
Asih meronta dan juga terkekeh saat Edy melumuri pipinya dengan tanah merah tersebut.
Ia seperti bocah yang tak pernah bermain lumpur saat hujan tiba.
Seketika hujan yang kembali turun menyapu wajahnya dan membersihkan tanah merah tersebut.
Asih menghentikan tawanya, Mata keduanya beradu, dalam keheningan.
Hujan yang kembali mengguyur, membuat keduanya basah kuyup. "Ingin bermain hujan?" tanya Edy lembut kepada sang gadis.
Asih menganggukkan kepalanya. Sejenak mereka melupakan daging ular yang kini tergelatk diatas akar kayu, dan tersiram air hujan.
Kedua insan itu layaknya anak kecil yang menantikan hujan turun dan ingin bermain.
Keduanya berkejar-kejaran, dan sesekali saling melemparkan tanah merah ketubuh salah satunya. Sepertinya Asih begitu menikmati permainan barunya, yang tak pernah Ia lakukan sebelumnya dengan kakak lelakinya.
Setelah puas bermain, keduanya kembali berlari dan berteduh dibawah pohon beringin dengan tubuh yang sudah basah kuyup.
Edy meraih tubuh Asih dalam dekapannya, mencoba merasakan hawa panas yang dimiliki oleh gadis itu "Mengapa suhu tubuhmu begitu terasa panas?" tanya Edy yang semakin mengeratkan dekapannya, Ia melihat Asih tak bergeming.
Sepertinya Asih ikut merasakan hanyutnya perasaan yang tak pernah Ia rasakan.
"Apakah Kamu tahu, Aku mencintaimu, saat pertama kali melihatmu menaiki Kuda gagah itu ditepi hutan dekat sungai saat Aku terdampar waktu itu" ungkap Edy yang mengeratkan kembali dekapannya.
"Aku hampir putus asa, saat mereka menembakmu ditepi jurang. Aku mengira Kita tidak bertemu lagi" ucap pemuda itu dengan jujur.
Asih seketika mencerna kata 'Cinta' yang pernah diungkapkan Lee kepadanya. Dua pemuda itu mengucapkan kata yang sama, dan Ia belum juga mengerti maknanya.
Edy merenggangkan dekapannya, menatap mata indah milik sang gadis. Ia menarik dagu Asih hingga menengadah keatas, mencoba meraih bibir ranum sang gadis, menyesapnya dengan lembut.
Saat melihat gadis itu memejamkan matanya, Edy semakin intens memberikan sesapan yang semakin panas. Ia mendekap pinggang ramping sang gadis, memberikan sentuhan lembut disana, dengan hasrat yang terbakar oleh gelora jiwa mudanya.
Namun aksinya terhenti, saat Ia merasakan kibasan ekor Bara, dan tiba-tiba saja moncong Kuda itu sudah berada dipipinya.
Kedua insan itu menghentikan kegiatannya. Lalu merapikan kembali pakaian mereka yang terlihat sangat berantakan.
Keduanya tampak canggung dan saling berdiam satu sama lainnya.
******
Hari semakin gelap, dan malam akan tiba. Sekelompok orang yang berteduh dibawah pohon itu tak mampu lagi melanjutkan perjalananjya, mereka harus menginap dibawah pohon tersebut untuk malam ini.
Dua orang diantaranya, mengeluarkan sisa daging rusa yang mereka bawa dari hasil berburu siang tadi.
"Kita akan menginap malam ini disini, sebaiknya kumpulkan ranting yang masih kering, kita membuat api unggun agar hewan liar tidak menyerang kita" titah sang Bos kepada bawahannya.
Beberpa orang bergerak dan mencoba mengumpulkan ranting dan dahan yang tidak terkena hujan.
Mereka membawanya kembali kebawah pohon, lalu bersusah payah menghidupkan pemantik api katena sempat basah.
Dengan perjuangan yang sangat keras, akhirnya dapat hidup juga, dan mereka membuat api unggun.
Mereka kembali menyantap sisa daging rusa, dan menikmatinya bersama.
Dua diantara mereka tampak seperti sangat lemah, mencoba mamakan daging rusa itu meski tepaksa. Mereka meminum air hujan yang ditampung menggunakan tabung bambu.
Setelah merasa kenyang, lalu mereka bersenda gurau. ketika hampir tengah malam, dua irang ditugaskan untuk berjaga, dan akan bergantian mengawasi.
Kedua orang yang ditugaskan berjaga itu berbincang-bincang mengusir rasa kantuk dan juga lelah setelah seharian berjalan.
Setelah berpamitan kepada sahabatnya, Ia mencari semak yang gak jauh dari tempat para rekannya, dan api unggun juga masih terlihat jelas.
