
Edy menarik Asih dengan kasar, menjauhi pemuda pemulung dengan pakaian seperti gembel tersebut.
Sepertinya Edy tampak terbakar cemburu melihat Asih dicumbu pemuda itu.
Setelah menjauh dari keramaian, Edy menarik Asih kesebuah gang sempit rumah-rumah yang sebagiannya masih terbuat dari semi permanen.
Edy menekan tubuh Asih kedinding, lalu dengan tatapan tajam mencecar Asih dengan berbagai pertanyaan.
"Siapa pemuda gembel tadi, hah?" tanya Edy dengan tatapan mengintimidasi.
"Dia temanku?" jawab Asih santai.
Edy membolakan matanya "Teman? Teman apa yang Kamu maksud?" cecar Edy tak sabar.
Asih mendenguskan nafasnya, Ia tidak pernah melihat pemuda itu begitu sangat marahnya.
"Dia yang menolongku saat pertama kekota ini" jawab Asih dengan santainya.
Kalau dia hanya teman, mengapa Kamu mau dipeluk-peluk dan dici*um sembarangan?!" cecar Edy dengan perasaan cemburu berat.
Asih menatap bola mata pemuda itu dengan heran. "Bukankah Kau juga sering melakukannya padaku?" jawab Asih seenaknya.
Edy terperangah mendengarnya, lalu membuka topinya dan menggaruk kepalanya yang tak gatal, bahkan Ia mengacak rambutnya dengan kasar hingga berantakan.
Edy mencoba mengatur nafasnya, mengontrol emosinya. Setelah merasakan detak jantungnya mulai normal, Edy kembali mengkungkung tubuh Asih yang masih bersandar didinding.
"Dengarkan Aku, dan Kau harus mengingatnya. Jangan pernah Kau membiarkan pria manapun menyentuh beberapa anggota tubuhmu, karena itu hanya milik suamimu.." ucap Edy, sembari mengatur nafasnya.
"Bibir ini" Edy meletakkan jemari telunjuknya dibibir sang gadis.. "Lalu ini" Edy menunjuk dua bongkahan kenyal didada gadis itu.
"Dan yang terakhir, ini " Edy menunjuk organ Vital milik Asih. "Dan juga ini" ucap Edy sembari memuku bokong semok milik Asih, yang membuat gadis itu tersentak kaget karena Edy melakukannya dengan tiba-tiba dan juga cepat.
"Apakah Kau mengingat apa yang Aku katakan?" tanya Edy dengan tatapan tajam penuh penekanan.
Asih hanya menganggukkan kepalanya, mencoba mengingat apa yang diucapkan oleh Edy.
"Jika mereka menyentuhnya?" tanya Asih.
"Hajar mereka hingga babak belur" jawab Edy lalu memakai topinya, dan melangkah pergi.
Melihat Asih hanya terdiam ditempatnya, pemuda itu memutar tubuhnya "Ayo.. Kita akan mencari tempat markas dan juga kendaraan" ucap Edy kepada Asih yang masih bengong dengan segala ucapan Edy barusan.
Asih beranjak dari tempatnya, lalu mengekori Edy yang berjalan terlebih dahulu.
Sementara itu, Lee berusaha bangkit setelah mendapat tinju mentah dari Edy.
"Sial, siapa pemuda itu? Mengapa Asih bisa bersamanya?" guman Lee lirih, Ia merasa sangat cemburu, melihat Asih bersama pria lain.
"Apakah Ia dengan cepatnya melupakanku setelah beberapa saat tidak bertemu?"
Aaaarghhh...
Lee meninju dinding pasar. Rasa sakit tinju dari pemuda itu, tidak sesakit saat Ia menerima kenyataan jika Gadis yang dicintai dan dirindukannya telah bersama pria lain.
"Namun selagi Ia belum milik sah orang lain, maka Aku masih berkesempatan untuk mendapatkannya." guman Lee dengan lirih.
Lalu Ia melirik kepada pria yang tak sadarkan diri karena dihajar oleh Asih barusan.
Lalu Asih mengambil kabel tie dan menarik kedua tangan pria itu kearah belakang, lalu menarik pengaitnya.
Lee menelefon markas cabang, agar segera mengirimkan mobil untuk membawa orang tersebut.
Sebenarnya Lee juga merasa penasaran dengan pemuda yang bersama Asih, mengapa Ia mengetahui jika itu adalah uang palsu dan mengapa Ia juga bertindak menghajar para pengedar tersebut.
Disisi lain, Edy berjalan dengan sangat cepat, untung saja Asih memiliki kecepatan langkah yang seimbang, sehingga dapat menyusul langkah Edy dan berjalan disisi pemuda itu.
