
Andre terjaga, saat mendengar suara kokok ayam hutan bersahutan.
Pria itu membangunkan Jodi dan juga Jack yang masih tertidur.
"Hei.. Bangunlah, salah satu dari kalian memasak, rebus saja bahan yang tersedia, dan yang lain kembali menyungkit batu berlian, juga kumpulkan batu giok yang ada, sebelum tengah hari, helikopter akan datang menjemput " Titah Andre, kepada kedua bawahannya.
Kedua orang itu menganggukkan kepalanya. Lalu mulai bekerja sesuai dengan keinginan mereka.
Sementara itu, Andre mencoba menyusuri lorong goa, untuk mencari Edy.
Ia membawa sepucuk senjata api yang sudah diisi peluru untuk menjaga diri.
Sebenarnya hatinya merasa sedikit keder karena kejadian malam tadi saat sosok misterius itu mengerjainya. Namun Ia harus menemukan Edy sebelum tengah hari, karena helikopter akan tiba dan membawa mereka pulang.
Setelah berjalan sedikit jauh kedalam, Andre mengambil suluh bambu sebagai penerangan.
Saat sedang berjalan, Ia merasakan sesuatu datang dari depan, dan ..
Sebuah tangan yang tiba-tiba memanjang datang menjulur mengahampirinya, Ia terkejut melihatnya dan memutar tubuhnya lalu berlari dengan kecepatan tinggi dengan ketakutan.
Tangan itu terus mengikutinya kemanapun Ia berlari dan hingga Ia tersesat memasuki sebuah ruangan yang terlihat sangat terang benderang.
Disana ada sebuah ranjang dengan kilauan cahaya keemasan. Ada banyak batu permata yang berserakan dan begitu menyilaukan matanya.
Lalu terdapat sebuah cermin yang berukuran sangat besar, dan Ia mematut dirinya dicermin. Ia meraba matanya yang terbungkus oleh kain kaos milik bawahannya.
Tampak darah sudah mengering dan terasa lengket. Ia belum berani membukanya dan masih terasa berdenyut.
Lalu Ia mengitari pandangannya keseluruh ruangan goa dimana Ia tersesat, dan Ia kembali terperangah..
"Haah.. Aku tersesat ditempat apa? Ini seperti sebuah memenangkan jackpot" ungkap Andre dengan kegirangan.
Dengan cepat Ia membuka kaos bajunya, mengikat simpulnya, dan dengan sangat rakus mengisi kantong buatannya tersebut.
Kini kantong baju itu sudah penuh dan sarat muatan akan batu permata dan juga emas bernilai tinggi. Ia begitu sangat senang.
Ia bahkan memakai di lehernya, dan juga kedua tangannya, hingga terasa berat ditubuhnya.
Setelah merasa sudah begitu sangat kesusahan untuk berjalan, Ia ingin keluar dari ruangan tersebut.
Dan..
Tampak didalam cermin sebuah pantulan wanita yang pernah Ia kenal sebelumnya didalam cermin itu sedang berdiri menatapnya dengan tatapan yang sangat dingin.
"Di..Dina" ucapnya dengan nada lirih, lalu Ia menoleh kearah belakang, namun tak ada sesiapun yang Ia temui, hanya dinding goa yang berdiri kokoh. Sesaat Ia melihat kembali ke cermin itu, namun sosok Dina yang Ia lihat barusan tak terlihat lagi.
Andre mengusap wajahnya, Ia menyimpulkan jika Ia hanya berhalusinasi saja.
Andre bergegas meninggalkan ruangan tersebut, berjalan dengan terseok-seok, karena beban yang dibawanya cukup banyak.
Setelah melampui lorong yang cukup panjang, akhirnya Ia sampai diruangan utama.
Jodi dan juga Jack terperangah melihat Andre sang Bos mereka membawa banyak perhiasan.
Lalu keduanya beranjak mencoba membantu si Bos membawa barang-barang berharga itu.
"Edy, Sani dan juga Dori bagaimana, Bos?" tanya Jodi mencoba mengingatkan.
"Aku tidak menemukan keberadaan Edy, kemungkinan Ia selamat, karena Ia bersama gadis itu" jawab Andre sekenanya.
