
Wuuush… traaanng
Suara dentingan dari dua senjata benda tajam saling beradu. Lee dan seorang ninja yang terus saling serang dan mencoba untuk melumpuhkan satu sama lainnya.
Disisi lain, seorang musuh menyelinap kearah altar dan mencari keberadaan Asih. Ia terus mengedarkan pandangamnya dibawah gelapnya ruangan kastil.
Seketika Ia mengarahkan pandangannya kesebuah meja diatas altar. Meja yang bertutupkan sebuah kain berwarna merah itu menjadi pusat perhatiannya.
Ia berjalan perlahan menuju kolong meja. Lalu dengan cepat Ia menyingkapkan kain penutup meja itu.
Wuuush.. taaq..
Suara kain disingkap, namun Ia terperengah larena tidak menemukan siapapun dibawah kolong meja tersebut. Dengan perasaan kesal, Ia menutupkan kembali kain meja itu dengan kasar.
Sementara itu, Asih yang ternyata menempel dibawah Meja dengan posisi menghadap lantai, dan melekatkan tubuhnya dengan kedua tangan dan kakinya berada ditiap sudut meja.
Setelah mengetahui lawannya pergi, Asih bernafas lega. Suara dentingan benda tajam itu. membuat Asih merasa jika Lee sangatlah kewalahan menghadapi serangn para lawannya yang kini tinggal berjumlah 3 orang saja.
Namun, kemampuan lawannya tidaklah dapat diremehkan begitu saja.
Wuuush..tek..tek..tek.
Sebuah shiruken kembali dilemparkan kearah Lee.
Namun Lee tak menyadarinya jika bahaya sedang mengancam keselamatannya. Lalu sebuah kelebatan bayangan yang menangkis serangan Shiruken tersebut dengan sebuah pedang yang berkilaun jika terkena pancaran sinar.
Taaang…triiing..
Suara dentingan pedang dan Shiruken yang saling beradu dan berbentur satu sama lain. Hingga akhirnya benda berbentuk bintang itu meleset dari sasarannya dan terjatuh menghantam lantai.
Lee terperangah mengetahui siapa yang datang membantunya. Ia tersenyum dan bersemangat dalam menggempur ketiga lawannya.
Asih yang tampak lincah dan energik dengan begitu semangatnya menghadapi musuhnya-musuhnya.
Dan tampak Asih begitu sangat gesit setelah meminum ramuan misterius tersebut. Ia menjejakkan 6 langkah kakinya kedinding kastil dengan posisi seperti berjalan didinding membentuk 180°, lalu membuat gerakan salto dan terbang melayang diudara, lalu menghunuskan senjata tajamnya ke arah lawannya yang sedang berusaha menyerang Lee dan dirinya.
Pedang yang terhunus ditangannya, mengenai seorang lawannya.
Kreees…. Kresss..
Dua kali sabetan pedang yang dilayangkan oleh Asih mengenai lawannya. Asih terus menghancurkan pertahan lawannya, hingga ambruk dan tak berdaya, lalu Ia mendarat ringan dan sempurnah dilantai.
Tak menunggu lama, Asih kembali berputar dan melayang beberap jengkal diudara, lalu kembali menyerang seorang lawannya.
Wuuush.. trang…
Suara dentingan kedua senjata tajam begitu terdengar nayring, dan menimbulkan percikan api ketika saling beradu.
Tanpa memberi kesempatan kepada lawannya, Asih lalu segera melumpuhkan lawannya hingga tak berkutik, lalu tersungkur dilantai kastil yang berdebu.
Disaat yang bersamaan, Lee juga telah melumpuhkan lawannya. Lalu keduanya saling pandang.
Tanpa aba-aba, Lee langsung melompat ke arah Asih dan memeluknya. "Aku mengkhawatirkanmu.." ucapnya lirih semabri mengeratkan pelukannya sembari memejamkan matanya. Perasaannya sangat begitu khawatir saat tadi melihat seorang ninja menyingkap meja altar tempat Ia menyembunyikan Asih.
Pelukan Lee yang begitu erat, memberikan rasa hangat ditubuhnya, saat Ia merasakan dinginnya angin malam saat ini.
Namun tiba-tiba..
