
"Kanda.. Hari ini Dinda akan meninggalkan goa, maukah Kanda mengantarkanku.?" tanya Dina kepada Bromo.
"tidak Dinda. Hal ini akan menjadi tanda tanya warga kepadamu. Aku akan menjadi suami rahasiamu. Bila saatnya nanti, aku akan memunculkan diriku dihadapan warga. Tetapi bukan saat ini." jawab Bromo lembut.
Dina tersenyum datar. "baiklah Kanda, aku akan membawa Kuda milik Chakra agar sampai kedesa." ucap Dina, sembari beranjak ingin keluar dari goa.
Bersamaan dengan itu, Bromo mencekal pergelangan tangan Dina. "maukah Dinda memberikan kenangan terindah digoa ini..? Mungkin akan membutuhkan waktu yang lama kita akan kembali kemari lagi.." ucap Bromo dengan tatapan tenangnya.
"bukankah setiap malam Kanda berjanji untuk menemuiku saat ditempat abah nanti?" tanya Dina dengan tatapan penuh harap.
"tetapi Dinda akan terlambat sampai kesana Kanda.." tolak Dina lembut.
"baiklah.. Sekarang pergilah Dinda. Jika sampai disana nanti, jangan lupa membuatkan sebuah kamar untukku. Jangan biarkan sesiapa memasukinya, kecuali kamu." ucap Bromo penuh penekanan.
"Baik Kanda, aku akan membuatkannya untukmu." jawab Dina dengan senyum renyah.
Bromo mengecup ujung kepala Dina dengan penuh cinta kasih.
Dina menarik tali kekang kudanya, lalu menaiki punggung kudanya. "Dinda berangkat Kanda.." ucap Dina sembari menarik tali kekangnya. Kuda itu meringkik dan dan berlari kencang membelah hutan yang selama ini menjadi tempat berlindungnya.
-------♡♡♡♡-----
Bromo memasuki Goa setelah kepergian Dina. Ia menutup segala isi dalam goa. Dimana mata kasar tak akan mampu melihatnya. Jikapun ada anak manusia yang tersasar kedalam goa, mereka hanya melihat ruangan kosong yang lembab, penuh dengan sarang laba-laba dan kelelawar yang bergantungan.
goa itu sudah kembali seperti semula, tanpa apapun didalamnya.
Sesaat Ia mendengar suara desisan ular yang sangat Ia kenal. "Ristih.." Bromo berguman lirih.
Benar saja, siluman ular betina itu sudah berada dibelakangnya. "Sadewo.. kini anak manusia itu sudah kembali ke habitatnya, dia telah meninggalkanmu. mungkin saja disana nanti Ia akan tergoda dengan sesama jenisnya. dan Ia akan melupakanmu. Hahahahaha..." ucapnya memprovokasi.
Ristih membelitkan tubuhnya ke pada Bromo. Kini wajahnya menghadap kepada Bromo. "mengapa hatimu begitu keras Sadewo..? Tidakkah kau melihat betapa tulusnya cintaku padamu." ucap Ristih sembari menjulurkan lidahnya, menyapu seluruh wajah Bromo.
"pergilah. Sebelum aku berlaku kasar padamu.!!" ucap Bromo dengan penuh penekanan disetiap katanya.
Ristih tidak mengindahkan segala peringatan yang ditujukan padanya. Ia semakin berani menyusuri setiap jengkal tubuh Bromo dengan lidahnya.
Bromo yang merasa.kesal dan jengah kini kehilangan kesabarannya. Ia mengeluarkan sebuah Ajian kanuragan 'Waringin Sungsang'. Sebuah ajian kanuragan yang mampu menghancurkan lawan dengan sekali pukulan saja. anak manusia yang pertama kali mendapatkan Ajian itu adalah Sunan kalijaga.
Bromo menggunakan ilmu 'Waringin Sungsang' yang ditujukannya kepada Ristih.
Ia melibaskan ekornya kepada siluman ular betina tersebut, Seketika Ristih berteriak menahan rasa sakit yang teramat sangat. Tubuhnya hampir hancur, Ia melepaskan belitannya, lalu pergi menghilang dengan meninggalkan suara lengkingan yang sangat memilukan hati.
setelah kepergian Ristih, Ia teringat akan istrinya.
"Dinda.." lalu dengan kerlingan mata saja, Ia telah menghilang, menuju kepada kekasih hatinya.
---------♡♡♡♡-------
Dina memacu kudanya dengan cepat. Ditengah perjalanan, Ia merasakan jika ada sesuatu yang memeluknya dari arah belakang. Dengan cepat Ia dapat mengetahui siapa pelakunya.
