
Bromo menghilang dengan kerlingan mata, sembari membopong tubuh Dina, Ia membawa tubuh istrinya itu memasuki alam ghaib.
Bromo membaringkan tubuh ditepian ranjang, lalu membenahi letak tidurDina dengan posisi senyaman mungkin.
Bromo duduk memandang tubuh Dina yang terbaring lemah. "Mengapa kau sangat keras kepala..? Aku sudah mengingatkanmu jangan keluar, namun kau tetap saja mengikutiku.." ucap Bromo lirih. Lalu dengan kekuatannya, Ia mencoba mengobati Dina melalui tenaga dalam sempurnah.
Setiap luka yang diberikan oleh Ristih, perlahan memudar dan menghilang.
Dina mengerjapkan kedua matanya. Lalu pandangannya menyapu sekitar ruangan, tampak seperti Ia kenal sebelumnya. Ia merasa dejavu.
Lalu sekitka Ia terperanjat, dengan cepat bangkit dan duduk ditepian ranjang, lalu memandangi Bromo yang tak jauh dari tempatmya.
"Kanda.. Berapa lama dinda ada disini..?" tanya Dina sembari memegangi kepalanya yang terasa sakit.
Bromo membelai lembut kepala Dina. "Baru saja sayang.. Kamu terluka, dan kanda harus segera menolongmu.." ucap Bromo dengan lembut dan setenang mungkin.
"Antarkan dinda kembali pulang ketempat Abagh dan Umi, mereka akan kebingunangan mencariku Kanda.." rengek Dina Manja.
Bromo mulai berfikir keras, disatu sisi Ia tidak ingin menolak keinginan istrinya. Disisi lain, banyak bahaya yang mengincarnya jika Dina terus berada dialam dunia.
Dina menatap menghiba pada Bromo. Sebuah tatapan yang tak dapat Ia menolak segala keinginannya.
Sementara itu, Umi Lastri yang bangun hendak berwudhu merasa sangat terkejut. Dimana Ia mendapati Dina tidak berada ditempatnya, ini sangat mengkhawatirkannya.
Umi Lastri kebingungan, Ia segera kembali kekamarnya, lalu membangunkan Kasim..
"Abah.. Bangun abah.. Dina tidak ada dikamarnya." ucap Lastri sembari menggucang tubuh Kasim.
Kasim masih larut dalam mimpinya, Ia seolah-olah sedang dalam menaiki sebuah sampan dayung. Dimana setiap guncangan Lastri dianggapnya sebagai ombak yang membuat tubuhnya berguncang.
Tak juga mendapati Kasim terbangun, Lastri menempelkan bibirnya ditelinga Kasim, lalu berteriak sedikit keras agar Kasim mendengar ucapannya. Seketika Kasim tersentak, lalu menatap Lastri yang sedikit tampak kesal padanya.
"Ada apa Mi..?" tanya Kasim yang masih belum penuh kesadarannya.
Lastri mengambil nafasnya dengan berat, lalu menghelanya.
"Dina, Dina menghilang Abah.. Tidak ada dikamarnya.." isak Lastri menceritakan apa yang dilihatnya.
"A..apa... Dina hilang..? Yang benar saja.." ucap Kasim, sembari beranjak dari ranjangnya, lalu bergegas menuju kekamar Dina, dan diikuti oleh Lastri.
🐊🐊🐊🐊🐊
"Tolonglah Kanda, bawa Dinda kembali kerumah Abah, kasihan mereka yang sudah tua jika tiba-tiba melihat Dinda tidak ada dikamar dan pasti akan merasa kehilangan". Dina berusaha terus merayu Bromo agar mengembalikannya ke alam dunia.
"Baiklah Dindaku sayang. Kanda akan membawamu kembali ke alam dunia, tetapi ingat satu hal, jangan pernah bersikap ceroboh sebingga membahayakan dirimu.." ucap Bromo dengan nada peringatan.
"Iya Kanda.. Dinda akan berjanji tidak akan bersikap ceroboh lagi.."jawab Dina memelas.
Lalu Bromo menghampiri istrinya. "Berikan satu kecupan untukku.." ucap Bromo, lalu menyambar bibir Dina dan memagutnya panas.
Setelah mendapatkan keiinginannya, Bromo lalu membawa Dina kembali ke alam dunia hanya dalam kerlingan mata saja.
"Iya Sayang.. Kanda juga selalu mencintaimu, takkan luntur dimakan waktu.." jawab Bromo dengan kesungguhan hatinya.
