
Sulira memanggil Bromo dengan percakapan ghaibnya.
"Baginda raja, harap mendengarkan kabar dari saya. Kondisi kerajaan sangat genting. Ristih datang menyerang. Ia tidak terima dengan perlakuan Asih yang telah membuat anak lelakinya mengalami kelumpuhan.
Rekso mengalami luka yang hampir membusuk karena terkena senjata Dwi Sula yang direbut Asih dari tangan Rekso.
Kini Ristih beserta pasukannya telah mendekati gerbang kerajaan. Sulira memantau dari atas benteng pertahanan. Ia melihat begitu banuak jumlah pasukan yang dibawa oleh Ristih. Sepertinya Ia sangat begitu emosional dengan penuh amarah.
"Dinda.. Ada yang ingin Kanda katakan , mendekatlah." pinta Bromo kepada Dina.
Dina mendekati Suaminya, Ia meletakkan bahan makanan yang akan dimasaknya.
"ada apa Kanda, sepertinya hal yang sangat penting." ucap Dina penuh penasaran.
Saat akan berbicara pada Dina, dua ekor burung gagak hitam terbang mengitari Goa.
Kwaaaak..kwaaaak..kwaaaak..
Bromo menatap kembali burung gagak itu. Wajahnya seketika berubah sendu.
"Kuatkan hatimu Dinda, Akan ada sesuatu hal yang menyakiti hatimu. Kanda titipkan kedua anak ini padamu, Kanda ada urusan di istana. Kanda akan segera kembali." ucap Bromo lirih. pandangannya menatap nanar pada wajah Dina.
Bromo mengecup ujung kepala Dina. Lallu berjalan keluar Goa dan menghilang dalam sekejap mata.
"apa maksud perkataan Kanda Bromo? Mengapa Ia begitu tampak gelisah." Dina berguman lirih.
Namum saat ini hatinya terasa sangat begitu cemas dan merasa khawatir.
Ia memandang Asih yang masih sibuk dengan daging kancilnya. Lalu Ia keluar goa, memasang perapian, dan mulai memanggang daging teraebut, hingga menimbulkan aroma yang sangat menggiurkan.
Dina kembali menyiapkan bahan untuk menumis jamurnya.
Chakra memacu kudanya dengan kecepatan tinggi, Ia harus segera sampai ke Goa. Ia meeasakan jika ke 4 orang tersebut sangat berbahaya dan perlu diwaspadai.
Chakra harus melindungi dua wanita yang sangat Ia sayangi. Ia terus memacu kudanya m, hingga akhirnya Ia sampai didepan goa dan melihat kedua wanita itu dalam kondisi baik-baik saja. Hatinya sangat lega.
Edy terus mempercepat langkahnya. Ia mengikuti jejak kaki kuda itu dengan terua memperhatikannya pada jalan setapak.
"aku sangat yakin, jika ini adalah jalan menuju ke desa dipuncak bukit. "Edy berguman lirih kepada ke tiga bodyguardnya.
"Tuan Muda, lihatlah kuda yang digunakan pemuda tadi, terlihat sangat gagah dan sehat." ucap seorang bodyguard itu dengan antusias.
"lalu, apa tujuanmu?" ucap Edy penuh penasaran.
"itu akan sangat hebat jika dibawa ketempat pacuan dan kita jadikan untuk sebagai latihan menembak sembari mengendari kuda." ucapnya menjelaskan.
"memang sih, terlihat gagah dan sangat keren" jawab Edy dengan senyum menembang.
"bagaimana jika kita ambil kuda itu Tua muda, bisa sekalian untuk jalan kita menuju pulang..?" ucap bodyguard itu.
"nanti akan ssya fikirkan lagi." jawab Edy singkat.
Mereka madih terus menyusuri jalanan setapak dengan petunjuk dari tapak kuda tetsebut.
Seketika Edy menghentikan langkahnya dan juga langkah ketiga bodyguardnya. Ia merentangkan kedua tangannya. Sesaat Ia berjongkok. Lalu memeriksa tanah.
Edy tersenyum licik. "sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui" ucap Edy dengan penuh senangat.
Ketiga bodyguard itu saling pandang. Mereka tidak faham dengan apa yang diucapkan oleh Tuan Mudanya.
"maksud Tuan apa..?" ucap seorang dari mereka.
