Buhul ghaib

Buhul ghaib
Permohonan



Semua orang terperangah melihat aksi Edy yang berlutut memohonkan ampunan untuk papanya.


"Maafkan Papaku, Bu.. Jika Kau ingin membunuhnya, maka bunuhlah saja Aku sebagai penebusnya.


Asih membolakan matanya mendengar ucapan Edy, Ia beranjak dari berdirinya dan menghampiri Edy yang sedang berlutut kepada Ibunya. Lalu Ia menarik telinga pemuda itu agar menjauh dari Ibunya.


"Siapa yang menyuruhmu untuk mati cepat, ayo menyingkirlah.." ucap Asih sembari menarik telinga Edy yang membuat pemuda itu meringis kesakitan.


"Ayo buruan.. Itu dosa Papamu, biarkan Dia yang menanggungnya, bantu Aku menolong Kak Chakra untuk mengeluarkan peluru itu sebelum kehabisan darah.


Bagaikan kerbau dicocok hidungnya, Edy terpaksa menyingkir dari Dina dan merangkak menjauhi Dina yang lagi terbakar emosi.


Edy mencoba membantu Asih menolong Chakra yang merupakan Kakaknya secara biologis.


Sedangkan Lee terperangah melihat Asih yang begitu sangat mengacuhkannya.


Asih mencari pisau silet dan juga pinset, dengan alat seadanya Ia mencoba mengeluarkan peluru itu yang membuat Chakra mengerang kesakitan.


Sementara itu, Dina masih berperang melawan hatinya.


Sesaat Lee mengambil kesempatan menelepon pasukannya untuk menahan kedua orang yang sedang mereka cari selama ini.


Lee memborgol Dori, Ia juga membutuhkan penanganan medis untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di betisnya.


Lalu Lee memborgol kedua tangan Andre dan Dina menurunkan senjatanya.


Tak berselang lama, mobil polisi datang dan membawa keduanya.


Dina bahkan tak ingin menatap wajah pria itu, saat melintasi Dina, Andre sengaja menjatuhkan jepit rambut milik wanita itu, selalu dibawanya kemana-manan sejak menemukannya didalam goa waktu itu.


Dina memandangnya, lalu menatap pria yang kini sudah diringkus oleh polisi untuk dibawa kekantor dan ditahan.


Dina memungutnya, lalu menatapnya. Ia masih mengingatnya, yang mana jepit rambut itu hadiah pertama kali saat Andre membelikannya untuknya, dan saat itulah awal Ia menyerahkan kesuciannya.


Dina menggengamnya dengan erat, lalu membuangnya kedalam closed dan tak ingin mengenangnya lagi.


Sementara itu, Lee memandang Asih yang membalut lengan Chakra dengan kain seadanya.


Sesaat Dina datang, lalu membuka kain pembalut luka, dan menyapu luka tersebut dengan lembut.


Dengan seketika luka itu sembuh yang membuat Edy terperangah.


Kini Edy menyadari mengapa Papanya begitu sangat acuh tak acuh pada Mamanya, ternyata ada satu hati yang Ia simpan didalam lubuk sanubarinya, dan wanita itu bernama Dina, nama yang selalu Papanya gaungkan dalam setiap kegundahannya.


Ini tentang perasaan, dan juga hati, maka siapapun tak bisa menyalahkannya. Sebab Edy sendiri merasakan hal tersebut, meskipun mengetahui jika Asih bukanlah sosok manusia normal, namun Ia tak mampu berpaling dari gadis itu.


Lee menyadari, jika Chakra adalah manusia normal, dan Ia harus memberitahu Rere tentang keberadaan pemuda itu, Ia tak dapat lagi menutupinya jika gadis tomboy itu bertanya tentang Chakra.


Dina membelai wajah puteranya, Ia mencoba menahan gejolak didadanya.


"Maafkan Ibu yang telah menutupi semua ini dari kamu" ucap Dina dengan semburat mendung dikedua bola matanya.


Chakra tak tahu harus mengatakan apa. Ini semua begitu tiba-tiba dan mengejutkannya.


"Romo" ucapnya lirih.


Dina menyeka airmatanya. Lalu menatap wajah puteranya "Dia adalah Ayahmu, tak ada darahnya didalam tubuhmu, namun kasih sayangnya ada tercurah untukmu, jiwanya, dan semua pengorbanannya sama besarnya seperti yang diberikan kepada Asih" jawab Dina.


