Buhul ghaib

Buhul ghaib
episode 188



"Romo.. Apakah kami harus pergi kebelahan barat?" tanya Asih yang masih sedikit ragu.


Edy menggenggam tangan Asih "Aku mengenal daerahnya, dan tenanglah.. Sebab aku pernah tinggal disana beberapa bulan" ucap Edy meyakinkan Asih.


Mendapagkan kekuatan dari Edy, membuat Asih twrsenyum sumringah.


Keduanya akan berangkat menggunakan kekuatan ghaib yang dimiliki oleh Bromo, namun untuk saat ini, Edy masih harus memastikan kondisi papanya sembuh dahulu. Sebab Ia tidak tega melihat kondisi Andre yang tampak drop karena melihat sesuatu yang tidak biasa.


Sementara itu, Dina masih belum percaya jika Ia akhirnya harus berbesan dengan Andre, pria yang pernah menjadi duri dalam hidupnya. Namun takdir mengatakan lain, dan Ia harus menerima kenyataan itu.


Bromo datang menghampirinya, melihat sang istri yang masih termenung dalam fikirannya yang kalut.


"Dinda.. Mengapa belum tidur selarut ini?" tanya Bromo dengan nada penuh kelembutan.


Dina menatap suami silumannya yang telah membuatnya melupakan segala kepedihan pernah Ia alami.


"Tidak ada apa-apa, Kanda" Jawab Dina mencoba menutupi hatinya yang masih galau.


"Kalau begitu tidurlah, tidak baik tidur terlalu larut malam" ucap Bromo dengan tenang, lalu membelai lembut rambut sang istri yang tampak mulai memejamkan matanya.


Dina tak dapat menolak sentuhan lembut yang membuatnya semakin terlena dan akhirnya mengantuk.


Sementara itu, Asih masih mempersiapkan dirinya untuk berangkat ke negeri orang, dunia baru yang tidak pernah Ia temui sebelumnya.


Meskipun Ia merasa sangat sedikit gugup, namun bersama Edy Ia akan merasa sangat tenang.


Semua persenjataan yang dibutuhkannya telah Ia persiapkan, Asih harus segera mendapatkan batu permata blue diamond yang kini telah dipenuhi kekuatan kegelapan.


Wei akan menggunakan permata itu untuk tindak kejahatan dan pastinya dengan niat yang sangat berambisi penuh dengan kelicikan.


Di sisi lain, Edy masih mengurus papanya yang masih sangat Syok dengan penampakan Bromo yang tiba-tiba muncul dihadapannya dalam wujud siluman buaya.


"Pa.. dalam beberapa hari nanti, Aku akan pergi ke Luar Negeri, dan Andre harap Papa dapat melewati masa tahanan Papa dengan tegar, dan Edy tidak lagi dapat mengunjungi Papa" ucap Edy menjelaskan.


"Dan Edy juga ingin memberitahu Papa, jika Wdy sudah menikah dengan gadis itu" ucap Edy dalam menyebutkan nama Asih agar Andre mengerti.


Seketika Andre terbeliak "A-apa maksud kamu? Kamu menikahi anak dari wanita masa lalu Papa?" ucap Andre mencoba meminta kejelasan dari puteranya.


Edy menganggukkan kepalanya, lalu menatap lekat pada Papanya.


"Ya.. Anak dari tante Dina" ucap Edy memperjelaskannya.


Seketika wajah Andre berubah "Mengapa harus jadi berbesan?" ucap Andre dengan kesal.


Edy menatap wajah sang Papa, tampak dimatanya ada gurat masa lalu yang masih tersimpan rapi didalam benak pria paruh baya itu, sebuah rasa yang masih tersisa dan tersimpan rapih didalam hatinya.


Tatapan pria berusia 43 tahun itu masih terlihat sangat tidak rela jika harus berbesan.


"Aku masih mencintaimu, Dina" guman Andre dalam hatinya, namun Ia masih penasaran dengan siapa Dina menikah, dan jika boleh meminta, maka Ia ingin Dina bercerai dengan suaminya dan kembali padanya.


Namun Andre tak pernah tau siapa suami Dina sesungguhnya dan begitu amat penasaran.


"Pa.. Apakah papa masih menyimpan persediaan pucuk senjata apai?" tanya Edy dengan berbisik.


Seketika Andre tersentak dari lamunannya, lalu menatap sekelikingnya, dan mendekatkan mulutnya ditelinga Edy.


"Masih, dan coba lihatlah dibalik pintu gudang ada sebuah tombol untuk menuju gudang penyimpanan senjata dan itu sangat rahasia, jangan sampai ada yang melihatmu" bisik Andre mencoba mengingatkan.


Edy menganggukkan kepalanya dan berpamitan ingin pergi.


"Edy.."ucap Andre dengan lirih.


