
Malam beranjak menuju tengah dini hari. Suasana pelabuhan sangat sepi.
Seorang pemuda berada jauh menggunakan sebuah teropong dari memantau kedatangan sebuah kapal yang datang dari kejauhan.
Semakin lama, kapal itu semakin terlihat mendekat dan akan berlabuh dipelabuhan.
Pemuda itu melompat dari sebuah conteiner yang menjadi tempatnya memantau situasi tanpa diketahui oleh siapapun.
Ia turun dan menyelinap diatara counteiner-counteiner yang tampak tersusun rapi dan menanti untuk diangkut ke kapal ataupun truck gandeng yang akan menjemputnya.
Pemuda itu menatap sekelilingnya, lalu mencoba mendekati sisi pelabuhan agar tidak diketahui oleh para penjaga.
Tampak seorang yang sedang berptroli, Pemuda yang tak lain adalah Lee, bersembunyi diantara tumpukan conteiner dan saat penjaga itu melintasinya, Ia membekapnya dan menariknya kedalam sisi celah antar counteiner, lalu melumpuhkannya.
Lee melucuti pakaian penjaga tersebut dan mengenakannya untuk mengelabui petugas yang lainnya, dan Ia menyembunyikan tubuh penjaga tersebut di balik celah antar conteiner.
Lee mengambil senjata dan juga alat yang digunakan untuk berkomunikasi antar penjaga agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Sementara itu, dua orang insan yang melakukan parkur berada bersebelahan dengan pelabuhan sedang berada di tepi laut yang akan mengambil sesuatu.
Kedua insan itu menyelinap diantara kegelapan malam yang sangat kelam.
Seekor buaya muncul ke permukaan, lalu merubah wujud menjadi seorang panglima perang dalam pakaian kerajaan pada masa tempo dulu.
Ia membawa sebuah peti kayu dan menyerahkan kepada kedua insan tersebut, lalu menghilang.
Kedua insan yang tak lain adalah Asih dan juga Edy sedang menjemput persenjataan mereka yang dikirim oleh Sulira untuk menghindari pemeriksaan dibandara.
Keduanya ingin segera pergi, namun langkah mereka tertahan saat mendengar suara sirene dari kapal cargo yang tampak akan berlabuh.
Asih menghentikan langkahnya. Ia menatap kapal tersebut dan menembus pandangannya pada salah satu conuteiner yang didalam kapal cargo tersebut.
Tampak ada puluhan wanita yang tampak lemah dan lemas karena dikurung dalam conteiner tersebut dan seakan frustasi.
"Ayo, Sayang.. Kita kembali ke hotel"
Asih mengangkat tangannya dan meletakkan jemari telunjuknya dibibir Edy.
"Ada puluhan wanita yang membutuhkan pertolongan dan mereka dalam kondisi yang mengenaskan" jawab Asih lirih.
Edy mengerutkan keningnya "Dimana?" tanyanya dengan penasaran.
Asih mengarahkan telunjuk tangannya ke arah kapal cargo yang baru saja berlabuh.
Lalu Edy mengikuti arah yang ditunjuk oleh Asih.
"Lalu?"
"Kita harus menyelamatka mereka" jawab Asih.
Edy hanya mendenguskan nafasnya, apapun yang dikatakan oleh Edy Ia tak dapat membantahnya, baginya Asih bagaikan maghnet yang akan menariknya kemanapun yang wanita itu inginkan.
Asih memandang tembok pembatas pelabuhan yang cukup tinggi dan diatasnya diberi kawat berduri, sehingga tidak sembarangan orang dapat menembusnya masuk.
Asih memandang Edy dengan senyum seringai.
"Tidak.. Tidak.." ucap Edy yang sudah mengetahui apa yang akan dilakukan istri bar-bar nya itu.
Tanpa meminta persetujuan dari suaminya, Asih lalu dengan cepat membopong tubuh Edy dipundaknya, lalu melakukan parkur melewati tembok pembatas.
"Oh.. Jangan lagi Kau lakukan ini didepan orang-orang" omel Edy yang tak dapat berkutik dan kini mereka sudah berada disisi tembok pembatas bersama tumpukan counteiner lainnya.
Hingga saatnya Asih membekap mulut Edy saat mengetahui ada suara derap langkah yang mengarah kepada mereka dengan membawa cahaya lampu senter.
