
Edy mengemudikan mobil sesuai arahan yang ditujukan oleh Asih. Ia merasa ini sudah perjalanan 2 jam lamanya.
"Kira-kira berapa lama Kita akan sampai ditempat itu?" tanya Edy sembari fokus menyetir.
Asih memejamkan kedua matanya, mencoba merasakan energi dan getaran yang terasa semakin kuat.
"Getarannya semakin kuat, benda itu semakin dekat keberadaannya" jawab Asih dengan terus menajamkan mata bathinnya.
"Huuh.. Bendaku juga bergetar dari tadi" ucap Edy menggerutu.
Lalu terus menyetir dan tetap fokus menatap jalanan yang semakin lama semakin ramai.
Asih tak memperdulikan ocehan Edy yang mulai jenuh. Sesaat Asih mengerjapkan kedua matanya, dan menatap sebuah gedung bertingkat yang tampak sangat begitu megah.
Didepan gedung terlihat banyak kendaraan yang masuk dan memenuhi pelataran gedung itu. Setiap tamu yang datang akan melewati serangkain pemeriksaan dan harus menunjukkan kartu undangan untuk dapat masuk kedalamnya.
"Gedung itu.." ucap Asih, sembari menunjuk kearah gedung tersebut.
"Maksudmu gedung yang didepan itu?" ucap Edy memastikan.
"lalu bagaimana caranya kita masuk kedalam gedung itu? Pakaian Kita saja tidak meyakinkan.."ucap Edy sembari melirik pakaian mereka yang tidak layak untuk masuk kedalam gedung tersebut.
"Yang layak itu bagaiamana?" tanya Asih.
Edy menatap para tamu yang sudah keluar dari mobil dan akan memasuki gedung tersebut.
"Perhatikan pakaian mereka, jika ingin masuk kedalamnya, maka berpakainlah seperti mereka" ucap Edy sembari menunjukkan kepada para tamu yang akan memasuki gedung.
Asih memperhatikan semuanya, dari mulai atas hingga ke bawah.
"Kalau begitu cari toko pakaian yang menjual pakaian seperti mereka" titah Asih kepada Edy.
"Siap Nyonya" ucap Edy mematuhi. Lalu Ia mencari butiq yang juga menyediakan salon, Edy berniat untuk merubah penampilan Asih.
Setelah menemukan sebuah butiq mewah, mereka memasuki butiq tersebut dan meminta pemilik butiq untuk mencarikan pakaian yang pas untuk Asih.
Sesaat pemilik butiq itu memperhatikan Asih dari ujung rambut hingga ujung kepala.
Dengan keahlian yang dimiliki oleh pemilik butiq itu, Ia meng make over Asih menjadi seorang wanita glamour dan tampak seperti wanita konglemerat lainnya.
Lipstik merah menyala dengan padanan dress yang membentuk lekuk tubuhnya berwarna merah dan belahan disebelah sisi kiri hingga diatas sejengkal dari lutut.
Sesaat Edy terperangah melihat penampilan Asih yang berbeda. Leher dress yang membentuk 'V' itu sangat mengganggu mata Edy.
Karena menampilkan sebagian Anu yang menonjol.
Saat ini Edy menggunakan tuxedo dan setelannya.
Kali Ini Edy yang membayar semua belanja mereka dengan menggunakan credit cardnya.
Setelah memasuki mobil Edy melirik pakaian Asih yang terlalu terbuka.
"Apakah tidak ada pakaian yang lebih tertutup lagi, mengapa pakaian ini terlalu menggoda" Bisik Edy kepada Asih.
"Diamlah, ini semua demi bisa masuk kedalam gedung itu." ucap Asih dengan tegas.
Edy mendenguskan nafasnya dengan kesal. Sebab hal ini dapat mengganggu konsentrasinya.
Sesampainya di depan halaman gedung, tampak hanya beberapa orang saja yang sedikit ketinggalan dalam acara itu, karena pintu gedung akan ditutup.
Keduanya bingung karena tidak memiliki kartu udangan dan pastinya mereka akan melalui pemeriksaan.
Sesat setelah hampir giliran mereka, turun seorang wanita yang bergaya galmour dari dalam mobil dan menuju area pemeriksaan.
Sesaat keluar ide dalam benak Edy. Ia membisikkan sesuatu kepada Ai dan wanita itu menganggukkan kepalanya.
