Buhul ghaib

Buhul ghaib
Pertempuran



Traaaaaang...traang..


Suara senjata tajam beradu didalam pertempuran. Seorang gadis cantik sedang melawann5 orang ninja yang kini menyerangnya secara bersamaan, dan tanpa ampun.


Wuuuusssshhh...


Salah seorang diantara mereka melemparkan sebuah senjata berbentuk bintang yang setiap sisinya tajam bagaikan pisau, yang mana senjata itu disebut dengan nama 'Shuriken'.


Gadis yang tak lain adalah Asih, dengan kecepatan gerakannya, menangkis serangan shuriken tersebut, hingga kedua senjata itu menimbuklkan percikan api dan suara dentingan yang sangat nyaring.


Namun, tak hanya satu saja shuriken yang dilemparkan kepada Asih, namun keempat lainnya juga melemparkan senjata itu kepada Asih.


Meski terlihat kewalahan, namun Asih masih dapat mengatasi semua serangan yang dilancarkan kepadanya.


Sesaat, tanpa disadari oleh Asih..


Krrreeeeees...


sebuah sabetan pedang mengenai bagian perutnya..


Aaaargggh...


Asih merintih sembari memegangi perutnya yang terluka, dan darah mulai merembes keluar dari area tersebut.


Pergerakan dan serangan lawan semakin gencar yang ditujukan kepadanya.


sesaat Lee datang membantunya dengan memanfaatkan senjata milik Ninja yang terkapar karena terkena anak panah yang dilepaskan oleh Asih.


Asih mencoba bertahan sembari memegangi perutnya yang terluka.


Mengambil kesempatan dari bantuan Lee, Asih mencoba terus membantu menyerang para musuhnya.


Dan tanpa disadari, Asih teringat akan Romonya.." Romo.." gumannya lirih, Ia merasakan dunianya semakin gelap diantara pekatnya malam.


Criiiiing...


Seketika semburat cahaya berwarna silver muncul dari arah barat, lalu menyilaukan mata para ninja tersebut, saat mereka menyadari, Asih dan Lee sudah tidak lagi berada diarea pertempuran. Para Ninja kebingungan mencari keberadaan mereka yang tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi.


sementara itu, Asih dan Lee berada disebuah kastil tua yang sangat jauh dari tempat pertempuran terjadi.


Lee yang tersadar dari semuanya seketika menatap bingung. Bagaimana mungkin Ia dengan tiba-tiba berada ditempat ini, sebuah kastil yang sudah terbengkalai.


Ditengah kebingungannya, Lee melihat Asih sudah terkapar didilantai kastil yang berdebu. Menepia semua yang terjadi, Lee dengan segera menghampiri gadis itu.


"Heeei.. Gadis konyol, bangunlah..jangan membuatku takut. ucap Lee sembari mengguncang tubuh Asih. Namun gadis itu tetap diam, tak bergeming.


Saat Le memegang pinggang gadis itu, Ia merasakan cairan kental telah merembes dari pakainnya.


Lee tersentak, lalu mencoba menyusuri tubuh gadis itu diarea sekitarnya. Lalu Ia menemukan luka robek akibat sabetan senjata tajam.


"Astaga, dia terluka.." guman Lee dengan lirih, Ia begitu tampak khawatir.


Disisi lain, sepasang mata memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh Lee terhadap Gadis tersebut.


Lalu Ia menggerakkan jemari tangannya, mengambil sebuah kotak kecil berisi ramuan yang berguna sebagai penghenti pendarahan pada luka.


Ialu Ia mengirimkan kotak itu dibawa remang cahay lilin yang entah dari mana datanganya.


Sosok pengintai itu mengirimkan kotak ramuan tersebut kepada Lee dengan cara menerbangkannya, dan tentunya dengan kekuatan sihir, bukan pakai jasa kurir ya reader, apalagi jasa COD.


Sesaat kotak itu berada tepat disisi kiri Lee.


Tak..tak..tak..


Suara gemeratak yang ditimbulkan oleh dari kotak kecil itu mengalihkan perhatian Lee. Dalam keremangan cahaya lilin, Lee memperhatikan kotak itu, ada rasa bergidik dibulu kuduknya.


Namun nalurinya mengatakan agar memeriksa isi kotak tersebut. Lalu Ia meraih kotak tersebut, dan mencoba untuk membuka penutup kotak tersebut.


Lee mencoba menyentuhnya, Ia merasakan seperti sebuah ramuan yang baru saja diracik. Lalu disebelah terdapat sebuah botol yang diyakini Lee juga berupa ramuan penyembuh luka bagian dalam, dan cairan itu masih terasa hangat.


