
Lee masih berusaha untuk berdiri dengan tubuh penuh luka juga lemah karena belum makan seharian.
Bara mengerti jika Lee tak sanggup untuk naik kepunggungnya, maka Ia memilih untuk merubah possisinya dengan rebahan.
Lalu Lee meletakkan tubuhnya diatas tubuh Bara dengan bertelungkup dan memegang leher kuda itu agar tidak terjatuh.
Bara membawanya kesebuah telaga air jernih, Ia menurunkan Lee disana, memberi pemuda itu minum dan menyiramkan air kewajah sang pemuda.
Lee merangkak mendekati telaga, lalu meminum airnya hingga puas dan menelentangkan tubuhnya menatap mentari.
Entah bagaimana caranya, tiba-tiba Bara sudah membawa seekor ikan Mas yang masih hidup dan menggelepar.
Lee memandang ikan itu, setelah meminum air telaga, kini Ia berangsur sedikit membaik dan tidak begitu lemah.
Ia mencoba bangkit dan meraih ikan Mas yang menggelepar diatas rerumputan, lalu mencoba membersihkannya menggunakan katananya.
Setelah selesai, Ia membersihkannya dan membuat api dari sebuah pecahan botol kaca yang Ia dapat dari pinggir telaga, dengan memanfaatkan sinar mentari.
Lee memanggang ikan tersebut. Sesaat ingatannya melayang pada masa dimana Ia dan Asih pernah terjebak disebuah hutan bakau karena menghindari kejaran pasukan Wei yang telah membuat mereka harus bermalam dihutan.
Bayangan Asih yang saat itu sedang berendam didalam aliran sungai, dan tiba-tiba melemparkan ikan Mas kepadanya membuatnya kembali mengulik masa lalunya.
Namun Ia menyadari, jika Asih kini bukan miliknya, sebab wanita itu sudah dimiliki oleh seorang pria, dan Ia tak ingin menjadi pecundang yang merebut milik orang lain, terlebih lagi wanita itu sudah memiliki ikatan pernikahan.
Sesaat aroma ikan bakar itu terasa begitu menggoda diindera penciumannya. Ia segera mengangkatnya, lalu mematikan api sisa pembakaran, karena takut akan merembet kemana-mana dan menyebabkan kebakaran hutan.
Lee mencubit daging ikan tersebut, lalu mengunyahnya, terasa sangat manis. Lalu Lee menawarkannya kepada Bara, namun kuda itu menggelengkan kepalanya, dan Ia memperlihatkan kepada Lee jika Ia sedang mengunyah rumput
Lee mengunyah dengan cepat. Ia tidak bisa berlama-lama, sebab Ia harus membantu Edy untuk menemukan batu mustika yang menjadi sumber petaka tersebut.
Lee telah menghabiskan daging ikan tersebut, dan kini Ia sudah lebih baik dari sebelumnya.
"Kita akan bergerak" ucap Lee kepada Bara yang masih asyik merumput.
Bara menganggukkan kepalanya, lalu posisi duduk dan meminta Lee segera naik keatas punggungnya.
Lee naik keatas punggung bara, lalu kuda gagah itu mencoba untuk berdiri tegak, dan mengibaskan bulu kepala serta ekornya lalu meringkik keras, pertanda Ia telah siap.
Lee menarik tali kekang kuda tersebut, dan hewan gagah itu mulai berlari menyusuri hutan ditepi pantai yang mengikuti arah dimana mereka akan mnemukan Edy.
Sepanjang perjalanan, tampak suasana sangat sepi, sebab warga masih dalam isolasi mandiri. Jikapun masih ada yang bekerja, mereka adalah pekerja instansi pemerintah dan swasta yang masih dinyatakan negatif tidak terkena infeksi racun tersebut.
Ditengah pejalanan, tiba-tiba mereka dihentikan oleh sekawanan perampok yang biasa beroperasi ditempat tersebut. Dimana tempat itu dulunya menjadi tempat pemintasan para wisatawan yang akan berkunjung kesebuah telaga ataupun pantai pasir putih.
Namun setelah wabah menyebar, jarang ada turis yang datang bahkan hampir tidak ada.
Setelah melihat kedatangan Lee dari jauh, mereka tergiur melihat Bara sebagai barang yang akan dirampok.
