jawaban, hanya keheningan. Bromo menarik nafasnya dengan dalam, lalu menghelanya.
Dina ikut menyusul Bromo, begitu juga dengan Chakra yang penasaran.
Bromo berdehem, tanda Ia akan memasuki kamar puterinya. Asih terlihat sedang duduk ditepian ranjangnya. wajahnya sendu. seperti ada perasaan tertekan.
Bromo mendekatinya, duduk disisi puterinya. Ia membelai lembut rambut Asih. Dina ikut juga nimbrung. dan Chakra berada diambang pintu goa. semua merasa khawatir akan Asih.
"mengapa kamu diam semalaman ini..?" ucap Bromo dengan lembut.
"apakah kamu ingin tau siapa kamu..?" ucap Bromo dengan hati-hati.
Bromo mencari kata-kata yang tepat untuk mengembalikan kepercayaan diri puterinya.
"kamu orang terpilih dan special."ucap Bromo membuka pembicaraan.
"maka dati itu, tanpa kamu sadari, kamu dapat merubah wujudmu menjadi setengah manusia dan setengah buaya." Bromo menjeda ucapannya.
Chakra yang berdiri diambang pintu mulai melangkah memasuki kamar. sepertinya Ia sangat penasaran sekali.
"jika kamu dapat meredam amarahmu, lalu bersikap ikhlas dengan takdir dirimu, maka ekor itu akan menghilang." ucap Bromo dengan sangat lembut.
Asih menoleh kepada Sang Romonya.sepertinya Ia mulai mendengarkan ucapan yang disampaikan oleh Bromo.
"kamu harus belajar meredam emosi, pengendalian diri itu sangat penting. apakah kamu mempelajarinya..? Romo akan melatihnya. jika kamu berhasil, maka kamu akan menjadi orang yang hebat." ucap Bromo dengan lembut.
Asih menatap Romonya dengan sendu. "benar ekornya bisa menghilang..?" tanya Asih penasaran dan ingin memastikan.
Bromo mengangguk. "iya..apakah kamu mau melatih menghilangkannya, meskipun tidak besikap permanen. karena akan dapat timbul lagi jika kamu dalam kondisi marah." ucap Bromo menjelaskan.
[deegh..]
jantung Dina seakan hendak lepas dari sarangnya. Ia menggigil mendengar pertanyaan Asih yang bersifat sensitif.
Dina juga tidak ingin jika kedua anak mengetahui siapa ayah Chakra.
"karena kak Chakra orang yang penyabar, makanya kamu belajar dari kak Chakra untuk mengendalikan emosi kamu.." ucap Bromo dengan bijak.
Ia sengaja menutupinya karena tidak ingin melukai hati Dina yang nantinya akan menjatujkan harga dirinya dihadapan anak-anaknya karena perbuatannya di masa lalu, dan juga demi untuk menjaga keharmonisan hubungan Chakra dan Asih, biarlah cerita itu mereka tutup untuk selamanya.
Dina merasa lega dengan jawaban yang diberikan oleh Bromo, Ia tidak menyangka jika Bromo akan menutupi aibnya didepan para anak-anaknya.
apa jadinya jika Chakra mengetahui jika Ia adalah anak dari hasil hubungan terlarang. mungkin akan jauh lebih sakit dari Asih.
perlahan ekor Asih menghilang bersamaan dengan menghilangnya rasa amarah dihatinya.
Asih terlonjak, merasa sangat senang. "beneran Romo, ekornya menghilang." ucap Asih dengan hati yang senang, matanya berbinar indah.
"tuh kan...apa yang diucapkan Romo bener.." ucap Bromo dengan lembut.
Chakra mendekatinya, Ia juga merasa senang melihat Asih kembali ceria lagi. "tapi meskipun kamu berekor, kamu tetap cantik koq, dan kakak tetap mengakui kamu adik yang paling baik.." ucap Chakra, sembari mengacak rambut Asih.
"kakaaak..." teriak Asih yang membuat oengang ditelinga, sembari memanyunkan bibirnya.
"Sadewooooo... keluarlah kau..!!" teriak seseorang dari luar goa.
suara itu sangat familiar sekali ditelinganya. siapalagi jika bukan 'Ristih', ular siluman yang tak pernah bisa move on dari Bromo Sadewo.
Bromo keluar dari kamar Asih. Ia ingin melihat kekacauan apa yang ditimbulkan oleh wanita siluman ular tersebut.
Dina, Chakra dan Asih juga mengekorinya dari belakang.
"Chakra, katakan pada ibumu agar tetap didalam goa." pinta Bromo dengn tegas.
"Baik Romo.." Jawab Chakra mematuhinya.
lalu Chakra meminta Dina ibunya untuk tetap didalam goa.
Chakra menyusul Bromo yang sudah berada di luar goa. alangkah terkejutnya Ia saat melihat penampakan yang menyeramkan. dimana ada banyak siluman ular yang telah menunggu diluar, dengan berbagai bentuk dan rupa.
salah satunya siluman ular yang malam tadi terkena anak panah milik Chakra.
Asih juga ikut keluar goa, Ia tak kalah terkejutnya dengan Chakra. Ristih sang ratu siluman ular mendekati Bromo sadewo dengan meliuk-liukan tubuhnya.
lalu membelitkan tubuhnya pada tubuh Bromo.
"Romo..!" suara Asih tercekat ditenggorakannya.
"apa yang kau inginkan..? jangan sakiti Romo" ucap Asih dengan geram. lalu akan mencabut pedang yang terselip dengan sarungnya dipinggang kanannya.
Chakra menahannya, "sabar dan tenanglah Asih, belum ada aba-aba atau perintah dari Romo." cegah Chakra dengan lembut namun penuh penekanan.
Asih menahan niatnya. Ia tidak ingin gegabah dan ceroboh. lalu mundur satu langkah dan mensejajarkan berdirinya disamping Chakra, dan bersiap menunggu perintah dari Romo.
"mengapa kau mengacau dikediamanku..?" ucap Bromo dengan tenang.
Ristih mendesis dan wajahnya menghadap pada Bromo. lidahnya panjang menjulur ingin menyapu wajah Bromo. "Tanyakan pada puterimu yang manja itu, apa yang dilakukannya terhadap puteraku..?" ucap Ristih dengan suara parau dan nakal.
bersambung.....