Kreeees…
Aaaasrrrgh..
Suara teriakan tercekat ditenggorakan dari seseorang..
Asih dalam diam menusukkan senjata tajamnya pada seorang ninja yang masih berusaha untuk bangkit dari tubuhnya yang terluka parah dan bersiap menyerang mereka, musuh itu dengan posisi berada tepat dibelakangnya, sedangkan Lee tidak menyadari dan hilang kewaspadaanya karena terlalu bersemangat memeluk Asih.
Seketika musuhnya ambruk kelantai dan tak bergerak lagi.
Lee terperangah dengan kewaspadaan Asih yang sangat luar biasa meskipun dalam gelap.
Lalu Asih melepaskan pelukan Lee, yang mana sebagai gadis normal, Ia merasakan sesuatu yang berbeda. Sebuah desiran-desiran yang merayap kealiran darahnya, meskipun Ia tidak mengetahui itu apa.
Asih memastikan lawannya sudah lumpuh, Ia mengecek nadi dan detak jantung lawannya, lalu memastikan mereka sudah tewas.
Asih bergerak dengan cepat menuju tangga kastil, dan menapakinya dengan sangat ringan.
Lee terperangah melihat Asih yang sangat lincah dan begitu mudahnya telah sampai kelantai dua kastil.
Lee berusaha menyusul Asih, dengan nafas tersengal dan kelelahan, akhirnya Ia sampai dilantai dua.
Ia melihat gadis itu menyusuri koridor yang sangat panjang dan pengap dengan bamtuan cahaya rembulan.
Lee terus berusaha menyusul kecepatan langkah gadis itu, hingga akhirnya Ia mampu menyamai posisinya dan sejajar dengan sang gadis.
"Heii.. kau mau kemana..? Tanya Lee dengan lirih dan sedikit berbisik ditelinga Asih.
Gadis itu hanya diam, lalu menuju jendela, kastil, mengamati kearah luar jendela. Memandangi rembulan yang bersinar sangat terang dilangit sana.
Sesaat Asih terbayang wajah Dina, romo, dan kakaknya Chakra. Ia teringat masa dihutan, mereka bercengkrama disana.
Dorongan hasrat jiwa mudanya yang menggebu, tak mampu Ia bendung. Lee menghampiri gadis itu, lalu mendekapnya erat dari arah belakang.
"Apakah kau tak merasakan udara begitu dingin malam ini..?" Ucap Lee dengan lirih.
Asih yang terlalu polos, mendapatkan perlakuan yang tak biasa dari lawan jenisnya membuatnya menyadari ada debaran yang begitu menderu didadanya.
"Asih.. apakah kau tidak merasakan sesuatu yang berdebar didalam didalam hatimu..? Jika kau merasakannya, maka cobalah buka hatimu, untuk aku dapat bersemayam disana, dan menjagamu sepenuh hatiku." Lee terus membisikkan kata-kata yang selama ini terlalu lama Ia pendam.
Asih merasakan tubuhnya semakin panas. Sentuhan hangat nan lembut yang menyapu kulit tangannya, membuatnya memejamkan matanya.
Lee mendaratkan bibirnya dileher jenjang sang gadis, sehingga membuat gadis itu merintih lirih.
Entahlah.. Asih tak mampu menggambarkan perasaan apa yang saat ini sedang Ia rasakan.
Mendapati Asih yang berdiam diri saat mendapatkan seranganya, Lee membalikkan tubuh Asih menghadapnya.
"Adakah getaran lain dihatimu..?" Tanya Asih saat menatap dua bola mata indah sang gadis.
Asih hanya diam membisu dan termangu menatap pemuda dihadapannya. Ia tidak tahu harus menjawab apa untuk pertanyaan yang diajukan oleh Lee.
Mendapati gadisnya diam, Lee menarik dagu sang gadis, lalu Lee merapatkan wajahnya, memagut lembut bibir gadis itu dengan begitu hasrat.
Asih yang masih mematung, memejamkan matanya, mencoba meresapi apa yang diberikan Lee padanya.
Tanpa sadar, Lee menarik pinggang ramping gadis itu, hingga keduanya begitu rapat.