Sementara itu, suara derap langkah kaki Kasim semakin mendekati kamar Dina. Bromo memandang pada Dina, lalu mengedipkan matanya, agar tetap tenang.
Kreeeeeeek..
Suara derit pintu kamar dibuka. Saat itu Kadim tersentak, Ia mendapati Dina dan Bromo sedang duduk ditepi ranjang.
"Emmmm.. Maaf, Abah lancang.. Abah tidak tau jika suami sudah pulang. Tadi Umi bilang kamu menghilang, makanya Abah mencoba memeriksanya." suara Kasim terdengar bergetar. Karena baginya membuaka pintu kamar orang yang sudah berkeluarga secara sembarangan adalah sebuah ketidak sopanan.
Bromo mencoba tersenyum santai menghadapi
mertuanya yang tampak begitu gugup karena tindakannya barusan.
"Tidak apa Abah, namanya juga Abah merasa khawatir, jadi biasa melakukan hal seperti itu." jawab Bromo sesantai mungkin, agar mertuanya tidak merasa bersalah atas tindakan gegabahnya tadi.
"oo..Iya.. Kamu kapan datangnya..?" tanya Abah dengan penasaran.
"Tadi, Bah. Mungkin waktu Umi buka pintu kamar, Dina lagi diluar jemput saya.. karena ada banyak oleh-oleh yang saya bawa.." jawab Bromo dengan tenang.
"oh.. begitu.. Ya sudahlah, Abah mau ambil wudhu dulu, nanti waktu subuhnya terlewat." ucap Abah lalu membalikkan tubuhnya untuk ke pintu belakang dapur, dan menuju ke sungai.
Saat Ia berbalik, Kasim terperangh melihat banyaknya sembako diruang sudut dapurnya. Ia tidak menyangka jika menantunya itu membawa banyak persediaan. "Berarti selama ini menantuku memang pergi bekerja, buktinya Ia pulang dengan membawa persediaan pangan yang begitu banyak.." Kasim berguman lirih dalam hatinya.
Tak hanya Kasim, Lastri adalah orang yang paling terkejut dalam hal ini, selain tumpukan sembako, Ia merasa jika benar tadi Dina tidak ada didalam kamar. Lalu bagaimana caranya sembako sebanyak itu bisa berada didalam ruang dapur dalam waktu hitungan menit..? Sedangkan Ia merasa tadi tidak ada suara derap langkah apapun saat membangunkan Kasim didalam kamar, dan durasi waktunya begitu singkat.
Begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk didalam fikirannya.
"Umi.. Ayo berwudhu.." ajak Kasim kepada Lastri, sehingga membuyarkan lamunannya.
"Eh.. Iya Abah.. " jawab lastri sembari beranjak menuruni anak tangga dapur menuju ke sungai mengikuti Kasim yang sudah terlebih dahulu melangkah.
Sementara itu, Dina yang kini sufah bernafas lega, merasa ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. "Kanda.. Tinggallah beberapa hari disini, agar Abah dan Umi tidak merasa curiga kepadamu.." Ucap Dina memohon.
Bromo tampak bimbang, karena banyak hal yang harus dipertimbangkannya.
"Tinggallah beberapa hari disini Kanda.. Agar para tetangga tau jika aku telah bersuami.." Dina kembali memohon.
Bromo menatap lemah pada Istrinya. Ia tak mampu menolak keinginan istrinya.
"Baiklah sayang.. Kanda akan tinggal beberapa hari disini, namun Kanda tidak dapat menampakkan diri disiang hari, Kanda akan keluar dari kamar dimalam hari saja. Apakah kamu sanggup untuk mendengar segala keluh kesah kedua orang tuamu akan sikap Kanda nantinya..?" Tanya Bromo kepada Dina.
"Apapun itu aku akan sanggup menerimanya Kanda." jawab Dina meyakinkan.
"Baiklah.. Jika nanti Dinda merasa tidak mampu untuk menanggungnya, maka Kanda akan membawamu kembali ke Goa, dimana ditempat itu Dinda tidak akan merasakan hinaan dan cercaan siapapun.
Dina merasakan ada sesuatu makna tersirat dari setiap ucapan Bromo. "Apa maksud dari semua ucapan Kanda..?" tanya Dina dengan rasa penasaran.
Bromo hanya tersenyum ringan mendengar pertanyaan dari Dina, Istrinya. "Nanti Dinda akan mengetahuinya..Hari semakin terang, Kanda ingin tidur sejenak.." ucap Bromo, lalu beranjak ke pembaringan untuk bersantai disana.