Buhul ghaib

Buhul ghaib
Kembali-4



Edy yang sedari tadi sudah menahan hatinya agar tudak menoleh kearah belakang, akhirnya merasa lega, karena akhirnya gadis itu mampu menaklukkan bola api yang baru pertama kalinya dilihatnya itu.


perjalanan bersama Asih, membuatnya merasakan dan mengalami hal-hal aneh yang belum pernah Ia rasakan sebelumnya dikota besar.


Namun rasa cintanya semakin tumbuh dan berkembang, saat mengetahui betapa hebatnya gadis tersebut.


"Aku semakin menggilainya.. Bagaimana mungkin Aku dapat melepaskannya begitu saja. Andai saja Aku bertemu dengan kedua orangtuanya, Aku pasti akan meminta restu untuk menikahinya" Edy berguman dalam hatinya.


Namun sesaat hatinya menciut. Ia teringat akan Asih yang merupakan seorang mutan atau manusia setengah siluman.


Edy membayangkan jika salah satu diantara orangtuanya pastilah siluman juga. Seketika Ia bergidik membayangkannya. Namun Ia merasa nekad untuk menjadikan Asih sebagai istrinya.


"Aku harus dapat membuatnya menikah denganku, Aku tidak perduli jika ayahnya atau ibunya seorang siluman" Edy berguman lirih dalam hatinya.


Namun Ia tidak menyadari jika Asih mendengar semua apa yang dikatakan Edy dalam hatinya.


Asih mengambil alih pengayuh rakit " tidurlah, hari sudah sangat malam, tidak baik untuk kesehatanmu" ucap Asih, sembari mengambil alih pengayuh rakit dari tangan pemuda tersebut.


"Tapi Kamu sudah seharian mengayuh rakit ini, apakah tidak lebih baik Kita beristirahan sejenak, esok pagi akan kita lanjutkan" ucap Edy menyarankan.


Lalu Asih mempertimbangkannya, Ia kembali membawa rakit ketepian, lalu mereka menepi ditempat yang bisa dijadikan untuk bermalam.


Tampak sebuah gubuk kosong ditepi sungai, sepertinya milik petani yang menggarap pertaniah disekitar tepi sungai, karena ada beberapa tanaman sayuran.


Asih memandang kedepan, ia dapat melihat cahaya lampu dirumah penduduk yang yang tampak kelap-kelip bagaikan bintang dilangit.


Setelah berhasil menambatkan rakitnya. Asih melompat ketepian, begitu juga Edy yang mengekorinya dari arah belakang.


Asih memasuki gubuk yang hanya memiliki 3 dinding saja. Sedangkan dinding bagian depan terbuka dengan begitu saja.


Asih naik keatas dipan yang terbuat dari bilah-bilah batang pinang yang berusia tua.


Ia meletakkan tas joran miliknya yang berisi berbagai persenjataan. Ia duduk bersandar dan meluruskan kakinya. Lalu merentangkan kedua tangan keatas dan menggeliatkan tubuhnya, lalu menatap nanar lurus kedepan, memandang langit gelap dan mendengarkan suara gemericik air yang mengalun bagaikan melody indah.


Edy memasuki gubuk, dan ikut duduk bersandar disana. Ia melirik Asih yang masih terdiam.


"Heii.. Mengapa Kamu diam saja?" tanya Edy penasaran.


Asih meliriknya, lalu menatap lurus lagi kedepan. Edy mendunguskan nafasnya.mendapati sikap acuh tak acuh dari gadis itu.


"Bola api tadi itu apa?" tanya Edy dengan nada ingin tahunya.


"Banaspati" jawab Asih singkat.


"Dia hantukah?" tanya Edy kembali.


Asih menganggukkan kepalanya, lalu mengambil nafas dalam, dan menghelanya. "Ya.. Hantu. Ia bisa menyerap energi korbannya, dan korabnnya akan segera mati, jika sampai terserap olehnya" jawab Asih, mulai menanggapi ucapan Pemuda itu.


"Sangat mengerikan sekali" ucap Edy dengan perasaan bergidik.


"Sama sepertiku, Aku juga setengah hantu, apakah Kau tidak takut denganku?" tanya Asih, tanpa menoleh kearah pemuda itu.


Edy melirik gadis tersebut. "Bagaimana mungkin Aku takut padamu, jika hantunya secantiknya ini" jawab Edy mulai menggombal.


