
Robert mengerang kesakitan saat ingin bangkit dari ranjangnya.
Lukas mencoba menenangkannya.. "Tenanglah, Kak.. Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Lukas dengan penasaran.
Robert tak menggubris ucapan Lukas, Ia menyingkap selimut yang menutupi kakinya.
"Aaaaarrggghhh..." Robert menggeram dengan kesal. "Siaall...!!" makinya dengan nada penuh emosi.
"Temukan Wanita itu, Aku akan mencincangnya" ucap Robert dengan penuh emosi.
"Siapa yang Kakak Maksud? Apakah wanita yang sama saat itu?" tanya Lukas.
Robert menatap pada Lukas "Iya.. Siapa lagi kalau bukan dia?!" ucap Robert dengan kesal.
Lukas menganggukkan kepalanya "Akan aku kirimkan pembunuh bayaran yang sangat profesional" jawab Lukas dengan penuh keyakinan.
Lukas beranjak bangkit dari duduknya dan sudah berada diambang pintu "Lukas.."
"Ya.."
"Bawa Dia hidup-hidup" ucap Robert dengan lirih.
"Bulankah Kau menginginkannya untuk dicincang?" tanya Lukas balik.
"Aku yang akan mencincangnya"
"Dan Aku tak mempercayaimu, karena Kau sedang jatuh cinta padanya" jawab Lukas dengam cibiran.
Robert terperangah mendengar ucapan Lukas "Kau..!!" ucap Robert tercekat ditenggorokannya, sebab Lukas sudah menutup pintu ruangan tersebut.
Robert memukul ranjang dengan kuat dan Ia tak mengerti dengan apa yang sedang dirasakannya saat ini.
Sementara itu, Lukas menelefon para pembunuh bayaran untuk mencari keberadaan Asih dan juga Edy.
"Habisi dan jangan meninggalkan jejak apapun" titah Lukas kepada pembunuh bayaran yang profesional. Lukas tak ingin membiarkan Asih hidup, sebab ini akan berpengaruh buruk pada Robert yang tampaknya mulai lemah hati karena wanita tersebut.
Selama ini prinsip mereka ialah tidak adanya rasa jatuh cinta pada wanita manapun, karena wanita membuat mereka lemah dan tidak stabil.
Lukas melihat jika kakaknya mulai lemah dan ini sangat membahayakan bagi bisnis gelap yang kini sudah mereka kuasai.
Lagipula Asih bukanlah wanita yang dapat dianggap remeh. Maka sebab itu, Lukas harus membinasakan Asih sampai ke akarnya.
Disisi lain, Wei menghempaskan sebuah guci yang berada jauh disudut ruangan.
Kedua bola matanya menghitam dengan sangat mengerikan.
Seorang bodyguard menjadi sasaran amukannya saat Ia mengangkat bodyguard itu dengan hanya menggerakkan jemarinya dari jarak 5 meter dan menghempaskannya ke dinding, membuat sang bodyguard mengerang kesakitan dengan darah yang mengalir dari sudut bibirnya.
Wei tak menduga jika orang kirimannya kini musnah ditangan Asih dan Edy.
Pria bertubuh kekar itu membuat suasana sangat mencekam. Para bodyguard yang kini berkumpul diruangan tersebut ketakutan akan kemarahan Wei.
Sesaat Wei menggerakan jemarinya, lalu sebuah asap hitam bergumpal dan membentuk sesuatu yang mirip dengan ular kobra dengan meliuk-liuk diudara.
Wei menggerakkan kedua tangannya dengan jemari yang meliuk dan membuat asap Itu membentuk bola asap hitam motif ular cobra, lalu Ia mendorongnya kedepan dan menyasar pada seorang bodyguard yang saat ini berdiri tegak dengan pandangan terperangah.
Bola asap dengan bentuk ular kobra hitam itu seketika masuk kedalam mulutnya dan dengan cepat merasuk kedalam tubuhnya melakukan penyatuan dengan cepat dan membuat tubuh sang bodyguard bergetar hebat dan melayang diudara.
Setelah penyatuan berhasil, tubuh sang bodyguard kembali mendarat dilantai dengan tubuh tegak menatap pada Wei.
Wei melemparkan sebuah katana dengan gerakan cepat dan membuat sang bodyguard itu menangkap katana dengan cepat dan bersiaga.
