
Bromo berada dibawah sebuah pohon besar nan rindang.
Ia memejamkan matanya, lalu menembus kedalam pohon itu. Dipohon yang sudah berusia ratusan tahun itu terdapat sebuah istana tempat sekelompok siluman ular.
Dimana istana itu dipimpin oleh seorang ratu yang sangat jahat. Ratu mereka bernama Ristih.
Ristih yang saat itu sedang mengatur siasat untuk menyerang desa, tiba-tiba saja dikejutkan oleh tamu yang begitu sangat diimpikannya. Sedari lama Ia memimpikan kehadiran sosok itu, namun sepertinya, kehadirannya membawa kabar kemarahan.
Sssssshhhss...
Seekor ular raksasa turun dari singgasana kemegehannya. Ia meliuk-liukkan tubuhnya menghampiri Bromo yang kini sedang berdiri menatapnya penuh kemarahan.
Ristih dengan tenang menghampiri Bromo, seketika Ia membelit tubuh Bromo hingga sebatas pinggang.
Lalu Ristih mengangkat hingga jarak wajah mereka begitu dekat.
"Akhirnya kau mengunjungiku Sadewo.. Tahukah kau.. Aku begitu amat mendambakan kehadiranmu.. Setiap detik dalam hidupku hanya ada bayang wajahmu.. Semuanya tentangmu. Aku tak mampu lepas darimu.. Setiap saat aku selalu memikirkanmu.." Ucap Ristih dengan nada memelas dan lirih.
"Cintamu hanya sebuah angan yang tak mungkin terwujud. Cintamu egois, kau ingin mendapatkannya dengan memaksakan kehendakmu. Cinta itu hadir dengan murni, tulus, bukan seperti yang kau lakukan. Namun sayangnya, Aku mencintai Dia, yang telah mampu menggetarkan hatiku. Cinta itu tanpa paksaan dari kedua belah pihak, maka jangan memaksakan kehendakmu.!" Jawab Bromo dengan geram dan penuh penekanan.
"Semakin kau menjauhiku, semakin gencar aku menginginkanmu.. Aku tak mampu menahan keinginanku.. Beri aku madu cintamu, meski seteguk saja. Ijinkan aku merasakan sentuhan hangatmu, mereguk kasih dalam nikmat semesta, berikan itu padaku..setelah itu, aku berjanji akan menjauhimu.." ucap Ristih memelas dengan dengan penuh pengharapan.
Bromo menatap tajam pada Ristih. "Jangan pernah berharap banyak dariku.. Segala yang kumiliki hanya untuk Dia seorang. Bukan sifatku untuk membagi cinta, apalagi sebuah kehangatan..! Kuperingatkan sekali lagi padamu, jangan coba-coba bermain api denganku, karena aku tidak segan-segan akan menghancurkanmu.." ancam Bromo dengan bersungguh-sungguh.
Ristih merasa sakit, bukan sakit ditubuhnya.. Tapi perasaannya..ada ribuan sayatan yang Ia rasakan. Dengan perasaan yang sangat pilu, Ia lalu mengeratkan belitannya ditubuh Bromo dengan sangat begitu kuat.
Bromo memejamkan matanya, Ia merasakan lilitan Ristih hanyalah sebuah amarah dan dendam belaka. Bromo merafalkan mantra ajian Waringin Sungsang. Ajian ini, selain dapat meremukkan sendi dan tubuh seseorang, namun juga dapat menyerap energi lawannya.
Bromo yang diam sembari memejamkan matanya, terus saja merafalkan mantra itu. Hingga akhirnya, Ristih merasakan tubuhnya melemah, Ia tak lagi kuat menahan lilitannya. Tubuhnya semakin lama semakin melemah.
Ristih merasakan energinya terserap. Ia seakan merasakan otot-otot tubuhnya tidak berdaya. Akhinya Ia dengan terpaksa, melepaskan tubuh Bromo, lalu lunglai tak berdaya, Ia jatuh tersimpuh dilantai istananya.
"Sadewooo... Kau akan menyesali semuanya... Aku akan mengirimkan seluruh pengikutku untuk menyerang desa Istri sialanmu itu..!!" ucap Ristih ditengah kesakitannya.
Ristih memanggil seluruh pengikutnya. Ia memilih pengikutnya dalam jenis ular siluman kobra hitam. Seluruh ular-ular itu berkumpul dengan jumlah yang sangat banyak, mencapai ribuan ekor.