"Apakah Bos tidak menginginkan batu permata yang berada dileher gadis itu?" tanya Jack dengan penasaran.
"Lupakan saja, Kita tidak punya waktu, ayo bergerak ke tebing jurang" titah Andre kepada keduanya.
Lalu kedua bawahannya itu menuruti perintah sang Big Bos. Mereka beranjak dari tempat tersebut, dan tanpa mereka sadari, ada beberapa perhiasan yang tercecer dilantai goa, karena sudah tidak ada lagi ruang untuk menampung perhiasan dan berbagai batu permata tersebut.
Mereka meninggalkan goa dengan sangat terburu-buru, lalu berjalan menuju tepi jurang yang dikatan oleh Bos mereka.
Saat dalam perjalanan, mereka bertemu dengan Sani dan juga Dori yang ternyata sedang berusaha menemukan jalan untuk kembali ke goa, namun karena Bos mereka mengatakan misi telah selesai, maka mereka mengikuti perintah saja.
Teedengar suara deru mesin dan baling-baling helikopter dikejauhan. Mereka tampak kegirangan, karena pada akhirnya mereka akan kembali lagi kekota, setelah lama berkelana dihutan yang penuh mengerikan.
Sementara itu, satu kelompok orang lainnya melihat suara deru mesin helikopter diudara, tak jauh dari tempat mereka berada.
"Benar dugaanku, jika sudah ada penyusup lain yang mendahului pergerakan Kita. Mari Kita cepat bergerak, sebelum ada kelompok lain berikutnya" titah pria bertubuh kekar itu, tak ada rona belas kasih dimatanya.
Para rombongan yang berjumlah sepuluh orang tersebut bergerak cepat menuju atas bukit.
Saat mereka sudah berada diatas bukit, tampak dikejauhan rombongan Andre sudah bergerak memasuki helikopter, dan terbang sembari mengejek kearah mereka.
"Sial...!! Apakah batu Mustika itu juga dibawa mereka?" guman Pria itu dengan nada kesal dan juga geram
"Bos... Lihatlah, ada sebuah goa, dan kedua kuda itu" ucap Seorang pria bertubuh kekar yang merupakan bawahan dari pria berwajah sangar tersebut, meskipun wajahnya tampan, namun terlihat sangat menakutkan.
Pria itu memandang arah pintu masuk kedalam goa, Ia tampak penasaran.
Ia melangkah mendekati goa itu, lalu mencoba masuk kedalamnya. Saat masih berada diambang pintu, Ia dikagetkan dengan adanya batu-batu permata yang masih tersisa.
Ia meyakini jika ada banyak bekas pahatan untuk mengambil batu-batu permata itu.
Pria kejam itu berjalan masuk kedalam goa dan diikuti oleh para bawahannya .
Tampak mereka begitu sangat terpukau oleh batu permata ya baru pertama kalinya mereka lihat dengan begitu banyaknya.
"Gila.. Ini sarang batu permata, dan sepertinya akan membuat Kita kaya raya" celetuk salah satu dari mereka.
Sesaat pria yang menjadi pimpinan tersebut, melihat adanya perhiasan yang tercecer dilantai sepanjang lorong goa.
"Dua orang bersenjata ikuti saya, sisanya tinggal disini, bawa dan kumpulkan apa saja yang berharga ditempat ini" titah pria itu, lalu bergerak maju menuju lorong. Ia memanfaatkan beberapa perhiasan yang tercecer sepanjang lorong. Hingga akhirnya Ia terus mengikutinya sebagai petunjuk.
Sementara itu, seorang pemuda sedang terjaga dari tidurnya, Ia celungakan kesana kemari melihat dirinya didalam sebuah ruangan yang asing baginya.
Ia merasakan sedikit nyeri didada kanannya, namun Ia tak menemukan siapapun disisinya.
Ia berusaha untuk beranjak bangkit dan mencari keberadaan Asih yang tak tampak didekatnya. Ia melihat sebuah pintu masuk kedalam ruangan lain.
Ia mencoba mengintai dan memeriksanya.
Namun Ia dikejutkan oleh sesuatu yang membuatnya sangat syok, dan hampir saja tak sadarkan diri. Ia tak mempercayai dengan apa yang dilihatnya, namun Ia berusaha untuk tetap menjaga kesadaran dan kewarasannya.