
Mereka singgah untuk memesan sarapan, perut keduanya sudah sangat lapar. Mereka ingin sarapan tanpa adanya gangguan yang membuat mereka jadi badmood untuk sarapan.
Asih san Denny datang dengan pakaian yang sangat dekil dan juga sedikit acak-acakkan. Penampilan mereka menjadi pusat perhatian.
Apalagi saat ini Denny hanya menggunakan celana pensek saja, tanpa memakai pakaian.
Beberapa orang pria yang menjadi pembeli disitu mengakui kecantikan Asih. Namun mereka merasa heran dengan tampilan asih yang sangat aneh.
Bagaiamana tidak terkesan aneh, rambut kucir ekor kuda, ada noda hitam dihampir setiap sudut pakaian dan kulit putihnya akibat ulahnya yang membakar pohon beringin saat dipulau misterius tersebut.
Sedangkan Edy hanya menggunakn celana selutut yang tampak keketatan dan tanpa pakaian, alias berte*lanjang dada.
Asih dan Edy lebih terlihat seperti gembel atau gelandangan yang sedang meminta belas kasih.
Bahkan tak jarang beberapa pembeli tersenyum sinis dan miris melihat penampilan keduanya.
Saat pesanan datang, mereka makan dengan sangat lahabnya, bagaikan orang yang kelaparan karena beberapa hari tidak makan.
Cara keduanya makan yang seperti orang kelaparan, semakin membuat mereka terlihat sangat mengenaskan.
Setelah selesai sarapan, Asih memanggil penjual makanan itu, lalu menanyakan berapa harga pesanan makanan mereka.
Setelah mentotal harganya, maka mereka dikenakan biaya 60 ribu rupiah.
Asih merogo saku celananya, lalu memberikan satu koin emas kepada penjual makanan tersebut yang merupakan seorang janda
"Aku tidak memiliki uang, maka Aku bayar pakai ini saja" ucap Asih sembari menyerahkan koin emas tersebut.
Seketika ibu penjual makanan itu terperangah saat melihat koin emas tersebut berada ditelapak tangannya. Matanya tak lepas memandang koin emas itu. Bagaiamana mungkin Ia tiba-tiba bagaikan bermimpi mendapat durian runtuh dipagi hari.
Mulutnya sampai terperangah tak mampu terkatup lagi saat membayangkan Ia dapat membeli apa saja jika menjual koin emas tersebut.
Sementara itu, Asih dan Edy sudah meninggalkan kedai makanan milik janda tersebut.
Saat penjual itu menyadarinya, Ia sudah tidak melihat lagi keduanya. Ia bahkan lupa bagaimana caranya untuk berterimakasih kepada gadis tersebut.
Diperjalanan, Edy yang mulai risih dengan tatapan orang-orang kepadanya, merasakan jika ada yang salah pada mereka.
"Mengapa orang-orang menatap Kita dengan pandangan sangat aneh?" tanya Edy kepada Asih.
"Mungkin karena celanamu yang terlalu ketat, sehingga mainanku terlihat menonjol" jawab Asih seenaknya.
" Mainan apaan sih? Jangan bilang Jika Kau mengatakan itu senjata tumpul milikku" ucap Edy kesal.
Asih menoleh kepada Edy "Ya.. Memang itu yang Ku maksud.." jawab Asih santai.
"Siaal.. Enak saja Dia bilang rudal ku mainannya, itu karena Dia belum tahu saja fungsinya apa, kalau sampai tahu...." Edy menghentikan gumanan dalam hatinya.
Ia tak mampu membayangkan jika sampai hal itu terjadi. "Kalau Dia sampai tau fungsi dan rasanya, bisa-bisa Aku akan jadi bulan-bulanannya dan tak mau berhenti" Edy seketika bergidik membayangkannya, namun juga geli jika sampai itu terjadi.
Orang-orang semakin aneh memandangnya, karena Edy tampak senyam-senyum sendiri.
"Heei.. " bisik Edy kepada Asih.
"Heeeem.." jawab Asih tanpa menoleh.
"Kita sebaiknya membeli pakaian dan mandi, agar tidak terlihat mengenaskan seperti ini" ucap Edy menyarankan.
Asih menoleh kearah pemuda itu. "Baiklah, tetapi dimana Kita akan membeli pakaian?" tanya Asih kepada Edy.
Edy melihat-lihat kondisi sekitar yang masih tampak seperti tepian kota. "Coba Kita telusuri didepan sana, mungkin toko pakaian, dan setelah itu, sebaiknya Kita mencari penginapan sederhana untuk beristirahat sejenak" ucap Edy menjelaskan.
Disisi lain, Lee sedang mengatur rencana bagaiamana caranya agar dapat membekuk Andre dan geng-nya yang dikabarkan melakukan penyeludupan senjata api dan juga percetakan serta pengedaran uang palsu.
