
"Sial..!!" maki pria itu saat melihat rekannya sudah lumpuh didalam tong biru.
Ia melangkah dengan geram menuju ruangan depan. Tampak keempat orang yang akan jadi tawanan mereka sudah sekesai makan dan bersantai.
Pria itu menghampiri Asih, lalu mencengkram leher pakaian Asih, dan menarik Asih hingga berdiri. "Kau apakan temanku, Haah?!" tanya pria itu dengan tatapan geram bercampur amarah.
Edy menahan tangan pria, namun Asihnya mencegah.
"Aku tidak tahu" jawab Asih singkat.
"Bohong.. Kau pasti yang memasukkannya kedalam tong?" ucap Pria itu dengan amarah yang memuncak.
Seketika Edy dan kedua pemuda asing itu tertawa tertahan.
Melihat mereka tertawa, Pria itu semakin geram, lalu melayangnkan tinjinya kepada Asih. Dengan cepat Asih menangkisnya, lalu menangkap tinju pria kekar tersebut, memilinnya hingga tangan pria itu memutar dan..
Buuuuuugh...
Asih menendang pria itu hingga terjerembab dilantai speedboat.
Lagi-lagi Michel tercengang dibuat Asih. Ia bahkan sampai memikirkan jika Asih adalah seorang bodyguardnya, pasti akan sangat menyenangkan.
Suara kegaduhan yang ditimbulkan oleh Asih terdengar sampai kekemudi. Seorang pimpinan mereka yang sedang tertidur pulas menjadi terganggu, Ia meraih senjata apinya, lalu beranjak kebelakang dan ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Saat iminIa melihat bawahannya tampak babak belur dengan sudut bibir membiru serta darah segar mengalir diaudut bibirnya.
"Apa yang terjadi?" ucap pria itu dengan suara berat dan juga penuh penekanan.
"Gadis itu telah melumpuhkan Iko, Bos" ucap Pria yang kini sedang terduduk dilantai, sembari menunjuk kearah Asih, dan menyeka darah yang mengalir disudut bibirnya.
Asih hanya mengangkat kedua bahunya, seolah itu bukan salahnya. Lalu pria yang dipanggil bos itu mengambil senjata apinya, dan ingin menembakkan kepada Asih.
Namun Asih sudah bersiap dengan mencabut pedang dipinggangnya, yang mana pedang itu dijadikan sebagai tameng untuk mengahalau peluru yang ditujukan kepadanya.
Bos dari geng perompak itu terkejut. Ia tidak menduga jika Gadis itu memiliki senjata tajam berupa pedang. Ternyata mereka menyandera orang yang salah. Mereka mengira jika keempat orang itu hanyalah pelancong atau turis yang tersesat.
Suara dentingan dari peluru yang beradu dengan pedang Asih berdentingan.
Lagi-lagi Michel berdecak kagum melihat semua kelincahan Asih yang begitu lihai dalam memainkan pedangnya.
Sesaat Bos perompak itu kehabisan peluru, lalu Ia meraih sebuah besi angker sepanjang 1 meter dengan diameter 1 inci. Bos perompak itu berjalan dengan geram, dan ingin menghabisi keempatnya.
Asih menyimpan pedang dipinggangnya, lalu membuka tas joran yang selalu bersandang dipunggungnya. Tangannnya meraih senjata Dwi Sulanya, lalu kembali mengancingkan tasnya yang masih berada dipunggungnya.
Michle dan juga kekasihnya begitu sangat kaget, sebab mereka mengira itu tas isinya peralatan pancing, namun berbagai senjata ada didalamnya.
Asih sudah bersiap dengan kuda-kuda pertahanannya. Lalu Ia mengacungkan senjata Dwi sulanya, dan terdengar suara dentingan dua benda yang terbuat dari logam tersebut.
Asih menahan besi tersbut dengan Dwi sulanya menggunakan kedua tangannya, lalu menekuknya kebawah, dan memutarkan senjata dengan dua mata tombak tersebut lalu Ia mengecoh Bos perompak itu hingga menjatuhkan besi tersebut kelantai.
Tiiiiing...
Suara dentingan besi itu saat terjatuh kelantai. Dengan cepat Asih menendang senjata itu hingga kebawah kaki Edy.
Edy memungutnya. Untuk saat ini mereka hanya menjadi penonton saja.
