Buhul ghaib

Buhul ghaib
Pupus Harapan



Duuuarrr...


Suara letusan senjata api membahana ditengah hutan.


Buru-burung yang sedang bertengger berterbangan karena terkejut akan suara yang sangat asing bagi mereka.


Chakra yang melihat pertanda alam yang tidak baik, merasakan was-was. "Asih..." Ia menghentikan perburuannya. Kuda Bara Sembrani milik Asih yang Ia pinjam, meringkik dengan gelisah.


Sepertinya binatang itu merasakan sesuatu yang tidak baik terjadi pada Asih. Ia berputar-putar, meminta agar Chakra segera meninggalkan tempat itu.


Chakra melompat kepunggung kuda Asih "Bara, kita kekebun sayur..!" Titah Chakra kepada kuda gagah berwarna hitam itu.


Bara sembrani berlari kencang menuju tempat keberadaan Asih. Ia mencium aroma tubuh Asih berada ditepi jurang. "Bara, kita kekebun sayur, tadi Asih berada disana." teriak Chakra kepada Kuda tersebut.


Namun Bara tidak mengindahkan ucapan Chakra, Ia terus berlari menuju tebing jurang.


 


Asih semakin terpojok, Ia dihadapkan oleh pilihan yang sulit.


Dari udara terdengar sebuah mesin helikopter yang menderu mendekati mereka. Ternyata signal GPS telah mendeteksi keberadaan mereka.


Asih terpaksa memuntir tangan bodyguard itu dengan cepat, lalu melumpuhkannya. Kedua rekannya yang menyaksikan itu membulatkan mata mereka.


"gadis sialan..!!" maki seorang dari mereka dengan kesal. Asih melirik sebuah batang kayu berukuran diameter 15 cm dengan panjang satu setengan meter tergeletak ditanah. Asih menggerakkan punggung telapak kakinya, lalu dengan satu hentakan Ia mengagkat batang kayu itu dengan menerbangkannya ke atas, dan dengan cekatan meraih menggunakan tanggannya.


Asih kini memutar-mutar tongkat kayu yang berada digengamannya.


"Asih.. Maaf, bukan ini maksudnya. Maukah kau iku dengan kami ke kota..? Ayolah.. Aku akan memberikan kehidupan yang layak untukmu." ucap Edy bernegosiasi.


"siapaa kamu yang berani mengatur hidupku..? Ini hutanku, dan ini rumahku.. Aku tidak ingin mengikut siapapun. Apalagi orang asing seperti kalian." ucap Asih masih dengan waspada.


Hellikopter sudah mendarat , mereka harus segera pergi. Namun Asih masih tetap kukuh tidak ingin Edy berjalan mendekat, mencoba merayu Asih. Namun gadis berjala mundur. "jangan Asih, kamu nanti terjatuh." ucap Edy mengingatkan.


Asih menghentikan langkahnya, Ia melongok kebelakang, benar saja, jurang itu sangat terjal dan dalam.


Bara Sembrani hampir mencapai bibir tebing. Asih menajamkan pendengarannya, Ia mendengar derap langkah kaki hewan itu semakin dekat.


Jef tersadar, diam-diam dia mengambil senjata api jenis softgun yang dibuang begitu saja oleh Asih ditanah. Tangannnya bergerak untuk menggapainya.


Kini Ia sudah mendapatkannya, Ia ingin menembakan senjata itu kepada Asih, Ia mengganggap semua ini terlalu bertele-tele.


Namun, saatbIa akan menarik pelatuk senjat itu, Chakra telah melepaskan anak panah dari busurnya.


Wuuuuuuusssh....ssst


Anak panah itu mendesing, mengenai senjata api milik Jef. Senjata api itu sedkit terpental.


Semua mata memandang kearah Chakra yamg datang dengan membawa kuda sembrani.


Dari dalam helikopter, seorang penembak jitu sedang membidik Bara, saat kuda itu berlari hampir mencapai Asih, Ia melepaskan perulu berupa obat bius.


Sssssssttt..


Iiiikkkhh... Bara meringkik, lalu mengkentikan langkahnya, dan ambruk ketanah.


Chakra yang menunggangi kuda gagah itu juga ikut terjatuh.


"Baaaaraaaa..." teriak Asih panik. Mata indahnya membulat marah saat melihat Bara ambruk ke tanah.


Mengira Bara Sembrani mati, seketika Asih emosi, namun mencoba menahannya karena tidak ingin ekornya muncul, masa iya didepan para cowok ekornya tiba-tiba muncul. Kan gak enak juga.


"brengsek kalian." maki Asih dengan emosi yang ditahannya. Ia mencoba mendekati Bara dengan berlari kecil, namun 2 orang bodyguard dan 3 orang berpakaian serta hitam ikut turun dengan persenjataan lengkap.


Asih berdiri didepan Bara yang terkapar tak berdaya. Ia memasang badan untuk melindungi Bara yang yampak masih bernafas. Karena kelamaan dihutan, Asih dan Chakra tidak memamahami arti obat bius.


Chakra juga ikut bangkit, Ia bersiap melawan jika mereka. ke 5 pria itu mendekati Asih dan Chakra. 2 orang dari mereka menyebar mengelilingi Asih dan Chakra.


"serahkan kuda itu, dan kami biarkan kalian selamat." ucap Seorang berpakaian hitam yang lengkap dengan persenjataannya.


"tidaak.. Dia milikku, dan siapa kalian beranimya mengatur hidupku..!" jawab Asih dengan berang.


-------


Istana masih dengan pertempuran. Ristih yang masih tidak ingin mengalah, terus menggerakkan pasukan ular silumannya menyerang istana milik Bromo.


Bahkan Ia menambah jumlah pasukan yang lebih besar. perperangan tidak dapat dihindari.


