
Sani dan Dori kembali menyusuri lorong goa. Mereka menggunakan suluh bambu sebagai penerangan.
Setelah lama berjalan, namun mereka tak jua menemukan titik penghujungnya.
"San... Kenapa Kita gak sampai-sampai sih?" tanya Dori dengan bingung.
Dan hal yang membuat pria kekar itu bertambah bingung Ialah saat melihat sebuah tanda batu menonjol didinding goa. Ia merasakan jika merwka sudah melewatinya untuk yang ke lima kalinya.
"Ini bukannya tanda yang sama atau disetiap dinding goa ada batu menonjol seperi ini?" ucap Dori dengan perasaan bingung.
"Maksud Kamu apa, Dor?" tanya Sani bingung.
"Coba deh Kamu perhatikan tanda batu menonjol didinding itu, sepertinya Kita berulang kali melewatinya atau Kita hanya berjalan ditempat saja?" tanya Dori mencoba menunjukkan sebuah batu yang sedikit menonjol didinding sisi kanan.
Sani mengikuti arah jemari telunjuk Dori, dan melihat tanda batu yang disebutkan rekannya itu.
"Iya... Apakah Kita berjalan ditempat atau hanya ilusi saja" jawabnya dengan sangat penasaran.
Dori berjalan menghampiri dinding, lalu memberikan coretan didinding goa dengan menggunakan suluh bambu tersebut.
"Coba Kita berjalan lagi, Jika kita masih menemui coretan ini, maka Kita sepertinya sedang dikerjai oleh makhluk tak kasat mata disekitar goa ini" Dori mencoba memberikan penjelasan kepada Sani.
Sani memandang Dori sembari mengernyitkan keningnya "Kamu percaya dengan hal begituan? Oh no.. Bulshit..!"ucap Sani sesumbar.
"Ihhh... Kamu itu gak boleh ngomong begitu, jika ketemu beneran kamu bakalan yang duluan ngacir" ucap Dori mengingatkan.
"Halllah.. Hari gini Kamu masih percaya yang begituan. Ayo, kita lanjutkan pencarian gadis itu" ucap Sani menyela.
Lalu keduanya kembali menyusuri lorong goa. Setelah 20 menit kemudian, mereka kembali menemukan tanda coretan hitam tepat di atas batu yang menonjol didinding.
Lalu keduanya saling pandang. "Percaya deh, sepertinya Kita sedang dikerjain makhluk astral ditempat ini" ucap Dori yang merasa mulai berdiri bulu kuduknya.
"Kalau begitu kita kembali saja" ucap Sani mulai menciut nyalinya.
Dori menganggukkan kepalanya. Namun belum sempat keduanya memutar tubuh dan melangkah untuk pergi, dari ujung lorong tampak sesosok bayangan yang muncul dengan tiba-tiba.
Semakin dekat, bayangan itu semakin telihat. Sesosok makhluk berwarnah hitam legam serta bertubuh tinggi menjulang dan bertangan panjang yang terus menjulur kearah mereka seakan hendak menangkap keduanya.
Seketika keduanya saling tatap, lalu memutar tubuhnya dan berlari sekencangnya sembari berteriak kencang karena ketakutan.
Semakin mereka kencang berlari, maka tangan itu terus mengikuti tanpa henti. Hal yang membuat keduanya semakin panik, tangan itu semakin panjang, sedangkan tubuhnya tidak terlihat.
Keduanya terus berlari dengan kekuatan tenaga yang entah dari mana datangnya.
Hingga saat keduanya hampir tergapai, mereka menembus keluar pintu goa dan terus berlari menembus kehutan yang sangat gelap.
Sementara itu, Jodi dan juga Andre yang sedang sibuk memahat batu berlian, merasa heran dan juga terperangah melihat kedua orang itu berlari dengan paniknya.
Keduanya saling pandang. Lalu Andre menggerakkan dagunya keatas, dan Jodi menjawab dengan menaikkan bahunya.
Keduanya merasa jika Sani dan juga Dori pasti sedang melihat sesuatu sehingga terlihat sangat panik.
Sani dan Dori kini terjebak didalam hutan, keduanya sudah jauh berlari dan jauh dari goa.
Nafas kedunya tersengal, lalu mereka saling bergandengan tangan.
"Kita sedang dimana, San?" tanya Dori dengan nada gemetar.
"Entahlah. Sepertinya kita sudah jauh dari goa" ucap Sani mencoba menduga-duga.
"Bagaimana jika kita tersesat?" Dori semakin mengeratkan genggaman tangannya dipergelangan tangan Sani.
