Buhul ghaib

Buhul ghaib
Merubah Penampilan



Setelah berhasil keluar dari sarang Mafia tersebut. Asih memasukkan kembali Pedangnya kedalam bungkusan kainnya.


"Ko, aku tidak akan melukaimu, aku hanya butuh bantuanmu, maka bekerjasamalah denganku." pinta Asih dengan lembut.


Kata-kata lembut Asih meluluh lantakkan hati pria tersebut. "tanpa kamu ancam aku juga rela membantumu Piao Liang" ucap sih Koko dengam sumringah.


"namaku Asih, bukan Piao Liang" ucap Asih sedikit risih.


"aku suka menyebutnya dengan kata itu.: jawab Si koko.


"emang artinya apaan.?" Asih berjalan menuju mobil milik pria itu.


"wanita paling cantik.." jawab si Koko dengan senyum termanisnya, lalu melajukan mobilnya.


Asih yang baru saja pertama kali mendapatkan pujian dari seorang pria, hatinya seketika berbunga, dengan wajah bersemu merah, Ia membuang pandangannya kearah kaca pintu mobil.


"oh Ya, namaku Lee. Biar kamu enak manggilnya. Mau panggil koko juga boleh." Lee memperkenalkan dirinya kepada Asih.


Asih mengangguk dan mencoba tersenyum ramah, meski masih terasa canggung.


"kita ke mana dulu.?" tanya Lee kepada Asih.


"Kerumah Sakit, aku ada keperluan" Asih menatap lurus kedepan. Ia sedang memikirkan bagaimana kondisi Kaila saat ini. Seketika ia teringat akan Chakra di hutan.


"apakah kakak sudah sembuh.? Berbeda dengan Kaila, pengobatan Kak Chakra tidak membutuhkan uang dan hanya memerlukan beberapa ramuan dari hutan dan sedikit mantra dari sang Romo maka akan sembuh.


Namun dikota, Ia harus membutuhkan uang untuk melakukan segalanya.


----------*******--------


Mobil yang ditumpangi Asih telah sampai didepan rumah sakit. Sebelum turun, Asih menoleh kearah Lee. "bisa hitungkan uang 600 juta dalam sekejap? Tetapi buat menjadi dua bagian " Asih memandang Lee dengan tatapan mengunci.


"hayya.. Bisa meleleh lama-lama hatiku jika terus ditatapnya" Lee berguman lirih dalam hatinya.


Lee menganggukkan kepalanya. Lalu Asih membuka kopernya, dan dengan cekatan Ia menghitung uang tersebut.


"sudah.." jawab Lee.


Lalu Lee menyerahkan 2 tumpuk uang yang masing-masing berjumlah 300 juta.


Asih memandang Lee, Ia dapat melihat, jika Lee adalah orang yang baik, Asih mencoba membaca fikiran Lee.


"Ko.. Saya minta tolong, koko antarkan uang 30 juta ini ke pihak rumah sakit, dan katakan untuk biaya pasien bernama Kaila. Lalu sisa 300 juta ini berikan kepada ibu pasien bernama Rumini." pinta Asih.


Entah perasaan apa yang membuat Lee mematuhi sehala ucapan Asih. Ia bagaikan kerbau yang dicocok hidungnya. Begitu menuruti kata-kata dari Asih.


"baiklah.. Akan kulakukan untukmu." jawab Lee dengan senyum termanisnya, sembari mengambil kantong kresek yang berada disandaran kursi bagian belakang, lalu memasukkan uang tersebut menjadi dua bagian..


Lee berjalan memasuki rumah sakit. Ia menuju bagian administrasi. Petugas itu menyambut dengan ramah, karena mereka melihat penampilan yang layaknya orang berduit.


"ada yang bisa saya bantu Ko..?" sapa petugas itu dengan ramah.


" saya ingin data pasien bernama kaila dan ibunya Rumini." Jawab Lee.


"oo.. Pasien dengan operasi gagal jantung itu ya Ko..? ucapnya dengan mata dan jarinya yang terus berkutat dengan layar komputernya.


"ya.." jawab Lee singkat.


Lee memandangi seisi ruangan rumah sakit. Bamyak pasien dan peyugas rumah sakit yang berlalu lalang.


"pasien sudah dioperasi dan berhasil ya pak, bapak bisa melihatnya di ruangan 115. Nanti ikutj saja lorong yang sebelah sana." ucap Petugas memberitahu.


"baiklah, saya ingin melunasi biayanya." ucap Lee sembari mengeluarkan sekantong uang dengan jumlah 300 juta.


petugas itu tercengang. "bukankah wanita itu yang akan membayarnya.?" tanya petugas itu dengan nada heran.


Lee menangkap perkiraan jkka yang dimaksud petugas itu adalah Asih.


"Ya.. Dia orangnya. " jawab Lee.


Petugas itu terperangah, Ia tidak menyangka jika Asih mendapatkan uang tersebut dalam waktu singkat.


"wah..Gerak cepat juga dia ya.." petugas itu meraih uang tersebut lalu menghitungnya.


Setelah selesai menghitung dan memastikan uang tersebut cukup, petugas itu memberikan sebuah nota pembayaran.