"Katakan pada istrimu jangan lagi menjadi menantu sialan, Ia pernah membuat mata sebelah kiri papa buta, dan hampir membunuh Papa" ucap Andre sembari mengenang bagaimana Asih saat melemparkan batu permata yang berada di tembok goa sehingga menancap dibola mata kirinya yang menyebabkan Ia mengalami kebutaan, sehingga mengjaruskannya operasi mata dengan mencari pendonor.


Edy tersenyum kecut. Sebab Ia tahu jika Andre dan Asih adalah sosok yang nantinya bakal buat keduanya begitu tidak pernah menemukan kecocokan.


lalu Edy berpamitan dan ingin mencari gudang yang sebagai tempat penyimpanan senjata yang aka dibawanya nanti sebagai persiapan untuk menghancurkan Wei.


Edy melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit tempat dimana papanya dirawat, yang mana juga diawasi oleh petugas.


Edy menuju rumah mereka yang sudah lama tidak Ia kunjungi.


Edy memarkirkan mobiknya dirumah Dina, dan Ia memilih berjalan kaki menuju rumah mereka yang dipasangi garis polisi.


Hal tersebut diketahui oleh Asih. Ia mencoba menyelinap untuk mengikuti Edy yang pergi diam-diam begitu saja tanpa memberitahunya.


Edy berjalan menyusuri trotoar dan setelah sampai didepan pagar rumahnya, Ia celingukan kesana kemari menatap sekelilingnya, berharap tidak ada yang melihatnya.


Setelah memastikan semuanya aman, Edy menuju belakang gudang dan mencoba mencari pintu gudang yang dikatakan oleh Andre Papanya.


Setela memeriksanya, Ia menemukan tombol pintu masuk yang mana jika ditekan tombolnya sebuah pintu yang berada dilantai itu membuka terjungkat dan Edy segera masuk dengan cepat.


Ia berjalan menyusuri anak tangga dan dengan tergesah-gesah Ia menuju sebuah peti yang tampak tergembok dengan sangat kuat.


Edy mencari cara membukanya, dan kekuatan entah dari mana Ia berhasil membukanya.


Setelah berhasil membuka gemboknya, Ia membuka penutup peti yang terbuat dari plat baja tersebut, dan begitu terperangah, sebab ada berbagai senjata api yang merupakan seludupan saat Andre masih menjadi seorang mafia.


Edy mengambil dua buah senjatan api jenis softgun dan memasukkan disaku celana cargo bagian kiri dan kanan, lalu sebuah senjata laras panjang yang mana memiliki kedap suara saat dipakai untuk menembak lawannya.


Sesaat Edy mendengar suara mencurigakan yang mana sepertinya ada penguntit. Edy menutup kembali peti baja tersebut danbmenguncinya, lalu bersembunyi dibalik menuju tangga, dan saat bayangan seseorang itu sudah mendekat, Ia dengan cepat melesat dan menarik sosok itu dengan menodongkan senjata api softgunnya dikening sosok yang disergapnya.


Saat mengetahui siapa sosok itu, Edy mendenguskan nafasnya, lalu melepaskan todongan senjatanya.


"Dasar, Nakal..!! Hampir saja tadi aku membunuhmu"ucap Edy dengan nafas memburu dan penuh debaran. Karena jika Ia gegabah, tentu saja sosok yang Ia sergap tadi mati secara konyol.


"Apa yang Kamu lakukan disini?" tanya Edy kepada sosok penguntit yang tak lain adalah Asih.


Mencoba mengikutimu, mengapa tidak memberitahuku dan diam-diam pergi.." ucap Asih dengan polosnya.


"Aku mencari senjata untuk persiapan kita pergi mencari Wei" jawab Edy menjelaskan.


Asih hanya memanyunkan bibirnya, dan mencoba memahami apa yang dijelaskan oleh Edy.


"Kemarilah.. Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu" ucap Edy kepada wanita yang baru resmi menjadi istrinya.


"Apa?" tanya Asih penasaran, lalu menghampiri Edy yang sedang duduk diatas peti baja penyimpanan senjata api tersebut.


Saat Asih berada didekatnya, Ia menarik kepala wanita itu, lalu memagut lembut bibirnya.


Asih hanya terdiam menerima sentuhan dari pria tersebut. Setelah itu Edy melepaskan pagutannya.


Ia menarik tangan Asih menuju senjata lainnya dibawah kedua pangkal kakinya, dan memperlihatkannya kepada Asih.


"Sebelum menikah bukankah kamu sangat menyukainya? Sekarang Dia milikmu seutuhnya, kamu boleh memainkannya sesukamu" ucap Edy yang menuntun tangan Asih untuk menyentuh dan menggengam senjata yang telah mengacung keras tersebut.


Asih tersenyum smrik, sebab sekarang Ia bebas memainkan benda itu, jika selama ini Edy selalu memarahinya, maka kali ini Edy mengijinkannya, Ia meremasnya dengan gemas, membuat Edy menggelinjang geli.


Sepertinya mereka akan bertempur diatas peti baja, sebelum berangkat bertempur mengejar Wei.