Namun pemuda itu segera mengesampingkan dugaan-dugaannya, karena Ia kini fokus dengan keselamatan Asih.


Lalu dengan segera Ia menyingkap pakaian Asih, menempelkan ramuan yang tampak seperti bubuk tumbuhan yang masih basah.


Lee membalurkannya keseluruh luka robek yang terdapat diperut gadis itu.


Setelah semua lukanya tertutup, Lee menyobek sedikit pakaian gadis itu, lalu mengikatnya agar mempercepat pembekuan aliran darah atau hemostasis sehingga menghentikan aliran darah.


Setelah itu, Lee seakan dituntun nalurinya untuk meminumkan ramuan itu kepada Asih.


Dengan sangat hati-hati, Lee meminumkan ramuan yang berbentuk cairan itu sedikit demi sedikit kedalam mulut Asih hingga habis.


Sesaat Asih terbatuk, lalu terlelap kembali.


Lee merasa lega, akhirnya Asih masih dalam kondisi setengah sadar.


Setelah memastikan kondosi Asih sudah baik-baik saja, maka sosok pengintai itu akhirnya menghilang, hanya dalam kerlingan mata saja.


Lee menselunjurkan kakinya, lalu menopang kepala Asih dipangkal kakinya. Lee menyandarkan tubuhnya didinding.


"Siapa kamu sebenarnya..? Mengapa semua tampak begitu misteri..?" pemuda itu menatap wajah sang gadis yang kini sedang berbaring dipangkuannya.


Lee membelai lembut rambut gadis itu, lalu entah mengapa Ia begitu sangat penasaran dengan pink diamond yang menggantung dileher sang gadis.


"Aku tau ini harganya sangat fantastis, dan hanya orang-orang konglomerat saja yang mampu mengoleksinya, sedangkan Asih, seorang gadis desa yang tampak biasa-biasa saja, bagaimana mungkin dapat memiliki batu permata semahal itu.


Jika Asih adalah perampok, maka itu tidak mungkin Ia lakukan, karena tidak mungkin hal ifu dilakukannya.


Namun satu hal yang menambah misteri dari pink diamond tersebut adalah, Lee tidak mengalami hal buruk apapun saat menyentuhnya, berbeda dengan orang-orang yang menginginkannya, maka mereka akan mengalami nasib buruk.


Tap..tap..tap..


Seketika Lee mendengar suara derap langkah seseorang, dan terkadang seperti memanjat tembok.


Seketika Lee mencari tempat untuk menyembunyikan tubuh Asih yang masih terluka.


Lee melihat sebuah sebuah Altar dengan meja besar didalamnya, lalu menggendong tubuh sang gadis, dan menyembunyikannya disana. Setelah itu Ia memadamkan lilin agar menghalangi pandangan para penyusup.


Lee merasa bingung mengapa para pemburu berlian itu dapat menemukan keberadaannya dan juga Asih.


Sepertinya mereka memiliki pelacak signal, sehingga mereka dengan mudah dapat menemukan keberadaan mereka.


"Siaal.." umpat Lee, lalu merogoh saku celananya, dan menonaktifkan phonselnya.


"Sepertinya mereka menemukan jejakku dengan meretas nomor phonselku.." guman Lee lirih dalam hatinya.


Lee mulai waspada, menajamkan indra pendengaran dan penciumannya untuk mendeteksi keberadaan lawannya dalam gelap gulita.


Lee merasakan desiran angin disertai kelebatan seseorang melintas disisi kirinya, Lee memasang kuda-kuda pertahanan, dengan pedang yang sudah siap menyerang lawannya.


Lee dengan cepat mengayunkan pedangnya ke sisi kirinya, saat menyadari seseorang sedang menyerangnya dalam senyap.


Kreeesh..


Terdengar sebuah sabetan pedang ditubuh seseorang..


Aaargh..


Suara rintihan kesakitan seseorang saat terkena sabetan pedang milik Lee. Lalu dengan gerakan berputar 360°, dan berputar 30 cm diudara, Lee menghunuskan pedangnya dan menikam lawannya..


Aaaargh...


Kembali lagi suara lengkingan terdengar menyayatkan hati. Suara itu berasal dari orang yang terkena sabetan dan hunusan pedang Lee.


Lalu Lee merasa ada 4 sosok kelebatan bayangan yang ikut menghampiri keberadaan Lee.


Bersambung.. Maghrib..