Buhul ghaib

Buhul ghaib
Seperti Pernah



Suara teriakan dari Jodi dan Sani menggema dari bawah tepi aliran sungai.


"Bos... Jack dan Black sekarat, sepertinya ada yang menyerang mereka. Kami butuh bantuan untuk mengangkat mereka" teriak Sani dari dari bawah jurang yang tidak terlalu dalam tersebut.


Sementara itu, suara derap langkah kaki kuda semakin dekat, dan Orang yang mereka panggil Bos itu terpecah perhatiannya antara ingin melihat sipenunggang kuda atau menyahuti panggilan Sani.


"Bos... katakan pada Dori untuk membawa golok, kami ingin membuat tandu" teriak Sani kembali dengan suara yang lebih keras.


Bersamaan dengan itu, suara derap langkah kaki kuda itu melintasi lokasi mereka berteduh, dan saat pria yang dipanggil Bos itu menoleh sipenunggang Kuda sudah melintasinya, hanya rambut lurus panjang sebahunya saja yang berkibar memunggunginya, bersama kencangnya lari kuda tersebut.


"Wah... Cantik sekali gadis itu." ucap Dori meluncur begitu saja.


Pria yang dipanggil Bos tersebut memandangi punggung wanita berkuda itu, hingga menghilang ditelan hutan belantara.


"Apakah Kau melihat wajahnya?" tanya Sang Big Bos dengan penuh penasaran.


"Ya... Gadis itu sangat cantik, hampir mirip dengan gadis yang sedang Kita kejar Bos" jawab Dori dengan yakin.


"Ada kehidupan diatas bukit sana, berarti Aku tidak salah dalam menebak" ucap Sang Big Bos dengan keyakinannya.


"Bawa golok itu, bantu Sani dan Jodi untuk membuat tandu" titahnya kepada bawahannya.


Dori menganggukkan kepalanya, lalu mengambil sebilah golok dan menuruni lereng bukit yang tidak terlalu dalam, untuk menyusul Sani dan Jodi.


Disisi lain, Rocky tampak begitu lemah. Pria yang menjadi pimpinan kelompok itu menghampirinya. Lalu mengajaknya berbicara "Apa yang menyebabkan Kamu sampai seperti ini?" tanya Pria pimpinan itu.


"Aku melihat makhluk mengerikan yang berupa bola api" ucap Rocky dengan suara lemah.


Pria itu mengernyitkan keningnya, Ia merasa bingung dengan apa yang dijelaskan oleh bawahanya itu.


"Kalau begitu, beristirahatlah" ucap Pria pimpinan kelompok itu.


Rocky menganggukkan kepalanya, lalu berbaring miring.


Kemudian pimpinannya menyodorkan sepotong daging biawak kepadanya "Makanlah, agar tenagamu kembali pulih" titahnya dengan nada perintah.


Lalu Rocky meraihnya, mengunyah daging itu dengan sangat lamban.


Tak berselang lama, Sani dan Jodi membawa tubuh Jack dengan tandu menggunakan bilah bambu.


Mereka tampak kesusahan, karena tubuh rekannya itu sangat kekar, dan bobotnya lumayan berat.


Mereka meletakkan tubuh Jack disisi Rocky yang juga terbaring lemah, kini semakin lama, personil mereka berkurang satu persatu.


Lalu Sani dan Jodi kembali turun ke lembah, dan menjemput tubuh black yang juga terkapar tak berdaya.


Setelah mereka berhasil membawa kedua rekannya naik keatas, maka Sang Big Bos memeriksa keduanya.


Tampak luka seperti hangus dengan bekas lima jari milik wanita dibagian perut black, dan dibagian punggung milik jack.


"Siapa yang melakukannya dan mengapa ini bisa terjadi" tanya Pimpinan mereka dengan penuh selidik.


"Maafkan Kami Bos, Kami tidak dapat menahan ketika melihat wanita sangat cantik mandi disungai sendirian." ucap Black dengan meringis menahan sakit.


"Tetapi kecantikannya membuat Kami tidak waspada, jika Ia berbahaya" Jack menimpali.


"Lalu dengan apa wanita itu menghajar Kalian?" tanya Pimpinan mereka dengan sangat penasaran.


"Hanya dengan telapak tangannya saja" Black berusaha menjawab jujur dengan suara yang tertahan.


"Apakah wanita itu cantik dan berambut lurus panajang?" tanya Pimpinan itu lagi dengan tak sabar.


