Buhul ghaib

Buhul ghaib
Pemuda dan Gadis Yang Cantik yang pandai berkuda



Meskipun Asih seorang anak perempuan, Ia dididik sama seperti Chakra. menjadi wanita tangguh dan kuat.


kini Asih menginjak usia 18 tahun, sedangkan Chakra berusia 20 tahun.


 


"apakah ini semua akan berguna bagiku Romo..?" ucap Asih kepada Bromo yang saat ini sedang waktu beristirahat.


"apapun yang Romo ajarkan kepada kalian, kelak akan berguna untuk melindungi diri sendiri dan menolong orang lain." Jawab Bromo dengan tegas.


"lalu mengapa hanya kita yang tinggal dihutan ini Romo..?" ucap Chakra penasaran. karena selama ini mereka hanya tinggal berempat saja. itupun Romonya terkadang ada terkadang tidak.


sepertinya ada sesuatu yang dikerjakan Romonya tanpa sepengetahuan mereka. dan yang uniknya, mereka tidak mengetahui siapa Bromo sebenarnya.


mereka hanya mengetahui jika Bromo adalah orang yang menyayangi mereka dengan penuh cinta kasih.


Visual Asih yang kini sudah berusia 18 tahun.



Sebagai anak yang sangat patuh kepada Romonya, mereka bersungguh-sungguh mempelajari segala keahlian yang diajarkan oleh Romonya. termasuk mengenali segala jenis tumbuhan yang dapat mengobati luka dan penyakit.


mereka juga diajarkan baca tulis dan hitung saat malam tiba, yang mana diajarkan oleh ibundanya, Dina.


 


Bromo sengaja mengajari kedua anaknya berkuda dan memanah, karena itu adalah olahraga sunah yang diajarkan Baginda Rasulullah SAW.


karena diakhir zaman nanti, senjata nuklir itu tidak akan berguna sama sekali. maka senjata yang masih terus jaya adalah panah dan pedang.


lalu kemampuan berkuda dan memanah adalah salah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.


Visual Chakra saat memanah dan berkuda, Ia terlihat gagah dan pemberani.



kalau lagi kalem dan anteng sebenarnya chakra tampan koq.



kira-kira beginilah visual chakra🤭🤭 author susah cariin foto cowok yang dihutan🤭 banyaknya digedung dan ditempat tidur😇😇


 


pagi ini Bromo tidak berada di goa. Dina sedang sibuk memasak. Chakra mencari kayu bakar dihutan beserta berburu rusa atau kancil untuk bahan lauk pauk mereka.


lalu Asih membantu mencuci pakaian di sungai yang tak jauh dari goa, hanya dengan sedikit menuruni bukit Ia sudah sampai di tepi sungai. Ia mencuci sembari bersenandung lirih, duduk diatas bebatuan yang yang berukuran besar.


rambut bergelombang atau disebut ikal mayang, tergerai dengan indah. bulu mata nan lentik menambah ayunya wajah Asih.


kini Ia telah selesai mencuci. tanpa terasa matahari telah berada ditengah. tepat pada bayangan manusia. Ia berniat akan pulang. Ia membawa keranjang anyaman rotan dan akan meletakkannya . namun Ia merasakan ada sesuatu yang sedang mengintainya.


Asih mengambil beberapa butir batuan kecil disungai, lalu Ia mengambil satu kain panjang milik Dina, membasahinya kembali, lalu memasukkan beberapa butir batu yang diambilnya dari dasar sungai yang dangkal, dan membuat sebuah bundilan diujung kain. bundilan itu berukuran dua kepalan tangan orang dewasa.


dimana bundilan itu akan digunakannya sebagai senjata.


Asih mempersiapkan kuda-kuda pertahanan, menanti serangan lawan.


tangan kanan Asih memegang sisi kain bagian ujung satunnya dengan melilitkan sebagian ujung kain, sedangkan tangan kirinya memegang bundilan berisi batu kerikil.


matanya menatap awas setiap pertanda bahaya yang akan datang.


benar saja, saat Ia akan beranjak dari tempat. Ia merasakan sesuatu melesak datang menyerangnya seperti kecepatan kilat dari dalam air.


tak kalah cepat dari lawan, Ia melayangkan bundilan kearah lawan yang datang menyerangnya.


[Praaaaaakh..] suara hantaman bundilan batu bertabrakan dengan sesosok makhluk.


[gggrrrrrrh..] suara erangan berasal dari makhluk tersebut.


alangkah terkejutnya Asih, ketika melihat lawannya adalah wujud sebuah kepala terbang seorang laki-laki.


kepala itu berjanggut sepanjang satu meter berwarnah putih. mata besar bulat dengan manik bewarna putih , serta gigi taring yang panjang.


kepala tersebut berputar-putar mengelilingi Asih. dengan membuka mulutnya yang sangat lebar, makhluk itu ingin menyerang Asih kembali.


dengan gerakan memiringkan tubuhnya kesamping kanan, menghindari serangan lawannya, sembari tangannya mengayunkan bundilan tersebut dan mengenai telak diwajah makhluk menyeramkan itu.


seketika terdengar sayup-sayup suara lantunan adzan dzuhur dari desa dikaki bukit. seketika kepala itu menghilang.


