
Pagi ini sebagian warga terlihat sangat sibuk. Mereka akan membawa Abah Kasim untuk menemui seseorang dipuncak bukit, yang mana kabarnya dapat menyembuhkan penyakit aneh.
tandu yang dibuat warga untuk Abah Kasim telah selesai. Dari kaki bukit menuju tempat yang diceritakan oleh Abah Salim, mereka menggunakan sepeda motor.
Setelah sampai di pertengahan jalan, tempat yang akan dituju melewati medan yang terjal. Maka motor mereka tinggalkan begitu saja dihutan. Lalu mereka secara bergantian menandu Abah Kasim sampai ke puncak bukit.
Sebagian dari mereka ada yang merasa kelelahan. Lalu mereka bergantian membawa tandu.
Abah Kasim sudah terlihat sangat lemah. Nakun warga masih berharap kesembuhan untuk Abah Kasim. Meskipun santet Banaspati sangatlah berbahaya. Karena jarang sekali warga yang terkena santet itu akan selamat.
Namun sebagai manusia memiliki kewajiban untuk tetap berharap kesembuhan dan tidak berputus asa.
Lastri yang merasa sudah kelelahan, namun tetap memaksakan untuk melanjutkan perjalanan. Meski sebenarnya mereka sendiri tidak yau dimana keberadaan wanita yang disebutkan oleh Abah Salim. Mereka mencari sesuatu yang belum pasti.
Saat itu Asih sedang berlatih memanah sembari berkuda. Chakra mengawasinya dari belakang.
Ia merasa jika Asih akhir-akhir ini terlalu sangat sulit diatur. Maka Dina memerintahkan Chakra untuk mengawasi Asih.
Asih nenarik tali kekang kuda tersebut, lalu kuda itu berhenti dan berjalan lamban.
Asih melihat segerombolan orang yang seperti kelelahan. Chakra juga melambatkan laju lari kudanya. Ia juga ikut mengamati segerombalan orang yang sedang beristirahat. Tampak seorang pria tua yang berada diatas tandu berbaring lemah.
Asih memakai cadarnya, lalu menghampiri para gerombolan warga tersebut diikuti oleh Chakra.
Para warga memandang takjub kepada Asih. "heei..lihatlah. Bukan gadis ini yang telah melenyapkan Banaspati itu?" teriak seorang warga.
Chakra mencermati tiap kata orang tersebut. Ia merasa jika selama ini Asih diam-diam keperkampungan tanpa sepengetahuan mereka.
"apakah Asih bermain terlalu jauh.?" Chakra melirik Asih yang masih tampak diam.
"iya.. Dia orangnya. Wah, terimakasih ya atas pertolonganmu, Nona." sela seorang warga lainnya.
Asih menjawab dengan anggukan kepalanya.
Mereka dapat memastikan jika Asih memiliki wajah yang sangat cantik, meskipun Ia menutupinya dengan cadar.
Asih melompat ringan dari atas kudanya. Lalu diikuti oleh Chakra. Ia menghampiri Abah Kasim yang terbaring lemah.
Hatinya menaruh iba kepada kakek tua itu. Ia teringat pernah bertemu dengan kakek imi sebelumnya. Ia menyentuh kening kakek itu dengan meletakkan punggung tangannya di kening kakek tua.
Sesaat mata Abah Kasim terbuka, selama perjalanan Ia tak mampu membuka matanya. Namun sentuhan itu seperti maghnet yang menariknya.
Seketika orang-orang merasa takjub. Hati mereka bertanya-tanya tentang siapa Asih sebenarnya.
"Mau kemanakah para rombongan ini..?" tanya Asih dengan sopan.
"kami ingin menemui seorang tabib wanita. Ia masih muda dan cantik. Seseorang memberitahu kepada kami, jika Ia pernah bertemu dengan tabib tersebut dihutan ini" jawab seorang dari mereka.
Asih dan Chakra saling pandang. Mereka meyakini, jika orang yang dicari mereka itu adalah Dina, ibu mereka.
"untuk apa kalian mencarinya..?" tanya Asih penuh selidik.
"kami ingin meminta kemurahan hati tabib itu untuk mengobati Abah Kasim yang sedang terkena santet Banaspati tadi malam." jawab mereka.
Asih mempercayai ucapan mereka. Menuju ke goa tempat mereka tinggal sangatlah jauh. Mustahil mereka dapat mencapainya.
"baiklah, saya akan membawa Abah Kasim ke tempat tabib yang kalian cari. Tetapi lokasi itu masih sangat jauh, dan kalian tidak akan mampu mencapainya dengan hanya berjalan kaki." ucap Asih menjelaskan.
Warga saling pandang satu sama lain. Mereka harus memutuskan siapa yang ikut kesana.
"dik.. Kita belum meminta ijin kepada Ibu tentang ini? Dan kita tidak bisa sembarangan membawa orang asing." Chakra mencoba mengingatkan Asih.
"tapi kakek ini butuh pertolongan, dan mereka meyakini jika ibu yang mampu memyembuhkannya atas ijin Allah. Ingatlah kak, ketika seseorang yakin, maka Insya Allah akan berhasil." jawab Asih.
Chakra tak mampu membantah keinginan Asih yang sedikit keras kepala.
"saya akan membawa kakek ini diatas kuda saya, dan satu orang saja yang bisa menemani untuk memegangi kakek ini." ucap Asih.
"Saya saja, saya istrinya. " Lastri langsung mengajukan diri.
"baiklah, yang lain boleh pulang. Nanti akan saya antarkan kakek ini sampai kedesa, jika beliau sudah sembuh" ucap Asih menjelaskan.
