Buhul ghaib

Buhul ghaib
Elegi Cinta



Edy memandangi Asih yang baru saja tersadar, gadis itu lalu beranjak bangkit dan duduk disisi Edy.


Lalu Ia memeriksa tubuh pemuda itu "Apakah Kamu terluka?" tanya Asih padanya, sembari memeriksa lengan, betis bahkan kepala pemuda itu tak lepas dari pemeriksaanya. Ia tampak begitu mengkhawatirkan pemuda itu.


"Aku baik-baik saja" ucap Edy, mencoba tersenyum, lalu menagkap pergelangan tangan sang gadis yang terus menggerayanginya.


"Bagaimana dengan luka di keningmu, apakah masih terasa sakit?" tanya Edy, sembari menyentuh luka dikening gadis itu, sepertinya terkena benturan bebatuan.


Asih menggelengkan kepalanya, karena itu hanya luka kecil saja, dan tidak masalah baginya.


"Pedangku? Apakah Kau melihatnya?" tanya Asih dengan panik.


Edy menggelengkan kepalanya, lalu Ia beranjak bangkit untuk memeriksa aliran sungai dan berhatap menemukan pedang gadis itu.


Sesaat Asih melihat benda berkilauan tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Itu, Ia" seru Asih dengan semangat, saat melihat sebuah benda logam yang berkilauan terkena sinar mentari sore.


Asih melompati bebatuan dengan sangat lincahnya dan dengan cepat menyambar pedangnya yang terdampar disungai yang tampak dangkal.


"Apakah Ia sama dengan Mutan dalam film luar pernah aku tonton?" Edy berguman dalam hatinya.


Lalu Asih kembali ketepi sungai, dan mendarat dengan sempurnah.


Asih kembali kebawah pohon dan duduk bersandar dibawahnya.


Edy beranjak dari tepi sungai, ingin menghampiri sang gadis, namun Ia melihat seekor burung belibis sedang berenang disungai.


Edy berfikir jika burung belibis itu bisa ditangkap, maka akan menjadi makan malam mereka.


Baru saja Edy berfikir bagaiamana cara menangkapnya,seketika terdengar suara desiran angin melintasi telinganya..


Dan..


Sssssttthh...wuuuss..


Suara anak panah melesat melintasi telinga Edy yang andai saja Edy menoleh sedikit saja, maka teinganya yang akan menjadi korbanya.


Edy terkejut dan berdiri mematung, tidak mempercayai jika Asih melakukan hal segila itu.


Dan...


Ciiiiiiik...


Suara cicit burung belibis yang hampir mirip dengan bebek tersebut, saat tertancap anak panah tepat dilehernya yang memutus urat kerongkongannya.


Setelahnya Edy menatap gadis itu, ingin protes atas tindakan Asih yang hampir saja memotong telinganya.


Namun Asih hanya mengangkat kedua bahunya, menyatakan jika Ia tidak sengaja.


Edy menggelengkan kepalanya, atas sikap Asih yang berwajah tanpa dosa setelah membuat jantungnya hampir copot.


Lalu Edy mengalihkan perhatiannya kepada burung belibis yang hampir hanyut terbawa arus.


Ia pun turun ke sungai dan segera berlari dengan susah payah mengejar burung belibis itu.


Setelah mendapatkannya, Ia mengulitinya lalu mencucinya, sedangkan Asih hanya menatapinya saja.


Edy membuat perapian dengan sangat kesusahan, dimana Ia harus memantik dua buah batu yang dapat menghasilkan sumber api.


Merasa kasihan, Asih beranjak bangkit, dan memantiknya hanya dengan satu kali saja.


Lalu menyalakan perapian dengan mudahnya. Lagi-lagi Edy terperangah dibuatnya.


Lalu Asih kembali ke bawah pohon, dan hanya jadi penonton saat melihat Edy mulai membakar daging burung belibis dengan bara api yang telah diciptakannya.


Sesaat aroma harum itu tercium dengat sangat sempurnah. Setelah memakan waktu 20 menit, akhirnya daging burung belibis matang sempurnah.


Edy membawanya kebawah pohon, tempat dimana Asih duduk bersandar. Lalu mereka makan bersama.


"Bagaimana dengan berlianmu? Wei telah mendapatkannya" ucap Edy mencoba mengingatkan Asih, sembari mengunyah sisa daging belibis yang masih terdapat disela-sela tulang burung bakar tersebut.