Dua buah benda kenyal milik sang gadis menempel didada Lee, membuatnya semakin memburu. Tangannya merasa gatal untuh tidak menyentuh.
Asih semakin tak terkendali. Ia hanya seorang gadis polos yang tidak memahami tentang semua itu.
Lee yang sudah kerasukan hasrat, mencoba menyentuh benda kenyal itu, membuat hasratnya kian meronta, ldan Ia mulai bekerja sesuai instingnya.
Asih semakin menggeliatkan tubuhnya, desiran-desiran aneh di pembuluh darahnya kian merebak keseluruh tubuhnya.
Namun adegan itu tak berlangsung lama. Lee tersadar dari apa yang diperbuatnya. Lalu melepaskan cumb*uannya.
Ia merundukkan kepalanya, maafkan aku.. aku khilaf. Ucap Lee menyesali perbuatannya, lalu melangkah mundur menjauhi Asih.
Asih merasa bingung, Ia sangat begitu me*nikmati pemainannya Lee tadi.
Entahlah.. Asih tak mengerti dengan tindakan dan perbuatan orang-orang yang tinggal dikota.
Asih mencoba meredam semua gelora yang menggebu didalam dadanya. Ia menetralkan detak jantungnya. Perlahan mulai normal.
Tampak olehnya Lee berjalan meninggalkannya, menuju sebuah ruangan yang ada dilantai dua kastil.
Asih mengekori pemuda itu, lalu melihat nya memasuki sebuah ruangan yang tampak seperti kamar.
Ada beberapa barang berharga disana, namun tidak menarik perhatian keduanya.
"Beristirahatlah.. aku akan tidur disudut sana, kita harus beristirahat, karena esok kita akan menuju markas." Titah Asih kepada gadis itu.
Asih menganggukan kepalanya, lalu menuju ranjang yang busanya tampak sudah rusak dimakan hewan pengerat.
Asih tampak ragu, namun mencoba untuk menepisnya.
Sedangkan Lee tidur disudut ruangan. Dinginnya lantai ubin dan angin malam, membuat keduanya sedikit menggigil.
Asih merebahkan tubuhnya ditepian ranjamg. Ia merasakan sangat penat dan lelah yang luar biasa.
Asih memejamkan kedua matanya, lalu perlahan mulai terlena dengan buaian mimpi yang mulai datang.
Sama halnya dengan Asih, Lee meringkuk kedinginan disudut ruangan.
Rasa lelap.tak berlangsung lama, saat asih merasakan dibawah kasur busa ada sesuatu yang bergerak-gerak dengan lincah.
Merasa terganggu dan tak nyaman, Asih beranjak dari pembaringannya, lalu memperhatikan kondisi ranjang dengan kasur busa itu yang tampak bergerak memanjang.
Asih mengambil pedangnya, lalu menusukkan kearah gerakan benda dibawah kasur.
Sssssssssh..
Suara desisan dari benda yang bergerak dan menggeliat dengan sangat lincah, lalu perlahan melemah dan tak bergerak lagi.
Lalu tampak cairan kental darah merembes dari busa dan berbau anyir.
Asih mencabut pedangnya, lalu dengan rasa penasaran, Asih menyingkap busa ranjang itu. Ia terperangah melihat ular kobra berwarna hitam legam telah mati terkena hunusan ujung pedangnya.
Asih tak mampu membayangkan jika sampai Ia terpatuk oleh ular tersebut, yang memiliki racun bisa yang sangat berbahaya dan mematikan.
Sesaat Ia merasa lega. Lalu melihat sebuah meja yang cukup panjang berada didalam ruangan kamar ini. Ia menghampirinya, lalu memastikan kokoh.
Ia memandang Lee yang sudah tertidur pulas dengan tubuh meringkuk kedinginan.
Asih menghampiri pemuda itu, lalu dengan mudahnya membopong tubuh Lee dan meletakkannya diatas meja. Lalu dengan cepat Ia juga naik keatas meja, membaringkan tubuhnya disisi Lee, Lalu kemudian memeluk tubuh Lee yang kedinginan, Ia mencoba memberi kehangatan pada tubuh pemuda itu, karena dalam suhu yang terlalu dingin, tubuh seseorang dapat mengalami mati rasa dan membahayakan keselamatan jiwanya.