Buhul ghaib

Buhul ghaib
Episode 183



"Cepatlah.. Kita harus segera menemukan Lee sebelum iblis tersebut" ucap Asih kepada Edy yang terus menyetir mobil dengan kecepatan tinggi.


"Kita mengikuti arah yang mana?" tanya Edy saat bertemu dengan persimpangan jalan.


Asih merasakan jika mereka harus berbelok kearah kanan"titah Asih kepada Edy.


Saat Edy sedang fokus menyetir, tiba-tiba saja Rekso berada didepan kaca mobil depan denga kepalanya yang berjumlah 3 menghalangi pandangan Edy.


Edy yang terhalang pandangannya membuatnya kesulitan melihat jalan didepannya.


Sementara itu, Asih mengambil anak panahnya, lalu membidikkannya kepada siluman ular tersebut.


Rekso menajamkan pandangannya dan Ia menyemburkan semburan cairan berwarna hijau lengket dan membuat kaca mobil itu tertutup denhan cairan itu.


Asih melepaskan anak panahnya dan anak panah itu melesat menembus kaca mobil dengan cepat dan Rekso berhasil menghilang.


Karena pandangan Edy terhalang oleh cairan yang disemburkan oleh Rekso, maka Asih memecahkan kaca depan mobil dengan cepat.


Sesaat Bayangan melesat dari sisi kiri, lalu berpkndah ke sisi kanan. Asih mewaspadai gerakan tersebut dan Ia masih dengan busur dan anak panahnya yang terus mengawasi pergerakan bayangan yang melesat dengan cepat.


Asih memejamkan matanya, lalu ujung mata anak panah berada tepat di luar pintu mobil, dan...


Wuuuus....Ssssssstttsss...


Suara anak panah melesat dengan kencang saat bersamaan dengan melintasnya bayangan yang tepat didepannya.


Aaaargh...


Teriakan nyaring dan memilukan saat sebuah anak panah mengenai salah satu kepala milik siluman ular, dan menembusnya.


Seketika ular siluman menghilang dan terdengar sisa suara lengkingan yang sangat memilukan.


Asih masih mewaspadai pergerakan mencurigakan Rekso yang mana bisa saja tiba-tiba akan muncul dan mencelakai mereka.


Asih masih dapat mencium aroma kehadiran makhluk siluman itu, dan Ia tau jika siluman itu masih berada disekitarnya.


Sementara itu, Lee masih berada diluar halaman, Ia merasakan kehampaan saat Asih tak menghiraukannya. Ia sadar jika perbuatannya masa itu membuat sang gadis terluka, namun tidakkah Asih memahaminya dan memberinya kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya.


Lee menyadari jika itu semua hanyalah sebuah kesalahan yang tak sengaja Ia lakukan, itu semua hanya sebuah keterkejutannya belaka.


Saat Ia masih larut dalam lamunannya, sebuah sosok muncul didepannya.


Sosok siluman ular berkepala 3 yang pernah Lee lihat saat dihutan bakau waktu itu.


Saat itu Asih berhasil melumpuhkannya, namun mengapa siluman itu masih dapat kembali dan tampak di satu kepala bagian kanannya tertancap anak panah yang menembus hingga kebelakang, dan membuat kengerian yang semakin mengerikan.


Lee memandang terkejut dengan penampakan yang terjadi, Ia mengambil senjata apinya, dan menembaki siluman ular tersebut dengan sangat cekatan.


Namun setiap peluru yang keluar selalu mengenai angin dan menyasar tempat yang salah.


Lee tampak sangat bingung dengan apa yang sedang dihadapinya.


Jika menghadapi para mafia, maka sudah menjadi hal yang biasa dan segala bahaya sudah menjadi santapannya.


Namun, Ia tidak pernah menghadapi siluman seperti ini.


Rasa bergidik merasuki dirinya, namun Ia tetap berusaha untuk fokus.


Sementara itu, Asih merasakan kehadiran Rekso tak lagi disekitarnya, Ia semakin merasa khawatir dengan kondisi Lee, Asih dapat menebak jika Rekso kini sudah mengetahui keberadaan Lee.


"Percepatlah.. Sepertinya Makhluk itu sudah mendapatkan kebeeadaan Lee" ucap Asih dengan rasa panik.