"Asih melirik lehernya yang kini tampak kosong tanpa Berlian dilehernya.


"Aku akan mendapatkannya, dan aku akan mengejarnya sampai kemanapun" ucap Asih dengan tatapan ambisi.


"Apakah itu artinya Kita akan kembali lagi kekota?" tanya Edy penasaran.


"Ya.. Kemanapun Aku akan mengejarnya" jawab Asih dengan yakin.


"Yaaah.. Aku kan belum bertemu dengan kedua orang tuamu" ucap Edy keceplosan.


"Untuk apa?" tanya Asih penasaran.


"Melamarmu?" jawab Edy dengan lancar.


Asih menatapnya dengan nanar. Lalu tersenyum kecut.


Meskipun Ia menyadari jika ucapan Edy mengarah hal yang sama seperti yang pernah diucapkan oleh Lee waktu itu, namun itu semua Asih anggap karena mereka tidak mengetahui siapa Ia sebenarnya.


Jika mereka mengetahui dirinya adalah setengah jelmaan siluman buaya, apakah mereka masih menggaungkan kata-kata tersebut?


Asih tersenyum dengan wajah yang sendu, lalu memejamkan matanya dan berusaha mengabaikan ucapan pemuda disiinya.


Sementara itu, Edy sudah menghabiskan daging burung itu tanpa sisa.


Saat Ia masih mengoceh, Ia melihat gadis itu sudah tertidur dan tak menghiraukan ucapnnya.


Edy pergi kesungai, mencoba meminum air tersebut. Ia tidak menyadari jika sepasang mata sedang memperhatikannya dari dalam dasar sungai.


Edy kembali kebawah pohon, sedangkan sepasang mata itu berenang kedasar sungai dan menghilang.


Edy duduk bersandar dibatang pohon, disisi sang gadis, lalu memandanginya dengan tatapan yang Ia tak tau harus berbuat apa.


"Mengapa Kau seorang Mutan? Namun Aku tak dapat membohongi hatiku, Aku mencintaimu, dan itu benar adanya" guman Edy lirih, ia mendenguskan nafasnya dengan kasar.


Edy beranjak dari duduknya, membenahi kayu api unggun untuk menghalau binatang buas dan mengusir rasa dingin yang pastinya akan mengusiknya saat akan menjelang tengah malam.


Setelah api unggun itu menyala sempurnah, Edy kembali kebawah pohon dan duduk bersandar disana.


Sesaat kepala Asih terjatuh tepat dipundak Edy. Membuat Edy sedikit tersentak. Lalu membiarkannya dan Ia pun mulai memejamkan matanya.


*****


Wei dan pasukannya sudah mendapatkan bayak barang berharga dan menanti jemputan helikopter itu datang.


Setelah mendengar suara deru mesin helikopter dan suara baling-balingnya yang tampak akan mendarat tak jauh dari mulut goa.


Mereka yang tersisa akhirnya segera bergegas menuju helikopter tersebut, dengan berbagai banyaknya barang berharga.


Setelah mereka semua naik kedalam helikopter, maka capung besi itu bergerak dengan putaran baling-baling yang sudah berputar dengan kencang.


Wei adalah salah satu orang yang sangat merasakan sangat bahagia, itu semua karena Ia dapat memiliki batu permata itu.


Bayangan akan keuntungan yang didapatnya dari pelelangan batut berharga tersebut sudah tergambar jelas dibola matanya.


Disisi lain, para bawahannya sedang berusaha untuk saling menyemnunyikan beberapa batu permata yang mereka dapatkan dengan pengorbanan yang cukup extrim, bahkan ada dari mereka yang harus meregang nyawa.


Disisi lain, seseorang diantaranya ikut menyembunyikan sebagian batu-batu permata itu untuk diberikannya kepada keluarga dari ke tiga rekannya yang tewas saat menempuh perjuangan yang sangat begitu membuatnya seakan ingin


menangisi rekannya-rekannya yang tak dapat ikut pulang bersama.


Disisi lain, dua insan sudah tertidur nyenyak di bawah pohon. Keduanya dalam rajutan mimpinya masing-masing.


Dengkuran halus kian terdengar dan menjadi melodi yang mengiringi nenyaknya tidur keduanya dalam setiap hembusan angin yang mulai dapat berdesir begitu sangat lembut.


.