"Ku perintahkan kepada kalian...! Serang desa itu sekarang juga..!! Jadikan penduduknya yang terkena gigitan kalian menjadi abu..! Sekarang..!!" seru Ristih dengan amarah meski terdengar lemah karena Ia masih sangat membutuhkan energi.
Seketika ular-ular tersebut menghilang, lalu merayap kebumi dengan misi menghancurkan desa dimana Dina tinggal.
Bromo menatap penuh amarah kepada Ristih, Ia mencoba mengejar para ular-ular tersebut untuk memasuki desa. Namun saat Ia akan pergi, seseorang memanggil namanya. "Baginda Prabu.. Tolong dengarkan saya.." panggilan ghaib dari Sulira.
Bromo yang saat itu sedang hendak mengejar para kawanan ular siluman, terpaksa berputar haluan, lalu menghilang menuju istana. Ia tak lagi menyahuti panggilan Sulira, namun langsung menuju Istana. Ia meyakini jika di Istana sedang dalam keadaan genting.
Sesampainya diistana, Ia melihat gerbang Istana dalam keadaan sepi, lalu apa yamg membuat Sulira sampai memanggilnya? Bromo merasakan ada yang aneh.
Ia akhirnya memutar tubuhnya, lalu menuju desa tempat sang pujaan hatinya berada.
Sesampainya didesa itu, kondisi sudah tampak aman, suasana hening, bagaikan tak berpenghuni. Ia tiba didesa sudah sepertiga malam. Begitu berbedanya alam dunia dengan alam ghaib dalam hal perputaran waktu.
Dialam ghaib, Ia merasakan hanya beberapa detik saja, sedangkan didunia sudah sehari semalam.
Saat ini Ia melihat sebuah kekacauan baru saja menimpa desa ini, tampak dimana-mana rumah rumah pirak poranda karena serangan ular siluman.
Tampak olehnya debu bekas membentuk tubuh manusia bergeletakkan ditanah, bahkan debu tersebut menghilang tersapu angin.
Bromo merasakan telah terjadi kepanikan yang begitu amat mencekam. Ia melihat dengan mata bathinnya, jika Dina sang pujaan hatinya dalam kondisi baik-baik saja, kini merasa lega.
Bromo memasuki dinding kamar Dina dengan cara menembusnya. Ia melihat sang pujaan hatinya sedang dalam kondisi berbaring. Ia tau jika sang pujaannya baru saja mengalami hal yang sangat berat. Ia tampak lelah baru saja memulihkan tenaga dalam murninya.
Bromo membelai lembut wajah sang kekasih. Sudah lama sekali Ia meninggalkan wanita itu dalam kesepian.
Bromo mulai menyusuri setiap lekuk tubuh indah itu. Ada candu disana, yang tak pernah Ia lupakan sampai kapanpun.
Lenguhan hangat dari setiap hembusan nafas sang kekasih, membakar jiwanya yang meronta.
Rasa kerinduan yang begitu dalam, membuatnya melupakan begitu saja semua kejadian demi kejadian yang baru saja terjadi.
Bromo meletakkan telapak tangannya tepat didada sang kekasih. Ia menyalurkan hawa murni kedalam tubuh sang kekasih, agar tubuh itu kembali pulih.
sebuah siluet cahaya berwarna keperakan, melesak masuk kedalam tubuh sang kekasih. Cahaya itu merasuk menyatu bersama aliran darah.
Seketika tubuh wanita itu menggeliat, merasakan segar dan hilang segala rasa sakit dan penat yang semula tadi menderanya.
Bromo menyentuh bibir indah sang kekasih, memberikan cinta yang teramat dalam. Seketika Dina mengerjapkan matanya, merasakan sentuhan itu, sentuhan yang amat Ia kenal.
Dina melihat wajah tampan suaminya berada tepat diwajahnya.
Wajah yang amat Ia rindukan. "Kanda.. Mengapa begitu sangat lama..? Tidakkah kau merindukanku..?" ucap Dina dengan hati yang teramat bahagia.
lelaki tampan itu tidak memberikan jawaban apapun kepada wanitanya.
Ia membungkam bibir wanita itu dengan kecupan hangat yang membangkitkan gairahnya.
Seketika rasa rindu yang lama Ia pendam, kini tersalurkan dengan kehangatan cinta yang menggelora.
"Aku mencintaimu Dinda.. Hanya kau satu-satunya wanita dalam hidupku, saat ini, esok dan nanti.. Kita akan terus hidup dalam keabadian.." ucap Bromo, sembari mencumbu mesra wanitanya.