Buhul ghaib

Buhul ghaib
Patah Hati



Edy mengurung dirinya dikamar. Sudah seminggu sejak kepulangannya dari atau puncak bukit tempo hari, Ia tidak keluar dari kamarnya.


Makanannya selalu diantar oleh mom nya, Anin. seorang wanita wanita lugu yang diculik Andre dan nikahi paksa olehnya, telah memberikan seorang anak pria yang tampan.


Setiap saat, Anin selalu mengecek kondisi kesehatan Edy.


Mereka tidak mengetahui mengapa Edy tiba-tiba berubah murung, bahkan makanannyapun harus disuapkannya kedalam mulut, jika tidak, Ia tidak akan menyentuh makanannya.


"sayang..katakan pada Mom.. Apa sebenarnya yang membuatmu seperti ini..? Jangan siksa hati Mom dengan diammu..?" wajah Anin berubah mendung. Ia tidak tau lagi harus berbuat apa untuk membuka mulut Edy agar berbicara.


"tinggalkan Edy sendiri Mom, aku ingin menenangkan diriku." jawabnya tanpa ekspresi apapun.


Anin tak mampu berbuat banyak. Ia meninggalkan kamar milik puteranya, dan berlalu.


seumur hidupnya, Edy tidak pernah merasakan namanya tertarik dengan seorang gadis. Kehidupan keras sebagai anak dari salah seorang mafia yang bergerak dibidang penyeludupan obat-obatan terlarang, tentu membuatnya terbiasa dengan kehidupan kejam dan tanpa rasa empati.


Gadis cantik nan sexy, tentu sudah biasa baginya. Ia dapat dengan mudah menemukannya di club malam.


Namun, Saat Ia bertemu Asih, Ia merasakan hal yang berbeda. Baginya Asih begitu memesona. Sikap Acuh dan terkadang juteknya membuat Edy merasa tertantang. Bahkan Asih terlihat cantik tanpa polesan.


Namun, hatinya kini hancur, saat menyaksikan Asih didepan matanya terlempar dari tebing jurang sedalam 300 meter lebih.


Ia tidak dapat membayangkan seperti apa kondisi Asih saat itu, mungkin Asih sudah tidak hidup lagi.


"semua ini karena sniper tersbut..!!" Edy menggeram dengan kesal. Ia mengepalkan tinjunya, dan meninjukannya ke dindinng sebagai sasaran kekesalannya.


Hatinya kini Patah. Harapannya ingin membawa Asih ke kota dan tinggal bersamanya tak kesampaian. Ia merasakan betapa sakitnya jika tak mampu menggapai cinta.


Edy yang belum pernah merasakan apa itu cinta, kini menyadari, jika Cinta itu ada. Selama ini Ia berfikir jika Cinta itu adalah hal omong kosong belaka.


 


"Dad..apakah kamu tidak dapat melihat kondisi anak lelakimu..?" ucap Anin kepada Andre.


"memangnya apa yang terjadi padanya..?" tanya Andre dengan santai.


"sejak kepulangannya dari hutan, Ia terlihat tidak bersemangat, makanpun jika aku suapin, jika tidak Ia tak akan menyentuh makanannya." ucap Anin dengan gelisah.


Andre diam sejenak, lalu manggut-manggut. "apa dia kesambet ya saat dihutan..?" ucap Andre sembarang.


Anin mencoba meresapi perkataan Andre, suaminya.


"bukankah lebih baik kamu menanyakannya? Karena mungkin jika sesama pria, Ia akan membuka mulutnya."pinta Anin dengan penuh harapan.


"Nanti akan aku coba.." jawab Andre dengan datar dan dingin.


 


Bara Sembrani meringkik. Ia seperti sedang tidak nyaman. Disebuah pacuan kuda yang sangat luas, ada beberapa kuda lainnya disana. Bara tidak berselara untuk makan.


pakan yang terdiri dari berbagai jenis rumput, pakan pabrik, jagung dan sebagainya, tidak membuatnya berselera. Ia mengiginkan Asih, ya hanya Asih yang Ia inginkan sekarang.


Saat seorang joki melatihnya untuk berlari diarea pacuan, Bara Sembrani tidak mau bereaksi.


----------‐‐


Andre yang merasakan kehampaan dan ruang kosong dalam hatinya, pergi kepacuan kuda. Ia ingin meluahkan segala kegundahannya dengan melakukan pacuan kuda dan menembak.


saat ini Ia melihat kuda milik Asih yang tampak tidak mematuhi keinginan sang joki. Kuda itu tampak gelisah dan berlari kesana kemari.


Edy mencoba untuk mendekatinya. Ia merasakan jika kuda itu juga merasakan hal yang sama dengannya. Yaitu kehilangan.


