Buhul ghaib

Buhul ghaib
episode 206



Edy memperhatikan beberapa persenjataan yang dipunguti Asih. Ia memastikan jika Asih malam tadi melawan para ninja.


"Sayang, mengapa kamu tidak membangunku malam tadi?" tanya Edy yang merasa bersalah karena membiarkan sang istri melawan para musuh sendirian.


"Kamu terhirup obat bius dan tak sadarkan diri" jawab Asih sembari merapikan pakaiannya setelah membersihkan diri. Mereka menemukan sumber air sumur bekas galian untuk proyek pembangunan.


Edy terdiam "Siapa yang mengirim mereka?" Edy berguman sendiri.


"Wei.. Ia balas dendam karena para tawanan wanita dan gadis belia digagalkan saat dipelabuhan" jawab Asih.


Edy menganggukkan kepalanya.


"Sepertinya Ia akan mengirimkan orang-orangnya lagi untuk menyerang kita" Edy mencoba menerka.


Asih beranjak menghampiri sang suami.


"Bukan hanya Wei, tapi orang-orangnya robert juga akan datang" jawab Asih dengan lirih ditelinga Edy.


Edy menghel nafasnya. "Kita harus waspada, karena sepertinya kita terjebak dilingkaran musuh" ucap Edy sembari memainkan katana tersebut.


Asih beranjak meraih pedang miliknya, lalu menantang Edy "Ayolah.. Berlatih pedang, ada saatnya senjata apiku kehabisan peluru, dan kau mebutuhkan ini.." ucap Asih sembari menghunuskan pedangnya dan membuat Edy tersentak kaget.


Mau tak mau Edy menangkis serangan Asih dan mereka terlibat adu pedang. Asih terus mendesak Edy untuk berlatih pedang, sebab senjata api ada batas penggunaannya.


Bebeeapa kali Edy tergores oleh pedang yang dimiliki Asih karena terlambat menghindar dari setiap jurus yang dimainkan oleh sang istri.


Sesekali Edy meringis menahan sakit, namun Asih membiarkannya, Ia tak ingin suaminya menjadi pria lemah yang hanya sebuah goresan langsung menyerah.


Setelah berhasil menguasai beberapa jurus dan berdarah-darah, akhirnya Asih menyidahi latihan Edy sementara dan beristirahat.


Ia menyarungkan kembali pedangnya dan meraih katana yang dipegang oleh sang suami.


Lalu Ia menghampiri Edy yang banyak terdapat luka sabetan pedang.


Tampak Edy meringis kesakitan, dan tentu hal itu membuat Asih merasa iba.


Lalu dengan kekuatan lain yang dimilikinya, Asih menyembuhkan luka tersebut, dan membuat Edy terkesima.


"Kamu harus menjadi pria tangguh, dan jangan berfokus pada senjata api, sebab ilmu pedang itu sangat berguna untuk melindungimu dari serangan musuh"


"Besok kita belajar bagaimana caranya pedang dapat menghalau peluru yang datang" ucap Asih mengingatkan.


Edy menatap pada sang istri "Kalau begitu mengapa tidak latihan dari sekarang? Bukankan lukaku juga sudah sembuh?" ucap Edy yang merasa mulai tertarik dengan apa yang diajarkan oleh Asih.


Asih tersenyum "Baiklah, ayo kita mulai, ambil senjata apimu dan mulailah menembak, lalu perhataikan gegakan yang aku lakukan" ucap Asih mengintruksikan.


Edy menganggukkan kepalanya dan bergegas meraih senjata apinya dan mulai mengatur jarak antara Ia dan Asih.


Dari jarak sepuluh meter, Edy berdiri menghadap sang istri dan mulai melakukan serangan untuk menmbaki Asih.


Dan dengan gerakan yang sangat cepat Asih menggerakank kepala pedang untuk menghalau setiap peluru yang datang hingga terdengar suara dentingan benda logam yang saling beradu.


Setelah peluru habis, kini giliran Asih yang akan mencoba kemampuan sang suami.


"Sayang.. Jangan pakai senjata api beneran dong.. Ntar kalau pelurunya nyasar beneran kan aku bisa mati" ucap Edy manyun.


Asih terkekeh, Ia tahu jika suaminya ketakutan dalam latihan kali ini. Maka Ia memilih menarik kerikil dibawah halaman gedung untuk berterbangan menghampirinya dan naik ke atas.


Setelah berhasil mendapatkan butiran kerikil, Asih mulai melemparkan kerikil tersebut layaknya sebuah peluruh kearah Edy.


