Buhul ghaib

Buhul ghaib
Kepanikan



Kasim melintangkan kedua tangannya sidepan pintu untuk menghalangi Lastri agar tidak keluar.


Namun rasa bersalah karena menyepelekan ucapan menantunya membuatnya harus memberikan kabar ini kepada seluruh warga.


Lastri berjalan mundur beberapq langkah, lalu memutar tubuhnya kerarah belakang. Ia bergegas menuju pintu dapur untuk mencari jalan keluar dari sana.


Ia membuka pintu dapur dengan kasar.


Kreeeekk... Buuukk..


Lastri membuka dan dengan segera menutup kembali lagi pintu tersebut, lalu menguncinya dari luar.


"Lastri... Kembali.. Jangan nekad kamu.." ucap Kasim dengan kepanikan.


Lastri tak mengindahkan ucapan Kasim. Ia terus melangkah dengan tergesah-gesah. meskipun usianya sudah tidak muda lagi, namun rasa ingin segera memberitahu kepada warga membuat tenaganya bertambah tanpa diduga dan Ia sadari.


Ia masih mendengar suara teriakan Kasim yang memintanya untuk kemnali pulang. Ia menghadang dua orang warga yang akan melintas dihadapannya.


"Ada apa Umi..? Kelihatannya sangat panik sekali. ?" tanya seorang warga laki-laki, bernama Heri.


Lastri uang nafasnya masih tersengal berusaha mencoba menenangkannya. " tolong sampaikan kepada warga, jika ada serangan ular yang akan menyerang desa ini. Tolong saya.. Tolong sampaikan." ucap Lastri dengan tersengal.


Kedua pria itu saling pandang, lalu tersenyum mencibir.


"Umi ini ada-ada saja, mana mungkin ular menyerbu kita. Mereka hewan reptil tidak akan menyerang jika tidak merasa terancam. Lagipula mana mungkin ada serbuan ular, populasinya saja sudah hampir terancam punah." jawab sambut yusuf sembari terkekeh.


Lalu mereka meninggalkan Lastri dan melanjutkan perjalanan. "hei... Percaya pada saya.." teriak Lastri mencoba mencegah kedua pria itu.


namun mereka kembali terkekeh dan mengeleng-gelengkan kepalanya, seolah-olah mengatakan jika Lastri sedang berhalu.


Lalu Lastri menghampiri rumah warga sati persatu, dan memberikan kabar tersebut. "Umi.. Siapa yang memberi tahu Umi jika akan ada serbuan ular yang datang.?" tanya Jumi penasaran. Para emak-emak yang lain juga ikut berkumpul.


"emm.. Dari..dari menantu laki-laki saya.." jawab Lastri lirih.


seluruh orang yang hadir saling pandang, lalu tertawa mencibir.


"ya ampun.. Mi.. Menantu yang mana? Kapan Avah Kasim menikahkan Dina? Gak ada kan? Lagian Si Dina sejak pulang tidak kelihatan ada suaminya." jawab yang lain menimpali.


Seketika suasana menjadi riuh. Merwka menganggap Lastri sedang mengigau atau juga depresi. "kalau Umi capek, mending tidur Mi, daripada membuat keributan dan berita gak jelas." jawab emak-emak yang lain.


"mungkin ada baiknya kita mendengarkan ucapan Umi Lastri, karena selama ini Umi kan gak pernah berbohong.." ucap Rani yang sedari tadi hanya menjadi pendengar.


emak-emak yang lain memandang kearah Rani. "hei Ran, kalau kamu mau percaya ya percaya saja sendiri, jangan ngajak kita ngehalu berjamaah." ucap Susi dengan geram.


Rani mendenguskan nafasnya. "Ya sudah, soalnya saya kemarin digigit ular, dan yang menyembuhkan saya kan Dina, masa kalian lupa." jawab Rani, sembari bangkit dari tempatnya, lalu ingin pulang.


"sudah.. Mi.. Lebih baik kita pulang saja, benar tidkanya kita tunggu saja."ucap Rani dengan kesal, lalu melangkah pulang kerumah, yang mana rumahnya hanya 50 meter saja dari tempat mereka berkumpul lagi.


Lastri merasakan sangt sakit hati atas ucapan Desi yang menyinggung pernikahan Dina. Ia mengakui jika Dina tidak nikahkan oleh Kasim. Ia juga tidak mengetahui siapa besan atau kuarga dari pihak menantunya itu.


Lastri pulang kembali pulang sembari berjalan tertatih. Niatnya yang ingin memberi kabar waspada terhadap seluruh warga, ternyata mendapatkan balasan cibiran.