Chakra mendenguskan nafasnya dengan kasar. Bagaimana mungkin selama ini yang selalu membuatnya terluka berulangkali adalah ayah biologisnya. Bahkan berulangkali mereka sudah saling ingin membunuh.


Edy beranjak dari duduknya, Ia merasa begitu sangat malu menghadapi kenyataan yang ada. Ia berjalan meninggalkan rumah tersebut dan ingin pergi. Namun Ia juga tak tahu harus pergi kemana m, sebab rumahnya juga sudah digaris polisi dan papanya juga sudah dibawa untuk dimintai keterangan dan pertanggungjawaban atas segala perbuatannya.


Lee menatap Edy yang pergi begitu saja saat Asih masih sibuk dengan Chakra dan Ibunya.


Namun diluar dugaan, Asih yang tak melihat pemuda itu disisinya, lalu celingukan dan mencarinya.


Ia beranjak dari duduknya, dan setengah berlari menuju keluar rumah.


Lee menatap gadis itu seakan tak percaya apa yang dilihatnya.


Asih mengejar Edy yang sudah berjalan di ujung pagar rumahnya.


"Edy...." Asih berteriak memanggil nama pemuda itu.


Edy menghentikan langkahnya, berdiam tanpa menoleh. Ia melihat bayangan gadis itu yang berlari mengejarnya.


Lalu mendekapnya dari arah belakang. "Mau kemana Kau?" tanya Asih sembari mengeratkan pelukannya.


"Aku memiliki hubungan darah dengan kakakmu, dan itu membuatku begitu dilema" ucap Edy dengan lirih.


"Itu antara Kau dan Kak Chakra, namun denganku Kau tak memiliki hubungan apapun" jawab Asih dengan lirih.


"Tetapi Aku begitu malu menghadapi Ibumu, karena sikap Papaku" ucap Edy lagi.


"Itu salah Papamu, dan juga bukan salahmu, jika orang yang harus dihukum itu adalah Papamu, bukan Dirimu" jawab Asih.


Dikejauhan sana, Lee menatap Asih yang tampak begitu sangat takut akan kehilangan pemuda itu. Bahkan Papa pemuda itu adalah orang yang menjadi target penangkapannya yang akan membuatnya naik pangkat.


"Apakah masih 50% untukku? Atau kini hanya tinggal 30% saja?" guman Lee dalam hatinya.


Lee merasa begitu sangat merasakan jika cinta gadis itu lebih besar untuk Edy ketimbang dirinya.


Mungkinkah Asih marah kepadanya sebab Ia meninggalkan gadis itu begiti saja saat mengetahui dirinya yang sebenarnya?


Lee merasa jika tindakannya saat itu sangat konyol dan tak mungkin dimaafkan gadis itu.


Sementara itu, Edy merasakan cintanya bertambah kuat untuk Asih. Namun Ai merasa terganggu saat Asih memeluknya sangat erat.


"Sayang, bisa gak Kamu lepasin dekapanmu?" pinta Edy memohon.


"Kenapa? Mamu gak suka Aku dekap?" tanya Asih balik bertanya.


"Bukan itu maksudku, bukit kembarmu terlalu menempel dipunggungku, dan itu bisa membangkitkan senjataku" ucap Edy dengan gamblang.


Seketika Asih melepaskannya, Ia mencubit pinggang pemuda itu, sebab Ia tau jika senjata itu bangun, maka bentuknya akan terlihat lucu dan juga menggemaskan buatnya.


"Ya sudah masuk, yuk" pinta Asih.


Edy memutar tubuhnya dan mengahadap pada gadis itu.. "Aku mungkin sebaiknya pulang dulu kerumah diujung gang sana, rumah yang pernah kamu beli waktu itu, dan mobil yang rusak kemarin juga sudah diperbaiki, aku akan menebusnya dengan sisa tabunganku, jika Kau merindukanku, maka temui Aku disana, Aku menunggumu" ucap Edy, lalu mencubit gemas kedua pipi Asih.


Asih menatapnya, lalu mencoba memahami kondisi Edy saat ini.


"Baiklah, jaga rumahku baik-baik, jangan sampai kamu jual" ucap Asih berkelakar.


Edy tersenyum geli mendengarnya, gak akan ku jual, jika perlu kita tinggal disana berdua, tetapi menikahlah denganku" ucap Edy mengedipkan sebelah matanya.


Asih memanyunkan bibirnya, lalu menatap kepergian Edy, yang terus menghilang dibalik pagar.