Setelah jarak Edy dengan Bara semakin dekat, Edy menatap mata hewan itu dengan perasaan yang dalam. Edy membayangkan saat Asih menunggangi kuda itu dengan sangat gagah dan juga anggun.


Ia mencoba menggapai hidung kuda itu. lalu membelainya lembut. "maafkan aku.. Aku tidak berniat memisahkanmu dengannya, aku berniat ingin membawa kalian bersama waktu itu." Edy mencoba mengajak Bara berbicara.


"boleh kita berkenalan..? Aku Edy, maukah kau menjadi temanku?" ucap Edy sembari tersenyum.


Bara kembali meringkik. Ia menatap Edy tajam.


Edy memberikan pakan ternak kepada Bara, dan kuda itu memakannya.


Edy mencoba naik keatas punggung Bara, dan kuda itu sepertinya mulai patuh. Sang Joki berdecak kagum. Sudah seminggu mereka mencoba menaklukkannya, namun tak pernah berhasil.


Sedang Edy, hanya hitungan menit, sudah membuat kuda itu mematuhinya.


Edy berputar-putar diarea pacuan bersama Bara. setelah merasa puas, mereka menyudahinya.


 


"panggil Jeft sekarang juga kehadapan saya." perintah Andre dengan lantang.


"baik bos..akan saya laksanakan" jawab bodyguard itu, sembari berlalu.


Sesaat Jeft telah muncul dihadapan Andre.


"ada keperluan apa bos memanggil saya..?" tanya Jeft penasaran.


"apa yang terjadi saat kalian dihutan?" ucap Andre dengan penuh selidik.


"saat kami kehabisan bahan bakar, kami turun dari speedboad, namun naas, kami kehilangan speedboad tersebut." Jeft menjeda ucapannya.


"Lalu kami naik keatas puncak bukit, karena kami melihat ada seorang gadis yang melintas dengan memacu kudanya ke atas puncak bukit." Jeft menarik nafas dalam...


"siapa gadis itu..?" tanya Andre penasaran.


"entahlah.. Kami tidak mengetahuinya. Namun setelah sampai disana, kami tidak menemukan adanya rumah penduduk. Hanya sebuah goa yang dihuni oleh dua orang kakak adik saja." Jeft menjelaskan panjang lebar.


saat itu Ia tidak melihat keberadaan Dina. Dan Ia hanya menyebutkan Asih dan Chakra saja.


"apakah gadis itu yang membuat Edy tidak bersemangat..?" Andre mencoba menebaknya.


"mungkin saja, bos.." jawab Jeft dengan singkat.


"kalau begitu, bawa gadis itu kemari, agar anakku dapat menemukan semangat hidupnya. Berikan uang yang banyak agar Ia mau menurut, jika tidak mau maka paksa..!! Aku tidak suka jika ditolak."ucap Adre menekankan.


Tetapi Jeft hanya diam tak bergeming. Membuat Andre penasaran dan merasa kesal kepada Jeft, karena tidak juga beranjak dari tempatnya.


"ta tapi bos.. Gadis itu sudah meninggal terhempas kedasar jurang.." ucap Jeft terbata.


"apa..?!! Gadis itu sudah meninggal..? Lalu bagaimana itu bisa terjadi..?" tanya Andre penasaran.


"Ia menolak memberikan kudanya, lalu sniper datang melepaskan tembakan kerahnya, kakak lelakinya mencoba menghalangi dan mendorong sang adik kejurang untuk menyelamatkan diri, namun tindakan itu terlalu ceroboh." jawab Jeft.


Jeft mencoba menyembunyikan fakta jika Ia juga dalang dibalik semua itu. Karena Ia yang berambisi untuk mendapatkan kuda itu.


"secantik apa gadis itu.? Sehingga membuat puteraku patah hati..?" tanya Andre dengan tatapan nanar.


"sangat cantik bos, seperti bidadari." jawab Jeft sembari membayangkan wajah Asih.


"lalu kakak lelakinya itu apakah masih hidup.?" tanyanya dengan penasaran.


Jeft bukannya menjawab, tetapi malah mengamati Andre. " jika saya ingat-ingat, wajahnya mirip Bos saat masih muda.." ucap Jeft dengan gamblang.


"apaaa.?! Dibukit mana kamu menemukannya..?" tanya Andre. Seketika angan menerawang jauh ke masa 20 tahjn silam. Dimana Ia pernah bertemu seorang gadis desa nan cantik rupawan. saat itu Ia sedang dalam buronan polisi, dan tanpa sengaja bertemu gadis desa bersama Dina. pada gadis itu juga Ia telah menitipkan benih terlarang, lalu meninggalkan sang gadis, dengan seribu janji yang tak pernah Ia tepati.