Karena masih belum terbiasa dan latihan awal, akhirnya kerikil itu mengenail telinganya.


"Awwww.. Sakit sekali, Sayang" rengek Edy.


"Ayo, sekali lagi, dan fokus, gerakkan pedang itu sebagai tameng untuk melindungi" titah Asih, lalu kembali melemparkan peluru tersebut sebagai serangan yang harus dapat ditangkis oleh Edy.


Traang...


Suara dentingan batu kerikil dan pedang beradu, seketika Edy tersenyum sumringah karena sudah berhasil mengahalau serangan Asih.


"Lagi, Sayang" pinta Edy mulai bersemangat.


"Baiklah, tetap fokus dan gunakan indera pendengaran serta penglihatan dari arah mana serangan datang" ucap Asih mengintruksikan.


Edy menganggukkan kepalanya dan mukai fokus.


Lalu Asih melemparkan kerikil itu secara bertubi-tubi kepada Edy dan membuat Edy harus cepat mengerakkaan kepala pedang ditangannya menghalau batu kerikil yang terus datang menyerangnya.


Setelah melihat kemampuan sang suami, lalu Asih memberikan kejutan serangan dengan meraih senjata api dan menembakkannya.


Untungnya Edy masih fokus dan dengan kemampuan yang baru dikuasainya menghalau peluru senjata api itu dengan cepat.


Setelah peluru habis, Asih melemparkan senjata api itu dilantai dan tersenyum geli melihat wajah sang suami yang memerah karena terkejut Asih menggunakan senjata api sungguhan.


"Sayang.. Kau mengagetkanku, dan hampir membuat jantungku serasa copot" omel Edy yang merasakan degub jantungnya berdetak lebih kencang dan bergemuruh.


Asih mengahampiri sang suami, dan mendekapnya untuk meredakan gemuruh didada sang suami yang terkejut karena mengecohnya.


"Kamu harus bisa menguasai segala jurus dan fokus terhadap apa yang ada disekelilingmu. Sebab musuh bisa datang kapan saja tanpa pernah diduga, seperti ini...


Wuuuusssshh... Taaak.


Asih melemparkan sebuah kerikil kearah depan pandangan Edy yang menyasar pada seekor ular kobra yang datang tiba-tiba meliuk mengarah kearah mereka.


Edy terperangah melihat semua itu. Laku Asih melepaskan dekapannya. "Apakah kamu mengerti apa yang aku katakan?" tanya Asih menatap sang suami dengan tatapan penuh makna.


Edy menganggukan kepalanya. Pertanda Ia mengerti.


"Kamu juga harus menguasai ilmu memanah" ucap Asih kepada sang suami.


"Apakah kamu berminat?" tanya Asih kepada Edy.


Lalu Edy tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Boleh.. Ayo kita mulai" jawab Edy bersemangat.


Satu hal yang membuat Edy bingung Ialah mengapa anak panah yang digunakan Asih tak pernah ada habisnya, meskipun Ia menggunakannya secara terus menerus. Seolah-olah anak panah itu akan datang kembali setelah digunakan.


Asih meraih busurnya, lalu menghampiri sang suami, dan mengintruksikan agar Edy berdiri tegak dengan lengan sejajar dan Asih mengajarkan cara menarik anak panah itu dengan benar dan satu batang pohon didepan gedung itu menjadi objek sasarannya.


"Lepaskan..!!" titah Asih, dan Edy melepaskan anak panah tersebut, lalu meleset dari target.


Asih kembali meraih anak panah dan meminta Edy memasangnya kebusur panah, lalu mencoba membidik kembali.


Dan kali ini anak panah mengenai bagian pinggir batang pohon dan itu merupakan kemajuan yang baik.


Asih merentangkan tangannya ke arah anak panah yang tertancap dibatang pohon, laku menggerakkan jemarinya, dan anak panah itu melesat menghampirinya dan dengan cepat Ia menangkapnya, membuat Edy membolakan matanya melihat kemampuan yang luar biasa dari sang istri.


Lalu Asih kembali memasangkan anak panah tersebut ke busur, dan membantu Edy membidik pohon yang menjadi sasaran mereka.


"Fokus, Sayang" bisik Asih, dan membuat Edy mendapat sebuah kekuatan, lalu melepaskan anak panahnya, dan..


Wuuussh.. Ssstt..


Anak panah menancap tepat ditengah batang pohon. Lalu dengan cepat Edy memeluk Asih karena telah berhasil menguasai panahannya.


Ia tak henti-hentinya menghujani Asih kecupan karena berhasil dibawah bimbingan sang istri.