Ada banyak pasukan Risti yang terbakar terkena panah api, namun bukan panah api asmara ya pembaca. Ini apinya panas.


Korban berjatuhan. Didunia sudah 2 hari, namun dialam ghaib masih hitungan jam.


Bromo merasakan jika Asih dalam bahaya. Ia harus segera menyelesaikan pertempuran ini.


Bromo sedang tidak fokus, mendapat serangan tiba-tiba. Risti membelitakan tubuhnya kepada Bromo.


------------


Asih yang melihat pedang Chakra, lalu melempakan tongkat kayu begitu saja, dan mencabut pedang Chakra dengan cepat dari pinggang kakaknya itu.


Asih melakukan serangan mendadak, pedangnya menangkis senjata api milik bodyguard yang berada disisi kirinya. Dengan gerakan cepat Ia melumpuhkannya.


Edy memandang bingung. Ini bukan bagian dari rencana awal.


Seorang penembak jitu yang berada dihelikopter merasa tidak sabar, Ia membidik Asih, ingin menembak Asih. Chakra yang melihat itu lalu melindungi Asih.. Dan..


Sebuah peluru melesat mengenai Dada Chakra, lalu tangan Chakra mendorong Asih kedalam jurang "pergilah dik, selamatkan dirimu.." ucap Chakra, lalu limbung dan ambruk.


Bersamaan dengan itu, Asih terperosok kedalam jurang.


"aaaaaaaakkkkh.." teriakan Asih menggema..hingga ke telinga Bromo.


"tiiiidaaaak..teriak Edy. Ia tidak mengira jika kejadiannya harus seperti ini.


Beberapa orang membopong tubuh hewan itu kedalam helikopter, dengan bantuan troli. Setelah memasukkannya. Mereka mengangkat para bodyguard yang terluka dan membawa kedalam helikopter.


Edy posisi merangkak di bibir jurang, matanya nanar mencari tubuh Asih. Namun tak dapat Ia temukan. "A..Assiih.. " ucapnya lirih. Matanya berkaca-kaca. Ia tidak mengerti mengapa Ia begitu perih hatinya. Harapannya pupus untuk membawa Asih bersama ke kota.


Mereka memaksa membawa Edy. "ayo tuan Muda kita sudah terlambat." ucap seorang diantara mereka.


dengan perasaan hancur, Edy menaiki Helikopter. Sesampainya didalam heli, Edy merampas senjata api milim penembak jitu tersebut. Ia ingin meledakkan kepala penembak itu. "jangan Tuan Muda, tenangkan dirimu..!" mereka mencoba menenangka Edy. Heli kembali terbang mengudara.


"siapa yang memerintahkanmu menembak gadis itu ha..?! Bukan seperti ini rencananya.?!" teriak Edy. Ia kalut dan mengacak rambutnya dengan kasar.


Edy melemparkan senjata laras panjang itu ke lantai helikopter begitu saja.


Ia mencoba mencekik penembak jitu tersebut hingga kesulitan bernafas. Semua orang membantu dan melepaskan tangan Edy dari leher penembak itu.


"Tenangkan dirimu Tuan Muda..! Gadis itu tidak mungkin mati." ucap seorang diantaranya. Mencoba merayu hati Edy.


Edy melepaskan cekikannya. Lalu berjalan mundur dengan gontai. Ia terduduk lemah dilantai helikopter. Menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Asiiiih..." teriaknya dengan keras.


----------


Bromo melayang menangkap tubuh Asih yang tak sadarkan diri, saat terjatuh, kepalanya sempat membentur dinding jurang, sehingga Ia tak sadarkan diri. Saat tubuhnya melayang ditetinggian 150 meter, Bromo dengan cepat menyambar tubuhnya. Lalu membawanya ke goa.


Dina yang melihat kondisi Asih dengan kuka parah menjadi kalut.


"Asiiih.. Kenapa kamu sayang.?" Isak Dina dengan begitu pilu. "apa yang terjadi kanda.?" ucap Dina dengan lirih.


Bromo diam tak bergeming.


Lalu Ia teringat akan Chakra, "dimana Ia..? Kanda.. Dimana Chakra.?" teriak histeris Dina begitu jelas.


Dina mendapatkan firasat yang sangat buruk.." tidak..tidak.. Ini tidak boleh terjadi." ucap Dina sembari menggelengkan kepalanya.


"Dinda..tunggu, biar kanda yang mencarinya.." cegah Bromo.


Dina keluar dari Goa dan berlari menuju kedekat kebun, tanpa mengindahkan peringatan dari Bromo. Ia membawa kuda milik Chakra.


Dina menyusuri jejak dikebun yang tampak seperti kacau dan banya sayuran yang rusak. Ia menemukan keranjang mikik Asih yang penuh dengan umbi dan sayuran. Dina akhirnya tiba didekat jurang.


Saat melihat tubuh Chakra terkapar ditanah dengan bersimbah darah.


"Chakra.. Bangun kamu sayang..!" panggil Dina semabri meletakkan kepala Chakra pada pangkuannya. Ia mencoba menepuk-nepuk pipi Chakra agar tersadar. namun semuanya gagal.


"tidaaaak.. Bangun nak.. Bangun kamu sayang." ucap Dina dengan derai matanya.


"heeeeei... Siapapun kamu yang telah membuat anakku terluka, aku bersumpah, kamu akan mengalami hal yang lebih menyedihkan dari anakku.!!" sumpah Dina dengan emosi.


Duuuuuuar...!!!


Suara petir menyambar seiring dengan lafaz sumpahnya itu.


Dina meminta kuda milik Chakra merunduk, dan Ia membawa tubuh Chakra keatas punggung kuda, lalu membawanya menuju goa.


Edy me