
Lee masih mencari sesuatu yang mencurigakan darbsepeda motornya. Ia memeriksa body motor dengan seksama. Lalu Ia menemukan sebuah GPS yang terpasang di body motor.
Lee lalu mengambilnya "Siaall.. Pantas saja mereka bisa tau pergerakan Kita. Dan Aku Yakin ada kamera penyadap yang mengintai Kita" ucap Lee.
Edy meraih chips GPS tersebut dari tangan Lee, lalu memeprhatikannya dan melihatnya.
"Dia pasti orang dekatmu" ucap Edy mencoba menerkanya.
Lee masih terus mencari camera tersembunyi yang membuat mereka terus terpantau kemanapun pergi.
Bahkan Ia memeriksa tas ranselnya. Dan benar saja, ternyata kamera itu berada di tas ranselnya.
"Siapa yang melakukannya?" Guman Lee lirih.
"Pastinya orang yang mengenalmu dengan baik" jawab Edy menjelaskan.
Lalu keduanya menempelkan camera dan juga GPS itu pada sebuah batu besar, lalu mereka bergerak pergi meninggalkan lokasi tersebut.
Lee dan Edy kembali melanjutkan perjalanan mereka untuk menemukan Wei, termasuk pabrik pembuatan serum tersebut.
Sementara itu, Robert sudah pulang dari rumah sakit dan menjalani perawatan inap. Ia memakai kursi roda karena kakinya mengalami kelumpuhan dibagian kananya karena tertimpa reruntuhan bangunan.
Ia melihat sebuah tayangan vedeo yang menyatakan jika Wei telah memproduksi serum untuk sebagai penawar racun dari wabah yang sedang melanda dunia.
"Licik sekali Dia.. Apakh Ia fikir Ia hebat? Aku akan mendapatkan pabrik tersebut dan hanya aku yang dapat menjadi penguasa didunia gengster, tidak boleh ada dua atau tiga.
Robert masih dengan kursi rodanya "Bagaimana kabar wanita itu? Apakah kamu sudah mendapatkannya?"tanya pria itu dengan penasaran.
"Orang-orang suruhanmu telah tewas, Bos. Mereka tidak dapat menemukan gadis itu, karena tidak terlihat sama sekali akhir-akhir ini" jawab seorang diantaranya.
Robert terdiam "Apakah Ia ikut mati dalam terkena wabah ini?" ucap Robert penasaran.
"Bisa jadi, Bos.." jawab bodyguard tersebut.
Lalu Rober terdiam, Ia tidak rela jika Asih mati. Ia menginginkan Asih dalam kondisi hidup.
Lukas tampak kesal melihat perubahan pada kakaknya itu. "Kak.. Fokuslah.! Kita harus bergerak untuk menguasai pabrik serum dan juga gudang narkotika milik Wei yang nilanya mencapai triliunan" tukas Lukas dengan nada kesal.
Robert tampak terdiam "Bergeraklah.. Kumpulkan otang-orang terlatih untuk menyerang gudang dan pabrik milik Wei" titah Robert dengan cepat.
Disisi lain, Lee masih mengendarai motor sport nya dengan kecepatan tinggi, dan dengan tiba-tiba sebuah mobil datang dan memberondongkan pelururunya kepada Edy dan juga Lee.
Edy mencoba menangkis serangan peluru itu dengan pedangnya.
Suara dentingan dari pedang dan peluru yang yang saling beradu membuat suasana tampak mencekam.
"Siapa lagi mereka? Mengapa terus saja ada yang mengikuti kita?" omel Lee sembari menangkir serangan yang datang.
"Entahlah.. Yang jelas mereka memiliki tujuan ingin menghalangi kita menuju ke pabrik tersebut" jawab Edy yang terus menangkis serangan.
Melihat jarak mereka yang bergitu dekat, Edy melompat dari motor Lee lalu naik ke atas mobil dan para penumpang mobil menyerangnya tembakan yang diarahkan kelangit-langit mobil dan Edy melompat-lompat menghindari tembakan tersebut.
Lalu Ia menancapkan ujung pedangnya kebadan mobil bagian atas dan menembus hingga mengenai seorang penumpang didalamnya dan tembus ke kepalanya.
Lalu salah satu diantaranya naik keatas mobil dengan rupa yang kepala ular kobra yang tampak mengerikan.
Lalu keduanya saling serang dan suara dentingan senjata tajam kembali beradu.
