Buhul ghaib

Buhul ghaib
Terdampar-3



Waktu semakin senja, para orang-orang dari suku itu mempersiapkan sebuah acara ritual untuk kedua orang asing yang sedang mereka kurung.


Sementara itu, Asih dan Edy sedang bersiap untuk rencana mereka. Edy dengan susah payah menyeret seorang pria yang sudah terkapar tersebut. Nafasnya tersengal, sedangkan Asih memanggul kedua pria yang merupakan sekongkolan dari para suku tersebut.


Dengan ringannya, Asih membawa kedua pria itu dipundaknya, lalu menyembunyikan tubuh kedua pria berbadan kekar itu disemak-semak yang lain.


Melihat Edy tak juga sampai, Asih menghampirinya. Asih menatap pemuda tu, berdiri tepat dihadapannya. Lalu sang gadis menekan kening Edy, sehingga tubuh pemuda itu bergetar hebat.


Seketika entah apa yang membuat Edy merasakan ada sesuatu yang mengalir ketubuhnya, bagaikan sengatan listrik, lalu memberikannya kekuatan dan berjalan dengan cepat, lalu menumpukkan ketiga pria itu menjadi satu.


Disisi lain, para suku sudah membawa sesaji dan mengeluarkan tawanan yang sudah tampak memucat, antara takut dan juga kelaparan. Karena sedari siang mereka tidak makan.


Lalu malam semakin gelap. Mereka menggunakan suluh bambu untuk sebagai penerangan dan berjalan mengarak dua insan dari sepasang kekasih yang berniat memadu kasih dipulau terindah, namun harus berakhir bencana.


Sementara itu, Asih dan juga Edy sudah menunggu sedari tadi apa yang akan dilakukan oleh para suku tersebut.


Tampak cahaya api yang yang berjalan beriringan dengan iringan mantra, dan nyanyian yang terdengar begitu aneh.


Edy sedari tadi sudah tidak tahan dengan nyamuk yang terus menggerayanginya.


Lalu iringan itu sudah semakin mendekat. Mereka duduk dibawah pohon beringin,membentuk formasi huruf U.


Lalu kedua tawanan itu mereka paksa untuk dilucuti pakaiannya. Lalu mereka gantung dengan kepala menghadap kebawah dan kaki diatas. Sama seperti jasad yang mereka lakukan sebelumnya.


Tetuah suku menghampirinya, lalu melumuri kedua tawanan dengan menggunakan darah ba*bi hutan yang sudah dimantrai dan dicampur kembang tujuh rupa.


Kini kedua tawananan itu tampak seperti mandi darah, dan siap dikorbankan.


Lalu mereka menyenyikan lagu yang lebih mirip seperti mantra, menari berpasangan dengan gerakan aneh, lalu tertawa riang.


Kemudian Asih melakukan rencananya disaat para irang-orang suku sedang terlena dengan tarian dan nyanyian mereka.


Sesaat Asih menciptakan sebuah angin kencang, yang memadamkan api suluh bambu tersebut.


Lalu kekacauan terjadi, dan mereka menganggap ini adalah petaka bagi suku mereka.


Lalu mereka bahu membahu mencoba menghidupkan suluh bambu dengan alat sederhana.


Setelah semua terpasang, seketika suasana kembali tampak terang dengan banyaknya suluh bambu yang menerangi sekitar pohon beringain.


Dan saat itu, mereka dikejutkan oleh seorang gadis cantik berada ditengah-tengah pemujaan dan berdiri dibawah sulur pohon beringin sedang mengikat seseorang.


"hhhhaaaaah?"


Secara bersamaan mereka tercengang melihat kepala suku mereka kini sudah tergantung disulur pobon beringin, beserta ke 3 tubuh para pria pembawa speedboat.


kemudian mereka menggeram dan menatap marah kepada Asih , lalu berteriak memberikan serangan kepada Asih.


Disisi lain, Edy membawa kedua tawanan itu berlari menyusuri hutan dan menerobos kegelapan. Mereka berlari dengan saling bergandengan tangan agar tidak terpisah satu sama lainnua.


Namun tawanan wanita begitu tampak lemah karena tidak makan seharian.Ia sudah tidak sanggup lagi berlari, dan ...


Bruuuuuk...


Sang wanita ambruk tersungkur ketanah. Sedangkan beberapa pria dari suku itu melakukan pengejaran kepada Edy dan tawanan.


Disisi lain, Asih berperang melawan banyaknya orang-orang suku suku yang kini sedang membawa tombaknya.


Sesaat Asih membalas serangan mereka dengan mengayunkan tetuah suku yang sudah diikatnya menggantikan dua tawanan tersebut.