"tapak kaki kuda ini menunjukkan ada dua ekor yang melintasi jalan ini, dan sedari tadi kita melakukan perjalanan ke bukit iki, tidak ada satupun warga yang melintas kecuali mereka berdua." ucap Edy menjelaskan.
"dan saya yakin, jika mereka tinggal satu atap." ucap Edy dengan yakin.
Ketiga bodyguardnya saling pandang. "jika mereka siluman bagaimana tuan muda?" ucap seorang dari mereka.
Edy menatap lurus kedepan. "Ayo.. Kita lanjutkan perjalanan ini." titah Edy tak ingin dibantah.
Bromo berada diatas benteng pertahanan. memantau pergerakan pasukan Ristih.
"Sadeeeewo.. Turun kau dari atas sana. Jangan mencoba menjadi pengecut." teriak Ristih dengan sangat lantang. Ia sedang tersulut emosi.
Bromo hanya memandang dengan penuh ketenangan. Melihat para pasukannya mulai bergerak, Bromo meminta Sulira agar memerintahkan pasukan mereka menggunakan anak panah Api.
Sulira mematuhinya. Lalu Ia turun dengan hitungan detik, dan segera memberi perintah agar menyerang sengan menggunakan anak panah yang ujungnya diberi api.
Para pasukan Sulira bersiap membidikkan anak panah untuk menerima serangan dari pasukan Ristih.
Tangan Kanan Sulira direntangkan ke atas, memberi aba-aba untuk bersiap.
Saat paaukan Ristih sudah semakin dekat, maka Sulira mengayunkan tangannya kebawah. Dan seketika anak panah melesat dengan cepat mencari sasarannya.
Suara pekik dan jeritan kesakitan menggema disekitar medan perang. Pasukan Ristih yang terkena anak panah akan meraung menahan sakit. Lalu menghilang.
Ristih mencoba menggapai benteng pertahanan. Namun dirinya tak mampu menembusnya. Karena ada sesuatu benteng ghaib yang menahannya. Saat ia ingin mencapai dinding benteng, Ia terpental jauh dengan jeritan histeris.
Bromo melayang turun ke arena perang, Ia menghampiri Ristih yang memegangi dadanya dengan rasa nyeri. Dari bibirnya keluar cairan berwarna hijau.
"kejam kau Sadewo, semenjak kau menikahi anak manusia itu, kau tidak lagi memiliki rasa empati dan rasa perikesilumanan." ucap Ristih dengan kesal.
Bromo masih berusaha bersikap tenang. Ia juga tidak ingin menyakiti wanita, namun Ristih terus saja mencari masalah dengannya.
"aku tidak ingin mencari masalah denganmu, lalu mengapa kau selalu mencari masalah denganku?" ucap Bromo dengan tenang.
"anak perempuanmu telah membuat luka parah pada anak lelakiku, dan kini Ia sedang sekarat." ucap Ristih dengan parau.
ke empat pria itu terus berjalan, meski rasa lelah menghampiri mereka, namun tak menyurutkan hati Edy untuk menemukan jejak sang gadis.
Dari kejauhan mereka mencium aroma sisa-sisa pembakaran kayu dan aroma daging panggang.
"sepertinya kita sudah hampir sampai. Sebaiknya kita tidak mengikuti jalan ini, kita harus mengendap-endap" titah Edy kepada ketiga bodyguardnya.
Mereka berempat mengendap-endap dibalik pepohonan.
"mengapa tidak ada rumah satupun disekitar sini?" bisik seorang bodyguard dengan nada bingung.
"Iya, apa kita terjebak di dunia ghaib..?" seorang lainnya menimpali.
Edy masih berfikir tentang apa yang diucapkan oleh para Bodyguardnya.
Namun angannya terhenti, saat Ia melihat seorang gadis cantik keluar dari balik sebuah dinding batu. Perasaan Edy tak menentu. Jantungnya seakan mau copot melihat kecantikan gadis itu.
"mengapa Ia keluar dari balik dinding batu itu? Apakah itu sebuah Goa.?" Edy berguman lirih. Hatinya masih penasaran. Ia mengedarkan pandangannya kesekeliling, tidak ada satupun rumah warga yang mereka temui.
Namun, kecantikan gadis itu telah menghilangkan segala akal sehatnya.
~tekan bintang 5 di karya novel ini ya🙏🙏🙏~~