Dengan cepat Asih menendang Bos perompak, lalu terjerambab bersama dengan anak buahnya.
Asih memintah kepada Michle dan juga Edy untuk mengikat kedua perompak tersebut.
Dan kini mereka adalah pemilik dari speedboat tersebut.
Tak ingin mati sia-sia, Nakhoda itu akhirnya menuruti permintaan Asih yang terlihat cantik namun penuh dengan bahaya.
****
Mentari pagi bersinar dengan terangnya. Nakhoda itu menepikan speedboatnya kepelabuhan. Asih menyimpan pedangnya kedalam tas jorannya. Lalu Ia pergi keruangan penumpang yang dirancang hanya terdapat 4 buah kursi saja disetiap sisi kiri dan kanannya.
Asih membangunkan Edy, Michle dan juga Lorenza.
Mereka akan turun dipelabuhan ini, dan juga berpisah. Sebelum keluar dari pintu speedboat, Bos perompak itu memaki Asih dengan sumpah serapah dalam keadaan masih terikat.
Asih tak menggubris ocehan perompak itu, dan saat akan menutup pintu speedboat, Asih menjulurkan lidahnya kepada Bos perompak itu dengan tatapan mengejek, membuat hati Bos perompak semakin panas dan ingin mencincang Asih jika saja bertemu dilain waktu.
Keempat orang itu sudah naik kedermaga. Asih membolakan matanya kepada Nakhoda itu agar segera pergi.
Seperti kerbau yang dicocok hidungnya, Nakhoda itu segera pergi mengemudikan speedboatnya.
keempatnya berjalan hingga kepangkal dermaga. Lalu mereka berhenti dan saling mengucapkan salam perpisahan.
Michel menghampiri Asih dan juga Edy "Terimakasih sudah menyelamatkan Kami. Dilain waktu Kami akan membalas budi baik kalian" ucap Michle yang diiringi anggukan Lorenza.
"Kalian berasal dari mana?" tanya Edy penasaran.
"Sydney, Australia.." ucap Lorenza menjawabnya.
"Oh..Ok.. Semoga kalian kembali pukang dengan selamat" ucap Edy dengan tulus.
Seketika Michle dan Lorenza saling pandang. Mereka baru sadar jika semua identitas mereka telah hilang, baik berupa kartu penduduk, paspor dan juga uang mereka saat dirampas oleh orang-orang suku.
Edy mengernyitkan keningnya melihat kedua orang Asing itu.
"Ada apa?" tanya Edy penasaran.
Keduanya tampak kebingungan. "Emm.. Kami baru sadar, jika kami kehilangan semua kartu identitas, paspor dan juga uang.." jawab Michle dengan jujur.
Asih memandang pemuda bernama Michle itu. Ia melihat kejujuran dimatanya. Lalu Ia merogo saku celananya, dan mengeluarkan dua keping koin emas, lalu menyerahkannya kepada Michle.
"Ambillah, mungkin ini berguna untuk kalian" ucap Asih kepada Pemuda itu, dan meraih telapak tangan Michle, sembari meletakkan dua koin emas ditelapak tangan Michle.
Seketika Michle terperangah. Bagaiamana mungkin gadis itu memiliki koin emas dari beratus abad lamanya, dan tentu dengan harga yang fantastis, dan gadis itu memberikannya dengan begitu mudahnya.
"Tetapi.." ucap Michle gugup.
"Ambillah, dan gunakan uang itu untuk kembali ke negaramu" Edy menimpali, lalu mereka meninggalkan kedua sepasang sejoli itu dalam kebingungan.
Michle memandangi kepergian keduanya dengan tatapan yang tak mampu Ia ceritakan.
Kemudian Ia meraih pundak Lorenza, dan memilih arah yang berlawanan dengan Edy dan Asih.
"Sekarang Kita mau kemana?" tanya Edy dengan gayanya yang tidak menyadari jika Ia hanya menggunakan celana pendek saja.
"Mencari makanan... Bukankah Kita belum sarapan?" tanya Asih tanpa menoleh kearah Edy.
"Iya... Ya. Perutku terasa sangat lapar.."jawab Edy, sembari mengelus perutnya yang tampak six pack..
Mereka menyusuri jalanan tanpa memperdulikan orang-orang yang memperhatikan mereka dengan sedikit pandangan aneh.
Seketika mereka menemukan sebuah kedai makan yang menjual sarapan. Mereka singgah dan memesan untuk