 


Malam telah tiba, mereka baru saja melaksanakan shalat Isya. lalu makan bersama.


saat mereka sedang asyik menikmati makan malam tiba diluar goa terdengar suara dentuman yang sangat kuat.


[Dhuuuuuuummmm...]


seketika mereka menghentikan makan malamnya. Asih menangkap signal negatif. lalu Ia mengambil busur panah dan anak panahan serta menyarungkannya dipundaknya secara melintang.


serta menyelipkan pedang dipinggangnya beserta sarungnya.


hal serupa dilakukan oleh Chakra. "ibu tetap berada di Goa, biar Chakra dan Asih yang membereskannya.


Dina hanya menuruti ucapan mereka. Arini yang sedari tadi mendekam tertidur, tersentak dari tidurnya lalu ikut bersiap.


mereka berlari ke ambang pintu goa. di luar sana terlihat kepala terbang. ada yang berupa seperti bola api gulungan air dan bola tanah.


mereka semua terperangah dengan penampakan yang mereka lihat. Asih terperangah karena salah satu kepala tersebut Ia kenali. ya.. kepala itu yang menyerangnya siang tadi.


"sialan..!! dia bawa-bawa geng nya kemari." ucap Asih dengan menggerutu.


"Banaspati" ucap Chakra lirih.


"tetapi mengapa mereka menyerang kita..?" ucap Chakra dengan nada bingung.


"karena Asih sudah membuat temennya bonyok siang tadi." jawab Asih mencibir.


mereka keluar pintu goa, lalu berdiri saling melindungi satu sama lain.


"mengapa kalian menganggu kami?" ucap Chakra basa-basi.


mata pimpinan mereka menatap tajam."karena bocah tengil itu telah membuat salah satu klan kami terluka parah.!!" ucap pimpinan Banaspati tersebut. sembari melirik ke sosok yang dimaksud.


Chakra yersenuum mencibir. "itu karena dia yang terlebih dahulu mengganggu adikku.." jawab Chakra dengan tenang.


"kami tidak perduli, apa yang telah diperbuatnya harus dipertanggungjawabkannya." ucapnya lantang.


"seraaang..!!" teriak sang pemimpin dengan keras dan nada perintah.


dengan sekejap mereka menyerang ketiga orang itu. mereka tentu bukanlah lawan yang sebanding. namun ketiganya tetap bersemangat membantai para Bamaspati.


dengan mengunakan pedang, mereka terus bertempur melawan segala serangan lawannya.


hingga akhirnya, seorang Banaspati Tanah liat berhasil melukai Chakra dengan menggigit betisnya. "aaaaaaaa..." Chakra berteriak, sehingga menarik perhatian Asih. dengan cepat Ia menerjang bamaspati tersebut sembati menancapkan pedang kepada banaspati tanah tersebut, sembari mengucapkan 'ta'awuz.' "au'dzubilillahiminas syaithan nirrazim.


seketika Banaspati itu melepaskan gigitannya.


Chakra limbung dan ambruk.


[buuuuuuugh.]


gigitan banaspati itu membuatnya kehilangan banyak darah.


Asih yang tidak terima dengan perasaan marah lalu melakukan serangan dengan emosi yang tinggi. saking tingginya emosinya. Ia tidak menyadari jika wujudnya berubah setengah buaya.


Asih sembari mengayunkan pedanganya juga mengibaskan ekornya. banyak dari banaspati yang terluka parah. lalu mereka menarik kembali pasukannya.


Asih menatap kepergian mereka dengan sorot mata penuh dendam.


sebelum menyadari tubuhnya yang memiliki ekor, Asih lalu membawa tubuh Chakra kedalam goa.


entah mengapa Ia memiliki kekuatan membopong tubuh Chakra.


saat Dina menyaksikan perubahan tubuh Asih, Ia terperanjat dan membulatkan matanya. sembari menutup mulutnya.


Asih membawa tubuh Chakra ditepian ranjang. "bu.. kakak terluka..!" ucapnya dengan panik.


Dina tersadar jika ada satu anaknya yang terkluka. Ia segera mengecek kondisi Chakra, lalu menyiapkan air liurny ketelapak tangannya semabri komat kamit membacakan doa. "sembuhkanlah luka anakku." seketika luka itu sembuh, dan Chakra kembali sadar.


saat Chakra sadar, Ia berteriak melihat penampakan tubuh Asih..


-bersambung....