Lalu Asih membawa tubuh Edy bersembunyi dibalik celah counteiner dan saat penjaga berseragam itu melintasinya, Asih menarikanya dan melumpuhkannya, lalu menariknya ke celah counteiner dan mematikan lampu senter tersebut agar tak meninggalka kecurigaan.
Edy merogoh saku pakaian sang penjaga dan merusak alat komunikasi tersebut.
Lalu mereka mengendap-endap ditengah kegelapan.
Sesekali cahaya lampu sorot yang berfungsi memantau keadaan pelabuhan menerangi tempat dimana mereka berada dan mengharuskan mereka bersembunyi agar tidak terlihat oleh para penjaga diatas mercusuar.
Sementara itu, alat crane mulai mengangkut conteiner dari kapal cargo dan memindahkannya ke pelabuhan.
Lalu Asih menggunakan cadar berwarna hitam dan menajamkan pandangannya, dan mencari dimana letak para gadis dan wanita yang menjadi korban trafficking yang sudah sangat lemah dan juga lemas.
Counteiner itu sudah diberi kode, sehingga beberapa orang berpakaian serba hitam yang bertubuh kekar dengan jumlah sekitar 20 orang sudah menunggunya ditempat yang telah ditentukan.
Ada dua counteiner yang sedang mereka tunggu. Salah satunya berisi barang haram narkotika yang berjumlah sebanyak 2 ton dan akan diperdagangkan bersama dengan para gadis tersebut.
Masing-masing 10 orang menunggu satu counteiner dan memastikan aman untuk segera diangkut dengan memnggunakan truck gandeng yang sudah menunggu untuk membawa ketempat markas mereka.
Dan 10 orang pria berpakaian hitam dengan dilengkapi persenjataan itu akan mengawal truck counteiner itu aman sampai ke markas mereka.
Mobil truck gandeng telah bersiap menerima crane yang akan menurunkan counteiner berisi narkotika tersebut, lalu setelah berada tepat diposisinya, truck itu bergerak pergi meninggalkan pelabuhan dan di iringi dua mobil berwarna hitam yang mengawal keberangkatan truck tersebut.
Kini tinggal satu truck yang menanti counteiner para wanita dan gadis belia yang sudah tampak sangat miris dan memprihatinkan.
Crane tersebut menurunkan counteiner tersebut dan ketika posisinya sudah tepat, maka truck itu akan bergerak maju, namun dengan cepat Asih melemparkan shuriken ke ban mobil tersebut sebanyak tiga buah sekaligus dan mengoyak ban tubbles tersebut hingga membuat mobil hilang keseimbangan dan terguling bersamaan dengan counteiner tersebut.
Seketika suara jeritan ketakutan dan juga kesakitan saat para wanita dan gadis belia saling meniindih satu sama lain.
Dengan cepat suasana menjadi gaduh. ke 10 orang berpakaian hitam saling pandang dan merasa mencurigai jika ada seorang penyusup yang telah mencoba menggagalkan rencana mereka.
Ke sepuluh pria itu menyebar untuk mencari pelakunya. Lalu tampak seorang berseragam petugas pelabuhan yang tampak gerak-geriknya mencurigakan.
Tanpa aba-aba mereka terlibat pertarungan. Mereka menyerang penjaga yang dianggap sebagai penyusup tersebut yang tak lain adalah Lee.
Pertarungan tak seimbang sehingga membuat Lee kewalahan.
Seorang pria bertubuh kekar yang merupakan salah satu pengawal counteiner itu membidikkan senjata apinya ke arah Lee yang tampak melakukan pertarungan menggunakan tangan kosong saja.
Dan..
Wuuuuussshh..ssstt..
Suara peluru yang meluncur dari senjata api tanpa suara tersebut tepat mengarah ke punggung Lee.
Namun sebuah sosok bercadar melesat dengan cepat menghalau peluru itu menggunakan pedangnya.
Triiiiiinnng....
Suara dentingan saat dua benda logam beradu dalam satu waktu.
Sesaat Lee tersentak mengetahui ada orang lain selain dirinya didalam pelabuhan ini, namun Ia tidak dapat melihat dengan jelas karena pencahayaan yang minim dan seseorang itu berdiri tepat dibelakang punggungnya.
Ia mengenali aroma tubuh itu, namun mencoba menepisnya, sebab ini bukan waktunya untuk memikirkan hal lainnya selain memyelamatakan para tawanan.
Namun Lee meyakini, jika orang yang berada dibelakang punggungnya memiliki satu tujuan yang sama dengannya, Yaitu menyelamatkan para tawanan.