Kedua bawahannya itu mengangguk dengan lemah, membenarkan ucapan pimpinannnya.


"Apakah wanita berkuda itu? Namun mengapa Ia memiliki tenaga yang sangat luar biasa?" sang Big Bos mulai penasaran, gentar, namun juga tetap ingin melanjutkan pencariannya.


"Sebaiknya Kita bermalam semalam disini, Kita tunggu kalian pulih dulu baru Kita lanjutkan perjalanan kembali" Titahnya kepada para bawahannya.


"Sanu dan Doru, Cari buah nenas atau daun binahong disekitar hutan, kita akan mengompres luka lebam dari Jack dan Black" titah Sang Bos yang langsung dilaksanakan keduanya.


Sani dan Dori berjalan menyusuri hutan, mencari buah nenas ataupun daun binahong yang diminta oleh pimpinan mereka.


Setelah memakan waktu yang cukup lama, akhirnya mereka menemukan bahan yang diminta.


Lalu keduanya membawa kepada pimpinan mereka. Haluskan bahan itu, berikan daun binahong itu agar ditelan kepada Jack dan black, berikan juga kepada Rokcy. Titahnya lagi" lalu keduanya menuruti perintah bos mereka.


Setelah memberikan ramuan tersebut, kini giliran Sani yang menghaluskan buah nenas tersebut, lalu menempelkan pada luka rekannya itu. Terasa sangat perih, namun semua dengan terpaksa, untuk melancarkan peredaran darah yang membeku.


Setelah menyelesaikan perobatan seadanya, mereka mencoba beristirahat.


"Kalian tidurlah, karena nanti malam akan berjaga" titah Sang Bos kepada Sani dan Jodi. Lalu keduanya mengangguk dan mulai beristirahat, untuk tidur agar dapat berjaga malam.


Kini tinggal Sang pimpinan bersama Dori yang masih bersiaga dan berjaga.


"Dori, Apakah wanita yang Kau lihat tadi memiliki hidung mancung?" tanyanya dengan lirih.


Meskipun hanya melihat punggung wanita itu, namun Ia merasakan jika Ia pernah melihatnya, namun entah dimana, Ia sudah sangat lupa.


"Sangat cantik, Bos. Aku yakin Dia masih perawan, jika dilihat dari postur tubuhnya" ucap Dori yakin.


"Bagaimana jika Dia yang melakukan pembunuhan misterius terhadap Roby dan juga melukai Jack dan Black?" Tanya Pimpinan itu dengan nada yang teramat penasaran.


Seketika Dori merasa bergidik "Cantik tapi beracun ya, Bos" jawab Dori dengan nada penuh kengerian.


Pemuda itu seketika merinding mengingat kematian Roby yang mana jasadnya tak ditemukan hingga saat ini.


"Pantas saja mereka bertiga terpedaya, Bos. Wanita itu sangat cantik luar biasa" ungkap Dori dengan jujur.


Namun sang Big Bos tampak terdiam, Ia seperti sedang memikirkan sesuatu yang tak mampu diselami.


"Sepertinya Aku mengenali bukit ini, namun entah kapan Aku pernah berada disini. Aku seperti the javu" ungkap Sang Pimpinan dengan nada lirih.


Dori memandang sang Big Bos, yang tampak sendu, tidak seperti biasanya, bersikap Kejam dan sadis.


"Ada seorang gadis yang seperti Kau ucapkan ciri-cirinya, namun Ia hanya seorang gadis lemah dan lugu, bukan seperti gadis yang menakutkan" ucapnya dengan lirih, mencoba menggali masa lalunya.


Ia menarik nafasnya dengan berat, lalu menghelanya dengan kasar.


Ia tidak tahu bagaimana nasib gadis yang dulu pernah dinodainya itu. 21 tanun berlalu, jikapun sudah melahirkan, tentu tubuhnya akan melar seperti wanita pada umumnya.


Namun, entah mengapa Ia merasakan ingin bertemu dengan gadis itu, meskipun hal yang sangat mustahil.


Sesaat lamunannya buyar, saat kedua bawahannya terbatuk, lalu memuntahkan darah kental hitam.


Dori lalu menghampirinya,dan memberikan minum kepada kedua rekannya itu.


"Obat itu sedang bekerja, baguslah jika mereka dapat mengeluarkan pembekuan darah tersebut." ucap sang Big Bos kepada Dori " Biarkan mereka beristirahat, dan semoga mereka lekas kembali pulih." ucapnya dengan nada yang sedikit melemah.