Buhul ghaib

Buhul ghaib
Episode 184



Tubuh Asih semakin membesar, mengikuti tubuh Rekso yang juga semakin membesar.


Asih meraih senjata Dwi sulanya, lalu bersiap menyerang.


Asih meliukkan ekornya dan hampir saja melibas Lee yang berada dibelakangnya, untung saja Edy sigap menyelamatkan Lee dan membawa tubuh itu menjauh dari makhluk yang kini akan siap bertarung.


Lee merasakan degub jantungnya berdebar kencang saat melihat perubahan tubuh Asih yang kini menjadi buaya raksasa.


Rekso menyerang Asih dengan menyemburkan bisa berbahayanya.


Cairan berbisa yang dapat menghanguskan apapun yang terkena oleh semburannya.


Cairan itu menyembur dengan sangat banyak, dan dengan cepat Asih bergerak menghindar.


Cairan itu mengenai rerumputan dan juga sebuah tembok pembatas markas Lee. Dalam sekejap rerumputan dan juga tembok itu hangus terbakar.


Lee dan Edy terperangah melihat hal tersebut.


"Hei.. Kau jangan kebanyakan plonga plongo, ntar tau-tau sudah hangus saja dirimu" Ucap Edy memperingatkan.


Lee menatap Edy yang seolah sedang menyindirnya.


Edy saat ini hanya memperhatikan pertempuran yang terlihat sengit.


Asih dan juga Rekso saling serang dengan mengadu kekuatan.


Asih berlari kencang, lalu berputar diudara dan menghunuskan senjata Dwi sulanya dengan sangat cepat tepat mengenai pinggang Rekso.


Ular siluman itu terpekik, Ia memegangi pinggangnya yang terkena oleh goresan senjata Asih. Cairan berwarna hijau muda keluar dari bekas lukanya.


Ular siluman itu mendesis, lalu berusaha kembali bangkit dan menghentak kedua tangannya ke bawah dengan sangat keras.


Tiba-tiba saja, sebuah senjata berupa tongkat berkepala ular dengan mulut ternganga dan lidah yang menjulur keluar dari kepala inti milik Rekso.


Tongkat itu kini sudah berada digenggaman Rekso dan mengeluarkan cahaya keunguan.


Seketika suasana malam yang kelam dan hitam penuh kegelapan menjadi terang dan menyilaukan pandangan akibat pendaran cahaya dari tongkat milik Rekso.


Andaikan ada manusia awam yang melihat atau memandang pendaran cahaya tersebut, tentulah akan buta dan karena begitu sangat tajamnya cahaya tersebut.


Hawa panas menyeruak, membuat rasa gerah yang seakan membakar kulit.


Lee dan Edy melindungi kedua matanya dengan menggunakan lengan mereka.


Cahaya itu selain menyilaukan pandangan juga menyakitkan mata.


Asih bersiap dengan senjata Dwi Sulanya.


Sementara itu, Rekso memutarkan tongkatnya, sehingga cahaya itu semakin memendar memenuhi alam sekitar.


Rekso meliukkan tubuhnya, lalu menghunuskan tongkatnya dan saat jarak dirinya dengan Asih sudah dekat, Ia menghantam dengan hentakan yang kuat.


Namun dengan cepat Asih menangkis serangan Rekso dengan menggunakan Dwi sulanya, sehingga ujung tongkat itu tertahan di tengah senjata Dwi Sula milik Asih.


Dengan cepat Asih memutar senjatanya, dan lalu Ia terbang melayang sekitar satu meter dari atas tanah dan berputar dengan cepat, sehingga membuat tongkat milik Rekso terpental jauh.


Rekso berbergeser dari jaraknya dan kehilangan tongkatnya.


Asih kembali melayang dan menghunuskan senjatanya. Namun kali ini Rekso telah siaga, Ia mengeluarkan kukunya yang runcing dan saat Asih memberikan serangan untuknya, Ia bergerak menghindar dan kuku runcingnya berhasil menggores lengan Asih.


Kuku itu beracun dan membuat luka goresan tersebut membiru dan menjalar keseluruh tubuh Asih.


Seketika Asih berubah wujudnya menjadi sosok manusia dan melayang jatuh. Edy yang melihat hal tersebut berlari kencang dan menangkap tubuh Asih sebelum jatuh ketanah.