Lalu warga yang lain mengangguk setuju. Namun salah seorang dari mereka tidak mempercayai begitu saja. " bagaimana kami bisa mempercayai nona, jika Abah Kasim berada pada tangan yang tepat.? Sedangkan kami yidak mengenal nona dan bagaimana mungkin ada manusia yang tinggal dihutan belantara ini." sela salah satu dari mereka.
"Allah yang akan menjadi saksinya, jika ucapan saya ini benar" jawab Asih dengan tegas. Lalu mereka mengangguk setuju.
""Bara..! Duduk..!" Asih memerintahkan kudanya.
kuda itu mematuhi Asih, dan Ia langsung duduk, lalu warga membopong tubuh Abah Kasim, lalu mendudukkannya diatas kuda.
"pegang yang kuat nek." pinta Asih sopan.
"Bara. Bawa tamu kita kerumah, dengan selamat." perintah Asih kepada kudanya. Kuda itu meringik mengerti. Lalu berdiri kembali dengan gagah. Asih menarik tali kekangnya, dan kuda berwarna coklat itu berlari dengan kencang menuju goa.
Asih naik kepunggung kuda milik Chakra, lalu mereka menyusul Bara yang membawa kakek dan nenek itu.
Sepeninggalan mereka, para warga kembali pulang.
Bara berhenti didepan goa, dan Asih juga sudah sampai.
Asih melompat ringan dari kuda milik Chakra. Dan diikuti oleh Chakra. Lalu Asih menghampiri Bara.
Asih memerintahkan agar Bara duduk. Lalu kuda mematuhinya dan duduk. Chakra membopong tubuh lemah Abah Kasim masuk kedalam goa. Membaringkannya di ranjang batu.
Lastri turut mengikuti masuk kedalam goa. Asih mencari Dina, Ibunya. Namun tidak menemukannya didalam goa. "kemana ibu, kak? Mengapa tidak ada didalam goa.?" tanya Asih kepada Chakra.
"mungkin kekebun" jawab Chakra singkat.
Lastri mengedarkan pandangannya kesekeliling goa. Ia sangat heran, tidak menyangka ada orang yang akan tinggal ditempat seperti ini.
Dina membawa keranjang kecil dipunggungnya. Ia membawa banyak sayuran dan umbi-umbian untuk menu mereka hari ini.
Saat didepan Goa, Ia melihat kuda Asih dan Chakra sudah berada disana. "Dasar anak baik, keluyuran saja kerjanya." Dina menggelengkan kepalanya.
"Asih..bantu ibu bawa jagung ini" teriak Dina dari luar goa.
"iya bu.." Jawab Asih sembari berlari.
[deeegh..] jantung Lastri serasa lepas dari tempatnya. Ia masih mengingat suara itu. "apakah itu Dina..?" Lastri berguman dalam hatinya dengan lirih.
Ia mendengar derap langkah dua pasang kaki.
Lastri memutar tubuhnya, melihat siapa yang muncul didepan goa.
"haaah.." mata Lastri terperangah melihat orang yang berada dihadapannya. Ia masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Sesaat Dina mematung didepan pintu goa. Keranjang yang dibawanya tiba-tiba terlepas dari pegangannya.
Mulutnya ternganga melihat orang dihadapannya.
"umi.." sapanya lirih. Lalu Ia berlari menghampiri wanita itu, menghamburkan diri dipelukannya. "Umi.." Ia mengulang ucapannya. Matanya mulai berkaca-kaca. Bulir bening itu tak mampu Ia tahan, jatuh membasahi kedua pipinya yang putih.
"Dina.kamu masih hidup nak? Mengapa kamu tidak kembali kepada abah dan umi..?" cecar Lastri.
Tak henti-hentinya Ia menciumi Dina. Hatinya yang kosong tiba-tiba seperti mendapatkan sesuatu yang hilang.
"Mengapa Uki sampai kemari..?" tanya Dina heran.
"Uki membawa Abah kemari, Dia terkena santet Banaspati.
"ada seseorang yang memberitahu kepada kami, jika ada seorang tabib yang memiliki ilmu kanuragan dan mampu menyembuhkan penyakit." jawab Lastri lirih.
Dina tersadar, jika ada Abah juga disini. "Abah.." Dina menghampiri Abah Kasim yang terbaring lemah. Ia memegang kening abah dengan punggung telapak tangannya.
"Abah..bangun Abah. " panggil Dina kepada Kasim dengan lembut.
Kasim mengerjapkan matanya. Ia menatap nanar kesekeliling ruangan. Saat matanya beradu pada mata Dina, Ia tersentak kaget. Lalu berusaha duduk meski lemah. "Di..Dina.." ucapnya terbata. Ia menyentuh wajah Dina, memastikan jika Ia sedang yidak bermimpi.
"Iya bah. Ini Dina." ucap Dina lirih, sembari memegang tangan Abah Kasim.
"kamu Masih hidup Nak..?" ucapnya lirih, seolah yang dilihatnya seperti halusinasi semata.
"Abah..beneran ini Dina." ucap Dina meyakinkan.
Abah Kasim limbung dan dengn cepat Dina menangkapnya. Lalu membaringkan tubuh lemah itu diranjang.
"bangunlah bah, dan sembuhlah dari segala penyakit." bisik Dina lirih ditelinga Abah Kasim. Lalu tiba-tiba keajaiban terjadi. Abah Kasim membuka matanya, dan tampak sehar bugar kembali.
Bersambung bab berikutnya. Perkenalan sang cucu.