Buhul ghaib

Buhul ghaib
Terjebak-3



Hampir mendekati dini hari, mereka akhirnya telah sampai ditepi hutan. Edy merasa sangat mengantuk, Ia menepikan mobil counteiner tersebut dan tertidur pulas.


Asih juga masih tertidur, Ia begitu sangat mengantuk setelah melakukan perjalanan panjangnya.


Sesaat Asih yang sudah terlelap dalam tidurnya, tak menyadari jika Ia sudah oleng kesisi kanan kemudi, dan tertidur dipangkuan Edy.


Sesaat cahaya mentari menerpa masuk kedalam kaca mobil. Edy merasakan silaunya pendaran cahaya itu menerpa wajahnya. Ia menggeliatkan tubuhnya, dan merasakan sesuatu mengganjal di kedua pahanya.


Setelah memeriksanya, ternyata kepala Asih telah bertengger dipangkuannya.


Edy menyibakkan rambut Asih yang menutupi wajahnya. Ia menatap lekat wajah sang gadis, cantik tanpa polesan apapun. Sungguh pesona yang sangat luar biasa.


Sesaat Asih mengerjapkan matanya. Ia merasakan sesuatu yang mengganjal dibagian kepala belakanngnya dan seperti bergerak naik turun.


Gadis itu membuka matanya, lalu melihat dengan jelas, jika Ia sudah tertidur dipangkuan pemuda itu, dan mata mereka kini beradu. Asih sedikit terpana dengan ketampanan pemuda dihadapannya, yang jika diperhatikan dari jarak dekat, ternyata jauh lebih tampan.


Asih dengan cepat bergerak hendak bangkit, namun Edy yang sedari tadi menahan hasratnya yang menggebu tak mampu lagi mengendalikan dirinya.


Saat Asih berusaha untuk bangkit, Ia menyambar bibir sang gadis, dan menyesapnya dengan sangat rakus, sehingga membuat Asih kesulitan bernafas.


Gerakan pemuda itu semakin liar, Ia menekan punggung Asih dengan kedua tangannya, Ia merasakan kehausan akan kerinduan yang telah lama Ia pendam terhadap gadis itu.


Asih yang merasa bingung, dengan cepat memberikan pukulan ditulang rusuk sisi kanan sang pemuda, sehingga membuat pemuda itu meringis kesakitan dan melepaskan sesapannya.


Asih terengah-engah dan secepat kilat bangkit dari posisinya dan duduk di sisi kemudi.


Ia mencoba mengatur nafasnya yang tersengal, Ia menyadari, jika Edy ternyata lebih liar dari Lee, itu terlihat dari cara pemuda itu menyesapnya barusan. Keduanya terdiam tanpa bicara apapun.


Setelah merasakan nafasnya normal, Asih membuka pintu mobil tanpa menoleh kepada sang pemuda.


Edy yang mendapati sikap Asih yang terlihat ketus kepadanya, tersenyum penuh kemenangan. "Kamu hanya pandai dalam urusan beladiri, namun dalam hal bercinta kamu masih bisa ditaklukkan" Edy berguman dalam hatinya "Untung saja aku hanya dipukulnya, jika ditebas dengan Katananya bisa mati ditempat Aku" Ucap Edy sembari memegang tulang rusuknya yang sedikit ngilu dan bergidik membayangkannya.


Pemuda itu ikut turun dari mobil tersebut. Ia menuju pintu belakang, dan melihat Asih sudah berada didalam boks counteiner.


Gadis itu tampak berfikir untuk membuka gembok dari kerangkeng besi tersebut. Edy ikut naik keatas. Lalu Ia mengeluarkan pistolnya dan menembakkan kearah gembok tersebut.


Dooooooor...doooooor...


Lalu terdengar suara dentuman senjata api yang membahana disekitar tepi hutan.


Asih membuka pintu kerangkeng besi tersebut, lalu membiarkan Bara keluar dan kuda itu turun dengan cepat.


Asih mengikutinya turun, kuda itu meringkik dan mengenduskan hidungnya kelengan Asih, lalu mengusapkan moncongnya ke pipi gadis itu.


Asih dan Bara saling melepas rindu setelah lama terpisah.


"Heeei.. Bagaimana dengan hewan buas ini?" tanya Edy yang merasa bergidik melihat dua ekor harimau yang masih berada didalam kerangkeng besi dengan tampang kelaparan.


Edy menggelengkan kepalanya, lalu beranjak turun dan menjauhi kandang kucing buas tersebut.


"Aku tidak ingin mengambil resiko menjadi santapannya." ucap Edy yang memilih menjauhi hewan buas tersebut.