Melihat tubuh Asih membiru, Edy tampak panik, namun Ia membawa tubuh Asih dalam dekapannya. Ia harus membawanya kerumah Dina untuk mmendapatkan pertolongan.


Lalu ia membidikkannya kearah Rekso yang akan mengejar Edy saat akan berlari menyelamatkan Asih.


Sssssssttsss...wuuuus..


Dooooor....


Suara letusan tembakan dari peluru yang keluar dari senjata api milik Lee mengenai kepala sebelah kanan milik Rekso.


Siluman ular itu tampak terkejut, lalu Ia menatap penuh amarah kepada Lee yang berusaha menghalangi dirinya untuk memburu Asih.


Namun Rekso kembali memandang Lee, Ia menatap sepertiga permata mirah delima yang akan menjadi tujuannya.


Sebab Ibunya sangat membutuhkan benda itu untuk menyambut kesembuhan ibunya.


Rekso menatap penuh amarah kepada Lee. Peluru yang kini bersarang dikepala milik Rekso, sesaat peluru itu keluar bgitu saja dari bekas luka tersebut.


Lee terperangah karena baru kali itu melihat senjata apinya taj berpengaruh apapun terhadap Rekso.


Siluman ular itu menghampiri Lee, lalu menerkam Lee, dan mencabut batu permata yang bersarang didada pemuda itu.


Lee yang tak mampu menghindarinya, seketika terjatuh lemah. Namun naasnya, Rekso meniupkan ruh jahat kepada Lee dan hal ini akan membuat Lee membelot dan menjadi pengikut untuk Rekso dalam menemukan Sisa batu permata mirah Delima.


Sesaat Lee tersentak, lalu maik hitam dibola matanya berubah menjadi merah dan terlihat sangat mengerikan.


Lee bangkit dengan begitu mudah. Lalu Ia melihat dikejauhan, Edy sudah terlihat jauh meinggalkan lokasi tersebut.


Dengan cepat, Lee mengejar Edy yang sedang membopong tubuh ramping Asih yang tampak sudah kerepotan untuk membawa Asih sembari berlari.


Melihat Lee menghampirinya, Edy mengira jika Lee akan menolong mereka berdua.


Namun diluar dugaan, Lee menyerang keduanya dengan tanpa ampun dan sembari menghunus anak panah yang tertinggal di atas tanah.


Edy terperanjat saat melihat Lee dengan sengaja akan menyerang mereka.


Ia tampak begitu kewalahan. Dimana harus menghindari serangan dari Lee dan membopong Asih dalam gendongannya.


Lee terus menyerang keduanya, dan Edy harus menjaga keseimbangannya agar tidak terkena hujaman anak panah yang diarahkan kepada keduanya.


Edy terjatuh saat akan menghindari serangan dari Lee, dan tubuh Asih yang tampak semakin membiru.


Tubuh Asih terjatuh menimpa Edy yang sudah terhempas diatas tubuh Edy.


Lee yang melihat kedua mangsanya tak bergerak, membuatnya semakin bersemangat hendak menghujamkan anak panah itu ketubih Asih yang kini menimpa tubuh Edy.


Saat itu, sekelebatan bayangan datang dengan cepat menyambar kedua tubuh pemuda itu dan menghilang begitu saja.


Lee kebilangan jejak keduanya, Ia menatap bingung.


Sementara itu, kelebatan bayangan itu membawa tubuh Edy dan juga Asih kesebuah rumah yang dihuni oleh Dina.


Kelebatan bayangan yang tak lain adalah Bromo itu dengan cepat membawa tubuh keduanya diatas ranjang


"Kanda.. Apa yang terjadi Asih" cecar Dina dengan panik melihat anak gadisnya terbaring dengan tubuh membiru.


Bromo masih terdiam, Ia menggunakan sebuah ramuan untuk menolong Asih yang kini tubuhnya sudah terinfeksi racun dari Rekso.


Bromo memejamkan kedua matanya, lalu Ia membaca mantra untuk menyembuhkan Asih.


Sesaat Bromo tersentak,Ia menyeka wajahnya "Dinda, Kita harus menikahkan Asih untuk menawarkan racun yang kini sedang menyerang pembuluh darahnya" ujar Bromo dengan cepat.


"Siapa laki-laki yang akan menjadi pengantin lelakinya , Kanda?" Tanya Dina dengan cepat.


Seketika Bromo melirik kepada Edy yang kini sedang terbaring disisi Asih.