Sebab jika dilihat dari perawakannya, kuda itu sangat gagah dan juga bertubuh gemuk dan dipastikan jika dijual kepada kolektor akan menjadi sangat mahal.
Lee menarik kekang kudanya, saat bebepara pria menghadangnya dengan wajah sangar dan juga tubuh kekar.
Para pria yang berjumlah 6 orang itu tertawa mengejek, apalagi dengan postur tubuh Lee yang tampak tak begitu gagah, dengan kulit putih yang memperlihatkan jika Lee cocok menjadi menjadi seorang personil K-Pop dibanding penunggang kuda yang berkeliaran ditengah hutan.
"Sudahlah.. Jangan banyak bicara!! Cepat serahkan juda itu, jika Kau masih ingin tetap hidup.
Lee memandang kepada ke enam pria yang kini berjalan mengelilinya.
"Jika Aku tidak mau?" tanya Lee dengan nada menantang.
Keenam pria itu kembali tertawa dengan sangat keras.
"Itu tandanya, Kau mencari mati..!!" ucap salah seorang yang berwajah sangar, dan rahang wajah yang tampak tegas, dipastikan itu adalah peimpinan mereka.
Lee menghela nafasnya, dan ujung matanya melirik ke arah enam pria tersebut.
Tanpa diduga, seorang diantaranya menyerang Lee dari arah belakang dengan menggunakan senjata tajam dan hal itu membuat Bara dengan sigap menendangkan kaki belakangnya kepada pria itu hingga membuatnya terjengkang kebelakang dan terlempar beberapa meter.
Dari sudut bibirnya mengeluarkan cairan dah kental, sebab Bara menendangnya tepat didada pria itu.
Seketika hal tersebut membuat ke lima rekannya membeliakkan mata dan menatap kepada Bara yang tampak terlihat sangat terlatih, dan hal ini membuat mereka sangat menginginkan kuda tersebut.
Lalu dengan satu komando, Mereka menyerang Lee dan membuat Lee kembali menyerang dan mencabut katananya.
Lee melompat dari atas punggung Bara, lalu membalas serangan yang dilancarkan oleh kelima pria tersebut.
Keahliannya bermain pedang setelah beberapa hari bersama Edy mulai membaik.
Ia mencoba melumpuhkan satu persatu para perampok yang telah memperlambat jalannya untuk ke markas Wei.
Lee berhasil melumpuhkan satu dari kelimanya. Melihat hal tersebut, Bara ikut membantu dengan menendang salah seorang perampok hingga jatuh terjerembab dan menginjak betis perampok itu dengan satu kaki yang membuat pria itu meringis kesakitan dan tak dapat menggerakkan kakinya.
Tiga orang tersisa membuat Lee harus bergerak cepat dan segera melumpuhkannya.
Salah seorang diantaranya berhasil melukai Punggung Lee, yang membuat Lee meringis menahan goresan ujung senjata tajam dari perampok tersebut dan membuat darah mengalir dari luka tersebut.
Tak ada waktu untuk meratapi lukanya, Lee mencoba memberikan serangan balik kepada ketiga para perampok tersebut.
Lee menggerakan pedangnya dengan cepat dan ujung pedangnya mengenai salah satu perampok tersebut tepat dibagian perutnya, sehingga membuat perampok itu mengerang kesakitan, dan memegangi perutnya, lalu Lee melayangkan tendangannya kepada pria itu hingga jatuh terlentang.
Lalu seorang menyerang dari arah belakang, dan Lee menghunuskan ujung katananya kearah belakang, sehingga menusuk dada lawannya dan membuat pria yang memyerangnya terdiam karena katana itu menembus jantungnya, dan Lee menendangkan kaki kanannya diperut lawannya sehingga katana itu tercabut dan pria itu ambruk ditanah.
Tersisa satu yang merupakan pimpinanannya.
Tubuh tinggi besar dan juga berotot membuat Lee hanya setinggi pundaknya saja.
pria itu mengepalkan tinjunya, lalu melayangkannya kepada Lee dan hampir saja menegenai wajah Lee.
Dengan cepat Lee merundukkan kepalanya, dan dengan gerakan menggunting kaki lawannya, Lee menjegal kaki lawan tersebut hingga jatuh terjerambab.