
Asih terus berlari sembari membopong tubuh Lee yang tampak lemah. Ia menerobos hutan dan tanpa sadar memasuki sebuah perkampungan.
Orang-orang memandangnya dengan penuh heran, namun Ia tidak memperdulikannya.
Tingkah Asih menjadi pertunjukan yang mencengangkan. Bagaimana seorang gadis ramping dapat berlari denhan begitu kencang sembari menggendong tubuh seorang pemuda yang tentunya lebih berat dari bobotnya.
Asih seperti tidak memperdulikan apapun. Langkahnya begitu kencang hingga sampai di batas perkotaan. Lalu tanpa sengaja, sebuah mobil berderit hampir saja menabraknya, karena Asih yang berlari tanpa melihat jalanan.
Seketika seorang wanita separuh baya turun dari dalam mobil, dan menghampiri Asih.
Wanita separuh baya yang berpenampilan elegan itu memandang Asih, lalu memeluknya, meski Asih sedang membopong Lee.
"Asih.. Kamu kenapa..?" sapanya sembari membuka kacamata hitamnya.
Asih mengerutkan keningnya, mencoba mengingat wanita dihadapannya.
"Ini Ibu Rumini.. Apakah kamu lupa..?" ucap Wanita itu memperkenalkan dirinya dan membawa Asih untuk menggali memorynya.
"Bu Rumini..?" Asih mencoba mengulangi nama itu kembali. Ia mencoba mengingat nama itu. Namun sepertinya dengan orang yang berbeda.
"Ibu yang kamu tolong waktu itu, pengobatan cangkok jantung untuk Kaila.." Rumini mencoba kembali mengingatkan Asih.
"Oo.. Ibu.. Maaf, saya hampir tidak mengenali Ibu, karena berbeda yang pertama kali saya temui waktu itu." Jawab Asih jujur.
"Sudah.. Ayo, masuk dulu ke mobil, kita harus membawa temanmu itu berobat." ukar Rumini menyarankan. Lalu Ia membawa Asih masuk kedalam mobil jok tengah, dan meletakkan Lee disana, sembari dipangku oleh Asih.
"Pak.. Bawa kerumah saya saja, nanti kita telfon dokter pribadi.." Ucap Rumini kepada sang sopir.
"Baik Bu.." ucap Sopir itu, lalu melajukan mobilnya menuju kediaman Rumini.
"Sekarang tinggal dimana kamu Asih..?" tanya Rumini penasaran dan dengan senyum sumringah.
"Tidak dimanapun Bu.." Jawab Asih datar.
Seketika Rumini teecengang, Ia tidak membayangkan Asih yang kuat dan penuh dengan banyak kesengsaraan.
Tak selang berapa lama, mobil mereka sampai di dideoan sebuah rumah mewah. Asih tercengang menatapnya. "Ini rumah Ibu..?" tanya Adih penasaran.
"Iya.. Ini semua berkat dari kamu.." jawab Bu Rumini lalu turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Asih.
"Ayo.. Bawa temanmu masuk kerumah.." pinta Rumini kepada Asih dengan ramah.
Sopir itu tercengang melihat ketangkasan Asih yang Dapat membopong seorang pria dengan begitu mudahnya.
"Busyet.. Kuat bener itu tenaga cewek, sampai bisa gendong tubuh pria seorang diri.. Pasti dia kuat juga itu kalau di anu..." guman sang sopir menatap penuh hasrat pada Asih, naluri kelakiannya seketika membayangakan dan merencenakan sesuatu yang begitu tinggi dengan fantasi liar.
Asih terus membawa tubuh Lee menuju kamar yang ditunjuk oleh Rumini.
"Itu kamarnya ya nak, Ibu telefonkan dokter dulu" ucap Rumini, sembari membukakan pintu kamar dan menelefon seorang dokter.
Asih meletakkan tubuh Lee ditepian ranjang, lalu Ia menggeliatkan tubuhnya, dan ikut duduk ditepi ranjang, memandang pemuda itu dengan seksama.
"Dasar lemah, begitu ingin mengajariku bela diri.." gerutu Asih, namun hatinya tak dapat dipungkiri, jika Ia mengkhawatirkan pemuda itu.
Semenjak mereka bersama melewati segala hal rintangan, Ia merasakan sebuah kenyamanan hati yang begitu dalam. Namun Ia belum dapat mengartikan apa tentang perasaannya.