Edy menambah kecepatan laju mobilnya dengan kecepatan tinggi. Suasana sepi yang tampak begitu lengang membuat Edy semakin leluasa memacu kecepatan mobilnya.


Tanpa diduga, sebuah tendangan melesat dengan cepat mengenai punggung belakang Lee sangat keras.


Aaaaarrrgh...


Pekik Lee yang terkejut dengan serangan dsn tendangan tanpa bayangan itu.


Lee terjerembab ditanah, Ia memegang pinggangnya yang terasa ngilu, dan senjata apinya terlempar jauh dari dirinya.


Sesaat bayangan itu melesat lagi dengan kecepatan tinggi dan hampir tak terlihat.


Belum sempat Lee merasa waspada, sebuah hantaman mengenai wajahnya, dan darah sefar mengalir dari sudut bibirnya.


Lee kembali terlempar ke tempat yang lebih jauh beberapa depa dari tempatnya tersungkur.


Lee menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya, Ia masih mencoba untuk berusaha berdiri dan dengan tubuh yang sempoyongan.


"Sial.. Tunjukkan wujudmu..?! Brengsek..!!" maki Lee dengan sangat kesal.


Sesaat sosok siluman ular berkepala tiga itu menampakkan wujudnya dengan wujud yang sangat mengerikan.


Ia melihat didalam tubuh Lee tersimpan sepertiga batu permata mirah delima yang kini bersarang dan memancarkan cahaya kilauannya.


Namun Ia dapat menebak Jika Lee belum dapat mengendalikan kekuatan dari batu mirah delima tersebut.


Rekso tersenyum licik. Ia dapat dengan mudah untuk melumpuhkan Lee, karena Lee belum mengetahui cara mengendalikan kekuatan tersebut.


Lee bergerak mundur, Ia ingin mengambil senjata apinya yang terlempar dari genggamannya. Namun sepertinya Rekso mengetahui gelagat dari lawannya.


Lee melihat Rekso mengetahui rencananya, maka Ia dengan cepat melakukan salto dan mencapai senjata apinya lalu dengan cepat menembakkan peluru itu kepada Rekso.


Diluar dugaan, Rekso menangkap peluru itu dengan mudahnya dengan menggunakan jemari tengah dan telunjuknya.


Lalu Ia mengembalikan peluru itu dengan sentakan cepat dan menuju kepada Lee yang masih berdiri mematung.


Lee melompat kesamping dan menghindari serangan balik peluru itu dengan cepat.


Lalu peluru itu menyasar ke arah angin kosong.


Rekso meliukkan tubuhnya dengan sangat cepat. Tubuhnya tampak semakin membesar dan berubah menjadi ular siluman raksasa.


Lee membeliakkan kedua matanya, Ia tak pernah menyaksikan hal seperti dalam hidupnya.


Rekso semakin mendekat, dan jari jemarinya yang tajam dan runcing siap menerkam Lee. Pemuda itu menembakkan senjata apinya dan hanya mengenai angin.


Rekso siap menancapkan jemarinya di dada Lee yang sudah tampak memucat, hingga sebuah kibasan ekor buaya yang berukuran besar menghantam tubuh Rekso.


Rekso terhempas jauh dari tempatnya. Ia mengerang dengan marah, dan menatap sosok buaya putih berwajah cantik ayu rupawan yang tak lain adalah Asih.


Keduanya saling menatap dan penuh dengan kebencian. Lee berusaha untuk bangkit dan tampak Edy berlari menghampiri Lee yang berusaha untuk bangkit.


Lee sebenarnya tampak terkejut dan juga bingung melihat kehadiran Asih dan pemuda yang telah membuatnya patah hati. Namun Ia harus membuang semua egonya yang kini dalam kondisi tidak kondusif.


Edy bersikap biasa saja, dan membantu Lee untuk berdiri tegak.


Lee dapat melihat wujud Asih untuk kedua kalinya dalam wujud yang dikatakan mengkin mengerikan.


Dan kini Ia menyadari, jika Edy lebih tampak tenang dari dirinya. "Mungkin ini alasan mengapa Asih lebih memilih pemuda itu dibanding diriku" Lee berguman dalam hatinya.


Sementara itu, Asih dan Rekso siap.menyerang satu sama lain dan memasang kuda-kuda pertahanan.