
Lee membuat perapian. Setelah menyala, Lee menancapkan dua batangbkayu berukuran sedang yang memiliki seperti jari ataunbiasa dipakai buat ketapel.
Ia mengambil ranting yang lainnya, lalu menusukkan ke 5 ekor burung tersebut dan melintangkan pada du kayu penyangngga yang berseberangan tadi.
Sesekali Lee memutar-mutar daging burung tersebut, agak matangnya merata.
Aroma harum daging burung panggang tercium sangat harum. Hal itu membuat perut Asih terasa keroncongan.
Sesaat Asih beranjak bangkit, lalu melangkah ingin pergi.
Lee melihatnya merasa kaget. "hei..kamu mau kabur kemana? Burungnya belum matang.." ucap Lee mencoba mencegah.
"berisik..! Aku mau mandi, diparit ujung sana. Bakar saja yang benar tu daging burung" ucap Asih dengan nada perintah.
Lee lalu mengerucutkan bibirnya, dan kembali fokus pada panggangannya.
🐊🐊🐊🐊🐊🐊
Adih menyusuri rerumputan yang sangat tebal. Ia berjalan sembari menyibakkan rerumputan
Itu dengan menggungakan pedangnya, dan sesekali menebasnya.. Rambut ekor kudanya terombang ambing mengikuti irama tubuhnya yang bergerak dengan sangat lincah.
Setelah cukup jauh berjalan, Ia akhirnya menemukan sebuah parit berair tawar, dengan warnah sedikit kuning kecoklatan seperti warna tanah liat, karena kondisi tekstur tanahnya.
Ia memastikan jika Lee masih memanggang daging burung tersebut, lalu Ia yakin jika tak ada satupun yang akan mengintipnya.
Ia melepaskan seluruh pakaiannya, lalu berjalan menuju parit tersebut, membenamkan dirinya, mencoba merasakan kesegaran air tersebut.
Rasa lelah yang sangat begitu terasa ditubuhnya, membuatnya ingin merelaksasikan seluruh otot-otot tubuhnya. Dengan memejamkan mata, Ia mencoba kembali mengingat semua tentang hal saat Ia berada di bukit dan ditengah hutan belantara. Ia tidak pernah bertemu dengan orang-orang yang haus akan uang.
Asih menselunjurkan kedua kakinya. namun Ia merasakan sesuatu yang aneh, kedua kakinya tiba-tiba berubah menjadi kecil dan berkuku tajam.
"Haaah...!! Mengapa ini..? Mengapa bisa seperti ini? Bukankah aku sedang tidak marah?" Asih merasa panik.
Ia melihat jika ekornya sudah bergerak-gerak. Dan kini Ia berubah menjadi setengah ekor buaya dan setengah manusia.
Asih sedikit panik. "bagaimana jika Kak Lee melihatku dalam wujud seperti ini..?" Asih berguman lirih dalam kepanikan.
Asih mencoba setenang mungkin, namun Ia tidak tahu seberapa lama wujudnya akan berubah kembali normal.
🐊🐊🐊🐊🐊🐊🐊
Setelah satu jam lamanya, Asih tak juga kunjung datang. Lee semakin gelisah.
"Ne anak mandi apa ketiduran sih.? Koq gak kelar-kelar dari tadi...?" ucap Lee dengan penasaran.
Setelah beberapa saat menunggu, namun Asih tak kunjung juga kembali, Ia memutuskan untuk mencarinya. Lee mencoba mencari melalui alat pelacaknya, namun sialnya, signal yang delay membuatnya menggerutu.
Lee kembali memasukkan phonsel ke saku celananya. Ia menenteng daging burung panggang itu sembari menyusuri jalanan yang baru saja dibuat oleh Asih.
"mengapa Ia lama sekali mandinya?" Lee berguman kesal.
setelah jauh berjalan, akhirnya Ia menemukan parit berair tawar tersebut.
Saat itu Ia memandang kearah parit, dan Ia terperangah, karena Asih memejamkan matanya.
"yaelah.. Bener apa yang aku bilang, Ia mandi sembari rebahan.. Dasar Gadis konyol.!" umpat Lee, dengan kesal.
"Hei.. Asih..!! Kamu mandi apa tiduran.?" ucap Le yang kini sudah duduk diatas bongkahan kayu yang hampir melapuk. Ia mengambil seekor daging burung tersebut, lalu menikmatinya.
Asih tersentak mendengar ucapan Lee, Ia membulatkan matanya. Lalu menatap kalut pada Lee.