Tak selang berapa lama, seorang gadis manis datang menghampiri Asih. Wajah gadis itu sudah tampak ceria. Ia menyentuh wajah Asih dengan tulus.
"Hai Kaila.. Sudah sembuh..?" tanya Asih ramah.
"Kaila sudsh sembuh, terimakasih Kakak.." ucapnya lembut lalu memeluk tubuh gadis yang pernah menyelamatkannya.
"Sama-sama.. Senang dapat membantu." jawab Asih dengan tulus.
"Tok..tok..tok..
Suara ketukan dipintu yang membuyarkan keterharuan kedua gadis beda generasi itu.
Kaila melepaskan pelukannya, lalu membiarkan Asih berbicara dengan dokter tersebut.
Dokter itu memeriksa kondisi Lee yang tampak lemah. Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, dokter memberikan resep obat untuk segera ditebus, agar membantu proses penyembuhan Lee.
"Biar saya saja yang membelinya Dok.." ujar Rumini sembari mengambil resep tersebut, dan mengantarkan dokter itu sampai ke depan pintu.
"Bunda.. Kaila ikut.." ucap Gadis kecil itu sembari berlari kecil menghampiri ibunya.
"Pak Jali, saya bawa sendiri saja mobilnya, sekalian ada yang mau saya beli.." ucap Rumini meminta kunci mobil kepada pria paruh baya itu.
Dengan senang hati Jali memberikan kunci mobil kepada majikannya.
Rumini bergegas ke garasi, lalu membawa mobilnya menuju apotik dan mini market untuk berbelanja karena hatinya begitu bahagia dapat bertemu Asih kembali.
Setelah uang pemberian Asih yang begitu fantastis, Ia memulai berbisnis online dan offline menjual pakaian dan sebagainya. Tanpa diduga, bisnisnya berkembang sangat pesat. Lalu Ia memutuskan untuk membuka cabang dikota, dan akhirnya Ia membeli sebuah rumah mewah dan isinya.
Sementara itu, Asih keluar dari kamar, lalu mencoba melihat-lihat isi rumah Rumini yang kini penuh dengan perabotan mewah. Sedangkan dahulu Ia hanyalah seorang pemulung barang rosngsokan dan pendorong gerobak usang yang hidup penuh dengan kepedihan.
Namun kini nasibnya berbalik, bahkan Ia memiliki asisten rumah tangga untuk memenuhi segala keperluannnya.
Asih melihat sebuah kolam renang yang terdapat ditaman belakang.
Asih begitu sangat ingin mandi didalamnya. Tanpa menunggu lama, Ia ia menghampiri kolam tersebut, dan menceburkan dirinya dengan begitu antusias.
Rasanya begitu melegakan, setelah beberapa lama membopong tubuh Lee.
Asih begitu menghayati kenyamanan yang begitu hakiki.
sepasang mata terus memperhatikannya dengan pandangan hasrat bergelora.
Beberapa kali Ia mereguk salivanya, sesuatu dibawah sana sudah sangat mengeras.
Sementara Asih yang sudah merasa puas dengan mandinya, beranjak dari kolam renang, lalu dengan pakaian basah kuyup Ia menaiki tepian kolam renang. Ia bingung mencari handuk untuk mengeringkan tubuhnya.
Sesaat pria itu keluar dari persembunyiannya, lalu mengenakan handuk ditubuh Asih dari belakang. "Apakah kau tidak kedinginan nona..? Nika kau butuh kehangantan, aku dapat menghangatkanmu.." ujarnya berbisik ditelinga Asih, sembari tangannya mulai lancang untuk menggerayangi tubuh sintal milik Asih.
Dengan cekatan Asih meraih jemari tangan lancang tersebut.
"Aaaakh... " Suara teriakan kesakitan berasal dari mulut pria itu, Lalu Asih menekuk jemari pria mesum tersebut debgan berlainan Arah, dan menekannya dengan kuat. Lalu Asih berputar menghadap kearah lawannya dengan menjaga jarak sekitar satu meter, lalu melayangkan tendangannya tepat pada buah salak milik pria yang sudah mengerang kesakitan itu.
Aaaargh...
Erangan kesakitan dari pria itu begitu sangat memilukan, namun semua setimpal atas apa yang dilakukannya.
Prua itu roboh tersungkur dilantai tepi kolam renang, sembari memegangi dua buah salak miliknya yang terasa ngilu.
Sedangkan Asih memungut handuk yang sempat terlepas dari tubuhnya yang masih berbalut pakaian basah.