"Pergilah.. sebarkan racun ini pada pusat kota yang ramai dikunjungi orang, jangan pernah kembali sebelum membawa hasil yang aku inginkan" Titah Wei dengan nada perintah.
Bodyguard itu merundukkan kepalanya dan segera melesat dengan cepat menghilang.
Sementara itu Edy dan Asih masih berada diatas dahan untuk beristirahat. Setelah menyalurkan tenaga dalamnya, kini Edy sudah mulai kembali dapat merasakan tenaganya pulih.
Sang bodyguard merubah wujudnya menjadi seorang pria yang tampak seperti turis dan Ia mulai menyebarkan racun ular cobra dengan kadar yang sudah ditentukan.
Ia melemparkan sebuah tabung kecil transfaran disebuah bandara dan seketika asap hitam berisi racun ular tersebut menyebar melalui udara dan seketika membuat orang-orang yang menghirupnya menjadi kejang-kejang dan berbuih.
Lalu Mutan itu melesat dan menuju ke stasiun, Mall, diskotik dan tempat umum lainnya.
Seketika suasana menjadi penuh kepanikan. Banyak korban berjatuhan dan rumah sakit menjadi penuh sesak oleh pasien yang terkena serangan racun misterius yang belum diketahui penyebabnya.
rumah sakit dikota-kota mulai dipadati oleh pasien yang yerus berdatangan dan tak terkendali.
Sehingga pihak rumah sakit membangun tenda darurat yang dibantu oleh kesatuan TNI untuk turut serta menyumbangkan bantuan tenda darurat sebagai tempat menampung pasien yang tidak mendapatkan ruangan.
Pemerintah menerapkan aturan agar bandara, stasius dan pelabuhan segera ditutup, dan ditiadakan aktivitas yang signifikan.
Para warga dilakukan isolasi mandiri dan dilarang berkeliaran.
Suasana kota bagaikan kota mati tak berpenghuni. Sepi dan mencekam.
Sosok bodyguard itu kembali kepada Wei dan melaporkan apa yang telah Ia kerjakan.
Seketika Wei merasa senang menatap layar televisi yang memperlihatkan betapa paniknya para tenaga medis yang seoalah kewalahan untuk melakukan perawatan.
Tak jarang pasien yang memiliki kondisi imun sangat lemah akan segera mengalami kematian dengan cepat, sebab racun yang menyebar akan membuat mereka merasakan sakit yang sangat luar biasa dan membawa mereka pada tahap yang tak dapat lagi tertolong.
Para ilmuwan merasa bingung saat melakukan observasi tentang racun yang diambil dari sample darah dan buih pasien.
Setelah melakukan uji coba laboratorium, jenis racun tidak dikenal dan sangat baru.
Mereka mencoba menciptakan penawarnya dan diuji coba kepada pasien yang tedampak racun tersebut, namun hasilnya membuat pasien semakin kristis.
Mereka semakin panik dan terus berusaha untuk menciptakan penawarnya, namun tak secepat dan semudah yang diharapkan.
"Tuan.. Saya sudah melaksanakan tugas saya dengan baik, semoga tuan merasa puas dengan apa yang telah saya perbuat" ucap Sang bodyguard sembari merundukkan kepalanya dengan tangan kanan didepan dada.
"Hahahaaha.." Wei tertawa dengan sangat mengerikan. Ia sudah membayangkan jika kekayaan berlimpah dan kekuasaan akan segera berada didepan matanya.
"Sebentar lagi Aku akan menguasai dunia.. Dimana semua negara didunia akan memberikan uang dan harga diri mereka kepadaku" ucap Wei dengan nada penuh kemenangan.
"Hanya aku yang dapat menciptakan penawarnya.. Hanya Aku.. Dan tidak satupun yang dapat menghalangi kekuasaan dan kekuatannku!!" ucap Wei dengan seringai yang tampak begitu sangat penuh kelicikan.
"Laku kemana lagi hamba akan menyebar luaskan racun ini, Tuan?" tanya sang bodyguard yang telah merubah dirinya menjadi menajdi seorang Mutan.
Wei menatap kepada Mutan tersebut. "Sebarkan ke sekolah, pasar tradisional, dan Raratakan ke kekotakan besar dan buat semakin kepanikan yang akan mendorong pemerintah agar segera mengambil tindakan yang tepat, yaitu dengan penaklukan tanpa berperang.