Sedangkan Chakra tampak sedang duduk termenung, sembari bermain dengan Arini si kelinci imut.
"Asih... Ibu, kalian dimana?" gumannya lirih.
Sesaat Lee seperti mendengar samar-samar Chakra menyebutkan nama gadis yang sangat dirindukannya.
Namun Ia menepiskannya, karena saat ini tugasnya sangatlah berat.
Lee kembali melanjutkan peta rencananya yang yang akan disampaikan kepada Rere.
Tiba-tiba saja phonsel Lee berdering, namun bukan karena panggilan atau pesan masuk. Melainkan sebuah pemberitahuan titik sonar menunjukkan jika keberadaan Asih sudah semakin mendekat dan kini berada dipinggiran kota.
Seketika Ia tersenyum bahagia. Ingin rasanya Ia segera mengejar gadis itu, namun tugas yang menjadi tanggung jawabnya sangatlah berat, Ia harus dapat mengesampingkan keinginan pribadinya dan mendahukukan tugas negaranya.
Lee tersenyum sumringah. Ia berharap jika dapat bertemu dengan gadis misterius yang membuatnya hampir gila karena mabuk kepayang.
"Aku merindukanmu.. Sangat... Sangat merindukanmu" guman Lee lirih dalam hatinya.
Sementara itu, Asih dan Edy sudah berada disebuah penginapan sederhana dan Edy tampaknya sudah sangat sesak ingin buang air.
Ia bergegas kekamar mandi dan menyampaikan hajatnya. Setelah dapat melepaskan hajatnya, Ia memilih untuk mandi dan tidur sejenak, Ia merasa tubuhnya sangat lengket, karena beberapa hari tidak mandi.
Ia melepaskan seluruh pakainnya dan mulai merasakan kesegaran air tersebut.
Tiba- tiba saja Asih nyelonong masuk karena merasa sesak pipis.
Bahkan Ia tidak memperdulikan Edy sedang mandi tanpa busana dan tidak menyadari kehadiran gadia itu, karena sedang menggunakan sabun sembari memejamkan matanya.
Setelah selesai dengan pipisnya, Ia melirik kearah rudal milik pemuda itu yang tampak mengkerut dan lagi tidur.
Asih bingung dengan apa yang dilihatnya. Mengapa benda mainan itu dapat berubah-rubah bentuk. Ia tidak suka melihat bentuk yang sekarang, yang mirip belalai gajah karena tertunduk lesu.
Edy mengguyur tubuhnya dengan air dan kini sudah bersih dengan dari busa sabun.
Saat Ia menoleh, Ia dikagetkan dengan kehadiran Asih yang sudah berada dikamar mandi dan entah kapan datanganya.
"Haaah.. Apa yang Kau lakukan disini? Keluarlah, ini sangat berbahaya" titah Edy dengan nada mengusir sembari menutup rudalnya yang mengkerut dengan telapak tangannya.
"Mengapa hari ini Ia seperti belalai gajah?Apakah Ia dapat berubah-berubah bentuk?" tanya Asih penasaran.
Edy melongo mendapatkan pertanyaan nyeleneh dari Asih.
"Hei.. Keluarlah.. Jika sampai Ia bangun, ini akan sangat berbahaya" titah Edy kepada gadis itu dengan memaksa. Ia tidak ingin rudal miliknya bangun karena berduaan dikamar mandi bersama seorang gadis.
Asih yang masih termangu membuat Edy merasa kalap. Ia meraih kepala Asih lalu memagut bibir lembut milik sang gadis. Hal tersebut membuat rudalnya mengacung dan Asih merasakan sesuatu yang mengganjal dibawah sana.
Sesaat Ia melepaskan pagutan bibir pemuda itu, dan melihat kebawah sana. Benar saja, benda mainannya sudah berubah bentuk, dan Ia semakin terperangah melihatnya.
Edy seakan frustasi dengan keadaannya. "Keluarlah... Ini tidak baik untuk Kita.." Pinta Edy sembari mendorong tubuh gadis itu untuk keluar dari kamar mandi.
Namun sialnya, Asih menyentuh rudal itu dan memantulkannya, sehingga rudal itu bergerak mematul naik tuun, membuat Edy meringis menahan gejolak hasratnya dan segera Ia mendorong Asih dengan sekuat tenaga untuk keluar dari kamar mandi.
Setelah tubuh gadis itu keluar, Edy terburu-terburu mengunci kamar mandi, Ia menyandar didinding kamar mandi, Ia sangat frustasi menghadapi gadis itu.
"Andai saja Kita sudah menikah, Aku akan memberikan benda ini seutuhnya untuk Kau mainkan" guman Edy, lalu kembali mandi agar membuat benda itu kembali mengkerut.