"Tetapi Aku sudah terbiasa denganmu, dan andai saja Aku bertemu orangtuamu, Aku akan meminta restu kepadanya, untuk menikahimu" jawab Edy bersungguh.


Asih masih tersenyum sini. "Dan jika Kau mengetahui siapa Romoku, maka kamu akan memundurkan nitamu itu" ucap Asih dengan menegaskan.


"Pastinya Ayahmu merupakan siluman juga, dan Aku siap untuk itu, meskipun Ia meminta nyawaku, Aku akan memberinya secara suka rela, asalkan tetap bersamamu" jawab Edy dengan jujur.


Asih menatap Pemuda itu dengan tatapan sendu, Ia tau jika yang diucapkannya adalah benar dari hatinya, namun Asih membenci dari ayah sang pemuda yang memiliki sikap berbanding terbalik dengan anaknya.


Bisa saja si anak mewarisi sifat ibunya, jika sampai mewarisi sifat Ayahnya, pastilah sama jahatnya.


"Sudahlah, pergi tidur. Sebelum subuh kita akan melanjutkan perjalanan ini lagi" titah Asih. Lalu membenahi posisinya, Ia membaringkan tubuhnya, dengan memirigkan tubuhnya, membelakangi pemuda itu.


Edy memandangi tubuh sang gadis yang kini sedang tidur dan membelakanginya.


Keelokan lekuk tubuh rampingnya begitu sangat sempurnah. Bagaimana mungkin Ia harus takut dengan siluman seperti itu, jika Ia sendiri saja tak kuat menahan gelora asmaranya.


Edy ikut berbaring. Ia menatap punggung sang gadis, lalu beringsut mendekatinya. Setelah jarak mereka cukup dekat, Ia memeluk pinggang ramping itu, lalu membenamkan kepalanya dipunggung sang gadis.


Tak berselang lama, terdengar suara dengkuran sang pemuda, yang mana Ia telah tertidur pulas.


Asih mengerjapkan matanya, Ia masih terjaga. Ia melihat tangan pemuda itu melingkar dipinggangnya, entah mengapa Ia merasa begitu nyaman. Lalu Ia mencoba menidurkan matanya. Rasa kantuk mulai datang, dan Ia mengerjapkan matannya, lalu kemudian tertidur.


******


Hari menjelang subuh, terdengar suara ayam jantan hutan berkokok dengan saling bersahutan.


Asih menggeliatkan tubuhnya, dan mendapati Edy sudah berubah posisi tidurnya menjadi terlentang.


Asih memandangi pemuda itu, yang masih tertidur pulas.


Sesaat Asih melihat sebuah tonjolan yang membesar di area sensitif milik pemuda itu. Tonjolan itu membesar dua kali lipat dan bergerak-gerak mengikuti irama dengusan nafasnya.


Karena merasa penasaran dengan benda yang menonjol itu, Asih membuka resleting celana pemuda tersebut, memastikan tidak ada binatang yang menyerang pemuda itu saat sedang teridur.


Dan saat Asih membuka pengamannya, Ia tersentak kaget, sebab benda yang menonjol itu keluar menyembul dan berdiri tegak Kokoh.


Asih melongo memandangi benda aneh tersebut. Ia mengingat jika benda milik Edy yang dilihat tanpa sengaja ketika mandi diceruk goa, bentuknya kecil mengkerut dan jatuh bagaikan belalai gajah. Namun yang dilihatnya sekarang berbeda jauh.


Dimana benda itu berdiri tegak, bagaikan tanduk banteng. Rasa penasaran untuk menyentuhnya begitu kuat, lalu Ia menyentuh ujungnya, dan menariknya kesisi belakang, seketika benda itu memantul bagaikan elastis.


Asih tertawa melihatnya. Mungkin Ia mengira itu bagaikan sebuah mainan.


Ia melakukan hal sama, memantulkan benda itu, tanpa diketahui oleh pemiliknya.


Sehingga Edy merasakan sangat gel*i saat jemari Asih memegang ujung senjatanya yang saat ini sedang bangun pagi, lalu Ia merasa jika senjata rahasianya itu dipantul-pantulkan bagaikan bola bekkel.


Edy membuka matanya, melihat apa sebenarnya yang terjadi. Alangkah terkejutnya pemuda itu, saat mengetahui jika Asih adalah pelakunya.


Ias segera terbangun dan berteriak "Heei.. Apa yang Kau lakukan dengan pedangku?" ucap Edy yang mengangetkan Asih, lalu beringsut menjauh.