"Kita harus tenang, dan mencoba mencari tempat berlindung. Kita tidak dapat menduga serangan hewan buas didalam ini" ucapnya dengan setenang mungkin.
Keduanya berjalan dengan perlahan. Mereka mencoba untuk tidak panik.
"Dor, apakah golokmu masih ada?" tanya Sani kepada Dori.
"Masih, San" jawab Diri lirih.
"Ok, Kita sebaiknya ke pohon didepan itu, Kita mencari dahan untuk menghindari serangan hewan buas" ucap Sani mencoba memimpin.
Keduanya mengangguk memberikan kode jika mereka memiliki firasat yang sama.
"Kamu dulu yang memanjat, Dor.." ucap Sani dengan perasaan yang was-was.
Dori akhirnya sampai diatas dahan. Kini ia menunggu Sani menaikinya.
"Buruan san.. Ucap Dori kepada Sani. Ia terua memberikan semangat kepada rekannya itu.
Seekor macan tutul sedang mencari makanan. Ia melihat kaki Sani bergerak dibatang pohon besar hendak memanjat.
Seketika macan tutul itu bergerak mendekati Sani.
"San.. Cepat San.. Ada sesuatu dibawah sana" Dori semakin panik.
Sani mempercepat gerakan memanjatnya, dan...
Kreeesssss....
Sebuah goresan kecil dibetis Sani.
Aaaaargh...
Sani meringis kesakitan. Lalu Dori dengan cepat mengulurkan tangannya, lalu membantu Sani segera naik kedahan.
"Sakit, San?" tanya Dori kepada rekannya dengan nada khawatir.
Sani mengangguk lemah, Lalu mengangkat kakinya yang terasa nyeri karena terkena cakaran binatang buas tersebut.
"Pegang golokmu, jangan sampai jatuh. Itu senjata kita untuk dapat melindungi diri" Sani mengingatkan.
Dori merobek kaosnya, lalu membalut luka dibetis sahabatnya. Kemudian Ia merobek kembali dan kaosnya, dan mengatupkan jaketnya untuk menghindari udara dingin.
Kain robekan kaos oblongmya Ia jadikan sebagai pengikat goloknya agar tidak terjatuh.
Sementara itu, Andre masih tertegun memikirkan kedua bawahannya yang tiba-tiba ngacir sembari berteriak panik menembua hutan.
Dan kini suara mereka tak terdengar lagi.
"Kemana mereka menghilang? Mengapa belum juga kembali?" tanya Andre dengan bingung.
"Memangnya apa yang mereka lihat, Bos? Sampai begitu paniknya" ucap jodi yang benar-benar bingung, karena mereka saat ini sedang tinggal berdua saja.
"Sebaiknya Kita percepat mengumpulkan batu-batu permata ini, saya sudah menghubungi hellikopter untuk menjemput Kita" Ucap Andre menjelaskan.
"Lalu bagaimana dengan Sani dan Dori, Bos? Juga Jack and Black" ucap Jodi merasa bingung.
"Besok mereka juga kembali" ucap Andre dengan santainya.
Jodi menganggukkan kepalanya, mencoba menyetujui titah Bos nya.
Andre mengedarkan pandangannya, mencoba mencari batu permata yang lebih mahal.
"Saya akan memeriksa ruangan lainnya, kemungkinan ada batu permata yang lebih mahal" ucap andre kepada Jodi.
Pria itu kembali menganggukkan kepalanya.
Andre berjalan menyusuri ruangan yang ada didalam goa.
Kakinya membawa Ia kesebuah ruangan kamar yang membuatnya terperangah.
Diruangan itu tampak banyak benda mahal. matanya tertuju pada sebuah laci nakas disisi kiri ranjang. meja itu terbuat dari pahatan kayu yang sangat mahal. Ia merasa penasaran dengan isinya.
Lalu Ia membukanya, dan tampak sebuah jepit rambut yang membuatnya sangat penasaran.
"Dimana Aku pernah melihat jepit rambut ini? Seperti pernah dipakai seseorang... Namun siapa?" Ia mencoba mengingatnya, namun sangat sulit. Sepertinya memorynya begitu sangat buruk.
"Siapa pemilik jepit rambut ini?" Ia berguman lirih, mencoba mencari jawabannya.
Dan..
"Siapa Kau..?! Apa yang sedang Kau lakukan dikamarku?" ucap seorang yang mengagetkan Andre, dan tanpa sadar menjatuhkan jepit rambut itu hingga meluncur kekaki seseorang yang menegurnya.