
Bromo memandang tubuh Djna yang berjalan menuju kearah dapur. "kau begitu anggun Dinda. akupun merasakan kerinduan sama denganmu." Bromo berguman dalam hatinya.
Sesaat Ia sedang memandangi tubuh kekasih hatinya. Terdengar suara panggilan ghaib dari arah istana.
"Baginda Prabu yang mulia.. Ini Sulira memanggilmu.. Pulanglah Baginda.. Istana sedang dalam bahaya.
"Sulira...aku mendengarmu. Baiklah.. Dengarkan perintahku.! Atur semua penjagaan didepan gerbang pertahanan., buat pagar seluruh tentara, pastikan mereka tidak dapat menerobos masuk kedalam istana. Siapkan seluruh anak panah api. Halau siapa saja yang mengkacau, saya akan segera kesana." ucap Bromo, lalu mengakhiri kalimatnya.
Ia ingin menunggu kekasih hatinya untuk slesai shalat dahulu. Ia menjelma menjadi pria tampan, lalu memasuki kamar sang kekasih hatinya. Ia melihat Dina sudah pada rakaat kedua, tinggal dua rakaat lagi, maka selesailah ibadah shalat Dina.
"Baginda Prabu.. Tolong dengarkan saya.. Sulira memanggilmu yang Mulia." ucap Sulira dalam panggilan ghaibnya.
"Iya.. Bicaralah, aku mendengarkanmu.." jawab Bromo dengan tenang, sembari memejamkan matanya.
"Yang Mulia, Baginda Prabu.. pasukan Banaspati juga ikut menyerang dengan tujuan yang sama. Mereka menuntut balas karena Ratu Dina telah mekukai salah satu keluarganya, dan juga Ananda Asih yang telah melukai salah satu keluarga merwka dialam dunia." ucap Sulira, mwmberikan informasi yang sangat genting.
"Baiklah.. saya akan segera kesana." jawab Bromo singkat, lalu mengakhiri percakapan ghaibnya.
Ia memandang Dina yang sudah mencapai 3 rakaat shalatnya. "Maafkan Kanda sayang, Semua Kanda lakukan untuk menyelamatkan kalian. Jika urusan Kanda sudah selesai, Kanda janji akan menemuimu.." Ucap Bromo lalu menghilang.
Dan bersamaan dengan menghilangnya Bromo menghilang, Dina sudah mengakhiri shalatnya dan mengucapkan salam.
🐊🐊🐊🐊🐊🐊
Bromo hadir di Istana, lalu menuju gerbang pertahanan. Ia memantau keadaan yang begitu riuh dari atas gerbang setinggi 15 meter.
Tampak Risti dan Banaspati sedang membentuk barisan dan siap menyerang. Semua membawa misi balas dendam karena keluarga mereka yang terluka parah.
Ristih menuntuk balas karena Asih telah melukai Rekso anaknya saat dihutan dunia.
Begitu juga dengan Banaspati Api yang menuntut balas karena Asih dan juga Dina telah melukai dan ikut campur urusan keluarga mereka didunia.
Bromo memandangnya dengan penuh kesahajaan, dan mencoba tenang.
"siapkan panah api. Perintahkan kepada pasukanmu untuk bersiap-siap." titah Bromo kepada sulira sang panglima perang.
Sulira menganggukkan kepalanya pertanda mengerti. Lalu memberikan aba-aba persiapan penyerangan kepada para musuhnyang sudah datang berbondong-bondong.
"Haiii.. Sadewo.. Turunlah kau..hadapi aku dengan kesatria, jangan bersembunyi dibalik sana.!" tantang Ristih dengan sangat kesal.
Bromo hanya menatap dengan senyum tenangnya.
Banaspati yang sedari tadi menatap penuh geram juga merasa geram. "heeei Sadewo.. Turunlah kau..!! Jangan menjadi seorang pengecut.!!" teriak pimpinan Banaspati dengan geram dan meremehkan.
"seraaang..!!" perintah Banaspati kepada pasukannya untuk menyerang gerbang Istana.
Maka pasukannya mulai berputar-putar layaknya gasing yang mengudara, lalu dengan suara desingan yang sangat bising menderu menyerbu gerbang istana.
"seraaaang.." seru Sulira dengan lantang. Maka seketika pasukan Bromo dan Sulira menghujani dengan panah berapi.
Wuuuusssshhh...
Suara desingan anak panah yang begitu sangat kerasa menderu menghujani kearah pasukan Banaspati yang sedang melalukan penyerangan..
Setiap banaspati yang terkena hujan panah api akan melengking dengan sangat keras. Lalu nenghilang. Mereka yang selamat mengejar pasukan Bromo, laku menggigitnya dan menghisap energi mereka sehingga banaspati menjadi kuat.
Pasukan Ristih saat ini masih hanya menjadi penonton. Mereka akan menyerang jika pasukan Bromo nanti sudah lelah dan lemah..