Setelah selesai Lee menuju keruangan yang ditunjukkan oleh petugas itu untuk menemui wanita bernama Rumini.


Setelah mendapatkan ruangan Rumini, Lee mengetuknya, lalu seorang wanita berusia 40-an tahun membuka pintunya.


Sesaat Lee masuk kedalam ruangan itu."apakah Ibu bernama Rumini?" tanya Lee.


"ya.. Anda siapa ya..?" ucap Rumini bingung.


Rumini membulat matanya, Ia tak percaya dengan apa uang didengar dan dilihatnya.


"haaaaa..? Apakah saya bermimpi..? " tanya Rumini dengan gemetar.


Lee menggelengkan kepalanya. "tidak bu, ini kenyataan." lalu Lee menyerahkan uang tersebut, dan terburu-buru pergi.


Belum sempat Rumini mengucapkan terimakasih, Lee sudah menghilang dari pandangannya. Rumini sampau bersujud syukur dilantai, karena merasa seperti mendapatkan durian runtuh.


--------******-------


"Kita kemana..? Tanya Lee.


"aku ingin membeli beberapa pakaian." jawab Asih.


"Ok piao liang.. Aku akan mengantarkanmu." lalu Lee mengendari mobilnya dengan kencang.


Mereka sampai di sebuah butik ternama. Asih memasuki butik tersebut dengan sedikit kikuk. Ada banyak pakaian mewah dan cantik disana.


Semua pengunjung menatap mencemooh melihat Asih, namun mereka terdiam saat Lee mendampinginya.


Seirang pelayan yang mengenali Lee langsung menyambutnya."waah..sudah lama tak ketemu, begitu datang bawa gandengan saja ni Ko" ucap pelayan tersebut.


Lee tersenyum kikuk. "buat dia secantik mungkin dengan pakaian yang paling bagus."titahnya pada pelayan itu.


Butik itu merangkap dengan Salon kecantikan. Maka saat itu juga, Asih melakukan perawatan dan membeli beberapa pakaian.


Ia memilih pakaian sesuai dengan keinginannya, yang mana mempermudah pergerakannya.


Setelah menunggu lama dan tertidur, akhirnya Lee melihat perubahan penampilan Asih.


Ia terperangah dan tak menyangka jika Asih benar-benar sangat cantik. Ia memilih sebuah celanan cargo dengan pasbody, sebuah kaos ketat dengan paduan jacket kulit berwarna hitam. Meski tak terlihat feminim, namun tak mengurangi kecantikannya, bahkan terlihat keren.


"waaw.. Kamu terlihat keren.." Lee memberikan dua jempol kepada Asih.


Setelah membayar semuanya, mereka meninggalkan butik. Saat diluar butik, Ia melihat seorang membawa tas selempang yang sangat panjang dipunggungnya.


"Ko.. Dimana aku bisa mendapatkan tas seperti itu.?" tanya Asih penasaran.


"ditoko penjual joran pancing. Emang kenapa..? Kamu habis dari salon mau pergi mancing..?" tanya Lee bingung.


"aku hanya menginginkan tas nya, bukan joran pancingnya." jawab Asih dengan tatapan dingin.


"lalu untuk apa.?" cecar Lee.


"untuk pedang dan busur panah ku.." jawab Asih, dengan pandangan mengunci.


Seketika Lee tersadar, jika barusan saja Asih hampir membunuh Tuan Wei. Kini Ia tidak berani lagi membantah ucapan Asih. Ia tidak ingin mati konyol ditangan gadis itu. Cantik, namun mengerikan.


"baiklah.. Aku akan membawamu kesana." ucap Lee sembari memasuki mobilnya. Lalu menuju ke toko pancing.


"setelah ini aku akan membeli sebuah tempat berlindung. Seperti sebuah kamar. "ungkap Asih.


Lee hanya mengangguk menyetujui. Ia sedikit keder saat membayangkan Asih yang dengan sangat cepat dapat mengunci Tuan Wei yang terkenal kejam. Lalu apalah dirinya. Ia tidak ingin mencari masalah dengan gadis cantik ini.


"sepertinya kamu juga membutuhkan sebuah alat komunikasi." ungkap Lee.


"alat apa itu..? tanya Asih penasaran.


"ini.." Lee menunjukkan gadgetnya.


"bagaimana cara kerja dan menggunakannya?" tanya Asih.


"aku akan mengajarimu nanti." Lee menghentikan mobilnya disebuah toko pancing. Lalu Asih membeli apa yang dibutuhkannya.


Begitu juga dengan gadget dan menyewa sebuah apertemen. Karena Asih belum dapat menetapkan dimana Ia akan tinggal adan betapa lama.


Lee memasukkan nomornya ke kontak Asih.


"jika kau membutuhkan bantuanku, maka tekan nomor ini. Aku akan datang membantumu.


Asih menganggukkan kepalanya. Lalu memberikan Lee sejumlah uang. Lee permisi untuk pergi.


"Asih.." ucap Lee saat akan mencapai pintu apertemen.


"ya.." jawab Asih.


"berhati-hatilah dengan Tuan Wei, dan jaga dirimu." ucap Lee mengingatkan.


Asih mengerjapkan matanya, lalu tersenyum tulus.


Lee meninggalkan Asih dan berlalu pergi.