"Sebaiknya kita mencari kendaraan umum, agar segera sampai ke kota" ucap Edy, sembari membenarkan Posisi maskernya.
Namun Edy melihat sebuah loket ATM yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Ia sangat penasaran dengan jumlah dari saldo milik Asih.
Ia menggandeng pergelangan tangan gadis itu lalu menuju loket tersebut.
Setelah berada didalam ruangan tersebut, Edy meminta Asih mengeluarkan kartu ATM miliknya.
"Coba lihat kartu ATM kamu, Aku ingin melihat berapa isi saldonya" ucap Edy sembari menjulurkan tangannya.
Asih menurunkan tas joran dari punggungnya, lalu membuka resletingnya, dan memberikan dua buah kartu yang dimiliknya.
"Ini" ucap Asih, sembari menyerahkan ke dua kartu tersebut.
Edy meraih satu kartu saja, dan menyerahkan yang satunya kepada Asih.
Lalu Edy memasukkan kartu tersebut kedalam mesin yang memberikan orang uang sesuai keinginan dan isi saldo mereka "Masukkan kata sandinya" titah Edy kepada Asih.
Lalu Asih menghampiri nesin ATM tersebut, dan memasukkan kata sandi sebanyak enam digit.
Edy mengernyitkan keningnya, sebab Asih tampak terbiasa menggunakannya.
Lalu Edy memilih menu cek saldo. tak menunggu waktu lama, terpamapang dilayar monitor sejumlah uang sebanyak 2 milyar.
Edy mengusap matanya, Ia mencoba memastikan jika angka nol yang tertera dilayar monitor itu tidak salah lihat.
Namun setelah berulang kali memastikannya, ternyata itu benar adanya.
"Haaah..?! Edy tercengang melihat isi saldo milik Asih.
Asih hanya menatap wajah bengong Edy yang tampak tak percaya melihat isi saldonya.
"Siapa yang menguruskan semua ini?" tanya Edy dengan penasaran lalu mengambil 5 ratus ribu untuk keperluan mereka dijalan nantinya.
Setelah itu Ia mengembalikan kartu tersebut kepada Asih.
"Pemuda yang tadi menci*umku dpasar" jawab Asih dengan santai, sembari memasukkan kartu itu kedalam tas jorannya.
Edy membolakan matanya. "Bagaimana mungkin pemuda gembel seperti itu bisa melakukan semua hal itu dengan mudah? Apalagi mengurus kartu identitasmu, jika Ia tidak memiliki sebuah jabatan" ucap Edy semakin penasaran.
Asih hanya mengangkat kedua bahunya.
Edy semakin penasaran dengan pemuda gembel itu, sepertinya Ia bukan gembel beneran..
"Jangan...jangan.." Edy mulai menebak-nebak "Apakah Ia seorang inteligent?" guman Edy dalam hatinya.
"Sebaiknya Aku berhati-hati dengan pemuda itu" Edy memasukkan 2 ratus ribu rupiah dan 3 ratus ribu rupiah diberikan kepada Asih.
Lalu keduanya berjalan keluar dari loket ATM tersebut.
Kini mereka sudah menuju jalanan utama, mencari Angkot dan menuju ke showroom yang terdekat.
Sebuah angkot melintas, dan keduanya naik kedalam angkot.
Tampak 3 orang penumpang pria duduk didalam angkot. Ketiga pria itu saling menatap dan seolah memberi kode satu sama lainnya.
Dengan cepat mereka menyebar, satu mendekati Edy dan kedua orang lagi mengapit tubuh Asih.
Edy melihat gelagat yang tidak baik dari ketiganya. Mungkin mereka menganggap Edy dan Asih adalah orang pendatang yang sedang berkunjung kekota ini.
Salah seoarang dari ketiga pria itu, tergiur akan kecantikan dan kemolekan Asih. Ia menjulurkan tangannya ketubuh Asih, lalu menyentuh bokong semok sang gadis, dan seketika Asih membeilakkan matanya, lalu..
Kretaaaaak..
Terdengar suara tulang pergelangan patah, karena tekanan dari jemari lentik milik sang gadis.
Aaaaaaarghh...
Pria itu meringis kesakitan, karena pergelangan tangannya dipatahkan oleh seorang gadis yang telah disentuh anggota tubuhnya.
Seketika kedua rekannya saling pandang, dan kemudian menyerang Asih.
Seketika Asih menghadiahi kedua pria itu dengan bogeman dan juga tinju yang menbuat keduanya terlempar kedinding belakang angkot.
Sedangkan pria yang tadi dipatahkan Asih pergelangan tangannya masih merintih menahan sakitnya pergelangan tangnnya yang tampak membengkak.