
Sopir tersebut memucat dan dengan cepat menutup tempat bahan bakarnya dan menjatuhkan alat pengisian bahan bakar, lalu ngacir kedalam truck dan menutup pintunya.
Ia tampak begitu sangat ketakutan. Sementara itu, Lee masih tampak tertidur, sepertinya Ia sangat kelelahan.
Sementara itu, sang Ninja yang masih bertahan dengan senjata khusarigamanya mencoba menarik rantai besi yang diamana setiap ujungnya terdapat senjata tajam berupa benda logam mirip dengan sabit dan ketajamannya tidak diragukan lagi.
Andai saja mata sabit itu mengenai leher lawannya, maka dipastikan akan terpisah antara leher dan kepala.
Kini terjadi tarik menarik antara Katana dan juga khuasarigama milik sang ninja yang sudah bukan lagi manusia seutuhnya, melainkan sudah menjadi setengah mutan.
Dengan cepat musuh itu menyentak rantai besinya, Hingga membuat katana yang dipegang Edy terlepas.
Edy tersentak kaget, namun la mencoba bersiaga dengan segala serangan yang datang.
Ia melirik katananya terlempar beberapa meter dari posisinya saat ini.
Edy merasakan kekuatan yang sedikit berlebih setelah Asih mentransfer tenaga dalamnya waktu saat Ia tersengat aliran listrik saat di tangkap oleh Robert.
Sejak saat itu Ia merasa tubuhnya lebih kuat dan ringan dalam melompat dan melayang diudara.
Edy juga sudah menguasai segala jurus yang diajarkan Asih waktu berkuda saat itu.
Kini ternyata apa yang diajarkannya sangat bermanfaat untuk apa yang dihadapinya saat ini.
Ninja tersebut tiba-tiba merubah wujudnya menjadi mutan berkepala kobra. Edy membolakan matanya, Ia tersentak kaget saat melihatnya.
Ninja Mutan itu menatap pada Edy dengan bola mata menghitam. Lalu dengan cepat ia melemparkan khusarigamanya dan Edy mencoba melompat menghindari senjata mematikan tersebut.
Visual Salah satu jenis senjata ninja paling mematikan selain Katana dan juga shuriken.
Setelah berhasil mendarat di atas pasir berdebu, Edy kembali bersiaga dan Mutan itu kembali menarik senjatanya.
Sebelum mutan itu kembali menyerangnya, Edy meraih pasir berdebu dalam genggamannya, lalu melompat dan menyiramkannya ke arah wajah mutan tersebut dan melakukan jumping untuk meraih katananya, lalu..
Craaaaaash..
Ujung katana menembus perut Sang Ninja, lalu mencabutnya, dan kemudian Ia kembali melompat, lalu menembus ujung kepala mutan berkepala ular kobra tersebut.
Dalam sekejab kepala itu sudah tertembus dan hancur berkeping.
Edy mengambil senjata kusarigama milik sang ninja, lalu menyimpannya dan menyimpannya.
Dalam sekejab saja, Edy sudah kembali naik ke atas jok mobil depan, dengan sopir yang masih setia menunggunya, sedangkan Lee masih terlelap dalam tidurnya.
"Maju, Pak.. Perjalanan kita masih panjang.." titah Edy kepada sopir tersebut.
Lalu sang sopir menganggukkan kepalanya, dan melanjutkan perjalanan membelah jalanan gersang nan berdebu.
Sementara itu, Robert yang mendengar pabrik serum milik Wei terbakar dan semua serum itu hancur dan terbakar, membuatnya semakin geram karena rencananya gagal untuk menaklukkan Wei.
Ia berniat akan menyerang gudang pasokan narkotika milik Wei. karena sumber kekayaan Wei berasal dari pasokan barang haram tersebut.
"Bos. ternyata yang menghancurkan pabrik saingan bisnis bos itu adalah pria yang bersama wanita incaran Bos tersebut" seorang bodyguard menyampainkan informasi itu kepada Robert.
Robert tampak mengerutkan keningnya "Apakah Ia bersama dengan wanita itu?" tanya Robert tak sabar.
Sang informan menggelengkan kepalanya "Diq bersama seorang pria yang diduga intelegent" jawab informan tersebut.
Robert semakin penasaran dengan semuanya. Ia ingin mencari tahu apa hubungan wanita itu dengan Wei..