Lastri sudah memasuki halaman rumah, seketika Ia menghentikan langkahnya berdiri terpakau menatap apa yang dilihatnya. Dari segala arah, Ia melihat ular merayap hendak memasuki rumahnya, namun saat akan menyentuh setipa tiang atau anak tangga rumahnya, ular-ular iti berjatuhan bergelimpangan.


Lastri merasa seperti ada sebuah perisai ghaib yang melindungi rumahnya.


Lastri terperangah menatap semua kejadian itu, Namun, rasa takjub itu berubah menjadi sebuah kengerian, saat Ia melihat ula-ular itu mengarah kepadanya. Lalu semakain lama semakin mendekat, dan ular-ular seolah-olah meyebar keseluruh desa.


Ia menyaksikan warga desa yang berlarian dan berteriak-teriak meminta tolong saat ular-ular itu menyerang warga. Siapa saja yang terkena oleh gigitannya, akan berubah menjadi serpihan-serpihan debu.


Ular-ular itu menyerang dengan berkelompok, setiap korbanya sudah habis mereka akan menyerang yang lainnya. Seketika desa itu berubah menjadi riuh dan gaduh. Mereka bergegas mengunci pintu rumah mereka.


Lastri sudah seperti pasrah saat ular-ular itu sudah berada sangat dekat. Ia masih mendengar suara teriakan warga yang kesakitan meminta tolong, serta suara Kasim yang memanggil namanya.


Lastri me.jamkan matanya, Ia sudah pasrah, namun masih ingat untuk berdoa kepada Rabb-Nya agar dibero perlindungan. Karena sekuat-kuatnya iblis, tidak akan ada yamg mampu menandingin kekuatan Rabb...


Di satu sisi Ia juga masih ingin hidup. Lalu dallam kondisi yang sangat terdesak tersebut, Ia mengingat sebuah doa agar dihindarkan dari serangan bintang buas dan binatang berbisa. Seketika Ia membacanya penuh pengharapan, penuh penuh keyakinan, jika Rabb-Nya akan melindunginya.


"U’iidzu Bikalimaatillaahit Taammati Min Kulli Syaithaanin Wa Haammatin Wa Min Kulli ‘Ainin Laammatin)


“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari segala setan, binatang (buas/melata/berbisa), dan semua pandangan yang jahat (sihir/teluh,” (Hadits Riwayat Muslim)


~ini Hadist shahih ya reader, sumbernya terpercaya dan bukan asal-asalan karena periwayatnya adalah Bukhari-Muslim~


Seketika ular-ular tersebut melewatinya. Seolah-olah tidak melihatnya. Ular itu terus merayap menyerang warga desa yang lainnya.


Saat itu, ada seorang bocah berusia 6 tahun yang sedang bermain dipohon jambu dan memetik buahnya. Sepertinya Ia tidak menyadari akan hal yang terjadi. Ia sedang Asyik berada disana, tampak Desi yang tadi mencibirnya berteriak-teriak memanggil anaknya yang sedang berada dipohon jambu.


Desi berhasil menutup pintu rumahnya, namun melupakan anaknya yang masih diluar.


Seketika Lastri hanya dapat memandang terpaku terhadap apa yang dilihatnya. Dimana ular tersebut sudah akan merayap keatas pohon.


Bocah itu masih ayik dengan buah jambunya. Lastri membulatkan matanya. Ia membayangkan jika bocah itu akan menjadi serpihan-serpihan debu seperti korban yang yang lainnya.


Saat seekor ular sudah hampir sampai menyentuh kaki bocah tersebut, sebuah anak panah melesat mengenai kepala ular tersebut dan membuat ular itu berubah menjadi asap.


Tampak Dina berdiri diambang pintu, lalu membaca sebuah mantra ajian Bayu Bajra:


Putune Bayu Bajra yo aku, sing nduwe angkoso Nduwe langet, nduwe awang-awang. Aku mabur Koyo manuk, kemlebat koyo alap-alap. Mabur koyo bidho kang ora nate kesel. Mabur. Burrr. Maburku luwih banter tinimbang angen-angen.


Lalu Dina meluncur dari pintu, lalu berlari kencang dengan cepat dan seketika terbang melayang meringankan tubuhnya laksana angin.


Dengan cepat Dina meyambar tubuh bocah yang kini hampir saja menjadi korban serangan ular-ular tersebut.


Dina membawa sang bocah dalam pelukannya, menuju kearah rimah Abah, lalu sembari menyambar tubuh Umi Lastri, dan membawanya serta kedalam rumah.


Bersambung.. Makan siang dulu rek..🍚🍚🍲🍲🥘