Setelah menyelesaikan hajatnya, Ia berniat kembali mengenakan celananya, namun samar-samar Ia melihat seperti sosok wanita cantik berada tepat dihadapannya tengah memandanginya dengan tatapan misterius.
Ia mencoba memastikan dengan jarak dekat apa yang dilihatnya. Setelah jarak mereka cukup dekat, pria bertubuh kekar itu terperangah. Ia tak percaya menemukan wanita cantik dengan tubuh aduhai ditengah hutan belantara.
Keindahan tubuh wanita itu membuatnya lupa diri. Ia menurut saja ketika wanita itu mengajaknya pergi. Hingga jarak yang cukup jauh, wanita itu menyeringai dikegelapan malam.
Sosok wanita misterius yang baru saja merasakan kesal terhadap seseorang, sepertinya ingin melampiaskan kekesalannya kepada sosok manusia kekar didepannya.
Wanita itu menggoda sang pria dengan godaan yang tak mampu ditolak pria manapun.
Pria yang akal sehatnya sudah hilang, tanpa berfikir panjang, langsung saja menerkam wanita didepannya.
Pria yang tampak lapar tersebut dengan buas menjamah wanita misterius itu, hingga akhirnya mereka melakukan penyatuan tubuh. Pria itu merasakan sangat beruntung karena menemukan tempat pelampiasan ditengah hutan belantara.
Saat pria itu mencapai puncak surgawinya, tanpa sadar pria itu dalam maut yang mengerikan.
Wanita cantik dan misterius itu telah mengubah dirinya menjadi seekor ular yang mengerikan, dan mulutnya menganga siap melahap sang pria yang tengah menikmati puncak surgawinyanya.
Dan...
Kreeeees...
Mulut ular jelmaan wanita cantik misterius itu melahab kepala sang pria, dan menelan selurh tubuh pria kekar itu tanpa sempat mengeluarkan jeritan apapun.
Lalu wanita jelmaan ular tersebut meliukkan tubuhnya dan menghilang dikegelapan malam.
Darah sisa percikan dari pria kekar itu memercik didedaunan dan rerumputan, yang menjadi saksi dari menghilangnya salah satu anggota kelompok tersebut.
Sementara itu, pria yang bertugas berjaga malam tersebut tampak celingukan dan kebingungan mendapati temannya tak juga kembali dari sejak berpamitan akan buang air besar. Ia tampak gelisah menantikan rekannya tersebut.
Disatu sisi, dua orang lainnya yang siang tadi bertugas mengambil air dirawa-rawa, tampak gelisah dengan tidurnya.
Mereka merasakan perutnya sangat tidak nyaman dan juga rasa lelah yang sangat berlebihan.
Keringat dingin ditengah malam kelam dan rasa dingin yang menusuk tulang begitu sangat menyiksa.
Perut keduanya tampak membuncit, dan seperti ada pergerakan didalam lubang jalur belakang mereka.
Keduanya membuka mata, mereka sama-sama merasakan rasa yang tak nyaman dan juga lelah yang berlebihan.
Namun kedunya saling bungkam dan tak berbicara satu sama lain, mereka saling pandang, mencoba menyembunyikan rasa sakit yang kini mereka derita. Mereka tidak menyangka harus terjebak dihutan belantara yang sangat mengerikan ini.
Hingga fajar menyingsing dan mentari twmpak bersinar dengan terang, rekan-rekan lainnya terbangun, dan yang bertugas sebagai penjaga tersebut tampak celingukan kesana kemari tak jauh dari tempat mereka berada.
Seorang diantaranya beranjak bangkit dan mencoba menghampiri "Heiii.. Kamu sedang mencari apa?" tanya rekannya yang tampak penasaran atas sikap Sani yang tampak mencari seseorang.
Sani tersentak kaget, lalu menoleh kebelakang " Roby menghilang sejak malam. Terahir Ia berpamitan ingin buang air besar, nakun tak kembali lagi" ucap Sani bingung.
"Siall..!! Sepertinya hutan ini sangat berbahaya, dan Kita harus waspada." ucap Rokcy geram.
Lalu keduanya kembali kekelompoknya dan mengumumkan menghilangnya Roby yang bertugas berjaga malam tadi.
Seluruh rekannya terperanjat dan beranjak bangkit, mencoba menemukan rekan mereka. Tak jauh dari tempat mereka berteduh, mereka menemukan bercak darah direrumputan, dan juga tetesan cairan kental milik pria saat mencapai puncak surgarwi yang juga tercecer direrumputan.
Mereka saling pandang, mereka menduga jika rekannya tewas sesudah bercinta dengan seseorang, namun siapa? Mereka tak mampu menemukan jawabannya.