Ai mendahului mereka, lalu menunjukkan kartu undangan VVIP yang dimilikinya. "Mereka berdua bersamaku" ucap Ai dan memberi kedipan mata menggoda kepada bodyguard yang bertugas memeriksa para tamu.
Lalu bodyguard itu menganggukkan kepalanya, dan mempersilahkan Edy dan Asih masuk. Lalu pintu gedung ditutup.
Edy mengajak Ai bercerita, sedangkan Asih mencolek tangan Edy, yang mana mereka akan berpisah dan Asih akan menyelinap.
Lalu Edy menganggukkan kepalanya dan Ia mulai berbaur dengan para tamu undangan lain.
tampak para kolektor itu sedang duduk menantikan momen yang ditunggu-tunggu.
Seseorang datang menuju podium dan memberikan kata sambutan kepada para tamu undangan.
Empat orang berjalan sedang memapah sebuah lemari kaca yang didalamnya terdapat batu permata Pink diamond dan berlian itu tampak berkialuan dengan indahnya.
Semua tamu undangan begitu terpukau melihat keindahan batu permata itu. Bahkan bukan hanya pink diamond yang pamerkan, tetapi beberpa emas dan perak yang berumur ratusan abad itu juga ikut menjadi pameran yang akan memeriahkan pelelangan.
Para tamu undangan berdecak kagum atas semua perhiasan tersebut.
Lalu seorang pria bertubuh kekar dan juga tampak sangar sedang berjalan menuju podium diikuti oleh para bodyguardnya.
"Para hadirin semua.. Mari Kita sambut Tuan Wei yang akan membuka pelelangan barang berharga ini" Ucap Seorang MC dengan sangat semangat.
Seketika ruangan tampak riuh dengan suara tepuk tangan dan juga suara decak kagum dari para wanita yang menjadi tamu saat melihat penampilan Wei yang kekar dan juga tampan.
Tak terkecuali Ai yang tampak begitu sangat girang dan berdecak kagum. Edy menggelengkan kepalanya melihat tingkah temannya itu.
Sementara itu Asih berjalan menyelinap untuk mencari tempat yang paling terdekat dengan batu permata itu.
Asih mengambil kusri kosong yang kebetulan untuk tamu kehormatan yang sedang berhalangan datang.
Asih terus menatap batu permata itu, dan berusaha menggerakkannya. Namun Ia masih mencari kesempatan yang tepat.
Sesaat Wei memulai pidatonya. Ia berceloteh jika batu permata itu didapat dari sebuah tempat yang jauh dan sakral.
Sehingga harga pink diamond itu sangat mahal dan memiliki nilai sejarah yang kuat pada masa jaman kerajaan dimasa silam.
Para tamu yang mempercayai segala ocehannya berdecak kagum dan berusaha untuk memberikan harga yang tertinggi.
Seaaat pelelangan dimulai
Batu permata itu dibuka dari penutupnya, hingga tampaklah kilauannya yang begitu memukau.
Semua berebut ingin mendapatkannya.
seseorang membuka harga dengan 200 milyar.
Lalu diikuti lagi dengan tamu lainnya, yang menawar 400 milyar. Semakin lama penawaran semakin panas dan mereka beradu harga tinggi.
Hingga akhirnya harga tertinggi mencapai 2 triliun rupiah. Sampai pada harga tersebut, seseorang tak lagi berani menawar. penawaran akan ditutup, namun seseorang memberikan penawaran dengan harga 3 triliun. Sesaat para tamu tercengang, mereka semua menatap kepada wanita yang menggunakan dress berwarna merah dengan tampilan menggoda.
Mereka tak percaya jika wanita itu berani menawar dengan harga yang sangat fantastis.
"Lalu penawaran ditutup dan dijatuhkan kepada wanita tersebut.
Edy terperangah melihat ulah Asih yang sangat konyol. Bagaimana Ia mendapatkan uang sebanyak itu, sedangkan uangnya hanya bersisa 2 milyar saja.
Dan saat batu permata itu akan ditutup menggunakan penutup kacanya, wanita yang memenangkan lelang tersebut yang tak lain adalah Asih menggerakkan jemarinya lalu membuat batu permata itu bergerak dan terbang melayang diudara yang membuat para tamu tercengang.