Melihat pasukannya yang tampak kewalahan, Bromo turun melayang dari atas gerbang. Ia merentangkan kedua tangannya, lalu telapak kaki kanan ditekuk ke betis kaki kirinya. Ia melayang layaknya seperti seekor elang.
Sun amatek ajiku waringin sungsang wayahipun tumuruna, ngaubi awak mami, tur tinuting bala, pinacak suji kembar, pipitu jajar maripit, asri yen siyang, menyeramkan kalane
~mantranya cuma segini saja, karena bahaya jika diamalkan.~
Bromo menghunuskan pedangnya keatas kepala, lalu memutar-mutar pedanngnya, da Ia memutarkan tubuhnya dengan pedang sejajara pinngganya, Ia menebaskan pedangnya kearah musuh yang menyerang dengan sangat brutal.
Seketika sebuah cahaya menyambar pedang dan memendarkan cahayanya keseluruh pa musuhmya. Seketika para bamaspati itu tersambar oleh pendaran cahaya pedang milik Bromo.
Para Banaspati menjerit dan melengking kesakitan. Bagi yang tersapu ajian waringin sungsang, seketika langsung roboh dan menghilang.
Kini tinggal panglima perang sang Banaspati. Ia berdiri menatap kokoh menantang Bromo.
Sebuah godam yang dengan api yang terus menyala berada digenggaman tangan kanan panglima perang Banaspati. Ia mengayunkan godam Api tersebut, lalu berputar menghantam kearah tubuh Bromo.
Bromo merudukkan tubuhnya kebelekang menghindari serangan sang Banaspati, lalu dengan gerakan cepat, Bromo menebaskan pedangnya kearah pinggang Banaspati.
Iblis itu meraung kesakitan, lalu terhuyung dan ambrukruk. Ia berusahan bangkit, namun tak mampu, lalu memilih menghilang.
Di sudut Sana, Risti menatap penuh cibiran. Lalu Ia memberikan tepuk tangan sebagai bentuk ejekan kepada Bromo.
Bromo berbalik menatapnya penuh dengan amarah.
"mengapa kau selalu mencari masalah padaku?!" tanya Bromo dengan tatapan menghujam.
"anakmu Asih, telah melukai anakku Rekso.!" jawab Ristih dengan geram.
Bromo mendenguskan nafasnya.
"apakah segitu manjanya anak lelakimu? Sehingga menghadapi anakku yang seorang gadis, harus terys mengadu kepada ibunya? Bahkan sampai membawa pasukan yang sangat banyak..!" ucap Bromo penuh penekanan.
Ssssssssstttttss...
Ristih mendesis dan menggerak-gerakan kepalanya. "aku bisa saja berdamai denganmu, asalkan kau menemaniku malam ini.." ucap Ristih sembari menatap penuh hasrat liar.
"Heh... Aku tidak suka dengan penawaran. Karena kau sudah datang dengan membawa pasukanmu, maka aku melayanimu di medan perang, bukan diatas ranjang..!" ucap Bromo, dengan tatapan dingin sembari bersiap untuk menyerang.
Ristih tersenyum sinis. "baiklah.. Karena kau menolakku, maka jangan menyesal, jika aku mengirimkan pasukanku untuk menyerang warga desa ditempat istrimu tinggal.
Satu gigitan kemarin sebagi permulaan, jika anak manusia itu adalah musuhku untuk selamanya, karena Ia telah merebutmu dariku.." ucap Ristih dengan geram.
"aku bukan milikmu, dan tidak akan pernah terjadi, maka menjauhlah dari kehidupanku dan juga istriku, jika saja kau sampai menyentuhnya, maka kupastikan kau akan kulenyapkan untuk selamanya." ucap Bromo dengan nada penuh ancaman.
"hahahaha... Kita saja sayang.. Siapa yang akan menang.." jawab Ristih dengan tatapan liarnya.
"seraaang..!!" perintah Ristih dengan sangat lantang..
Lalu pasukan siluman ular menyerang para pasukan Bromo yang hanya tinggal beberapa saja. Taktik Ristih yang licik membuat pasukan Bromo kewalahan.
Melihat hal Itu, Bromo membantu para tentaranya untuk membinasakan pasukan Ristih. Ia menyabetkan pedangnya pada pasukan musuh dengan sangat cepat dan tepat.
Setiap sabetan pedang itu akan meninggalkan kyka menganga dan menghitam, lalu merobohkan musuhnya.
Setelah pasukan Ristih tinggal beberapa saja, maka Bromo menghunuskan pedangnya kearah Ristih. Dengan liciknya Ristih menghilang dan lenyap begitu.
"Siaaall..!! Haah.. Dinda..?!" lalu Bromo menghilang, menuju ke alam dunia dan akan menemui Dina, Ia merasakan jika ancaman Ristih akan terjadi, dan tentunya Dina dalam kondisi yang berbahaya.
~bersambung...🤧🤧🤧