"Kanda.. Kukira kamu tidak akan mengantarku" ucapnya lirih, kepada sosok yang duduk dibelakangnya.
"mana mungkin aku membiarkan orang yang kucintai menempuh bahaya sendirian dihutan ini." jawab Bromo sembari mengambil alih untuk menarik tali kekang kuda itu.
Dina tersenyum sumringah mengetahui jika Bromo mengantarnya sampai ke ujung desa.
Sepanjang perjalanan mereka dipenuhi oleh kemesraan nan syahdu
---------♡♡♡♡-----
Suara klakson mobil pick up yang akan membawa Chakra ke kota.
Hari masih pagi, kabut embun turun sangat tebal. Chakra sudah bersiap untuk pergi. Lastri telah mempersiapkan bekal untuknya. 3 bungkus nasi yang dibalut dengan daun pisang. Didalamnya ada lauk berupa telur ceplok saja.
"ayo Chakra, ini mobil yang akan membawamu sampai ke pinggiran kota. Karena mobil hanya sebatas membawa hasil panen yang akan dijual kepasar. Sekaligus membawa penumpang yang akan berangkat ke kota.
Chakra memperhatikan kendaraan tersebut. Selama ini, yang Ia tahu kendaraan itu ya cuma kudanya saja.
Chakra berpamitan kepada kakek dan neneknya. Lalu ia duduk di bak belakang mobil, bercampur dengan kopi dan keranjang anyaman bambu.
Kasim telah memberinya beberapa lembar uang untuk Ia bawa sebagai pegangan.
tas sandangnya kini penuh dengan banyak barang, ditambah lagi dengan kelinci yang terus setia mendampinginya.
Mobil bergerak, meninggalkan rumah kasim. Karena hawa yang terlalu dingin, Chakra menutupi wajahnya dengan menggunakan selembar baju bulu dari kulit rusa.
Perjalanan kali ini adalah perjalanan pertamanya untuk meninggalkan tempat tinggalnya. Chakra memandang puncak bukit yang tampak dikejauhan. Ia mengingat semua memory tentangnya, Asih, Dina dan Romonya.
"Ibu, Asih.. Aku datang untuk menyelamatkan kalian." ucapnya dalam hati.
kelinci menggemaskan itu, tampak meringkuk didalam tas selempangnya. Sesekali matanya mengerjap, ingin menghapus embun yang menempel dihidungnya.
Mobil terus bergerak, hingga akhirnya mereka telah menuju jalan utama. "Selamat tinggal desaku, kelak aku akan kembali padamu.." Chakra berguman lirih dalam hatinya.
----------
Dina telah berada diujung didesa. Bromo menarik tali kekang kudanya. "Kanda hanya sampai disini dapat mengantarkan Dinda. Rumah abah tinggal sedikit lagi. Pergilah. Kanada akan mengawasi dari kejauhan." ucap Bromo dengan tenang.
"baikalah Kanda. Kita berpisah disini, aku akan merindukanmu, datang menjengukku.." ucap Dina dengan perasaan yang takut akan kehilangan.
"tentu Dinda.. Bagaimana mungkin Kanda tidak menjegukmu, karena kamu adalah bagian dari kehidupanku.
Dina menarik tali kekang kudanya, kuda meringkik, lalu berlari kencang begitu juga dengan Bromo, Ia pergi melesat jauh.
Dina mencoba mengingat rumahnya. Tampak jalanan sudah mulai mendapat sentuhan pemerintah. Bahkan program listrik tenaga air sebentar lagi akan dikerjakan. Karena pembangkitnya berasal dari air terjun yang berada dikaki bukit.
Rumah- rumah penduduk juga mulai banyak berdiri. Sekarang sudah tidak terlihat sepi lagi.
Dina melompat turun dari kudanya. lalu menghampiri rumah panggung abahnya.
Ia menaiki anak tangga dengan sangat pelan. Lalu Ia mengetuk pintu rumah tersebut.
"assalammualaikum.." ucap Dina lembut, memberi salam.
" waalaikum salam.. " jawab Lastri dari dalam rumah. Baru sejam yang lalu mereka menutup pintu saat mengantar Chakra tadi.
Lastri membuka pintunya. Saat melihat siapa yang datang, matanya terperangah. "Di..dinaa.." ucap Lastri, lalu orang yang Ia panggil Dina menghamburkan diri lalu memeluknya.
Dina menangis sesenggukan. Ia begitu sangat meindukan uminya. Mereka berpelukan sembari melepas rindu.
Suara berisik Dina dan Lastri telah menganggu Kasim. Lalu Ia merasa penasaran. Kasim tak percaya denga apa yang di lihatnya. "Dina?" ucapnya lembut, lalu memeluk Dina dengan erat..
😳😳😴😴😴😴