Sosok manusia berkepala ular tersebut berusaha menyemburkan bisanya kepada Edy, dan membuat Ia harus melompat dan mengarahkannujung pedangnya ke ujung kepala Ular tersebut, hingga makhluk itu hancur dengan serpihan-serpihan yang terus menghilang.
Esy kembali diserang dengan tembakan dan peluru terus menghujaninya hinga membuatnya melompat-lompat diatas mobil.
Dan dengan cepat Ia menghunuskan pedangnya kebadan mobil bagain atas dan menembus langit-langit mobil dengan mengenai kepala seorang penumpangnya yang kini sedang menyerangnya.
Lalu Edy mengarahkan ujung pedangnya dan menembus tulang rusuk pengemudi tersebut hingga tewas.
Lalu Edy kembali naik ke atas mobil yang sudah berjalan tampa kemudi.
Lee menghampiri mobil tersebut, dan Edy segera melompat ke atas jok boncengan.
Tampak Edy menyimpan pedang dan busur panahnya dipunggungnya.
Lalu motor melaju kencang.
Ditengah perjalanan, tampak seorang penegendara seepda motor melaju kencang dengan senjata api yang terus menembaki mereka.
Lee menambah kecepatannya, dan motor meliuk-liuk dijalanan.
Tampak pengendara itu begitu lihai menyeimbangi mereka sembari terus membrondongkan pelurunya.
Salah satu peluru mengenai ban belakang milik Lee sehingga membuat mereka kehilangan seimbangan dan meluncur terjatuh dijalanan.
Lee dan Edy terluka parah akibat terseret dijalanan.
Pengemudi itu turun dari motornya dan berjalan menghampiri Lee.
Ia membuka helmnya, dan sengaja memperlihatkan wajahnya kepada Lee.
"Ka..kamu?" ucap Lee lirih sembari meringis menahan sakit karena banyak luka hampir disekujur tubuhnya.
Sosok itu menyeringai, lalu berjongkok menghampiri Lee dengan tatapan licik. Rambut panjangnya tergerai dan berkibar terkena angin yang menerpanya.
"Bagaimana? Apakah sakit?" tanya Sosok itu yang ternyata seorang wanita berambut pirang.
"Brengsek Kau..!! ternyata selama ini Kau yang memata-mataiku, dan Kau juga yang meletakkan GPS dan kamera itu juga" ucap Lee dengan geram.
Sosok wanita yang tak lain adalah Rebecca itu tersenyum sinis, lalu menatap pada Lee.
"Tadinya Aku sangat mengangumimu, namun kau mematahkan hatiku karena wanita itu" ucap Rebecca dengan lirih.
"Dan Aku berada dipihak Wei.. " ucapnya dengan seringai.
"Lalu Robert.." tanya Lee dalam kesakitannya.
"Dia adalah saingan bisnis Wei.. Dan Aku mencoba memberi informasi penting kepada Wei.. Setelah Aku mengetahui jika Kau seorang anggota inteligent, maka mau tidak mau aku harus melenyapkanmu" ucap Rebecca sembari berdiri dan mengacUngkan senjata apinya ke arah Lee.
Ada keraguan dimatanya untuk membunuh sang pemuda, namun Ini adalah tugas untuknya, jika Ia tidak membunuh Lee, maka Ia yang akan dibunuh.
Seorang penembak jitu telah mengintainya disebuah bukit dan terus memantau Rebecca.
"Tembak sekarang..!!" titah seseorang dan terus memantaunya.
Seketika Rebbeca menarik pelatuknya dan siap menembak, namun dengan cepat Ia mengarahkannya ke arah orang yang sedang mengintainya.
Dan..
Dooorrr...
Belum sempat Rebecca menembakkan senjata apinya kepada sniper tersebut, Ia sudah terlebih dahulu tertembak dan jatuh tepat dihadapan Lee.
Wanita itu menatap Lee, lalu Ia menggerakkan jemarinya dan memberikan sebuah kartu pengenal dengan barcode yang lengkap kepada Lee.
"Gu-gunakan ini.. Untuk Akses kamu bisa masuk ke ruang bawah tanah tempat penyimpanan batu mustika" ucapnya dengan terbata dan mencoba tersenyum menatap Lee, lalu menghembuskan nafas terakhirnya.
Lee tercengang melihatnya, lalu Ia mengambil kartu tersebut dan berusaha untuk bangkit untuk mengangkat tubuh Rebecca agar tidak berada dijalanan.