Buhul ghaib

Buhul ghaib
Pesan Yang Terlupa



Abah kasim berjalan gontai keluar dari kamarnya. Kepalanya masih linglung dan nyawanya belum kumpul. Ia berjalan kedapur mencari Lastri istrinya. Namun sesampainya didapur, Ia tidak menemukan istrinya.


"Mi... Umi.. Kamu dimana..?" panggil Abah Kasim dengan suara parau.


"saya dikamar Dina, Abah.." jawab Lastri dengan lirih.


Abah berjalan menghampiri kamar Dina, lalu membuka pintu kamar tersebut.


Ia mendapati Lastri yang tampak cemas dengan keberadaan Dina yang terbaring di ranjang.


"Umi kenapa? Apa sebenarnya yang terjadi dengan Dina..?" tanya Abah dengan perasaan heran.


Lastri menghela nafasnya dengan kasar.


"tadi saat kesungai tekena gigitan ular.." ucap Lastri dengan lirih.


Seketika wajah Abah berubah menjadi panik.


"a..apa.? Digigit ular? Bukankah dia kemarin mengobati orang terkena gigitan ular.? Lalu mengapa Ia sendiri yang berbalik digigit ular.?Abah Kasim sedikit bingung.


Lastri juga tidak mengerti apa yang tengah dialami oleh Dina.


"bagaimana ini Mi..? Kemana kita mengobatkan Dina..?" tanya Abah sedikit panik.


Lastri menoleh kepada abah Kasim. "Tadi sudah di obati oleh suaminya, dan suaminya juga yang membawanya dari sungai.


"haaaaah..?!" mata Abah Kasim terbeliak. Ia seperti tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Suaminya pulang? Lalu sekarang kemana?!" tanya Abah Kasim sedkit meminggikan suaranya.


Sepertinya Ia mulai kesal dengan menantunya itu.


"sudah pergi lagi Bah.." jawab Lastri lirih.


Abah Kasi mengepalkan tangannya. "sungguh suami tidak berguna, bahkan Ia mengetahui isterinya sedang sakit, bukannya ditunggui, malah ditinggal pergi begitu saja. Dimana letak tanggung jawabnya sebagai seorang suami..!"Abah Kasim geram.


Lastri hanya mendenguskan nafasnya dengan peeasaaan yang kesal. Ia juga merasakan jika menantunya itu sungguh keterlaluan, karena sudah jarang pulang, tiba-tiba pulang, namun pergi lagi dan meninggalkan istrinya yang kini dalam kondisi sakit.


Abah Kasim menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak memahami dengan sifat menantunya itu.


Lalu Ia pergi ke sungai untuk berwudhu.


Dengan sangat hati-hati Ia menapaki jalanan yang sedkit licin. Usianya yang sudah hampir seouh, membuatnya harus sedikit lebih hati-hati, nuga dengan pandangannya yang juga harus fokus.


Sayup-sayup Ia mendengar suara lantunan adzan berkumandang, dari surau terdekat.


Ia mempercepat langkahnya, lalu segera menyelesaikan wudhu'nya.


Setelah selesai, Ia segera beranjak dari tepian sungai. Namun Saat baru beberapa langkah, Ia seperti mendengar suara desisan ular yang sangat begitu jelas.


Kasim mencoba mengedarkan pandangannya yang mulai kabur karena dimakan usia.


Setelah memastikan tidak ada ular disekitarnya, Kasim segera menapaki jalan yang sedikit menanjak untuk mencapai rumahnya. Namun Ia membuatnya berundak dengan anak tangga yang yang alami, dimana undakannya digali sedemikian rupa, sehingga seperti membentuk anak tangga.


tangga yang dibuat dari pahatan anak tangga itu, terkadang licin dah bisa tergelincir jika tidak berhati-berhati.


Kasim hampir mencapai anak tangga yang menuju dapurnya. Ia melihat sesuatu melintas didepannya, melata diatas tanah. Ia memastikan jika itu adalah seekor ular.


Kasim menghentikan langkahnya, Ia memastikan jika ular itu sudah menghilang,


Sejatinya ular adalah hewan reptil yang memiliki penglihatan buruk. Jika objeknya tidak bergerak Ia tidak akan menyerang. Reftil ini menyerang jika merasa terancam saja, namun berbeda jika itu ular siluman atau santet, teluh dan sebagainya.


Rasulullah menyarankan untuk membunuh hewan reftil ini jika masuk kedalam rumah, karena dapat juga mengandung sihir.


Rasulullah bersabda "Bunuhlah ular-ular berbisa, ular-ular berbelang dua, dan ular yang ekornya terputus. Karena keduanya dapat mengugurkan kandungan dan membutakan mata,". (Hadits Riwayat Muslim).


Kasim mempercepat langkahnya, lalu menutup pintu dapur dengan kasar.


Duuuaar...


suara hempasan itu begitu sangat kuat terdengar, sehingga membuat Lastri keluar dari kamar Dina.


"ada apa toh Bah? kenapa seperti orang yang sedang dikejar-kejar setan."tanya Lastri sedikit bingung.


"emm.. tidak ada apa-apa koq Mi, cuma kekencengan saja tadi Abah menutupnya."jawab Kasim berbohong. Ia tidak ingin Lastri beryambah takut akan apa yang baru saj dirasakannya tadi.