Asih menatapnya sinis, lalu kembali naik keatas counteiner dan bersiap untuk membuka pintu kerangkeng tersebut.


Asih tak menggubris ucapan pemuda itu, Ia membuka pintu tersebut, dan kedua hewan itu berdesakan hendak keluar. Asih memegang kepala harimau pertama, lalu mengusapnya lembut "keluarlah, dan pergi ke hutan, disana ada banyak makanan" ucap Asih dengan nada perintah.


Lalu hewan itu mematuhinya. Hal yang sama Ia lakukan kepada kucing buas satunya, lalu keduanya turun dari counteiner.


Edy yang sedari tadi menutup matanya dengan kedua telapak tangannya perlahan membukanya, Ia terperangah melihat kedua harimau itu mematuhi Asih.


"Wow... Dia sudah seperti pawang profesional yang dapat menaklukkan hewan buas, apakah Ia juga lihai menaklukkan para pria?" Edy berguman lirih dalam hatinya.


Saat itu Ia melihat kedua harimau itu menguap dan menatapnya dengan tajam.


Seketika Edy menciut nyalinya, Ia gemetaran karena ketakutan.


Saat itu Asih dapat membaca fikiran dari dua hewan tersebut "Aku perintahkan pergi masuk kedalam hutan, disana ada banyak makanan!" ucap Asih dengan nada perintah.


Seketika kedua harimau itu merunduk dan berlari memasuki hutan.


Edy kembali tercengang melihat perbuatan Asih "Bahkan Ia dapat memerintah kedua harimau tersebut?" Edy semakin bingung, namun Ia mencoba memahami, karena pada dasarnya Adih adalah gadis rimba, tentu Ia mampu menaklukkan hewan buas manapun.


Sesaat Asih menaiki Bara. Ia menepuk-nepuk wajah Bara dengan lembut "Ayo kita kembali ke hutan" titah Asih kepada Bara. Gadis itu menarik tali kekang tersebut dan akan beranjak pergi.


Namun Kuda itu sedikit meringkik lalu memutar tubuhnya menghadap Edy. Ia berjalan dengan sangat lamban, lalu mengusapkan kepalanya kewajah pemuda itu. Ia seolah ingin mengatakan salam perpisahan dan berterimakasih karena pemuda itu telah merawatnya selama ini.


Edy merasa terharu, bahwa hewan itu tahu caranya berterima kasih "Pergilah... Kini Kau dapat kembali asalmu, dan juga majikan aslimu" ucap Edy dengan sendu.


Jauh dilubuk hatinya, Ia juga sudah terlanjur menyayangi hewan gagah tersebut, dan sebenarnya Ia juga tidak rela kehilangan sang gadis.


Lalu Asih kembali turun dari punggung Bara "Terimakasih sudah membantuku" ucapnya tulus, lalu kembali lagi naik keatas punggung Bara, dan menarik kekang kuda tersebut untuk memasuki hutan dan kembali pulang.


Edy memandangi kepergian sang gadis, yang kini menghilang masuk kedalam hutan, hanya yang tertinggal suara derap langkah kaki Bara yang semakin menjauh memasuki hutan dam samar-samar menghilang.


Saat Edy hendak masuk kedalam mobil counteiner, Ia mendengar suara gemerisik dari balik semak belukar, dan....


" Sial...!! Sudah kuduga ini akan terjadi" gerutu Edy sembari mengepalkan tinjunya.


Ia kembali turun dari mobil counteiner tersebut, lalu mengendap-endap berjalan menjauh dan memasuki hutan. Ia ingin memastikan gadis itu sampai dengan selamat.


Dengan kecepatan berlarinya, Ia berhasil memasuki hutan, mengikuti arah jejak langkah Bara, Ia tidak ingin sampai ketinggalan jejak tersebut.


Edy terus berlari menerobos rimbunan hutan yang begitu banyak semak belukar. Pemuda itu yakin jika Asih belum terlalu jauh.


Saat yang tidak diduga, dua pasang mata hewan buas sedang mengawasinya. Tatapan mata lapar yang mendapatkan mangsa buruannya.


Disisi lain, Bara menghentikan larinya, Ia mendadak berhenti dan meringkik.


"Heei...ada apa dengan, Mu?"tanya Asih bingung.


Namun Kuda gagah itu tak menggubris ucapan Asih, Ia memutar tubuhnya dan kembali kebelakang.


"Bara, hentikan...! Kita harus kembali ke goa." ucap Asih dengan perintah.


Namun kuda itu tetap berlari kencang, entah apa yang kini sedang dirasakannya.