Ia berfikir bagaimana caranya agar Lee menjauh sejenak darinya. Ia tidak ingin pemuda itu mengetahui wujud aslinya. "apa sebaiknya aku mengusirnya saja dulu, agar menjauh." Asih menemukan ide.
"emm.. Ngapain kakak disitu.. Pergilah menjauh, jangan mengintipku." hardik Asih kepada Lee.
Lee menghentikan gigitannya, lalu menatap ke Asih.
"siapa juga yang mengintipmu, aku tidak berselera dengan gadis kasar sepertimu.." jawab Lee santai, sembari kembali mengunyah daging burung tersebut.
Asih mengernyitkan keningnya. "sialan.. Dia kira aku makanan apa? Sampai dikatain gak selera.." Asih sedikit kesal dengan jawaban Lee.
Ia harus memaksa Lee segera menjauh, Ia ingin menetralkan tubuhnya agar kembali normal.
"Pergilah.. Aku akan segera menyusul. " pinta Asih, kepada Lee.
Lee beranjak bamgkit, lalu ingin pergi menjauh dari tempat itu, namu Ia merasa curiga dengan riakan air disekitar segera beranjak.. Namun Ia melihat sesuatu yang mencurigakannya.
Ia melihat riak air yang begitu instens bergerak
"apa itu..? Apa jangan-jangan.. Itu ekor buaya, dan Asih sedang dimakan Buaya.?" seru Lee panik.
Ia mendekati tepian parit. "Asih.. Apakah kamu baik-baik saja?" apakah kamu sedng dimakan buaya..?" Lee terlihat sangat panik. Ia mencari tas joran milik Asih, membuka resletingnya, lalu mengambil sebilah pedang dan menghampiri parit untuk menolong Asih.
Asih semakin panik.. "jangan... Kak.. Aku tidak apa-apa.." ucap Asih mencoba mencegah Lee.
Dan..
Ssswwwwwwuuussshh...
Sebuah pendaran cahaya berwarna pink keluar dari pink diamond yang sedang dikenakan Asih.
Cahayanya menyilaukan mata, lalu Lee menutup matanya dengan lengannya. Lalu Ia tidak mengetahui apa selanjutnya, semua tampak gelap.
🐊🐊🐊🐊🐊
Asih membopong tubuh Lee kebawah pohon yang sedikit rindang. Pemuda itu sedang tak sadarkan diri. Asih membaringkan tubuh pemuda itu diatas rerumputan.
Asih mengenakan kembali pakaiannya. Lalu Ia kembali menghampiri Lee.
Rambutnya yang basah tergerai begitu saja.
Ia memperhatikan wajah pemuda itu. Ia mengamatinya dengan sangat dalam. Hatinya tanpa tau apa sebabnya terasa bergetar hebat. Ia tidak tahu apa tentang perasaannya.
Sisa air yang berjatuhan dan menetes itu tanpa sengaja menyentuh tepat diwajah pemuda nan rupawan tersebut.
seketika Lee terbangun, dan melihat wajah Asih begitu dekat dengannya. seketika Ia menariknya kedalam pelukannya. "ku kira kamu sudah mati dimakan buaya" ucapnya dengan nad panik. Ia mengecupi pipi dan rambut Asih. Ia merasakan begitu sangatnya Ia ketakutan akan kehilangan gadis yang penuh misteri itu.
Lee semakin mengeratkan pelukannya. Ia seolah-olah tidak ingin kehilangan Asih. Ia seperti frustasi, saat melihat ekor buaya berada tepat di belakang Asih. Ia membayangkan jika saatbitu Asih sudah dimangsa buaya dan mereka tidak dapat bersama lagi.
Asih membilatkan matanya, Ia tidak tahu dengan perasaannya. Namun Ia membiarkan tangan pemuda itu mengeratkan pelukannya. Ia seperti mendapatkan sebuah kenyamanan saat bersama dengan pemuda ini, namun Ia tidak memahami apa arti dari semua tentang perasaannya.
"aku mencintaimu, sejak pertama kita bertemu.. Jangan pernah berniat tinggalkanku.." ucap Lee tanpa sadar, ditengah kepanikannya.
"Cinta..? Apa itu Cinta..?" Asih berguman lirih dalam hatinya.
Ia sendiri tidak faham dengan apa yang diucapkan oleh Lee. Karena selama Ia tinggal dihutan, tidak pernah sekalipun Ia mendengar kata Cinta dari sesiapapun.
Mungkin ini akan menjadi tambahan kata baru dalam hidup Asih. Ya.. Kata 'Cinta' yang juga masih merupakan teka-teki padanya.