Mengapa sepertinya Ia selalu menggalkan rencana Wei seluruhnya, apakah mereka memiliki persaingan bisnis juga.
"Apakah wanita itu seorang mafia juga? Mungkin jika aku mengajaknya bekerja sama, maka akan menjadi lebih mudah untuk menghancurkan Wei.." guman Robert dalam hatinya.
Robert tersenyum dengan penuh kelicikan.
Sang informan merasa bingung, bagaimana mungkin Robert memiliki ide gila seperti itu.
"Tetapi wanita itu tidak pernah terlihat lagi" ucap Informan tersebut.
Robert menggaruk dagunya "Apakah Ia masih hidup atau sudah magi, atau masih menyusun rencana lainnya?" tanya Robert.
Sang informan hanya mengangkat kedua bahunya dengan pertanda tidak tahu.
Sementara itu, Lukas yang mendengar obrolan tersebut, berharap agar wanita tersebut mati saat Ia mengirimkan pembunuh bayaran saat itu, namun Ia juga tak mendapatkan informasi apapun tentang pembunuh bayarannya hingga kini.
Lukas tidak ingin jika sampai Robert terjebak perasaan dengan wanita misterius tersebut. Ia harus menemukan Asih dan melenyapkannya dengan segera.
Sopir itu terus membawa mobil trucknya dengan kecepatan yang standar saja.
Lee terbangun dan menggeliatkan tubuhnya, lalu memandang ke arah jalanan yang tampak begitu sangat terik dan panas menyengat.
Ia mencomot satu bungkus roti dan juga meneguk air mineral tersebut.
Sesaat Ia melihat sebuah tanda dipersimpangan yang bertuliskan sebuah papan nama jalan.
"Heei.. Sepertinya itu jalan yang akan tuju" teriak Lee dengan mulut yang masih tersumbat oleh roti, lalu meneguk air mineral tersebut untuk membantu melancarakan tenggorokannya.
Edy mengubah posisi duduknya, lalu memperhatikan apa yang diucapkan oleh Lee.
"Iya.. Ayo kita turun.." Edy menimpali ucapan Lee.
"Pak.. Kami berhenti didepan simpang sana" ucap Lee kepada sang sopir.
Sopir itu menganggukkan kepalanya dan menghentikan mobilnya.
Keduanya mengucapkan terimakasih kepada sang sopir, lalu melompat turun dari truck dan berdiri tegak menatap jalanan yang berdebu.
"Apakah markas itu masih jauh?" tanya Edy kepada Lee.
"Sepertinya hanya 15 kilo lagi" jawab Lee.
"Heeemm..15 kilo ya?" ucap Edy..
"Ya lumayan pegel" jawab Lee.
Tak berselang lama, tampak sebuah kepulan debu menuju ke arah mereka dengan suara derap langkah kaki kuda.
"Bara.." guman Edy yang mengenali suara ringkikikan tersebut.
Lee mengerutkan keningnya dengan sebuah nama yang disebutkan oleh Edy. Ia pernah mendengar nama itu disebut oleh Asih.
Dan Ia baru mengetahui asal sebab Asih ke kota hanya untuk mencari satu nama yang bernama Bara.
Semakin lama semakin mendekat, dan kuda itu menghampiri keduanya.
"Hai.. Kemana Asih?" tanya Edy penasaran.
Bara sembrani hanya meringkik memberitahukan jika Asih masih dalam perjalanan menuju dan menemui hambatan.
Sedangkan Ia disuruh kembali untuk menemui Edy agar menjadi tunggangan untuk kendaraan Mereka berdua dalam perjalanan.
Lee merasa bingung, bagaimana mungkin Edy dapat mengerti bahasa hewan tersebut.
Lee baru kali ini melihat bara setelah lamanya Ia hanya mendengar namanya saja.
Edy membelai hidung kuda tersebut "Baiklah.. Mari kita lanjutkan perjalanan" ucapnya, lalu melompat naik ke atas punggung kuda tersebut.
Sementara itu, Lee merasa bingung bagaimana ia menaiki kuda tersebut, sebab Ia tidak pernah menunggang kuda.
Edy mengulurkan tangannya "Naiklah" ucap Edy, lalu menarik tangan Lee dan segera membawanya melompat ke atas punggung kuda dan setelahnya mereka melanjutkan perjalanan dengan menunggangi bara sembrani.