"oo.. umi kira tadi ada apaan.." ucap Lastri sedikit bernafas lega.


"ya sudah.. Abah mau shalat dulu ya." jawab Kasim, lalu memasuki kamarnya. Ia memilih shalat dirumah, karena jika mengejar berjmaah ke mushollah, Ia yakin jamaah sudah bubar, karena Ia terlambat saat berwudhu tadi, karena ganguan desisan ular tersebut.


"Ya sudah.. Umi mau memasak dulu ya Bah.." ucap Lastri, sembari berlalu dari ambang pintu kamar Dina, Ia berjalan mendekati perapian kayu bakar.


🐊🐊🐊🐊🐊🐊🐊🐊🐊


Lastri terperangah saat melihat stok sembako yang tergelatak di dekat tungku api. Ada 30 kg beras, minyak goreng, gula, teh, kopi, ikan kalengan, dan lainnya.


"siapa yang membawa ini semua? Apakah Bromo yang membawanya saat pulang malam sebelum kejadian Dina subuh tadi.?" Lastri berguman lirih, sembari menerka-nerka.


Lastri mulai memasak, mengambil bahan yang akan dimasak. Pagi ini Ia akan memasak ikan kalengan yang dianggapnya dibawa oleh menantunya.


Ikan seperti itu merupakan makanan paling istimewa baginya, karena Ia tinggal dikaki bukit. Jarang sekali memakan makanan olahan instan, karena jauh dari kota.


Merasakan ikan laut juga sangat langka, karena tidak ada pedagang yang membawanya kedesa mereka.


Ia mulai mengiris satu persatu bumbu dapur, dari cabai rawit, yomat, bawang putih dan bawang merah. biasanya tugas memasak, akan dilakukan oleh Dina, setelah Ia kembali ke rumah orang tuanya.


Namun, karena Dina dalam kondisi tidak sehat, Ia yang akan memasak pagi ini.


Ia sudah menyiapkan seluruh bumbunya, lalu menghidupkan perapian, dan meletakkan belanga ditungku yang hanya menggunakan susunan batu bata setinggi 4 batu. Lalu menggunakan potongan seng bekas yang diberi lubang tepat pada tungku yang berfunsi untuk menghindari asap hitam agar tidak membuat belanga atau periuk menjadi hitam legam.


Lastri mulai menumis bumbu, aroma bawang tumis tercium menyerbak keruangan dapur dan juga terbawa sampai ke luar rumahnya. Ia yang mencium aroma harum tersebut, lalu membuka tutup kaleng yang berisi ikan sarden tersebut, Ia memasukkan seluruh isinya kedalam belang, dan menambahkan sedikit air.


Menunggu lauk itu matang, Ia menghidupkan perapian ditungku sebelahnya, lalu menanak nasi.


Abah yang sudah selesai shalat, mencium aroma masakan yang tidak biasa.


"heeeem.. Aromanya enak sekali, Mi.. Jafj lapar Abah." ucap Kasim yang sudah berdiri diambang pintu.


"Iya Bah, ikan Sarden.." jawab Lastri.


"tumben masak Sarden, ibu beli diwarung?" ucap Kasim.


"tidak Bah, mungkin menantu kita yang membawakannya, lihatlah disana, ada banyak sekali stok persediaan bahan makanan." ucap Lastri, sembari mengarahkan jari telunjuknya disudut dapur, tak jauh dari perapian.


Kadim mengikuti arah telunjuk Lastri, dan alangkah terkejutnya Ia, saat melihat stok bahan pangan yang diperkirakannya cukup untuk sebulan.


Ada rasa penyesalan dihatjnya, yang telah berprasangka buruk terhadap menantunya itu. Namun Ia masih kesal, karena menantunya itu meninggalkan Dina dengan kondisi masih sakit.


Seaaat Ia mendengar seperti suara desisan ular. Ia mencoba mempertajam pendengarannya, namun semua itu buyar, setelah Ia nendengar Lastri memanggilnya.


"Abah, ini lauknya sudah matang, tetapi nasinya sebentar lagi juga tanak. Umi buatin kopi ya.." ucap Lastri dengan lembut.


Kasim mengamggukkan kepalanya, lalu menuju meja makan yang dibuatnya sendiri, dengan bangku kayu yang berbentuk memanjang. Kasim duduk disana, sembari menunggu kopinya selesai diseduh oleh Lastri.


"Umi, hari ini biar Abah saja yang ke hutan, mencari bambu, Umi dirumah jagain Dina yang masih sakit. Pesanan kita masih ada 29 buah keranjang bambu lagi, besok pengepul akan datang." ucap Kasim menyarankan.


"Ia Abah.." jawab Lastri, sembari menyajikan kopi hitam manis ke pada suaminya tercinta.


🐊~ Hai Reader Buhul Lovers❤. kisah Asih dan Lee akan kita sembunyiin dulu ya Reader.. Disini kita akan bahas kisah asmara Dina dan Bromo kedua orang tua Asih. Setelah kisah mereka selesai ditulis, maka Asih san Lee akan muncul dikit, karena akan dipersiapkan untuk novel seosen kedua yang khusus untuk kisah Asih dan Lee..🙏🙏 harap bersabar ya..❤❤❤