Asih mengayaunkan tubuh tetuah mereka setiap kali menangkis serangan.


Disisi lain, Edy dan pria dari kekasih tawanan tersebut memapah tubuh sang wanita lalu berjalan cepat menghindari kejaran para orang suku.


Namun wanita yang sedang pingsan itu memperlambat pergerakan mereka.


Sesaat para pengejar sudah semakin mendekat. Pria asing tersebut memuacat ketakutan.


Bersamaan dengan hal itu, petir menyambar disertai kilatan cahaya halilintar dengan suara yang menggelegar memenuhi alam sekitar.


Cahaya kilatan tersebut memperlihatkan wajah-wajah pucat yang takut akan kematian.


"Bawalah kekasihmu menuju tepi pantai, didekat semak yang sejajar dengan pohon kelapa ada sebuah sampan motor. Tariklah ketepian pantai"Titah Edy kepada pemuda yang saat ini sedang ketakutan.


Pemuda itu menganggukkan kepalanya, lalu berjalan terseok memapah tubuh kekasihnya. Meskipun kini mereka dalam balutan darah bintang yang sudah mengering, namun pemuda itu mencoba menghilangkan rasa mualnya, dan memikirkan nyawanya.


Edy mencoba menghadang para orang suku tersebut. Sepertinya serpihan permata mirah delima milik Ristih mulai berfungsi. Edy merasakan sedikit keberanian menghadapi para orang suku tersebut.


Ia mencoba melawan para orang suku dengan menggunakan tangan kosong, sedangkan orang suku menggunakan tombak yang ujungnya sangat runcing.


Edy melumpuhkan seorang diantaranya, lalu merampas tombaknya dan mulai melakukan perlawanan.


Sementara itu, Asih yang masih melawan orang suku tersebut, merasakan sesuatu yang aneh. Dimana Tetuah suku yang Ia gantung tersebut meraih tali sukur pohon beringin, lalu berusaha utuk beridiri, dan memutuskan pengikatnya dengan menggunakan giginya yang tampak runcing.


Setelah berhasil melepaskan diri, Tetuah itu duduk bersila, lalu membacakan mantra dan seketika tubuhnya berubah wujud menjadi manusia berkepala ba*bi.


Asih yang masih berperang melawan para orang suku berhasil melumpuhkan setengahnya.


Ggggggrrrrrhhh....


Terdengar suara geraman menggelegar yang membuat Asih dan para irang suku menghentikan perperangn mereka.


Asih menoleh kearah suara tersebut, dan Ia terperangah melihat penampakan tersebut.


Belum sempat Ia hilang rasa terkejutnya, Asih merasakan sebuah terkeman menghantam dirinya, terkaman tanpa bayangan.


Asih terpental dan tersungkur ditanah sejauh 2 meter.


Asih bangkit, dan mencoba mendeteksi keberadaan lawannya melalui indra mata bathinnya. Sesaat Asih melihat pergerakan bayangan manusia berkepala Ba*bi sedangkan melakukan serangan dari arah sisi kirinya.


Tanpa membuang waktu, Asih mencabut pedang dipinggangnya, lalu dengan menggunakan tenaga dalamnya, Ia menebas bayangan hitam itu, namun bayangan itu dapat menghindarinya.


Sesaat Asih merasakan tubuhnya ditendang dari arah belakang, membuat Asih terhuyung kedepan beberapa langkah.


Sesaat Asih tersenyum menyeringai, tanpa diduga sipemilik bayangan, Asih melompat ringan, lalu menghampiri tubuh Tetuah suku yang sedang duduk bersila sembari memejamkan matanya, dan....


Kreeeeeeess..


Asih menebas kepala Tetuah suku yang masih berbentuk kepala Ba*bi..dan..


Aaaaaaaarrrgh...


Terdengar suara lengkingan membahana memenuhi hutan. Lalu Asih mengambil suluh bambu dan membakar kepala Tetuah Suku yang sudah terpisah dari tubuhnya.


Seketika para orang-orang suku kebingungan, mereka tidak menyangka jika Tetuah mereka tewas ditangan seorang gadis.


Asih mengambil tombak milik orang suku yang sudah berhasil dilumpuhkannya, lalu menancapkan kepala yang terbakar itu diujung tombak, kemudian menancapkan batang tombak ditanah. Seketika kepala Tetuah suku tampak seperti obor yang yang menyala, lalu terdengar suara ledakan, dan berhamburan serpihan-serpihan daging tersebut.


Sementara itu, Asih mengantung tubuh Tetuah Suku yang tanpa kepala itu disulur batang pohon beringin.